He'S A Prince

He'S A Prince
Perasaan Yang Aneh



"Aneh padahal gw dah kasih no telepon Edel, apa no nya ilang ya," gumam Mita pada diri sendiri.


Edel terdiam mendengar gumaman Mita dan berbalik kembali ke depan temannya.


"Lo ... Lo ngasih no gw ke dia?" tanya Edel.


"Hmmm ... iy- iya ... maaaffff," kata Mita menangkupkan kedua tangannya.


Edel duduk sambil menyilangkan kedua tangannya, menggerakkan kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk, cemberut.


Mita mendekati Edel memeluk dan menggoyang-goyangkannya.


"Jangan marah, tar cepet tua lho," rayu Mita.


"Lo sih, aaaahhhh ... Lo mah gitu!" cetus Edel sedikit berteriak merajuk.


Mita tersenyum, dia tau Edel akan memaafkannya.


"Tar kalo dia ngehubungi gw, gw harus bilang apa?" Edel merajuk.


"Ya gampang, jangan Lo jawab. Kalo perlu Lo reject aja," tegas Mita.


"Gw kan ga tau no dia, tar gimana kalo gw reject eh yang telepon dari klien?" tanya Edel memperlihatkan muka manjanya.


"Ya, Lo jawab berarti," kata Mita.


"Ah ... Lo mah," ujar Edel.


Mita tertawa melihat Edel merajuk.


"Bukannya Lo mau mandi ya?" tanya Mita.


"Ah ... males deh jadinya," kata Edel dengan suara manja.


"Mandi gih!" suruh Mita.


Edel tetap duduk di tempatnya cemberut.


Mita malah makin tertawa melihat temannya merajuk seperti anak kehilangan mainannya.


Jam setengah delapan mereka telah siap pergi.


dddrrrrrttt ... drrrttt ....


Edel melihat layar ponselnya, nomor tidak di kenal tertera di sana.


Mu**ngkinkah. batin Edel, dia hanya melihat ponselnya tidak mengangkatnya.


"Angkat, jangan, angkat, jangan, angkat, jangan," gumam Edel.


"Angkat aja!" seru Mita, tersenyum melihat tingkah Edel.


"Enggak ah, tar kalo bunyi ketiga kali baru mau gw angkat," jawab Edel sedikit ketus.


Ponselnya terus berbunyi yang kedua dan akhirnya bunyi untuk ketiga kalinya.


"Nah tuh bunyi ketiga, angkatlah," kata Mita.


drrrttt ... drrrttt ... drrrtttt ... hampir bunyi terakhir.


"Sudahlah," gumam Edel.


Edel akhirnya menerima teleponnya.


"Ya, assalamu'alaikum," sapa Edel agak ragu.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Ko lama banget angkat teleponnya?" suara wanita di seberang telepon.


"Bunda," sahut Edel, melihat layar teleponnya.


"Nomornya siapa Bun?" lanjut edel.


"Ini kan nomor ademu, emang ga kamu save nomornya?" kata bunda.


"Ah, dia nomor ganti Mulu jadi males save," jawab Edel.


"Terbang jam berapa?" tanya bundanya.


"Sorean bunda," jawab Edel.


"Kamu baik-baik aja kan? suaramu ko beda," kata bunda.


"Aku baik-baik aja ko bun, bun tar aku telepon lagi ya. Aku harus ke rumah tante Ommar dulu," kata Edel.


"Ya bunda, Assalamu'alaikum," Edel menutup teleponnya.


Edel melirik Mita.


"Gw bilang juga apa, angkat tuh telepon. Bunda kan yang telepon!" seru Mita.


Edel tersenyum.


"Tunggu yee, gw mau ke Aer dulu," kata Mita.


Edel mengangguk, duduk di sofa memainkan ponselnya.


drrrtt ... drrrttt ... ponselnya berbunyi lagi, dengan nomor yang berbeda. Edel mengangkat teleponnya walaupun nomornya tidak dia kenal.


Edel meloadspeaker ponselnya, menunggu orang yang di seberang telepon memulai pembicaraan.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara laki-laki dari seberang telepon.


Edel menunggu.


"Halo," lanjutnya.


"Ya, wa'alaikumsalam," sahut Edel.


"Edel?" kata pria itu.


"Ya, maaf ini siapa?" tanya Edel sedikit gugup.


"Malik," jawabnya.


Entah kenapa jantung Edel tiba-tiba seperti sedang berlari berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia merasakan perasaan aneh seperti itu, seperti ketika mereka pertama bertemu. Dia tertegun bingung harus berkata apa, seperti semua kata-kata yang ingin dia ucapkan menghilang begitu saja.


Dia berdiri, melangkah mendekati jendela memandang keluar.


"Halo, apa kau masih di sana?" tanya Malik.


"Ah, iya kenapa, ada apa?" tanya Edel.


"Bisakah kita bertemu hari ini?" tanya Malik langsung ke inti pembicaraan karena dia rasa Edel bukanlah seorang senang mengobrol panjang tanpa ada manfaat.


"Maaf, hari ini aku sedikit sibuk dan aku harus balik nanti sore," jawab Edel tegas.


Ya begitu lebih baik. pikir Edel, dia tidak mau berurusan terlalu panjang dengan Pangeran itu. Dia takut dengan perasaan yang dia rasakan tiap berhubungan dengannya.


"Bisakah kita bertemu sebentar di bandara, aku akan menemuimu di sana?" pinta Malik.


Edel berpikir.


"Maaf," kata Edel.


Hanya itu yang bisa dia katakan, seperti biasa kata-katanya menghilang begitu saja.


"Baiklah," kata Malik kemudian.


"Jam berapa kamu ke rumah Mr. Ommar?"


"Maaf, semalam aku mendengarnya," lanjutnya.


"Sebentar lagi aku berangkat," jawab Edel.


"Senang mengenalmu, semoga kita bisa bertemu lagi," kata Malik penuh harap.


Tidak terdengar jawaban apapun dari Edel. Edel terlalu sibuk menenangkan perasaannya.


"Bolehkah nanti aku menghubungimu lagi?" kata Malik.


"Ya," jawab Edel singkat tanpa menyadari apa yang baru diucapkannya.


"Assalamu'alaikum" ucap Malik mengakhiri pembicaraan.


Edel langsung menutup teleponnya tanpa menjawabnya terlebih dahulu. Memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan warna putih.


"Wa'alaikumsalam," katanya kemudian.


Edel terdiam memandang keluar jendela kamarnya.


"Ciee ... yang pagi-pagi di telepon," ledek Mita.


Edel berbalik tertegun, dia tidak menyadari keberadaan temannya mungkin karena dia terlalu sibuk dengan perasaannya.