He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 127



Kabar duka Negara A bukan hanya tersebar di dalam negara saja tapi tentu di seluruh dunia dan banyak orang di seluruh dunia yang mendoakan Putri Grizelle juga berdoa untuk kesembuhan Pangeran Fatih.


Pangeran Fatih sudah selesai menjalani operasi tapi masih dalam keadaan koma dan kritis. Rencana mengalihkan perawatan pun dibatalkan karena kondisinya yang tidak memungkinkan.


Masyarakat ikut berduka atas kematian Putri Grizelle, terbukti dari banyaknya antusias warga yang berdatangan ke istana sampai memenuhi jalanan istana sampai berkilo-kilo meter menunggu kedatangan jenazah sang Putri Mahkota. Bendera setengah tiang pun berkibar di seluruh penjuru negara A.


Langit mendung seakan ikut bersedih atas kematian Putri Grizelle. Mobil ambulans yang membawa jenazahnya meninggalkan bandara disambut Isak tangis dan doa dari seluruh masyarakat yang turun ke jalan yang ingin ikut serta mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.


Keluarga kerajaan telah menunggu di pemakaman khusus untuk Royal Family.


Edel duduk berdekatan dengan kakak pangeran Malik, putri Syahara dan Putri Zeera yang telah tiba tadi subuh.


"Maaf, aku permisi ke toilet sebentar," ujar Edel pada kakak iparnya.


"Ayo aku antar," ucap Putri Syahara.


Edel tersenyum, "Tidak apa-apa, biar aku sendiri saja."


"Aku juga ingin ke toilet," jawab Putri Syahara beralasan.


Putri Syahara telah diberitahu pihak penyidik dan pangeran Malik jika target sebenarnya bukanlah pangeran Fatih dan putri Grizelle tapi mereka mengincar nyawa Edel.


Malik meminta Putri Syahara dan beberapa pengawal menjaganya lebih ketat lagi, karena mereka belum mengetahui dalang dibalik penembakan itu.


"Edel, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya putri Syahara ketika mereka berjalan di lorong menuju toilet.


"Ya, boleh."


"Apa belakangan kamu merasa diikuti atau ada yang memperhatikanmu gitu?"


"Kenapa?" Edel mulai merasa aneh, ini kesekian kalinya dia mendengar pertanyaan yang sama.


"Tidak, aku hanya bertanya saja," kelak putri Syahara.


Edel mencoba mengingat dan tiba-tiba teringat ketika dia bertemu Kate beberapa Minggu lalu dan Kate berbicara jika dia merasa sedang diawasi seseorang.


Apa sebenarnya aku yang diikuti?. gumamnya dalam hati.


Setelah selesai dari toilet, Putri Syahara dan Edel kembali ke ruangan tempat keluarganya berkumpul menunggu kedatangan jenazah Putri Grizelle yang sedang dishalatkan di mesjid besar Istana.


"Sayang, jangan keluyuran sendirian. kalau mau kemana-mana bilang sama bunda, nanti bunda antar," ujar Mrs. Soe melihat Edel datang.


"Aku ga sendirian ko Bun, aku sama putri Syahara dari belakang," Mrs. Soe tersenyum mendengarnya. Dia bersyukur banyak yang melindungi anaknya.


*


*


Prosesi pemakaman Putri Grizelle berjalan lancar dan penuh rasa haru. Baginda Sultan langsung yang memimpin prosesi, semua yang hadir merasa sangat kehilangan sosoknya yang sangat luar biasa, dia selalu tersenyum tak pernah menunjukan raut wajah sedih diberbagai kesempatan.


Setelah selesai pemakaman, kerajaan mengadakan tahlilan untuk mendoakan Putri Grizelle yang telah meninggalkan mereka juga meminta doa untuk pangeran Fatih yang masih dalam keadaan koma.


Pangeran Malik beserta Baginda Sultan menerima tamu dari duta besar negara lain dan tamu-tamu yang datang ke istana. Sedangkan Edel berada di istana barat berkumpul dengan keluarga besar kerajaan.


"Makanlah, bunda lihat kamu belum makan apapun dari pagi," titah Mrs. Soe melihat anaknya terdiam.


"Aku ga lapar bunda," ujarnya.


"Ingat kamu tidak sendiri sekarang. Kasian anakmu kalau kamu tidak mau makan!" tegas Mrs. Soe mengingatkan.


Edel terdiam, kejadian ini benar-benar membuat selera makannya hilang. Dia masih merasa bersalah atas kejadian yang menimpa pangeran Fatih dan istrinya, tapi dia tak bisa mengungkapkan perasaannya pada siapapun karena dia tahu pihak kerajaan telah mengubah statement tentang pergantian kunjungannya.


