He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 59



Sepanjang jalan Edel melihat keluar jendela, tidak mau melirik Malik. Rasanya bertambah kesal jika melihatnya. Malik yang sedari tadi mencuri lirik padanya hanya bisa menghembuskan nafas beratnya dan tersenyum.


Dia lucu sekali jika kesal. gumamnya dalam hati.


Malik mengetuk pintu kamarnya, karena tahu Ibunda berada di sana.


"Jangan marah lagi. Aku tidak akan bisa tidur jika kamu marah padaku," rengeknya.


"Boong, kamu pasti bisa tidur nyenyak!" jawab Edel ketus.


"Jangan marah," pintanya lagi memegang tangan Edel.


Sebelum Edel sempat menjawab pintu kamar Malik terbuka.


"Wa'alaikumsalam," sahut Ibunda Ratu dan mempersilahkan mereka masuk.


"Bagaimana sayang makan malamnya?" tanya Ibunda Ratu merangkul gadis itu tapi hanya di balas senyuman olehnya.


"Mereka teman-teman Pangeran kami sejak masih bersekolah, sudah seperti keluarga lagi" terang Ibunda Ratu.


"Ya mereka semua sangat baik Bu. Aku senang Malik mengenalkanku pada teman-teman nya," sahut Edel tersenyum menatap Malik.


Gadis yang luar biasa. Ekspresi nya bisa cepat berubah, dia bisa tersenyum pada Ibuku tapi cemberut kesal padaku. pikir Malik.


"Sudah malam sebaiknya kita istirahat. Bukankah besok kamu akan menemani Putri Syahara?" tanya Ibunda Ratu.


"Iya," sahut Edel.


"Pangeran beristirahatlah jangan bergadang. Ingat bukankah besok pagi kamu ada acara?" kata Ibunda Ratu mengingatkan.


"Baik Bu," sahutnya.


"Aku ke kamar dulu, jika ada sesuatu kamu bisa menghubungiku kapanpun," ujar Malik memegang tangan Edel.


"Iya," jawab Edel singkat.


Malik mencium tangan Ibunda Ratu lalu melangkah pergi ke kamar yang akan dia tempati.


Malik tersenyum mengingat wajah kekasihnya saat kesal karena cemburu.


"Aku harus tidur," gumamnya menutup matanya sambil tersenyum.


**


Edel sibuk memilih baju untuk acara yang akan dia datangi, Ibunda Ratu pun mencoba membantunya.


"Kamu pakai apapun bagus, jadi yang mana yang paling bagus?" kata Ibunda Ratu memilihkan beberapa baju dan menyuruh Edel mencobanya.


Entah sudah berapa belas baju telah dia coba. Dasar Malik kenapa bajunya banyak sekali! masa aku harus mencoba baju selemari!. gerutunya dalam hati. Walaupun Ibunda Ratu yang meminta mencobanya tapi tetap dia menyalahkan Malik karena dialah yang menyediakan baju untuknya.


Akhirnya dia memakan long dress berwarna soft dengan selendang yang senada dengan warna dress nya.


"Kamu cantik sekali," puji Ibunda Ratu.


"Terimakasih," ucap Edel tersipu malu.


"Aku akan kembali ke kamarku dulu, tunggulah Pangeran nanti dia akan menjemputmu untuk sarapan," kata Ibunda Ratu.


"Baik, Bu," sahut Edel tersenyum.


Edel mencoba mengikat rambutnya sendiri. Dia mencoba beberapa model ikatan dari simpel ponytail, top Knot, sleek low bun sampai dia tak menyadari malik masuk ke kamarnya. Dia tersenyum melihat Edel yang sibuk menata rambutnya sendiri.


"Kamu tampak sangat cantik," ujarnya melihat Edel menata rambutnya dengan model low roll bun dari cermin. Malik berdiri di belakang Edel.


"Bisakah kamu menggeraikan saja rambutmu? kamu tampak sangat cantik dan sexy jika rambutmu diikat seperti itu, aku tidak mau nanti lebih banyak laki-laki lagi yang melihatmu dan tertarik denganmu," ujar Malik.


"Ya bagus banyak yang tertarik, itu berarti kamu beruntung dapetin aku," sahut Edel masih tersisa kesal semalam.


"Ya aku sangat beruntung sekali Allah mempertemukan kita. Aku sangat bersyukur sekali," ucap Malik.


Mereka bersitatap lewat cermin. Malik terlihat sangat tampan pagi ini. pikir Edel.


"Ayo sarapan, mereka sudah menunggu kita," ajak Malik dibalas anggukan olehnya.


Malik berjalan lebih dahulu. Edel memandang dirinya lewat cermin lalu tangannya membuka ikatan rambut dan akhirnya setelah mencoba beberapa model digerainya rambutnya.


Malik membukakan pintu untuknya dan terkejut senang melihat Edel menggerai rambutnya.


"kamu cantik sekali," ujarnya sambil tersenyum tapi Edel malah cemberut melihatnya.


Lucunya gadisku. pikir Malik.


