
Mereka senang bisa berkumpul di kamar Malik, selain karena menemani Edel juga karena sebelumnya tak ada yang diizinkan masuk ke kamar Malik sebelum Edel hadir diantara mereka.
Malik sangat menjaga privasi kamarnya. tapi sekarang tidak lagi, menemani Edel adalah alasan jitu jika ingin memasuki dan melihat isi kamar pangeran muda itu.
Mereka sibuk mengobrol tentang segala hal yang berkaitan dengan wanita juga tak lupa mencoba banyak gaun, banyak dress, dan Edel juga di sediakan beberapa pakaian kebaya tunik khas khusus untuk acara tersebut.
"Kamu seperti model pakai apapun cocok sekali, aku iri padamu," ujar putri Grizelle.
Setelah shalat maghrib mereka mulai bersiap. MUA terkenal di Negara A pun didatangkan. Edel yang sangat jarang berdandan terlihat sangat cantik walaupun dengan riasan yang natural.
Setelah isya mereka sudah berada di depan istana. Untuk pertama kalinya Edel akan mendampingi Malik menghadiri acara formal.
Ia sangat sulit melepaskan pandangannya dari kekasihnya.
"Kamu cantik sekali," puji Malik masih menatap Edel yang duduk di sampingnya.
"Terimakasih," sahutnya tersenyum, dia sadar wajahnya merona lalu menutup kedua pipinya dengan tangannya.
"Kamu gugup?" tanya Malik.
"Tentu saja, ini acara pertamaku menemanimu. Bagaimana jika aku membuatmu malu, ah ... aku gugup sekali," gumamnya.
"Tenanglah honey, kamu tidak akan pernah membuatku malu," kata Malik lembut.
"Kita mau ke acara apa sih?" Edel baru sadar dia tidak tahu acara apa yang akan dia hadiri.
"Ulang tahun salah satu kerabat Kesultanan Negara A,"
Mereka tiba di sebuah hotel. Seorang penjaga membukakan pintu untuk Malik.
"Biar aku yang membukakan pintu untuknya," ucap Malik. Lalu membukakan pintu buat Edel.
Mereka berjalan setelah Baginda Sultan dan Ibunda Ratu juga pangeran Fatih dan istrinya Putri Grizelle kemudian Putri Syahara juga suaminya barulah di belakangnya berjalan Malik dan Edel. Mereka tidak bergandengan hanya mensejajarkan ketika berjalan.
Dari mulai turun dari mobil banyak sekali wartawan yang mengambil gambar mereka, mereka lebih antusias mengambil gambar Pangeran Malik yang membawa 'gadis baru' bersamanya. Begitu pun saat memasuki ballroom, hampir semua orang tertarik dengan sosok gadis yang menemani Pangeran Malik malam itu.
Mereka duduk di tempat yang telah disediakan. Edel duduk di antara pangeran Malik dan Putri Syahara. Juga satu meja dengan paman mereka Pangeran Khalid adik sepupu dari Baginda Sultan.
"Pangeran Malik, tidakkah kamu memperkenalkan dia pada kami. kami baru melihatnya," pinta istri dari Pangeran Khalid.
"Ah, tentu yang mulia Putri Ameera. Ini Edelweiss, dia in syaa Allah calon istri saya," ujar Malik memperkenalkan Edel.
"Oh, Alhamdulillah kami ikut senang. Kapan rencananya?" tanyanya lagi.
"Doakan saja secepatnya," sahut Malik tersenyum, dia memegang tangan Edel di bawah meja, tangannya dingin karena gugup.
"Are you ok?" tanya Malik.
Edel hanya mengangguk tidak tahu bagaimana harus menjelaskan perasaannya saat ini.
"Edel kamu lihat yang duduk dekat Pangeran Fatih, itu adalah Yang Mulia Hassanudin adiknya kakek kami sekaligus ayahnya Pangeran Khalid. Beliau seorang pebisnis andal," terang Putri Syahara.
"Beliau yang berulang tahun hari ini," lanjutnya.
"Yang hadir di sini adalah keluarga dari kesultanan Negara A," ujarnya.
Acara sudah dimulai sambutan dari yang punya hajat juga dari Baginda Sultan dan perwakilan dari anak Yang Mulia Pangeran Hassanudin.
Edel lebih banyak berbincang dengan putri Syahara, dia memperkenalkan hampir semua keluarga besarnya pada Edel. Sedangkan Malik malah sibuk dengan ponselnya, entah dengan siapa dia berchat ria.
"Sibuk ya?" tanya Edel melihat Malik dari tadi sibuk membalas pesan.
"Ehm, enggak. Temanku mengajakku keluar setelah acara, tapi sudah ku jawab aku tidak bisa," sahut Malik memegang tangan Edel.
Selesai acara utama mereka menghampiri Yang Mulia Pangerangeran Hassanudin untuk mengucapkan selamat dan mendoakan beliau.
"Selamat ulang tahun Yang Mulia," ucap Malik.
"Terimakasih Pangeran Malik," sahut Pangeran Hassanudin, mereka berpelukan dan mencium pipi kanan kiri.
