
Baginda Sultan duduk bersama Mr. Soe di sofa dengan Pangeran Fatih juga Mr. Fredrik dan Pangeran Malik pun ikut duduk di sana. Setelah mengobrol sana sini Pangeran Fatih menyatakan maksud kedatangan mereka berkunjung.
"Mr. Soe kedatangan kami ke sini, ingin membicarakan tentang pernikahan Pangeran Malik dengan putri anda Edel," kata Pangeran Fatih serius, Mr. Soe hanya mengangguk.
"Seperti yang telah dibicarakan dengan Putri Syahara di Singapore, apa kalian sudah menentukan tanggalnya?" tanyanya lagi.
"Mengenai tanggal, kami akan mengikuti anak-anak saja. Mereka mungkin mempunyai tanggal khusus yang mereka impikan untuk pernikahan mereka," sahut Mr. Soe bijak.
"Baiklah. Bagaimana pangeran, kau sudah menetapkan tanggal untuk pernikahan kalian?" tanya Baginda Sultan.
"Pernikahan?" kata Edel terkejut, dia memandang Malik dan berganti ke Mrs. Soe.
"Kami semua sudah melihat video kalian waktu di Singapore dan kamu setuju menikah dengan Pangeran Malik. Jadi ya, bunda dan Putri Syahara menjadwalkan pertemuan keluarga hari ini yang harusnya di rumah tapi berhubung kamu kecelakaan dan masuk rumah sakit jadi ya di sinilah ... ," terang Mrs. Soe.
Edel ingat kejadian di Singapore di dekat patung Merlion, dia setuju ajakan Malik untuk menikah. "Kenapa bunda tidak memberitahuku?".
"Tadinya kami mau membuat kejutan untukmu dengan kedatangan kami berkunjung ke sini, tapi kamu malah membuat kami terkejut duluan dengan kecelakaan kemarin," sahut Ibunda Ratu memegang tangan Edel.
"Jadi bagaimana, apa kalian sudah bisa menentukan tanggalnya sekarang?" tanya Putri Syahara. "ayolah jangan terlalu lama, kami ingin pernikahan kalian secepatnya dilaksanakan".
Wajah Edel merona mendengar penuturan Putri Syahara, dia melirik Malik tersenyum.
"Apa kamu punya tanggal impian untuk pernikahanmu?" tanya Malik.
"Tidak ada, aku pikir semua tanggal, bulan ataupun hari semua bagus," sahut Edel.
"Bagaimana jika di hari ulang tahunmu saja," Malik memandang Edel.
"Ulang tahun ku?, masih lama ya ...," ujarnya.
"Sekarang juga tak masalah jika kamu siap," canda Malik.
Mereka semua tertawa mendengar perkataan Edel dan candaan Malik yang menggoda kekasihnya. Wajah Edel semakin memerah menyadari apa yang dikatakannya barusan.
"Bagaimana jika pernikahannya di tanggal yang semula untuk pesta pertunangan kalian?" saran Baginda Sultan.
"Ya, saya rasa itu bagus. Saya setuju dengan Yang Mulia," timpal Mr. Soe.
"Bagaimana?" tanya Malik melirik Edel.
"Ya, Baiklah," ucap Edel.
"Baiklah jika semua sudah setuju, kami akan mempersiapkan pengumuman resminya, dan mengingat para wartawan juga sepertinya sudah tak sabar memuat kabar hubungan kalian, dua atau tiga hari lagi akan kami umumkan," terang Putri Syahara.
Mr. Soe meminta Pernikahan mereka, ijab kobulnya dilaksanakan di Indonesia. Karena selain Edel orang Indonesia juga keluarga besarnya berada di sini, dia ingin ketika anaknya menikah keluarga besarnya dapat ikut serta menyaksikannya ikut serta berbahagia dengannya.
Keluarga Malik menghormati permintaan Mr. Soe dan setuju dengannya, mereka juga berkata akan menambah pengawalan untuk keluarga Soe karena pasti mereka akan di kelilingi wartawan kemana pun mereka berada dan akan menguranginya jika keadaan sudah lebih kondusif.
"Kami akan mengutus utusan kami untuk membantu semua persiapan di sini mengingat acaranya hanya tiga bulan lagi," Kata Pangeran Fatih.
Baginda Sultan dan Ibunda ratu lebih menyerahkan semuanya pada anak-anak nya untuk membantu persiapan pernikahan putra bungsunya, karena kegiatan mereka yang sangat padat sebagai kepala Negara.
"Kami sungguh ingin berlama-lama di sini bersamamu, tapi kami harus segera pulang," kata Ibunda Ratu yang masih memegang tangan Edel.
"Terima kasih sudah datang berkunjung, saya minta maaf jika tempatnya jadinya di sini dengan jamuan seadanya," ujar Mrs. Soe.
Putri Syahara merangkul Mrs. Soe. "Tak apa ibu."
