
Malik berjalan cepat kearah kamar mandi, "Honey, apa kamu baik-baik saja?" memegang kenop pintu kamar mandi, "boleh aku masuk?".
Dia menunggu di depan kamar mandi tapi tak ada jawaban, "Honey, boleh aku masuk?" tanyanya lagi.
"Aku ga apa-apa, jangan masuk," sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.
"Ok," Malik kembali duduk di pinggir tempat tidur, matanya terus melirik noda merah di sprei.
"Kau tak apa? kenapa tadi berlari, membuatku khawatir saja!" gerutunya.
"Maaf, perutku sedikit kram dan aku datang bulan," kata Edel pelan, dia malu mengatakannya walaupun dulu sempat dibelikan pembalut olehnya saat di rumah sakit, tapi tetap saja malu mengatakannya.
"Apa, datang bulan? maksudmu?" Malik masih bingung dan belum bisa berpikir jernih.
"Aku sedikit kram perut karena menstruasi," jawabnya pelan.
"Bukankah semalam kita shalat berjamaah bersama?" masih tidak mengerti kenapa Edel bisa tiba-tiba menstruasi padahal semalam dia shalat bersamanya.
"Iya, tanggalan datengnya memang suka maju 2 atau 3 hari dari bulan kemaren," bingung harus menjelaskan bagaimana ke Malik.
"Oh, syukurlah hanya menstruasi. Aku kira terjadi sesuatu padamu, ternyata noda darah itu dari menstruasimu," sahut Malik menunjukan noda merah darah di sprei bekas Edel tidur.
Sabar ... sabar ... , belum waktunya. gumamnya dalam hati mencoba menghibur diri.
Edel menatap noda merah di bekas tidurnya lalu beralih menatap Malik.
"Astaghfirullah, biar aku copot sprei nya," dengan cepat menarik sprei tempat tidurnya.
Ah, malu sekali. kenapa dia harus melihat semuanya. batin Edel.
"Biar aku menghubungi housekeeping, nanti mereka yang akan mengganti dan membereskannya kembali," ujar Malik mengambil telepon dan menghubungi pihak hotel.
"Maaf, membuatmu ke sini padahal masih malam," ujar Edel pada dua orang housekeeping, wanita dan laki-laki.
"Tak apa nona, ini sudah menjadi tugas kami," sahutnya tersenyum.
Mereka tau jika Edel dan Malik adalah pasangan pengantin baru yang sedang viral dan dia bersyukur dapat melayani mereka bahkan kedua housekeeping itu berani meminta berfoto dengannya dan Malik.
Edel tersenyum, menggigit bibirnya melirik Malik saat kedua housekeeping telah selesai dengan pekerjaannya dan keluar dari kamar mereka.
"Maaf tidurmu harus terganggu olehku," ucap Edel masih menggigit bibirnya.
Malik melihat Edel lalu menghampirinya dan mencium bibir Edel. Membuat istrinya terdiam.
"Ah, kenapa kamu menciumku?" Edel kaget dengan apa yang Malik lakukan barusan.
"Kau cantik sekali, aku tak tahan melihatmu menggigit bibir seperti itu. Apa kau keberatan?" tanyanya memandang wajah Edel dihadapannya, tangannya mengelus wajah istrinya.
"Ehmm ... , tidak," jawabnya gugup. kau membuat jantungku serasa mau lompat, pikirnya.
"Ini sudah hampir setengah lima, sebentar lagi waktu subuh. Mandilah!" ujar Edel berusaha keluar dari tatapan Malik yang membuat siapapun akan luluh lantak.
Malik tertawa kecil mendengar perkataan Edel, "Baiklah," dia tahu Edel gugup jika di tatapnya begitu. "tadinya aku ingin mandi bersamamu, tapi sayang kamu sedang ... ," godanya, Malik tidak melanjutkan kalimatnya.
Edel hanya tersenyum mendengar godaan suaminya, dia tahu harusnya tadi malam mereka melewatkan waktu bersama tapi sayang dia begitu lelah hingga tertidur dan sekarang ... Allah sedang mengujinya untuk sabar dahulu.
"Ayo jalan pagi," ajak Malik yang melihat istrinya meringkuk di sofa hanya menonton tv dari tadi subuh.
