
Malik memejamkan matanya, tapi setiap dia memejam terbayang jelas wajah kekasihnya. Malam itu Malik tak bisa tidur, dia masih merasakan hangatnya tangan Edel dan wangi nafasnya ketika mereka hampir berciuman.
Malik keluar kamarnya menuju tempat gym di hotel itu, dia mempunyai akses penuh karena menghuni kamar President Suite. Mencoba mengalihkan pikirannya dengan berolahraga dan hasilnya sia-sia, apapun yang dia lakukan selalu terlihat terbayang wajah kekasihnya yang berusaha menariknya, jantung Malik kian berdebar kencang.
Setelah dirasa cukup lelah dia kembali ke kamarnya dan langsung mandi mendinginkan kepalanya, tapi sayang bayangan Edel dalam bathtub kembali menyeruak masuk ke dalam ingatannya.
Malik mengambil wudhu dan shalat malam, mungkin dengan begitu dia akan bisa tertidur, dan benar saja dia tertidur di atas sajadahnya.
***
Edel terbangun di jam setengah empat subuh waktu Turki, dia menyetel alarm karena subuh Turki berbeda dengan di Indonesia. Di Turki shalat subuh sama seperti di Indonesia jam setengah lima subuh tapi dari shalat dzuhur waktunya berbeda bisa menjadi pukul satu siang, bahkan shalat isya pukul setengah 10 dipengaruhi musim.
Kepalanya masih sedikit pusing, dilihatnya di sampingnya ada Queenzha yang masih terlelap.
"Kenapa dia bisa tidur di sini," Edel mencoba mengingat kembali kejadian semalam, wajahnya langsung panas memerah ketika ingatan kejadian semalam satu persatu muncul di kepalanya.
"Ya Allah, ya Rabb ... ," ucapnya langsung bergegas mengambil wudhu dan shalat malam.
Queenzha bangun pukul 6 waktu Turki, berusaha membuka matanya dan menyadari Edel sudah tidak berada di sampingnya. Dengan panik dia bangun, memanggil dan mencari Edel ke kamar mandi lalu ke ruangan lain di kamar itu tapi tak dia temukan.
"kemana dia pagi-pagi sudah tak di sini," gumamnya mengambil ponsel di atas nakas lalu menghubungi Edel.
Bunyi getaran ponsel terdengar dari nakas satunya. "Dia tidak membawanya."
Queenzha keluar kamar dengan menggunakan kimononya karena begitu khawatir dengan Edel yang menghilang pagi ini.
"Apa aku harus bertanya pada Pangeran Malik?" tanyanya pada diri sendiri ketika melewati pintu kamar Malik, akhirnya menghubungi seseorang.
"Halo, pagi Tante. Apa Edel ada di sana, malam tadi aku tidur di kamarnya tapi pas bangun dia sudah tidak ada. Ponselnya juga ditinggal di kamar," kata Queenzha berusaha terdengar biasa, dia tidak mau Mrs. Soe panik gara-gara mendengar anak gadisnya tiba-tiba menghilang pagi ini.
"Tidak, dia tidak ke sini. Mungkin Malik mengajaknya jalan, mereka biasa jalan pagi jika sedang bersama," jawab Mrs. Soe.
"Oh, begitu ya Tante. Maaf ya Tante aku ganggu. Morning Tante ... ," pamit Queenzha mengakhiri panggilan nya.
Queenzha baru tersadar dia berada di depan lift masih menggunakan kimono tidurnya.
"Sebaiknya aku mandi dulu," gumamnya kembali ke kamar Edel.
Satu jam sebelum Queenzha bangun,
Edel tidak bisa menenangkan pikirannya, dia harus menemui Malik dan meminta maaf atas kejadian semalam.
Setelah shalat subuh dia menghubungi Malik.
"Assalamualaikum," sapa Edel.
"Wa'alaikumsalam, apa kau baik-baik saja?" tanya Malik yang teringat kejadian semalam.
"Malik bisakah kita bicara, jangan di kamarku. Bolehkah aku ke kamarmu atau kita jalan-jalan di sekitar hotel, bagaimana?" tanya Edel langsung ke inti.
"Kita bicara di kamarku saja, password nya tanggal pernikahan kita nanti," jawab Malik yang merasa badannya agak lelah.
