
Edel berada di balkon kamar, menatap langsung perkebunan yang berada di bawah rumahnya. Udara pagi tanpa polusi dia hirup dalam-dalam menentramkan setiap jiwa yang sedang gugup menanti Hari pernikahannya. Pagi ini seperti pagi yang lain, semilir angin terasa menusuk tapi membuat semangatmu bertambah.
Mita sudah kembali ke Jakarta untuk menghandle semua pekerjaannya, Kate menyewa sebuah villa yang tak jauh dari rumahnya. Andai Deo tak datang tentu dia akan tinggal di rumahku menemaniku. batin Edel.
Biasanya jika dia berada di Bandung, pagi-pagi sudah berkeliling menikmati udara pagi dengan mengayuh sepedanya atau sekedar berjalan pagi berkeliling kebun sayuran. Sekarang dengan wartawan di sekelilingnya kebebasan itu seakan lenyap darinya, jika dia keluar rumah wartawan akan mengerumuninya layaknya seorang aktris yang sedang naik daun.
"Ada apa sayang, ko cemberut?" Mrs. Soe menghampiri anaknya yang masih berada di kursi balkon kamar sendirian.
Edel melirik Mrs. Soe lalu kembali memandang hamparan perkebunan di hadapannya. "Hanya merasa bosan saja Bun, kenapa aku tak boleh keluar?!" rengeknya.
Mrs. Soe tersenyum, ikut duduk di kursi samping anaknya. "Sabar sayangku, bukan ga boleh hanya sebentar lagi beberapa hari lagi. Tapi nanti siang juga kita bisa ke salon kan buat perawatanmu sebelum hari H," mencoba merayu anaknya yang masih terlihat cemberut.
***
H-3
Keluarga Soe mengadakan acara siraman di H-3 pernikahan anaknya.
Siraman artinya menuangkan air. Dalam pernikahan adat Sunda, siraman diadakan secara terpisah.
Edel mengenakan dalaman baju berwarna nude dengan bandana rangkaian bunga melati dan baju bunga melati seperti yang dikenakan calon pengantin pada umumnya.
Edel keluar kamar dengan digendong (atau diais, dalam bahasa Sunda) oleh Mrs Soe, tentu saja hanya secara simbolis diikat oleh kain selendang sunda. Sementara Mr. Soe berjalan di depan sembari membawa lilin menuju tempat sungkeman. Menurut beberapa sumber, prosesi ini bermakna tanggung jawab orangtua kepada anaknya. Setelah sampai, Edel melakukan sungkeman dan membasuh kaki Mr. dan Mrs. Soe sebagai simbol penghormatan dan permohonan ijin.
Mr. dan Mrs Soe menuangkan air siraman ke dalam bokor, sejenis wadah besar yang cekung dan bertepi lebar terbuat dari logam. Lalu mengaduk air siraman untuk upacara siraman atau dalam adat Sunda disebut ngebakan, air siraman ini tak hanya berisikan air, tetapi juga terdiri dari campuran tujuh macam bunga (kembang tujuh rupa). Kembang tujuh rupa yang dimakud, yaitu kelopak mawar putih dan merah, michelia champaca (cempaka), magnolia × alba (cempaka putih/kantil), cananga odorata (kenanga/ylang-ylang), melati, polianthes tuberosa (sedap malam), dan jasminum officinale (melati gambir/melati biasa), dua helai kain sarung, dua helai selendang batik, satu helai handuk, pedupaan, baju kebaya, payung besar, dan lilin.
Ritual siraman sendiri diawali dengan permainan musik kecapi sling. Calon pengantin wanita dibimbing oleh perias menuju tempat prosesi siraman dengan menginjak tujuh helai kain. Siraman dimulai dari Mrs. Soe , Mr. Soe dan disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram ganjil yaitu 7,9 atau paling banyak 11 orang.
"Dia cantik banget," ujar Queenzha yang datang sehari sebelum acara siraman, dia sengaja datang ingin menyaksikan rangkaian acara adat pernikahan temannya.
"Bisakah nanti pernikahanku seperti pernikahan Edel dengan semua rangkaian adat sundanya," ungkapnya, dia sangat tertarik dan antusias dengan rangkaian pernikahan temannya.
