
H-6 Penobatan Putra Mahkota.
"Maaf sayang, hari ini aku harus ke istana."
"Oh iya, hari ini ya. Kalau gitu nanti aku jemput," ujar Deo.
"Tidak perlu, lagian aku bawa mobil sendiri," kilah Kate.
"Tidak, pak Eddy akan mengantarmu dan jangan membantah. Aku tidak mau kamu kecapean!" tegas Deo.
"Baiklah, nanti aku hubungi lagi. Aku mau menyiapkan bekal untuk Hazel dulu," ucap Kate yang malas kalau Deo sudah mulai protektif padanya.
"Jadi membawa Hazel?" tanyanya.
"Tentu, aku tidak tahu berapa lama di sana dan aku juga mungkin akan langsung berangkat ke Yayasan bersama Edel dan putri Syahara."
"Akan akan ikut bersama kalian ke yayasan," ujar Deo.
"Hei, ayolah tak perlu seperti itu," ketus Kate.
"Kabari saja aku ketika kalian akan berangkat ke sana. Aku akan langsung datang," ujar Deo.
Kate langsung mengakhiri panggilannya dan melempar sembarang ponselnya ke atas tempat tidur. Dia sungguh tidak mengerti kenapa Deo menjadi protektif seperti itu padahal dulu dia seorang yang tidak peduli dengan kehidupan istrinya, menurutnya.
***
Edel baru saja selesai rapat dengan beberapa petinggi founder bersama Ibunda Ratu.
"Saya akan ke Yayasan bersama Kate dan juga Yang Mulia Putri Syahara," sahut Edel.
"Bukankah hari ini ada janji temu dengan Mrs. Catherine Urdha?" tanya Ibunda Ratu.
"Benar Yang Mulia, sekitar satu jam lagi. Setelah itu kami akan langsung ke yayasan dengannya, Kami berencana bekerjasama dengan Mrs. Urdha, beliau akan ikut mengisi kelas di sekolah," ucap Edel.
"Yang Mulia, Saya mohon undur diri," ucap Edel. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi sebelum Kate datang.
Edel kembali ke ruangannya bersama Mrs. Harold.
"Aku melihatnya di media sosial. Anak itu benar-benar mirip mendiang Yang Mulia Pangeran Fatih," bisik seorang wanita di sudut koridor.
"Ya, aku juga melihatnya. Dia sangat tampan, walaupun masih kecil tapi terlihat sangat gagah," timpal wanita lain yang bersamanya.
Edel yang akan masuk ke koridor dalam menghentikan langkahnya dan menguping apa yang sedang mereka bicarakan.
"Yang Mulia," bisik Mrs. Harold menyadarkan Edel dan mulai kembali melangkah memasuki koridor tempat beberapa wanita tadi berbincang hangat.
Mereka terkejut melihat Edel masuk ke sana dan membungkuk hormat. Wajah mereka terlihat pucat, takut jika tuannya mendengar apa yang sedang mereka obrolkan dan menghukumnya.
"Yang Mulia Putri Edelweiss," ucap mereka memberi salam, gemetar menunduk penuh ketakutan.
Edel memberikan senyuman hangatnya pada mereka dan berlalu. Dia merasa tidak berhak menghukum mereka hanya karena mereka berbicara tentang anaknya mendiang pangeran Fatih.
Wajah anak laki-laki itu memang sangat mirip dengan mendiang Pangeran Fatih. Hanya badannya yang berbeda, anak itu memiliki badan sangat tegap dan gagah seperti Baginda Sultan dan Pangeran Malik.
"Bagaimana ini, apa Yang Mulia Putri Edelweiss mendengarkan kita membicarakan anak itu," ujar seorang wanita tadi dengan nada penuh cemas.
"Sepertinya tidak, kau lihat tadi Yang Mulia Putri Edelweiss tersenyum pada kita," jawab yang lain berusaha meyakinkan diri dan teman-temannya.
"Yang Mulia memang selalu tersenyum seperti itu," ucap yang lain.
"Bacakan aturan pasal JJ no 142!" ucap Mrs. George yang sudah berdiri sedari tadi tak jauh dari mereka mengobrol.
Mereka terkejut bukan kepalang. Kepala Sekretariat Ibunda Ratu berdiri dengan tegap di ujung koridor.
Mereka menunduk berjajar menghadap kepala Sekretariat Ibunda Ratu.
"Jagalah lisan dan pikiranmu!" ucap Mrs. George dan berlalu pergi.