"Tanggal pernikahan?" ulang Edel.
"Jangan bilang kau melupakan tanggal pernikahan kita," kata Malik penuh selidik.
"Ok lah aku ke sana sekarang," kata Edel tanpa menjawab tanggal pernikahan nya.
Edel masuk ke kamar tidurnya melihat Queenzha masih terlelap, dia menyimpan ponselnya diatas nakas. lalu menyampirkan syal di lehernya agar merasa hangat sebelum pergi ke kamar kekasihnya.
"Tanggal berapa ya?" gumamnya berdiri depan pintu kamar Malik, tanpa dia sadari Malik memperhatikannya dari layar monitor dalam kamarnya.
"Assalamualaikum," ucap Edel memasuki kamar Malik, tidak terdengar jawaban seakan kamar itu tak ada orang atau kosong.
kamar Malik tak jauh berbeda dengan kamar Edel, dia melangkah mengitari ruangan mencari kekasihnya.
"Malik ... ," panggilnya, tetapi tak ada jawaban. Edel mencari di setiap ruangan kecuali ke kamar tidurnya.
"Malik ... ," panggilnya lagi. " ayolah jangan bermain petak umpet, ini sungguh tak lucu."
Edel membuka pintu kamar Malik masuk ke dalam kamarnya, dan ... ,
"Daaaarrrrrr ... ," Malik muncul dari balik pintu kamarnya mengagetkan Edel.
"Aaaaa ... ," teriak Edel kaget. "kenapa kau mengagetkanku seperti itu, apa kau anak kecil?!" geram Edel disambut tawa oleh Malik. Sungguh sangat kekanakan pikir Edel.
Edel keluar kamar tidur Malik diikuti kekasihnya yang masih tertawa dengan kejahilan nya.
"Jangan marah honey, aku hanya bercanda," melihat Edel masih cemberut dan duduk di sofa ruang keluarga.
Mereka duduk bersebelahan, Malik memandang kekasihnya dan tersenyum. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya, aku baik. kamu?" tanyanya mulai canggung teringat kejadian semalam.
"Ehmm," Malik mengangguk.
"Soal semalam ... ," wajah Edel mulai merona tak bisa meneruskan kalimatnya karena malu.
"Memangnya kenapa semalam?" tanya Malik pura-pura tidak mengerti.
"Maafkan aku," ucap Edel menunduk malu, dia meremas kedua tangannya dan menggigit bibirnya.
"Aku yang harusnya meminta maaf, maafkan aku karena mengguyurmu dengan air shower. Aku tidak bermaksud melakukannya, tapi hanya itu cara yang terlintas di pikiranku," terang Malik menghadap kekasihnya, menyilakan satu kaki di sofa dan memegang tangan Edel.
Edel memandang Malik yang tersenyum, senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya yang membuat para wanita rela melakukan apa saja untuk mendapatkan si pemilik lesung pipi itu. Ia teringat bagaimana dirinya membelai wajah kekasihnya semalam dan menarik Malik hendak menciumnya.
Malik terkejut ketika Edel tiba-tiba memeluknya erat, Jantungnya berpacu dengan kencang, wajahnya terasa panas dan merona merah.
"Honey," panggil Malik meminta penjelasan.
"Biarkan aku memelukmu sebentar, aku malu sekali melihatmu," pinta Edel.
Malik tertawa kecil mendengarnya, dia membalas pelukan kekasihnya dan membelai rambutnya.
"Kau tidak perlu merasa malu padaku, Honey." ujar Malik mengeratkan pelukannya, dia mencium harum badan kekasihnya yang mungkin akan membuat candu baginya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi aja, dan jangan banyak komentar!" gerutu Edel masih memeluknya.
Perlahan Edel melepaskan pelukannya, tangannya masih melingkar di leher Malik. mencoba memandang dalam manik mata kekasihnya.
Cium jangan, cium jangan, cium jangan ... . batin Edel berperang melawan nafsu yang tiba-tiba muncul.
Malik tersenyum menatap kekasihnya, Ini pertama kalinya dia memperhatikan Edel sedekat ini. Pernah beberapa kali dia melakukannya tapi ketika Edel tertidur di dekatnya.
Edel menggigit bibirnya, jantungnya kian berdebar membayangkan dia mencium Malik duluan. Nafasnya mulai tak teratur.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