"Bisa aja jika suamimu kelak orang Indonesia," terang Kate tersenyum.
"Tentu saja bisa, bicarakanlah dengan Ronald. Aku rasa dia setuju-setuju aja pernikahan kalian dengan adat manapun," cetus Deo tiba-tiba.
"Hei, kenapa kamu ada di sini, seperti hantu saja tiba-tiba ada?!!" tanya Kate ketus, beberapa hari ini dia merasa Deo aneh selalu mengikutinya kemanapun dia pergi dan semakin bawel saja.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, bukankah sudah jelas kenapa aku ada di sini karena istriku ada di sini!" tegasnya.
Queenzha menahan tawa melihat mereka bersitegang hanya karena hal kecil. Sungguh kocak sekali melihat kalian. pikirnya.
*
*
"Kau temanku, aku tentu harus datang ke acara spesial mu. Acara pernikahan hanya sekali seumur hidup, aku ga mau melewatkan hari istimewa temanku," terangnya mendekati Edel dan memeluknya.
"Maaf, seharian ini aku baru menyapamu. Aku bukannya ga peduli hanya sedikit sibuk dengan semuanya," ucapnya.
"Aku mengerti kawan. Boleh aku menginap di sini?" pintanya dengan mata dikedip-kedipkan memohon.
Edel tertawa melihatnya mengedip-ngedip mata seperti dalam Upin Ipin, "Boleh," ujar Edel menirukan suara Upin Ipin sambil tertawa. "tentu saja kamu harus menginap di sini, memangnya kamu mau menginap di mana kalau bukan di tempatku, ga akan ku izinkan kamu menginap di hotel." terang Edel.
Queenzha semakin mengeratkan pelukannya. "danke mein freund ich liebe dich," (Terimakasih teman, aku menyayangimu) ucapnya tersenyum.
"Ich liebe dich auch Freund," (Aku juga menyayangimu) ucap Edel.
Mereka melewati malam dengan banyak bercerita tentang adat Sunda. Queenzha saat tertarik dengannya, dia berencana mengambil lagi kuliah untuk mempelajarinya.
"Apa kau tak bosan terus berkuliah, terus belajar dengan setumpuk tugas yang akan kau hadapi?!" Edel tak mengerti temannya yang satu ini sangat senang belajar tentang apapun yang menurutnya menarik.
"Bagiku itu seperti challenge yang membuatku tambah penasaran dan ingin terus mencari tahu sampai aku puas walaupun tidak 100% dan untuk mengisi waktu luangku," ujarnya santai.
"Mengisi waktu? itu bukan hanya mengisi waktu, apa kau tak sayang dengan uangmu habis untuk berkuliah padahal kau sudah memiliki beberapa gelar master?" tanya Edel penasaran dengan pemikirannya.
"Uang? orangtuaku yang membayarnya, kupikir mereka tak pernah keberatan jika habis untuk belajar anaknya. Lagian aku senang jika aku mengetahui segala hal dibanding kakakku," Queenzha tertawa renyah.
"Apa Ronald tak keberatan jika kau sudah berencana mengambil kuliah lagi jika sudah lulus nanti?".
"Kurasa tidak, dia tak keberatan. Dia malah terlihat senang saat pernikahan kami diundur gara-gara orangtuaku meminta agar aku menyelesaikan semua studiku dulu," ungkapnya sendu.
Edel tak bertanya lagi soal Ronald, baginya dia tak berhak bertanya lagi karena itu menyangkut privasi temannya.
"Oh ya, besok kau harus fitting baju kebayamu, maaf aku menyiapkan baju kebaya bukannya gaun. Tapi mungkin nanti untuk acara di kerajaan akan menggunakan gaun atau entahlah, itu sudah disiapkan pihak Malik. Aku pun ga dikasih tau nanti gaunku seperti apa di sana," ujar Edel ingat siger yang disiapkan Malik untuknya.
"Aku ikut berdebar menyambut harimu," kata Queenzha tersenyum.
Mereka terus bercerita sampai lupa waktu dan sudah hampir tengah malam ketika mereka menyadarinya.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