Para pegawai istana tadi menunduk malu mengingat apa yang telah mereka perbuat tadi.
***
"Yang Mulia, Yang Mulia Pangeran Malik sudah menunggu anda di dalam," ucap Mr. Husein yang bertemu dengan Edel di luar ruangan Edel.
"Oh, ya. Baiklah, terimakasih," ucap Edel pada Mr. Husein dan bergegas masuk.
"Assalamu'alaikum Yang Mulia Pangeran," ucap Edel memberi salam pada Malik.
Malik yang sedang berdiri menghadap meja kerja Edel langsung berbalik mendengar salam dari wanita yang ditunggunya sejak tadi.
"Wa'alaikumsalam, duduklah," jawab Malik mempersilahkan Edel duduk.
Mereka memang bertemu di ruangan Edel, namun karena kedudukan Malik yang tentu saja lebih tinggi dari Edel menjadikannya lebih berkuasa di ruangan itu.
"Assalamu'alaikum, Yang Mulia Pangeran Malik, Semoga Allah selalu mencurahkan keberkahan untukmu Yang Mulia," Mrs. Harold masuk menyapa Malik dan meletakan tumpukan map dokumen di meja Edel lalu pamit ke luar ruangan memberikan ruang untuk tuannya berbicara berdua.
"Ada apa yang Mulia datang ke ruanganku?" tanya edel. Mereka bersikap formal ketika sedang bekerja melaksanakan tugas kerajaan.
"Tadi kebetulan aku lewat dekat ruanganmu jadi mampir sebentar ke sini. Aku merindukanmu," Malik mulai mengubah bahasanya menjadi informal.
"Honey, untuk kunjungan besok sebaiknya biar Mrs. Harold saja yang berangkat menggantikanmu. Aku sudah berbicara dengan Baginda dan beliau menyetujuinya," ucap Malik langsung pada inti kedatangannya.
Jadwal Edel untuk kunjungan besok memang sudah dijadwalkan sejak beberapa bulan yang lalu.
"Ada apa?" tanya Edel.
"Beberapa hari lagi acara penobatan akan di gelar, aku tidak ingin terjadi apapun denganmu, aku takut kamu kelelahan."
"Tidak akan terjadi apapun denganku. Tapi jika itu adalah yang terbaik maka aku akan menurut padamu," jawab Edel.
Pihak kerajaan memang tidak mengkhawatirkan dengan viralnya pemberitaan tentang percintaan mendiang Pangeran Fatih. Yang mereka khawatirkan adalah karena mereka menemukan alat sadap di mobil Edel beberapa waktu yang lalu dan setelah diperluas pencarian, mereka pun menemukan alat sadap di ponsel Edel.
Seperti biasa penemuan alat sadap ini pun dirahasiakan dari Edel, hanya Malik, Baginda Sultan dan beberapa ajudan istana yang mengetahuinya termasuk Mr. Husein dan Mrs. Harold.
Mereka masih menyelidiki siapa yang berani menyadap Istri dari Pangeran Malik, namun sampai sejauh ini pihak istana belum menemukan titik terang tentang penyadapan tersebut, jejaknya benar-benar bersih.
Seluruh pegawai istana yang berkaitan dengan Edel dan Malik telah mereka introgasi secara rahasia, tapi tak satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Cctv di seluruh tempat parkir atau pun di tempat yang biasa Edel singgahi tak merekam seseorang yang menunjukan pelaku penyadapan tersebut.
"Ada apa?" tanya Edel lagi melihat Malik melamun.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Besok kamu akan mendampingiku menghadiri undangan dari salah satu chairman perusahaan terbesar di negara A."
"Baik, Yang Mulia," ucapnya mengangguk pelan.
"Honey, Kamu akan mendapatkan pengawalan tambahan mulai hari ini. Mrs. Harold dan Mrs. Anna akan mengawalmu kemanapun kamu pergi melaksanakan tugas. Aku harap kamu tidak mengeluhkannya," ujar Malik tegas.
Ya ampun, padahal pengawal ku saja sudah ada 6 orang, dan sekarang ditambah lagi. Seperti permainan bola saja, 1 bola dikawal 11 orang. pikir Edel.
***
Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏
Jangan lupa like, komen, dan kasih hadiah buat author agar lebih semangat lagi up nya. 🥰
Stay safe everyone.🤗
ini salah satu novel yang masuk rak favoritku, mana favoritmu?