He'S A Prince

He'S A Prince
Teman Berbagi



"Ya, positif aja. Jangan baper duluan pokonya," saran Mita.


Edel memikirkan apa yang dikatakan Mita itu benar, kalau dia baper duluan terus nanti kalau sikap manis Malik ternyata tidak sesuai dengan yang dia pikirkan dia juga yang repot menata hati.


Makanan pesanan mereka sudah tersaji di meja makan.


"Makan dulu tar gue kasih jurus ampuh buat Lo," ajak Mita.


"Ok," jawabnya singkat tidak mengerti dengan apa yang Mita katakan.


Sore harinya mereka kembali ke kantor, mempersiapkan proyek baru yang akan mereka kerjakan lusa di semarang.


"Berkas yang diminta ke perusahaan Surya kencana udah beres belum, Mit?" tanya Edel.


"Bentar, gue tanya Alice," menyambar gagang telepon memanggil Alice.


Mereka terlalu sibuk sampai lupa waktu.


"Udah hampir jam sebelas malam!" seru Alice.


Mita melihat jam guccinya dan menarik nafas panjang melihat Edel masih berkutat dengan laptopnya.


"Pantesan gue keroncongan," gumam Mita mengambil ponselnya memesan makanan.


"Lice, Lo mau balik atau mau ikut beresin ini?, tenang aja ga kan gue paksa. Ga pa-pa kalau Lo mau balik, tapi besok Lo harus ke kantor agak pagian ya," titah Mita melihat Alice sudah lelah.


"Baik Bu, saya pulang duluan kalau begitu," kata Alice.


"Makasi ya Lice, maaf kamu harus pulang malem," gumam Edel merasa bersalah.


"Tak apa Bu, itu tugas saya," ujar Alice.


Setelah Alice pulang mereka tinggal berdua di ruangan Edel, ya mereka sudah terbiasa bekerja sampai tengah malam bahkan menginap di kantor jika pekerjaan mereka menumpuk dan harus segera selesai atau jika menyiapkan berkas-berkas untuk proyek baru.


tok ... tok ... ada yang mengetuk pintu ruangan Edel.


"Ini udah tengah malam siapa yang mengetuk pintu?" gumam Mita dia yakin semua karyawan sudah pulang.


"Mungkin Alice ketinggalan barang," kata Edel melihat berkas yang tadi Alice kasih sebelum pulang.


tok ... tok ... tok ... suara ketukan pintu terdengar kembali. Mita mulai salah tingkah.


"Del, Lo buka pintu gih!" yang mulai ga bisa menyembunyikan rasa takutnya.


"Ya, siapa?" teriak Edel.


"Saya Bu, mengantar pesanan ibu. Kayanya tadi ibu pesan makanan," suara seorang pria di balik pintu.


"Ya ampun, gue lupa pesen makanan tadi!" serunya tertawa.


"Yee Lo tuh makanya periksa dulu," kata Edel berjalan membuka pintu.


"Ini Bu pesanannya," kata seorang satpam.


"Makasi ya pa," mengambil pesanannya dan menutup pintu kembali.


"Taro sini, gue lapar banget!" lupa rasa takutnya tadi dan menyingkirkan semua kertas yang berserakan di meja.


Edel tertawa kecil melihat temannya.


"Nih punya Lo doble cheese burger," Mita memberikan makanannya ke Edel.


"Thank you," ucapnya.


Mereka memakan makanan mereka sambil terus merapikan berkas yang besok lusa mau dibawa.


"Ah, akhirnya beres juga." mengangkat tangan meregangkan badan.


"Gue mau ke toilet dulu," seru Mita melirik Edel.


"Ok, gue mau tidur duluan kalau begitu," tersenyum.


"Awas Lo ada yang ketuk pintu," Edel tertawa ingat kejadian tadi.


"Tar gue suruh temenin Lo," ngeloyor pergi.


Edel berganti pakaian yang nyaman untuk tidur, di ruangannya ada sebuah ruangan cukup luas khusus untuk dia beristirahat.


Dia mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa pesan, terdapat pesan dari Malik pukul 14.07 Wib.


"Aku menelepon mu tadi, tapi sepertinya kau sedang sibuk"



46 WIB,



"Hari ini ada sesuatu yang temanku katakan tapi itu membuatku senang, aku ingin bercerita padamu. Balas pesanku ketika kamu sudah selesai"


19.11 WIB,


"*W**alaupun sibuk jangan lupa solat, makan*"


21.49 WIB,


Dia terdiam membaca pesan dari Malik, menyimpan ponselnya dan matanya sudah tak kuat menahan ngantuk lalu menarik selimut tertidur.