"Aku membawakanmu makanan ringan, tadi Malik meminta pihak dapur kerajaan untuk membuatkan ini untukmu," Putri Zeera menyerahkan kotak makan pada Edel.


Edel menerimanya dan membukanya, ada beberapa cake dan salad buah. "Terimakasih."


"Kau harus makan yang banyak, beruntunglah kamu tidak merasa mual saat trimester pertama. Dulu aku tidak bisa makan apapun sampai di rawat hampir dua Minggu," Putri Zeera menceritakan saat dia hamil.


Edel mulai memakan salad yang dibawakan untuknya.


"Maafkan mommy, anakku." lirih Edel mengusap perutnya.


***


"Siapa yang berani menyerang keluarga kerajaan?" Deo sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mereka ingin ikut serta dalam pemakaman Putri Grizelle tapi tidak bisa masuk walaupun mereka teman pangeran Malik, akhirnya mereka berkumpul di cafe langganan mereka.


"Sebenarnya aku salut sama orang itu, dia seorang yang sangat berani. Nyalinya sungguh besar," ujar Ronald kagum.


"Apa kamu menyukai orang seperti itu, Orang seperti dia yang menyuruh orang lain membunuh tak pantas sedikit pun untuk dikagumi!" tegas Shahmeer, dia sulit menyembunyikan rasa marahnya.


Ronald terdiam mendengar perkataan Shahmeer.


"Maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya kesal kenapa ada orang yang menargetkan mereka padahal mereka orang-orang yang sangat baik," ucapnya.


"Tak masalah," jawab Ronald singkat.


"Tak bisakah ayahmu membantu pangeran Malik mencari pelakunya?" tanya Deo.


"Se ... ,"


"Buat apa meminta ayahnya melakukan itu toh mereka pasti telah meminta penyidik bahkan FBI untuk mengusut tuntas kecelakaan itu!" tegas Shahmeer memotong pembicaraan Ronald.


"Kau kenapa?" tanya Deo pada Shahmeer, dia merasa Shahmeer tidak seperti biasanya bahkan dia berani memotong pembicaraan temannya padahal dia sendiri yang bilang tidak suka dengan orang yang suka memotong pembicaraan orang lain.


"Maaf," ucap Shahmeer.


"Mereka sudah mengetahui pelakunya sejak kemarin," ujar Ronald kemudian.


"Apa?!, apa pelakunya sudah di tangkap?" Shahmeer terlihat semakin gugup. Dia khawatir ibunya ditangkap dan akan memperburuk keadaan Azmy.


"Apa kau baik-baik saja, Kamu terlihat pucat," ujar Ronald.


"A-aku, aku baik-baik saja," jawabnya terbata.


"Ja-jadi apa sudah ditangkap?" tanyanya lirih.


"Menurut ayahku target sebenarnya bukanlah pangeran Fatih dan putri Grizelle," ujar Ronald setengah berbisik takut terdengar oleh orang lain.


"Maksudmu, mereka salah sasaran?" Deo terbelalak mendengarnya, dibalas anggukan oleh Ronald.


"Ayahmu tahu dari siapa?" tanyanya lagi.


"Ketua tim penyidik itu teman ayahku, dia bercerita jika mereka mengubah beberapa fakta demi melindungi target mereka yang sesungguhnya. Kalian pasti akan terkejut begitu mengetahui siapa target mereka," ujar Ronald lirih, dia merasa bangga telah mengetahui semuanya sebelum teman-temannya.


"Siapa?" tanya Deo.


"Edel, target mereka istrinya pengeram Malik. Edelweiss," bisiknya.


Shahmeer yang sedang minum langsung menyemburkan air dari mulutnya karena kaget mendengar perkataan Ronald.


"Iihhhh, Kau?!, kau sungguh aneh hari ini. jorok sekali!" ketus Deo yang hampir terkena semburan Shahmeer.


"Ma-maaf," ucap Shahmeer masih terbatuk lalu mengambil beberapa tisu untuk melapnya.


"Dia pasti salah, tak mungkin Edel targetnya. Bukankah dia baru tinggal di sini, aku tak yakin mempunyai musuh dalam waktu singkat," ujar Deo meneruskan obrolan mereka.


"Itulah yang sedang mereka selidiki sekarang."


"Apa dalangnya musuh dia ketika dia masih CEO?" Deo sangat penasaran dengan kecelakaan pangeran Fatih.


"Bukan, ayahku bilang bukan saingan perusahaan ayahnya Edel. Ini lebih ke masalah pribadi," jawab Ronald.


Shahmeer tidak dapat lagi menahan rasa gugupnya. Bahkan wajahnya pun terlihat pucat, dia takut teman-teman nya tahu jika dalang di balik semuanya adalah ibunya.


*****


Terimakasih sudah membaca 🥰🥰.


Stay safe everyone 🤗🤗🤗🙏