Pukul lima keluarga Malik berpamitan pada keluarga Edel untuk pulang, mereka akan kembali ke hotel dan berangkat ke bandara menggunakan helikopter dari hotel untuk mengejar waktu. Mereka harus segera sampai ke Negara A untuk beristirahat dan besok pagi jadwal mereka sudah menunggunya.
Malik masih akan tinggal di Indonesia sampai Edel keluar dari rumah sakit, dia ingin berada di samping kekasihnya saat dia sedang sakit. Setidaknya itulah yang bisa dia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya atas kejadian belakangan ini dan berda di smpingnya saat pengumuman resmi hubungan mereka dikeluarkan.
***
Dua hari kemudian,
"Sayang, Kau ingin baju pengantinmu nanti dirancang oleh siapa?" tanya Mrs. Soe.
"Bunda aja yang pilih, aku ikut aja," sahut Edel.
"Hahahaha ... , tak usah merepotkan mereka. Di sini juga banyak perancang kelas internasional." jawab Edel.
"Sebaiknya kita segera mencari wedding organizer untuk membantu mengurus semuanya, Kau ingin menikah di Jakarta atau di Bandung?" tanya Mrs. Soe lagi.
"Di bandung aja sayang, keluarga kita banyak di sana," kata Mr. Soe.
"Kalau kau sudah pulih kita bisa cek beberapa tempat untuk menggelar pernikahanmu di sana," lanjutnya. "Kau mau ikut Pangeran?".
"Aku ingin ikut, tapi aku tidak tahu apa bisa atau tidak. Jadwal ku sedikit penuh dan aku juga harus membantu mempersiapkan segalanya di sana, ini adalah pernikahan impianku aku ingin semuanya sempurna," ungkap Malik.
"Kita bisa melihat tempatnya ketika kau datang ke sini lagi. tapi ingat, sebulan sebelum acara kita harus sudah memesan tempat untuk pernikahan kalian. Biasanya banyak yang mengadakan acara di akhir tahun, jadi kita harus lebih awal membooking nya," ujar Mr. Soe.
"Baik ayah. Pasti akan aku usahakan secepatnya kembali ke sini untuk ikut mempersiapkan segalanya," kata Malik.
"Assalamualaikum, selamat siang," kata seorang dokter wanita berusia hampir setengah abad menghampiri mereka yang sedang berdiskusi.
"Wa'alaikumsalam, silahkan dokter," kata Mrs. Soe.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya dokter pada Edel lalu memeriksanya.
"Alhamdulillah baik, kapan aku boleh pulang dokter? aku sudah merasa sehat."
"Kita akan lihat dulu hasil pemeriksaan hari ini," kata dokter ramah.
Setelah mengobrol cukup lama bertanya ini itu dan melakukan pemeriksaan, dokter Sarah pamit.
"Saya permisi, tolong di jaga dulu makanannya. Sepertinya kamu makan makanan pedas ya kemarin," ujar dokter Sarah tersenyum. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka.
Keren tuh dokter bisa tau aku makan pedes semalam. pikir Edel.
***
"Malik apa kamu tidak bosan bersamaku di sini beberapa hari ini?" tanya Edel tiba-tiba.
Malik selalu menjaga Edel siang dan malam, dia jarang meninggalkan Edel di kamar dan kalau mau makan atau pun berganti pakaian, semuanya sudah di sediakan oleh Mr. Husein.
Sudah seperti suami siaga aja. pikirnya.
"Apa kamu ga mau aku temani?" tanyanya balik.
"Tidak, aku hanya tidak enak denganmu."
"Tak usah merasa begitu, aku ingin menjagamu mumpung aku ada di sini," ujar Malik.
"Apa keluargamu tidak bilang apapun kamu selalu menemaniku siang dan malam?" Malik mengerutkan kening mendengar pertanyaan Edel.
"Ya, Ibuku yang menyuruhku menemanimu sampai kau keluar rumah sakit dan ayah juga setuju dengan Ibu. Lagian di sini jauh lebih aman, kalau aku keluar di bawah banyak wartawan yang sedang menungguku. Itu akan sangat merepotkan!" gerutu Malik.
"Wartawan, di bawah?!" kata Edel kaget. "Buat apa wartawan berada di sini menunggumu," ujarnya.
"Ya ampun honey. Ya karena mereka penasaran denganmu karena kamu calon istriku dan I'm a Prince honey ... ," kata Malik agak ketus.
"Humph ... ," geram Edel.
"Kau cantik sekali honey, tapi lebih cantik jika kau tersenyum," rayu Malik melihat Edel yang cemberut.
"Aku bosan sekali hanya berbaring di sini," rengeknya.
*****
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like, kasih komentarmu yang membangun, juga lima rate ⭐ dan jadikan novel pertamaku masuk daftar favorit bacaanmu.
Terima kasih 🥰🤗.