Alarm berbunyi pukul setengah empat subuh, dia mengusir rasa malasnya memaksakan diri untuk bangun mengambil air wudu di kamar mandi.


Dilihatnya Mita masih terlelap, rasanya tidak tega membangunkannya. Hampir pukul satu malam mereka baru selesai mengerjakan dan membereskan semuanya.


"Nanti aja aku bangunin pas adzan subuh," gumamnya mengambil mukena di lemari sebelah tempat tidur.


Adzan subuh berkumandang, dia membangunkan Mita yang terlelap kecapean semalam bergadang.


"Mit, Mita ... bangun dah subuh. Ayo solat dulu," menggoyangkan bahu temannya.


"Mita ... Mit ... ayo bangun."


"Ehmm ...," Mita hanya bergerak menarik selimutnya lagi.


"Hei, ayo bangun," Edel menarik selimut yang menutupi badan Mita.


"Ya, sebentar lagi," kata Mita.


"Gue solat duluan ya," kata Edel meninggalkan Mita yang tertidur lagi.


Bahkan setelah dia selesai solat pun Mita masih tertidur.


"Ih, ni anak susah banget buat bangun. Mita ... ayo bangun!" sedikit berteriak.


Mita duduk di tempat tidur tapi dengan mata yang masih menutup. Mencoba meregangkan badannya agar ngantuknya segera hilang.


Setelah Mita solat dia mencari Edel yang sudah tidak berada di ruangan khususnya. Di ruangan kerja pun tidak ada.


Mita menelpon Edel tapi ponselnya ditinggal di meja kerjanya.


"Nih anak subuh gini kemana sih?!" gumam Mita sedikit khawatir.


Setengah jam kemudian Edel datang membawa sarapan dan susu hangat.


"Lo dari mana? ponsel Lo ditinggal pula," gerutu Mita.


"Gue abis beli susu hangat di minimarket 24 jam di bawah trus nunggu makanan," katanya sambil memperlihatkan bawaannya.


"Oh ya, tadi Malik telepon," Mita melihat Edel tertegun mendengarnya.


"Oh, iya ... terus dia bilang apa?" tanya Edel meniup buburnya yang masih panas sebelum dia makan.


"Bilang apa, apanya? orang ga gue angkat telponnya. Gue lihat doang ada panggilan dari Malik tapi ga gue angkat," kata Mita menyeruput susu hangatnya.


"Lo sering teleponan ma dia?" tanya Mita karena dalam seminggu ini Edel beberapa kali mendapat buket bunga.


"Engak sering, hanya pas gue ada waktu aja. Cuma beberapa kali," bantah Edel.


Ponsel Edel berbunyi menandakan ada panggilan. Edel melihat nama Malik di layar ponselnya.


"Angkat aja, anggap aja gue shadow!" seru Mita tertawa melihat Edel memandangnya.


"Gue terlalu sibuk mengisi perut gue yang lapar, jadi ga kan gue ganggu, beneran," lanjutnya.


Edel menerima panggilannya,


"Assalamu'alaikum," sapanya.


"Lagi apa?" tanya Malik.


"Lagi sarapan," jawab Edel singkat.


"Ada apa?" lanjutnya.


"Hanya ingin mendengar suaramu," jawab Malik yang membuat wajah Edel merona


"Aku masih di kantor semalam banyak banget kerjaan jadi nginep deh," ungkap Edel bercerita dan berharap Malik tau di sebelahnya ada Mita. Edel malu mengobrol dengan Malik di depan Mita walaupun lewat telepon.


"Temanmu pasti ada di sebelahmu," kata Malik mengerti.


"Sungguh menyenangkan mempunyai teman yang selalu berada di sisimu," lanjutnya.


"Ya begitulah,"


"Tadinya aku mau bercerita tentang yang kemarin, tapi nanti aja ceritanya," kata Malik.


"Nanti aku telepon lagi ya, sepertinya Mr. Husein berada di depan kamarku," lanjutnya.


"Assalamu'alaikum," kata Malik pamit.


"Ok, wa'alaikumsalam," jawab Edel.


"Cieee ... yang dapet telepon pagi-pagi," ledek Mita.


"Ih apaan sih, dingin deh bubur gue," gerutu Edel mengalihkan.


"Ya bagus udah dingin, jadi bisa langsung Lo makan kalau panas juga tetep harus Lo tiup dulu nunggu dingin," jawab Mita.


Tapi Edel tidak mendengarkan temannya, dia malah sibuk memakan buburnya yang sudah setengah dingin.