He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 104



Edel tak bisa tidur, jantungnya berdebar menanti hari esok Ia akan dipersunting oleh kekasihnya Malik. Dilihatnya Queenzha dan Mita telah terlelap, dia mengambil kimononya lalu keluar balkon kamar. Angin malam benar-benar menusuk tubuhnya, dingin sekali hingga dia mengurungkan niatnya melihat pemandangan malam ini.


Dia mendekati kebaya yang terpampang di hadapannya dalam manekin yang akan dia gunakan besok. Edel tersenyum lembut menatapnya. "Kebayaku, besok aku akan memakaimu," gumamnya lirih.


Beralih ke siger yang masih berdiri dengan gagahnya dalam kotak kaca. Campuran emas putih dengan taburan kristal, diamond putih, dan permata bertengger di sana menambah kesan elegan.


"Apa aku pantas memakaimu?" bisiknya pada siger.


Perasaan bahagia juga takut bercampur menjadi satu di hatinya. Bahagia karena akan menikah dengan kekasih hatinya, takut karena mulai besok dia akan menjadi princess Malik Ibrahim yang setiap gerak geriknya selalu menjadi perhatian semua orang di dunia, dia takut akan membuat malu keluarga suaminya terlebih keluarganya sendiri.


Edel mengambil bantal dan mendekati sofa depan tv, berharap bisa tertidur saat menonton. Puluhan kali dia memencet remot tv, tak ada tayangan yang menarik hatinya sampai dia melihat salah satu drama Korea sedang tayang. Dia sungguh belum mengerti alur ceritanya karena menonton di pertengahan episode tapi tetap dia tonton berharap ngantuk segera datang.


Seperti biasa, jam berapa pun dia terlelap, matanya akan terbuka di setengah empat subuh. Melihat tv yang masih setia menontonnya yang tertidur dengan tayangan yang sudah berubah, dia mematikan tv-nya beranjak ke dalam kamar mengambil ponsel Mita yang dia simpan di nakas untuk melihat waktu.


Pukul empat subuh, Mita terbangun karena ponselnya berbunyi. Dilihatnya Mrs. Soe menghubunginya agar membukakan pintu kamar mereka. Dia mencari sahabatnya yang akan menikah tapi tak kunjung dia temukan lalu menghampiri kamar mandi.


"Del, Lo di dalam?" tanyanya lantang.


"Ya, gw lagi mandi," terdengar sahutan cukup keras dari dalam.


"Tumben mandi jam segini," gumamnya, lalu membukakan pintu kamar untuk Mrs. Soe.


Mrs. Soe dengan beberapa MUA datang, dan desainer baju Edel pun bersamanya. Mereka akan merias calon pengantin yang akan menikah hari ini.


"Dia sedang mandi," ujarnya memberitahu dan tak lama mereka melihat Edel keluar kamar tidurnya dengan bathrobe nya.


"Maaf, bisakah kalian meriasnya setelah Ia shalat subuh?" pinta Mrs. Soe penuh senyuman.


"Tentu Bu," jawab mereka.


MUA mulai merias wajah Edel setelah shalat subuh dengan masih menggunakan bathrobe nya.


Sementara di kamar Malik, MUA kenamaan yang biasa dipakai jasanya keluarga kerajaan telah hadir dari pukul 6 WIB. Desainer baju yang akan dipakainya telah berada di kamarnya mengingat Malik harus siap terlebih dahulu dibanding Edel yang masih dalam proses make up.


Pukul 8.00 Malik telah siap untuk turun menuju ballroom tempat acara ijab kobul akan dilaksanakan, jantungnya berdebar kencang ingin segera melihat kekasihnya.


Karena mereka menggunakan adat Sunda, begitu mau memasuki ballroom Malik disambut dijemput oleh kedua orangtua Edel yang biasa disebut mapag panganten lalu Mrs. Soe mengalungkan rangkaian bunga melati pada Malik lalu di apit oleh kedua orangtua Edel menuju tempat ijab kabul. Tapi sebelum itu, mereka disambut dengan tarian Lengser.


