
"Pangeran, bagaimana keadaan nak' Edel?" berita Malik memanggil dokter untuk memeriksakan istrinya telah sampai ke istana.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja Yang Mulia Ibunda Ratu, dia hanya kecapean saja," sahut Malik.
"Syukurlah, Jaga baik-baik mantuku. Ingat Ibu tau jika kalian adalah pengantin baru, tapi kasih jeda buatnya beristirahat," tegurnya.
"Baik, Bu," sahutnya lagi. Untunglah mereka berbicara di telepon kalau tidak, mungkin Malik akan malu sekali.
"Salam buat mantuku, jaga baik-baik. have fun pangeran, assalamualaikum," pamitnya lalu memutuskan telepon setelah Malik menyahut salamnya.
Siang itu dia banyak menerima panggilan telepon yang menanyakan keadaan istrinya.
Malik membangunkan Edel yang terlelap setelah dokter memberinya obat dan vitamin. Setelah shalat ashar mereka berdua bersantai dekat kolam renang.
"Apa masih ga nyaman di bawah sana?" Edel sudah bercerita pada Malik jika dia merasakan perih dan tak nyaman di bawah sana. Malik pun mengerti dan sedikit merasa bersalah karenanya.
"Ya, sedikit. Tapi sudah lebih baik dari tadi siang," ujarnya.
Malik merangkul Edel, memeluknya agar dia tidur di bahunya.
Mereka hanya bisa menikmati pemandangan sore di halaman samping villa. Malik tidak mengajak Edel berjalan-jalan atau bermain di pantai, dia takut membuat istrinya kecapean.
Matahari sore ikut mengintip kemesraan mereka.
"Honey, apa kamu lapar?" tanya Malik, dia baru ingat jika mereka belum makan siang.
"Iya aku lapar. Apa kamu bisa masak Pangeran?" goda Edel.
"Bisa, aku bisa memasak barbeque," sahut Malik.
"Apa kamu bisa memasak sup?" tanya Edel, Malik menggelengkan kepalanya.
"Kita pesan makanan aja, biar cepat," ujar Malik mengambil ponselnya dan memesan makanan.
Setengah jam kemudian seorang penjaga villa mengantarkan makanan yang mereka pesan.
"Yang Mulia, ini pesanan anda," menyerahkan pesanan makanan yang Malik pesan setelah sebelumnya menghubunginya memastikan dia memesan makanan.
"Ya, terimakasih," ucap Malik.
"Kamu bilang kita hanya berdua di sini," melihat penjaga berlalu kembali ke pos jaganya.
"Ya, kita memang berdua di sini, dia yang bertugas menjaga villa dan Mr. Husein juga menempatkan beberapa pengawal di depan. Tenang saja mereka tidak akan berani mendekati villa kalau tidak di panggil atau tidak ada hal yang urgent," terang Malik.
"Aku kira kita benar-benar berdua di sini," cetus Edel. "Malik apa kamu sering berlibur ke sini?".
"Tidak, ehm ... , kenapa?".
"Hanya bertanya, Malik apa kita memang harus tinggal di istana?" Edel penasaran karena dibeberapa negara beberapa pangeran tinggal di istana yang berbeda.
"Tidak harus, kita tinggal di sana karena kita sedang bertugas jadi akan memudahkan kita. Tapi kalau mau bersantai kita bisa tinggal di apartemenku atau rumahku atau rumahmu," terangnya.
"Rumahku?" Edel tersedak mendengar kata rumahnya.
"Oh iya, aku belum memberitahumu jika kerajaan akan memberimu beberapa aset ketika kita sudah menikah. Utusan dari bendahara kerajaan akan memberitahumu detailnya dalam waktu dekat," ungkap Malik.
"Buat apa, buat apa mereka memberiku aset?" tanyanya.
"Itu sudah ada dalam aturan keluargaku honey," ujarnya. "Tenang saja, semua menantu mendapatkannya," tambahnya melihat raut wajah Edel yang terlihat bingung.
"Malik, apa aku seorang yang matre bagimu. Maksudku, aku takut jika orang-orang menyangka aku menikahimu karena kedudukanmu," kecemasan Edel terlihat dari raut wajahnya.
"Apa kamu menikahiku karena aku seorang pangeran, honey?" Malik balik bertanya menatap istrinya lekat.
