
Bagi keluarga kerajaan, kesehatan adalah hal yang utama, sangat privasi dan bersifat rahasia. Anggota kerajaan tidak boleh menampakan dia sakit pada masyarakat dunia.
"Yang Mulia, Yang Mulia Putri sepertinya kelelahan dengan kegiatannya. Mohon yang mulia membatasi kegiatannya juga mohon maaf di trimester ini masih terbilang rentan mohon agar yang mulia juga membatasi jadwal menengok calon pangerannya," kata dokter Alexi pada Malik.
Edel dan Malik saling pandang mendengar nasihat dokter, Malik tertawa kecil sedang wajah Edel merona karena malu.
"Baik dokter," ucap Malik tersenyum.
"Baiklah Yang Mulia kita akan bertemu lagi di bulan berikutnya. Saya akan menambah resep vitamin buat anda," ucap dokter Alexi.
"Terimakasih dokter," ucap Edel menyalami doketr Alexi dengan menakupkan kedua telapak tangannya.
Dokter Alexi membungkuk hormat pada Edel dan Malik.
*
*
"Malik, kamu ke pangkalan militer pukul berapa?" tanya Edel melirik suaminya yang duduk di sebelahnya di dalam mobil, mereka menuju Istana setelah dari rumah sakit.
"Setelah mengantarmu ke Istana, aku sudah berbicara dengan pangeran Fatih dan putri Grizelle jika kunjunganmu ke perpustakaan daerah Dy akan di gantikan oleh mereka, dan mungkin kamu akan menggantikan jadwal putri Grizelle berkunjung ke museum negara." ujarnya.
"Baiklah, apa mereka tidak keberatan jika kita meminta jadwalnya ditukar tiba-tiba. Maaf," ucap Edel menunduk, dia merasa bersalah tidak bisa pergi melakukan tugasnya dan di gantikan oleh orang lain.
"Tak apa, lagian mereka mengerti dan mereka bilang sekalian akan berlibur di sana," jawab Malik.
Mereka telah sampai di Istana dan berpapasan dengan rombongan pangeran Fatih dan putri Grizelle yang akan berangkat ke daerah Dy.
"Assalamu'alaikum," salam Edel dan Malik pada pangeran Fatih dan istrinya.
"Wa'alaikumsalam," sahutnya.
Karena pergantian jadwal yang mendadak mereka kini berada di salah satu ruangan membicarakan jadwal kunjungannya.
"Maaf, karenaku kalian jadi harus bertukar jadwal denganku," ucap Edel pada putri Grizelle.
"Ayolah tak usah meminta maaf, aku senang bisa sambil liburan dengannya," melirik pangeran Fatih.
"Lagian aku juga tidak tega melihatmu harus pergi sendirian ke sana karena pangeran Malik ada acara di militernya. Jadi biar kami yang berkunjung ke perpustakaan sana dan kamu menggantikan ku melakukan kunjungan ke museum artefak," lanjutnya memegang tangan Edel seperti seorang kakak yang sedang mengasihi adiknya.
"Terima kasih," ucap Edel di jawab anggukan oleh Putri Grizelle.
"Pergantian kunjungan ini sudah di setujui Baginda Sultan dan Ibunda Ratu, beliau berkata ini yang terbaik," ucap pangeran Fatih.
"Terimakasih," ucap pangeran Malik tersenyum pada kakaknya.
"Baiklah, kami rasa ini saatnya kami berangkat. Kami ingin berkunjung ke beberapa tempat dahulu sebelum ke Dy," ujar pangeran Malik melihat jam Rolex yang melingkar di tangannya.
Putri Grizelle melingkarkan tangannya di lengan pangeran Fatih, mereka berjalan bergandengan mesra menuju mobil yang akan membawa mereka melaksanakan tugas Negaranya.
Edelweiss masih merasa bersalah melihat mereka melakukan tugas yang harusnya dia emban. Apa boleh buat dokter mengharuskannya mengurangi jadwal bepergian jauh, dan Putri Grizelle juga setuju menggantikannya karena hari ini Pangeran Fatih hendak melihat proyek yang sedang dikerjakannya bersama beberapa perusahaan besar untuk membangun tempat produksi kain khas dekat Dy.
"Yang Mulia, anda sudah ditunggu oleh Yang Mulia Ibunda Ratu di Ruang timur Istana," kata Mr. Husein membungkuk hormat.
Edel hanya tersenyum lalu berjalan menuju ruang timur Istana. "Pangeran, bukankah Anda akan pergi ke pangkalan militer?".
"Ya, sebentar lagi," jawabnya berpegangan tangan berjalan dengan istrinya.
"Assalamu'alaikum," Edel dan Malik memberi salam ketika melihat Ibunda Ratu duduk menghadapi secangkir teh dan beberapa macaron dan slice cake strawberry dan red velvet yang menemaninya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Ibunda Ratu tersenyum melihat mantunya datang lalu mempersilahkan mereka duduk di kursi sampingnya.
"Pangeranku, bukankah kau harus ke pangkalan militer?" tanya Ibunda Ratu seakan dia hanya ingin mengobrol berdua dengan Edel.
"Oh iya, Yang Mulia. Saya hanya mengantarnya ke sini," sahut Malik mencari alasan.
"Kalau begitu saya pamit, Assalamu'alaikum," ucapnya kemudian setelah melihat lirikan Edel yang tajam.