Edel menunggu di suatu ruangan dekat ballroom dengan jantung berdebar. Hari ini dia akan menikah dan menjadi istri Malik Ibrahim. Dia tidak akan berada di samping Malik ketika Malik ijab kobul, dia akan keluar setelah Malik mengucapkan ijab kobul dan ia telah menjadi istrinya.


Mr. Soe memandang tajam mata Malik saat mereka berpegangan tangan untuk ijab kobul, kalau Ia bukan seorang pangeran dengan setumpuk gelar dari academi militer mungkin akan langsung menciut.


Mr. Soe mengucapkan ijab duluan dan Malik langsung mengucapkan kobulnya. acara ijab kobul berjalan lancar dan khidmat, semua yang berada di ruangan merasa lega ijab kobul sudah terlaksana.


Semua orang dalam ruangan melihat dan terpesona oleh kecantikan Edelweiss, tak terkecuali Malik. Dia terus memandang Edel yang sekarang sudah menjadi istrinya secara agama ataupun negara.


Jantungnya berdebar kencang ketika kekasihnya yang sudah menjadi istrinya duduk di sebelahnya. Edel tak berani menatap langsung mata Malik, dia tersipu malu dan merasa wajahnya merona merah saat sadar sekarang dia sudah menjadi istri dari lelaki di sampingnya.


Satelah acara penandatanganan, Malik memasangkan cincin pernikahan di jari lentik Edel, begitupun dengan dia memasang cincin di jari Malik. Edel mengambil tangan kanan Malik lalu menciumnya, Malik tersenyum senang ketika Edel melakukannya dia langsung mencium kening Edel dan tanpa disangka dia juga mencium bibir Edel untuk pertama kalinya membuat istrinya tertegun dan mendapat sorakan dan tepuk tangan meriah dari semua yang hadir di sana.


Ah, malu sekali. Kenapa dia harus mencium bibirku di depan umum, pikirnya. ingin rasanya dia berteriak malu dan menutup wajahnya.


My first kiss. batinnya.


Moment pernikahan mereka disiarkan langsung di berbagai stasiun tv seluruh dunia, termasuk ketika Malik mencium bibir Edel. Shahmeer yang sedang dalam perjalanan menuju tempat acara dan melihatnya hanya terdiam, hatinya sangat sakit melihat gadis pujaannya sekarang telah menjadi istri dari sahabat dekatnya.


Setelah acara sungkeman pada orangtua mereka, Edel dan Malik menuju altar untuk mendapat ucapan selamat dari keluarga, teman dan tamu undangan.


Keluarga Soe tidak menunda resepsi pernikahan anaknya ke malam hari seperti publik figure lain, mereka mengadakan resepsi di siang hari setelah acara ijab kobul.


Banyak rekan bisnis keluarga Soe yang hadir, termasuk keluarga Mr. Ommar dan keluarga Urdha. Mereka hadir di hari istimewa sahabat mereka.


"Selamat ya, kau cantik sekali sampai pangling aku melihatmu," ujar Kate disusul Deo di belakangnya.


"Terimakasih, kamu juga telah ambil andil dalam semuanya," menunjuk siger yang dia pakai.


"Itu pekerjaanku," bisiknya, Edel dan kate tertawa.


"Selamat bro," ucap Deo pada Malik memeluknya dengan cara lelaki.


Mita tak dapat menahan air matanya ketika memberi ucapan selamat pada Edel, dia bahagia temannya telah menemukan pasangan hidupnya sekaligus sedih karena setelah dia dipersunting tentu akan meninggalkannya di Indonesia untuk tinggal bersama di negara suaminya.


"Doakan aku agar mendapat pangeran sepertimu, pangeran Yordania juga tak masalah," ujarnya pada Edel.


"Hadirlah nanti di resepsi di negaraku, akan aku kenalkan kau dengan pangeran Yordaniamu," sahut Malik tertawa kecil.


Tamu undangan juga banyak yang dari para duta besar yang sedang bertugas di Indonesia, bahkan presiden Indonesia dan wakilnya juga turut hadir dan memberikan selamat kepadanya.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