"Sampai sekarang aku pun masih tidak percaya orang yang aku cintai dan menikahiku adalah seorang pangeran," ucap Edel menunduk.
Malik berdiri menghampiri istrinya, dia berjongkok di samping kursi istrinya menghadap padanya memegang tangannya. "Aku tahu itu, Tak ada yang menganggapmu seperti itu, honey. Karena akulah yang mengejarmu, Kamu ingat jika lebih dari sepuluh kali kamu menolakku," Edel tersenyum, dia bahkan tak ingat jika dia menolak Malik dulu.
Malik mengangkat wajah Edel dan merapatkan wajahnya pada wajah istrinya memberi kekuatan padanya.
***
"Malik, bangunlah," Edel menggoyangkan bahu Malik tapi bukannya bangun dia malah menarik tangan Edel hingga terduduk di sebelahnya.
Malik berpindah dari bantal ke pangkuan istrinya.
"Kenapa kamu manja sekali pagi ini, ayo bangun ini sudah jam 8 pagi!" cetus Edel.
Malik tidur kembali sehabis shalat subuh karena semalaman dia bergadang menonton bola.
Malik tambah pulas ketika Edel mengusap kepalanya dengan lembut. Edel melihat tulisan di punggung tangannya dan tersenyum. Malik menuliskan kata mine tadi sehabis subuh karena Edel bercerita jika dia ingin bertemu dan bersalaman dengan Mesut Ozil.
"Kau manja sekali my prince, manjalah hanya padaku jangan pada siapapun selain aku," lirihnya tanpa menyadari Malik tersenyum mendengarnya bergumam.
"Malik ayo kita main ke pantai, mumpung masih pagi nih," ajaknya.
"Malik, bangunlah ... !".
"Honey, biasanya kau menciumku. Aku akan bangun kalau kau menciumku," rengeknya masih dengan mata terpejam.
Edel tertawa kecil mendengarnya, sungguh Malik seorang yang manja sekarang.
"Honey, nanti sore saja ke pantainya. Ayo kita jalan-jalan sekitar sini," ajaknya masih memejamkan matanya.
"Kau mengajakku jalan-jalan tapi kamu sendiri masih tidur," jawab Edel ketus.
Malik membalikan badannya menghadap istrinya lalu membuka matanya.
"Aku takut kamu masih merasakan sakit di bawah sana," menarik kepala Edel, mengecupnya.
"Aku udah baik-baik aja, memang masih sedikit tak nyaman. Tapi ayolah semua wanita juga merasakannya ketika melakukan pertama kali, aku membacanya di internet. Nanti juga ga akan sakit lagi kalau sudah terbiasa," terang Edel merasa Malik terlalu posesif, terlalu banyak mengkhawatirkannya.
"Terbiasa?" ucap Malik tersenyum nakal menggoda istrinya. Ucapan istrinya membuatnya berpikir akan berolahraga nanti malam.
"Bangunlah, ini udah siang!" kesal.
"Baiklah, aku akan bangun," Malik tersenyum, senyum yang sulit diartikan oleh istrinya.
***
Malik dan Edel berjalan-jalan di tempat wisata yang tak jauh dari villa, pengawalan tetap berjalan namun dengan berjarak beberapa meter darinya.
Sekarang Edel tambah mengerti tentang privasi di tempat umum. Begitu sampai mereka langsung dikerumuni oleh masyarakat sekitar yang sedang berada di sana, banyak dari mereka meminta foto bersama.
Hampir satu jam mereka berfoto-foto bercengkrama dengan penduduk dan wisatawan yang sedang berlibur di sana. Mereka akhirnya bisa beristirahat di sebuah kursi taman.
"Tunggulah, aku akan membeli air minum dulu," Malik menghampiri para pengawal menyuruh mereka membelikan minum untuknya dan istrinya.
Edel melihat anak kecil berlari mendekatinya, "Yang Mulia ini untukmu," anak kecil itu memberikan sekotak kue untuknya.
"Oh, terimakasih sayang. Siapa namamu?"
"Namaku Hazel, Yang Mulia," ucapnya.
"Nama yang sangat cantik, sepertimu. Terimakasih Hazel," Edel membelai pipi anak kecil itu dengan lembut.
Anak kecil tadi kembali berlari menghampiri kakaknya yang usianya tak jauh darinya.
Malik tersenyum melihat Edel mengobrol dengan seorang anak kecil. Senyum bangga mengembang di dalam hatinya.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