"Wa'alaikumsalam," sahut Ibunda Ratu meminum tehnya untuk menyembunyikan senyuman karena melihat anaknya mendapat lirikan tajam dari istrinya.
"Bagaimana kabar anda Yang Mulia?" tanya Edel membuka pembicaraan setelah semua orang keluar dan hanya mereka yang berada di ruangan.
"Alhamdulillah, baik anakku. Bagaimana keadaanmu dan calon pangeran kita?" bertanya balik, beliau selalu mendapat laporan kesehatan semua anggota keluarganya tentunya dari dokter yang bersangkutan yang melapor pada beliau.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja," sahut Edel tersenyum.
Asisten ibunda ratu menghampiri mereka menyajikan coklat hangat, cake dan macaron seperti yang dihadapan Ibunda Ratu.
"Terimakasih," ucap Edel pada asisten Ibunda Ratu, di balas bungkukan hormat oleh mereka.
"Alhamdulillah kalau begitu, jangan paksakan dirimu mengerjakan sesuatu yang membuatmu letih. Aku sudah meminta persetujuan Baginda Raja jika tugas-tugasmu akan dikurangi dan kalaupun ada kunjungan itu ke tempat yang dekat tidak ke tempat yang jauh."
"Maafkan aku ibu karena tidak bisa menjaga badanku," Edel masih merasa bersalah.
Ibunda Ratu tersenyum, "Kami tidak menyalahkanmu, kami seharusnya mengatur kembali jadwalmu dari awal tahu kamu hamil. Jangan menyalahkan diri sendiri, tidak ada yang salah. Ibu malah senang melihatmu sehat bisa makan apapun tidak terganggu oleh morning sickness, berbeda dengan saat ibu hamil dulu, Ibu bahkan tak bisa bangun dari tempat tidur karena merasa lemas sekali."
Ibunda Ratu menceritakan tentang bagaimana dia merasa lemas dan mual ketika hamil dan bercerita jika moment hamil tiap anak itu berbeda-beda. Dia sangat bersyukur Edel tidak merasakan apa yang dia rasa.
Edel cukup terhibur dengan cerita Ibunda Ratu, perlahan rasa bersalah yang dia rasakan sedikit demi sedikit menghilang.
"Anakku, kamu berangkat pukul berapa ke museum artefak?" tanya Ibunda Ratu, hanya ingin mendengar Edel memberitahunya karena tidak mungkin dia tidak tahu jadwal anggota keluarganya.
"Sekitar pukul dua siang," jawabnya tersenyum.
"Kalau begitu, bagaimana jika ibu menemanimu," pintanya.
"Terimakasih Ibu, suatu kehormatan bagiku dapat pergi bersama anda," sahut Edel, wajahnya berseri mendengar Ibunda akan ikut bersamanya.
***
Jarak antara Istana Negara A dan daerah Dy cukup jauh, hampir tiga jam jika menempuh perjalanan melalui darat.
Dinamai daerah Dy karena sesuai dengan nama selat yang memisahkan pulau kecil Dy dengan pulau pusat kota, seperti Jawa dan Bali.
Perpustakaan yang akan mereka kunjungi adalah perpustakaan terbesar di negara A yang diresmikan oleh Baginda Sultan yang saat itu ditemani oleh pangeran Malik.
Walaupun daerah Dy berada jauh dari pusat kota namun pariwisata di sana merupakan salah satu penyumbang devisa kedua terbesar untuk negara A. Gedung-gedung hotel pencakar langit berjajar di sepanjang jalan,
Rombongan Pangeran Fatih telah melewati jembatan yang menghubungkan dua pulau tersebut.
"Sebentar lagi sampai," ujar putri Grizelle melihat keluar jendela.
Jalanan hari ini lenggang mungkin karena ini bukanlah hari libur. Mobil rombongan menembus jalanan dengan kecepatan tinggi, mereka tak ingin menyia-nyiakan tenaga dari mobil Rolls-Royce Wraith.
"Kita akan berada di sini beberapa hari, aku bersyukur jadwalmu ditukar dengan Edel,"
"Ya, aku senang bisa menemanimu kemanapun kamu bertugas," sahut putri Grizelle.
"Ayo kita mam ... ," perkataan Putri Grizelle terpotong oleh suara ledakan ban mobilnya yang pecah.
Dua ban mobilnya meledak bersamaan, karena dalam kecepatan lumayan tinggi membuat mobil tidak seimbang, oleng dan ...
Brruuuuugggggkkkk ...
Mobilnya melaju menabrak pembatas jalan, terlempar kejalur berlawanan dan terbalik.
Semua pengawal yang mobilnya selamat langsung berhamburan keluar dari mobil, mereka menghampiri mobil Putra Mahkota untuk menyelamatkannya.
Jalanan langsung ramai ketika tahu telah terjadi kecelakaan di dekat mereka apalagi mereka mendengar jika mobil yang terbalik adalah mobil yang ditumpangi Putra Mahkota mereka.
Ditempat lain di suatu roof top dua hotel yang berbeda, dua orang penembak jitu nampak tersenyum dan salah satunya menghubungi seseorang.
"Done," hanya satu kata yang dia ucapkan lalu membereskan perlengkapan tembaknya dan keluar dari roof top.
*****
Maaf kalau kurang menegangkan 🙏.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