He'S A Prince

He'S A Prince
Merajuk



"Bu, ibu beneran dah dapet jodoh?" Alice semakin penasaran.


"Apaan sih, doain aja pokonya," jawab Edel tersenyum, berharap semua berjalan dengan yang diharapkannya.


Mereka menyelesaikan pekerjaan mereka di Semarang dengan cepat agar bisa pulang di hari rabu malam.


**


"Mbak," sapa satpam rumahnya saat membukakan gerbang rumah.


"Bunda pasti udah tidur," gumamnya melihat jam Channel yang melingkar di tangan kanannya dan memarkirkan mobilnya di depan rumah.


Rumah terlihat sepi, cepat-cepat menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat lelah, setelah bekerja seharian dan menempuh perjalanan yang lumayan jauh.


Cepat-cepat berganti dengan baju tidurnya. Matanya sudah tak kuat untuk terbuka, dalam sekejap beralih ke alam bawah sadarnya.


Setelah shalat subuh Edel turun mengambil minum dan bertemu bundanya yang sedang mengobrol dengan mbok Ratna yang akan memasak untuk sarapan.


"Sayang, kamu udah pulang?" seru Mrs. Soe terkejut sekaligus bahagia melihat anak perempuannya ada di rumah.


"Iya, tadi malem nyampe jam sebelasan," sahut Edel menghampiri bundanya mencium tangan dan memeluknya.


"Anak bunda udah gadis," ujar Mrs. Soe memandang Edel.


"Apa ada yang aneh dengan mukaku. Ko bunda ngeliatin mulu," ucap Edel dan Mrs. Soe hanya menggelengkan kepala.


"Oh ya, berhubung hari ini Edel pulang mbok sarapannya sayur sup aja sama telor dadar dan jangan lupa sambelnya," titah Mrs. Soe.


"Baik, Bu," sahut mbok Ratna.


"Non, non ga mau meluk simbok juga?" tanya mbok Ratna bercanda.


Mbok Ratna berada di keluarga Soe sejak Edel kecil. Beliau juga yang membantu mengasuh Edel dan adiknya, makanya beliau sudah dianggap keluarga oleh keluarga Soe.


"Hhmmm ... Simbok, aku kangen," peluk Edel sambil menggoyang-goyangkan badannya, dan ditertawakan Mrs. Soe.


"Kamu tuh udah besar udah ada yang ke rumah masih aja manjaan sama simbok, ya Mbok ... ya ...," ujar Mrs. Soe melirik mbok Ratna tersenyum.


"Ada yang ke rumah, maksudnya?" kaget mendengar ucapan Mrs. Soe, melepaskan pelukannya pada simbok.


Edel memandang bundanya dan simbok meminta jawaban, tapi hanya di beri senyuman oleh Mrs. Soe.


"Sudah sana siap-siap, ini udah mau siang. Nanti ga sempet sarapan lagi," lanjut Mrs. Soe.


"Ih, bunda gitu deh," rengek Edel.


Mrs. Soe tertawa melihat tingkah anak gadisnya.


Jam tujuh, keluarga Soe sudah berkumpul di meja makan tanpa anak bungsunya karena dia sedang kuliah di luar negeri.


"Hai girl, bagaimana kabarmu?" tanya Mr. Soe.


"Baik, Ayah," jawabnya singkat.


"Anak gadisku udah besar." tertawa melihat gadisnya mengisi piring dengan makanan.


"Sayang," lanjut Mr. Soe melihat Edel dengan serius.


"Gimana liburannya kemarin?" lanjutnya tersenyum dengan maksud terselubung.


"Seneng, tapi cuma dua hari jadi ga puas. Ko ayah tau aku liburan kemarin, pasti Mita yang ngasih tau ya?" jawab Edel sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Mr. Soe tertawa kecil mendengar Omelan istrinya dan melirik Edel dengan lirikan kode yang hanya dimengerti ayah dan anak. Mereka sarapan dengan Hidmat tanpa ngobrol atau bersuara, itulah salah satu adab makan yang diajarkan Mrs. Soe pada keluarganya.


"Apa kamu harus ke kantor pagi-pagi?" tanya Mr. Soe.


"Engak, kenapa?" melihat ayahnya.


"Ayah cuma kangen aja," kata Mr. Soe.


"Hari ini, bisa sih berangkat agak siang. Ngantor juga cuma harus periksa laporan dan dokumen aja yang kemaren tiga Minggu ditinggal," jawab Edel.


"Kalau gitu bisa temenin bunda belanja atau di rumah, ga usah ngantor dulu ya," ujar Mrs. Soe.


Edel melihat mereka berdua bertingkah tidak seperti biasanya seperti menyembunyikan sesuatu.


"Sebenernya ada apaan sih?" tanya Edel penasaran.


"Mau ngobrol-ngobrol aja, ga boleh? bunda sama ayah di tinggal ademu yang udah berangkat kuliah lagi, terus ditinggal anak gadisnya juga tiga Minggu ke Semarang. Sekarang pas pulang ditinggal lagi kerja. Kapan ada waktu buat kita, ya kan yah," rajuk Mrs. Soe melirik suaminya.


"Iya deh, hari ini aku di rumah. Kalau gitu aku mau ke kamar dulu, mau telepon Mita," pamit Edel yang langsung beranjak pergi.


Mereka saling berpandangan mencari persetujuan tentang yang akan mereka bicarakan dengan anak gadis mereka yang tidak terasa telah beranjak dewasa dan akan dipinang oleh seorang pria yang tak pernah mereka duga sebelumnya.


"Mit, maaf ya gue ga bisa ngantor hari ini. Lagi pada manja di rumah," kata Edel.


"Sapa yang manja-manjaan pagi-pagi?!" tanya Mita di seberang telepon.


"Bunda sama ayah gue, mereka pengen gue temenin di rumah hari ini. Kangen katanya," sahut Edel.


"Lah, terus laporannya begimana?" tanya Mita.


"Yah, periksa sama Lo. Pokonya kerjaan gue gantiin sama Lo hari ini," sahut Edel.


"Kalau ada yang harus ditandatangan?"


"Lo bawa ke sini lah!" singkat.


"Ih, Lo mah kebiasaan!" ledek Mita.


"Pokonya Lo selesein ya, gue mau rebahan dulu," kata Edel sambil tertawa membayangkan betapa kesal temannya mendengar kata rebahan di hari kerja.


Edel memandang taman dari jendela kamarnya. Lalu keluar dari kamar menghampiri kedua orangtuanya yang berada di ruang keluarga.


"Bun, emang mau ditemenin shoping?" tanya Edel menghampiri duduk di sebelah Mrs. Soe.


"Di rumah aja sayang, kita bikin cake yu. Kebetulan kemaren bunda baru belanja bahan-bahan nya," ujar Mrs. Soe.


"Sebenernya ada apaan sih, emang mau ngobrolin apa. Bunda ga kaya biasanya minta aku nemenin di hari kerja," selidik Edel to the points memandang bundanya mencari jawaban.


Mrs. Soe memandang Mr. Soe yang di balas anggukan.


"Sayang, apa ada yang mau diceritakan ke bunda?" tanya Mrs. Soe.


Edel berpikir sejenak. Apa mereka tau tentang Malik? ah, ga mungkin!


"Ga ada, kenapa?" bertanya balik.


"Edel sayangku, Sabtu pagi ada yang datang ke sini. Dia memintamu pada kami," ucap Mr. Soe.


"Datang, maksudnya?!" Edel tertegun mendengar ucapan Mr. Soe.