Malik memeluk pinggang Edel menunjukkan kalau dia tak datang sendiri.
"Selamat ulang tahun Yang Mulia," ucap Edel sedikit membungkuk memberi hormat.
"Hahahaha.. ku kira kamu sendiri ke sini, ternyata ada gadis cantik menemanimu. Pantas saja semua orang sekarang melihat kita di sini, ternyata ada gadis cantik di dekatku," canda Pangeran Hassanudin.
"Ini Edelweiss, dia calon istriku," kata Malik bangga.
"Kamu pandai memilih wanita, dia sangat cantik," puji nya.
"Kami permisi karena sepertinya banyak yang ingin menemuimu Yang MUlia," ujar Malik melihat antrean.
"Ya, nanti kita akan berbincang lagi," sahut Pangeran Hassanudin tersenyum pada Edel.
Mereka berdua berbincang dengan Pangeran Khalid dan istrinya, banyak yang menghampiri mereka. Bukan hanya sekedar menyapa tapi lebih ke penasaran dengan Edel gadis yang menemani Pangeran Malik.
"Kamu masih muda, aku ikut bangga kamu sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan," puji Pangeran Khalid.
"Saya masih harus banyak belajar Yang Mulia," kata Edel merendah.
"Kapan-kapan ajaklah Edel ke istana kami. istana kami memang lebih kecil, tapi kami akan senang jika kamu bersedia berkunjung ke rumah kami," pinta istri Pangeran Khalid.
"Tentu nanti kami akan berkunjung," sahut Malik.
"Tidak bisakah kamu tinggal lama di sini, tak senang rasanya baru bertemu langsung di tinggal," tanya istri Pangeran Khalid.
"Maaf, saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya terlalu lama," sahut Edel tersenyum.
"Kamu seperti Yang Mulia Pangeran Khalid ketika sudah menyangkut pekerjaan," katanya sedikit berkeluh.
"Saya benar-benar minta maaf," ucap Edel hormat.
"Saya suka anak muda yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya," puji Pangeran Khalid pada Edel.
"Terimakasih Yang Mulia pujiannya, bahkan untuk waktu sekarang saya pun kalah dengan pekerjaannya," canda Malik melirik Edel.
"Tak apa Pangeran, nanti setelah menikah tentu akan banyak waktu untukmu. Benarkan 'nak Edel," ujar istri Pangeran Khalid. Edel hanya tersenyum mendengarnya.
Pukul sepuluh malam Pangeran Malik pamit pada Yang Mulialia Hassanudin. Mereka harus bersiap untuk perjalanan pulang ke Indonesia.
Malik membantu Edel mengepak pakaian di kamarnya. Kopernya pun bertambah karena Ibunda Ratu banyak memberi pakaian dan gaun baru untuk Edel.
"Mainlah kesini tiap akhir pekan, aku akan mengirimkan pesawat untuk menjemputmu," ujar Ibunda Ratu, Edel hanya tersenyum mendengarnya.
Tiap Minggu, kapan aku istirahat di rumah. keluh Edel dalam hati.
"Selesai. Ayo," ajak Malik.
"Kita akan naik helikopter ke bandara dari sana berganti dengan pesawatku," ujar Malik.
"Aku akan merindukanmu, jaga dirimu baik-baik anakku," kata Ibunda Ratu memeluk Edel lalu memberikan sebuah kotak perhiasan.
"Ah.. aku tidak bisa menerimanya Ibu. Maaf," tolak Edel.
"Ini hadiah untukmu dariku, hadiah pertunanganmu dengan anakku. Bagiku kalian sudah bertunangan sejak keluarga kita bersilaturahim," sahut Ibunda Ratu.
"Bukalah," titahnya.
Edel membuka kotak perhiasannya dan terdapat sebuah cincin bertahtakan berlian cantik sekali.
"Ini terlalu mewah buatku Ibu," gumam Edel.
"Kamu pantas mendapatkannya anakku. Pakailah," titahnya.
"Sini biar aku pakaikan," ujar Malik menghampiri Edel.
Malik menyematkan cincin berlian di jari manis tangan kiri Edel. Ukurannya pas sekali.
Dari mana Ibu tahu ukuran jariku?. Tanya batin Edel.
"Ini cantik sekali, terimakasih Ibu," ucap Malik memeluk Ibunya.
"Terima kasih," Edel pun memeluk Ibunda Ratu.
"Pergilah, ini sudah tengah malam setidaknya kalian bisa secepatnya istirahat ketika di pesawat," ujar Ibunda Ratu.
Mereka pun pamit pada Ibunda Ratu dan Baginda Sultan yang sejak tadi memperhatikan mereka dari sofa.
Edel berjalan bergandengan dengan Malik ke lapangan helikopter yang tak jauh dari istana utama.
"Aku belum pernah naik helikopter," ujar Edel sedikit berteriak mengimbangi suara dari helikopter.
"Ayo naik," titah Malik membantu Edel naik helikopter militernya.
"Aku akan menjadi pilotmu sekarang," lanjutnya tersenyum.