"Ayolah, setidaknya kau harus mengalihkan pikiranku dari menerkammu. Jika melihatmu seperti itu rasanya aku ingin sekali langsung menerkammu," bujuknya.
"Kau istriku sekarang, punya pikiran mesum begitu dengan istri sendiri tidak ada larangannya," ujarnya menyubit pipi Edel dengan gemesnya.
Edel benar-benar tidak mau berdebat dengan Malik saat ini, apalagi dengan perutnya yang masih terasa kram.
Akhirnya mereka berjalan kaki di sekitar hotel dan seperti biasa banyak sekali yang meminta berfoto dengan mereka. Para karyawan hotel yang sedang bertugas pun bergantian berfoto, kesempatan yang sangat jarang atau bahkan mungkin tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk berfoto dengan seorang pangeran jika bukan hari ini.
Mereka berjalan dengan berangkulan, seakan tak mau jauh takut hilang atau apa. Mereka mengobrol tentang keluarga satu sama lain, kesukaan orang tua Edel, kebiasaan mereka bagi Malik itu topik yang harus dia ingat agar lebih bisa mengambil hati ayah mertuanya.
Malik menyuruh para pengawalnya untuk tetap berada di hotel, dia sedang ingin berdua saja dengan istrinya.
Sampai di kamar mereka mendapati belasan notifikasi pesan dan telepon. Mereka sengaja meninggalkan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya, ya walaupun ternyata gangguan tidak datang dari keluarga tapi dari masyarakat yang ingin berfoto dengannya.
"Mama sudah menunggu kita sarapan di bawah," kata Edel melihat Malik yang baru membersihkan diri lagi setelah berjalan kaki.
"Oh, ok. Mandilah dulu, badanmu berkeringat tadi," ucapnya melirik istrinya sedang menatapnya yang hanya memakai handuk. "Sampai kapan kau mau melihatku seperti itu, tenang saja kau boleh melihat seluruh tubuhku kapanpun kau mau," godanya.
Edel segera memalingkan wajahnya yang berasa sudah merah seperti tomat dan berlari masuk ke kamar mandi ditertawakan oleh Malik.
Lihat saja, aku akan membalasmu. gumam Edel dalam hati.
"Honey, apa kau sedang menggodaku?" Edel keluar kamar mandi dengan hanya lilitan handuk. Badannya yang ramping terpampang jelas di hadapannya.
"Aku lupa membawa baju ganti," ujarnya menuju kopernya.
Aku pasti sudah gila hanya memakai handuk di depannya. batin Edel.
Edel membawa baju gantinya dan kembali ke kamar mandi.
***
"Pengantin baru kita baru turun untuk sarapan. Kami sudah selesai dari tadi," ujar Darren yang di cubit oleh Mrs. Soe.
Edel menatap tajam adiknya yang berani mengatakannya di depan semua orang membuatnya malu.
"Awas kau!!" bisiknya penuh ancaman ketika melewatinya.
"Bagaimana malam pertamamu?" tanya Putri Zeera tanpa bersalah.
"Biarkan itu menjadi rahasia mereka saja kakak, lihatlah wajahnya sudah merona merah karena pertanyaanmu," perkataan yang serasa melindungi itu malah membuat wajah Edel semakin merona.
Kalau mereka tahu apa yang terjadi tadi malam, pasti mereka akan menertawakan ku. gumam Malik dalam hati mengingat kejadian yang harus membuatnya bersabar menunggu.
"Oy, kami akan berlibur dengan keluargamu ke Bali. Sebenarnya rencananya sudah dari kemarin sore dan kami sudah membooking tempatnya. Apa kalian akan ikut kami atau mau mencari tempat sendiri?" tanya Putri Syahara.
"Kami berencana ke daerah Labuan Bajo atau ke Raja Ampat," dengan cepat.
Malik memandang Edel penuh senyuman, dia tidak tahu jika istrinya sudah merencanakan liburan mereka.
"Kalau begitu kapan kalian berangkat?" tanya Mrs. Soe.
"Besok, kami akan berangkat besok mungkin hanya tiga atau empat hari soalnya kata Malik kita harus sudah berada di negara A seminggu sebelum acara resepsi di sana di gelar," terang Edel.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