"Pangeran Malik antarkan Edel terlebih dahulu ke hotel BR sebelum ke lokasi pertandingan mu," titah Baginda Sultan.


"Baik, Yang Mulia." sahut Malik.


"Putri Syahara bisa satu mobil dengan Ibunda Ratu," lanjut Sultan.


"Baik yang mulia" sahut mereka.


Tidak ada yang berani menolak titah Baginda Sultan meskipun itu ayah mereka. Baginda tentu sudah memikirkannya dengan matang sebelum memberi titahnya.


Pukul delapan kurang mereka sudah di perjalanan menuju hotel BR. Edel duduk di samping Malik karena dialah yang menjadi driver secara khusus untuk mengantar Edel hari ini.


"Kenapa kamu memakai masker, apa kamu sakit?" tanya Edel.


"Tidak, aku tidak sakit," jawabnya.


"Apa kamu tidak ingin terlihat orang lain, apa kamu malu mengantarku?" tanya Edel mengernyitkan alis.


"Bukan honey, baiklah aku buka," Malik membuka maskernya. Kecil sekali hampir tak terlihat di bawah dagunya terdapat jerawat kecil sekali.


"Apa kamu menutupi jerawatmu?" tanya Edel tertawa.


"Hahahaha... My Princeince berapa usiamu hingga tumbuh jerawat kecil seperti itu," sindir Edel.


"Tadi tidak terlihat sewaktu kita di kamar atau pun sarapan?" lanjutnya meraba kulit disekitar jerawat di wajah kekasihnya.


"Ah, aku ada pertandingan. Apa terlihat jelas?" tanya Malik.


"Sebenarnya tidak terlihat jika tidak dekat seperti ini," Edel mendekatkan wajahnya ke samping wajah Malik yang sedang menyetir.


"Jangan terlalu dekat, jika terlalu dekat seperti itu aku ingin menerkammu," ucapnya melirik kekasihnya.


"Apa kamu seekor Tiger suka menerkam orang?."


"Tigerku tidak menerkam orang honey, tapi aku bisa lebih buas dari Tiger jika menerkammu," jawab Malik tersenyum mantap.


"Rasanya geli mendengar kata itu," ujar Edel tertawa kecil sambil mengusap-usap telinganya.


"Hahahaha, kamu lucu sekali honey," jawab Malik.


Saat mereka tiba di halaman hotel, sudah berkerumun para wartawan yang akan meliput acara. Mobil mereka beriringan masuk dan yang terakhir mobil Malik yang masuk.


Malik keluar dari mobil hanya menggunakan jas summer suits yang ada di mobilnya untuk menutupi t-shirt nya karena akan langsung ke tempat latihan. Wartawan mulai mengerumuni Malik yang membukakan pintu buat Edel. Untunglah dihalang oleh para pengawal kerajaan. Malik mengantarkan Edel sampai ke dalam ruangan.


Mereka sampai di ruangan khusus yang di sediakan pihak panitia untuk istirahat mereka.


"Kamu mau berangkat sekarang?" tanya Ibunda Ratu menghampiri Malik.


"Ya sepertinya aku harus berangkat sekarang," ucapnya melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Baiklah, hati-hati," ucap Ibunda Ratu.


"Honey, baik-baik ya," ujar Malik memandang Edel di sampingnya.


"Tenang saja Pangeran, dia akan baik-baik saja dengan kami," ujar Putri Syahara menggoda adik kecilnya yang sudah tidak kecil lagi. Malik tersenyum menatap kakaknya.


"Aku menunggumu," ucapnya berbisik di telinga Edel.


"Hati-hati ya," ucap Edel memegang lengan Malik.


"Assalamualaikum," pamit Malik.


"Wa'alaikumsalam," sahut mereka.


Edel melihat Malik pergi meninggalkan dia sendiri bersama keluarganya. Ini acara untuk umum pertama yang akan ia hadiri bersama keluarga Malik. Rasa gugupnya berbeda dengan saat ia menghadiri perjamuan makan malam keluarga kerajaan dulu.


"Ini Ibu Aisyiyah beliau ketua dari Perempuan Kini, dia yang akan mendampingi Ibunda Ratu hari ini," kata Putri Syahara memperkenalkan.


"Assalamualaikum, tuanku," sapa Ibu Aisyiyah memberi hormat pada Edel. Dia tahu sedikit tentangnya dari rumor yang beredar jika calon istri Pangeran Malik akan mendampingi Ratu mereka hari ini.


"wa'alaikumsalam," sapa Edel.


Asisten Ibunda Ratu mempersilahkan mereka bersiap untuk memasuki ruangan acara.


Ibunda berjalan terlebih dahulu di ikuti oleh putri Syahara yang berdampingan dengan Edel. Semua tampak penasaran dengan gadis yang berjalan bersama mereka.


Acara berjalan dengan sangat Hidmat. Ibunda Ratu menyampaikan sambutannya dengan di dampingi Edel sedangkan Putri Syahara duduk di tempat yang disediakan. Mereka secara perlahan ingin memperkenalkan Edel pada masyarakat Negara A.