He'S A Prince

He'S A Prince
136



Ibunda ratu dengan telaten menyeka wajah pangeran Fatih, mengelap setiap sendi dan membersihkan badan anaknya sembari terus bersholawat.


Terlihat raut lelah dari wajahnya, namun dia tetap memperlihatkan senyum terbaik untuknya walaupun dia sadar anaknya tidak melihatnya tapi dia yakin anaknya tahu dia sangat menyayanginya.


"Apa kamu tahu Pangeranku, ketika kau bayi dan aku melapmu sambil bersholawat kamu selalu tersenyum bahkan memberiku tawa kecilmu. Sekarang aku membersihkan badanmu dan bersholawat seperti yang aku lakukan dulu, jadi berilah aku senyum dan tawa kecilmu itu," Ibunda Ratu membelai wajah pangeran Fatih.


wajah itu terlihat pucat, tidak nampak lagi kulit wajah yang berseri kemerah-merahan, tidak terlihat lagi senyuman yang selalu dia tunjukan.


"Aku rindu pelukan hangatmu," wajahnya seketika berubah menjadi sendu menahan air mata yang mendesak keluar.


Baginda Sultan menghampiri istrinya memegang pundaknya untuk menenangkannya.


Satu jam lebih kedua orangtua itu hanya duduk di samping anaknya yang sedang dalam tidur panjangnya, Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Tatapannya terlihat penuh kekhawatiran.


"Aku ke toilet dulu," pamit Ibunda Ratu pada suaminya yang dibalas anggukan pelan.


Setelah Ibunda Ratu pergi, Baginda Sultan memegang tangan Pangeran Fatih.


"Terimakasih telah menjadi anakku, terimakasih Kau tak pernah membuatku kecewa, aku sungguh bangga menjadi seorang ayah darimu. Terimakasih telah berjuang bersamaku menjadi seorang putra mahkota yang sangat dihormati oleh seluruh bangsa di dunia ini dan membangun negeri kita. Terimakasih untuk setiap kerja kerasmu," ucap Baginda Sultan.


**Flashback on**


"Yang Mulia," panggil dokter utama yang menangani pangeran Fatih.


"Mari bicara di kantormu," ucap Baginda berjalan terlebih dahulu ke kantor dokter utama, sedangkan Ibunda ratu langsung masuk ke kamar tempat Pangeran Fatih.


"Yang Mulia, maafkan saya," ucap dokter tersebut setelah mereka duduk di sofa kantornya, wajah tegangnya terlihat jelas karena tanggung jawabnya sangat besar apalagi berhadapan langsung dengan seorang Sultan.


"Keadaan Yang Mulia Pangeran semakin memburuk," lanjutnya, Baginda Sultan terdiam, seakan dia sudah tahu keadaan ini cepat atau lambat akan terjadi.


"Kerusakan pada otaknya semakin memperburuk keadaan organ vitalnya.Kita hanya bisa berdoa dan menunggu mukjizat."


"Siapa saja yang sudah mengetahui keadaannya, apa pangeran Malik dan Syahara tahu?" tanya Baginda Sultan dengan wajah serius. Sebelumnya dokter utama itu mengabarinya jika pangeran Fatih sempat terkena serangan jantung namun masih bisa dia tangani.


"Sesuai perintah anda Yang Mulia, saya hanya melaporkan keadaannya yang sesungguhnya pada anda Yang Mulia," terangnya.


"Baiklah, tolong rahasiakan keadaannya dari siapapun." Beliau khawatir jika keadaan pangeran Fatih tersebar luas akan ada dampak negatif yang ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak menyukai sistem pemerintahannya.


**flashback off**


Baginda Sultan mencium tangan pangeran Fatih.


"Terimakasih kau telah berjuang, berusaha keras melawan sakitmu. Kami semua sangat menyayangimu, kami ikhlas apapun yang akan terjadi denganmu nanti," ucap Sultan.


Ibunda Ratu menutup mulutnya dengan telapak tangan, dia menangis sesegukan di toilet. Hatinya sangat sakit mengingat anaknya sakit dan tak kunjung siuman.


Sore itu langit mendung seakan ikut merasakan apa yang tengah dirasakan dua orangtua yang tengah menemani anaknya berjuang melawan sakit.


*


*


Edel menemani Malik menghadiri dinner mate yang diadakan oleh salah satu perusahaan ternama dia negara A. Sebenarnya itu adalah undangan untuk Baginda Sultan, hanya saja beliau sedang ingin berlama-lama menemani pangeran Fatih di rumah sakit hingga meminta Malik untuk datang menggantikannya.


Acara itu diselenggarakan di sebuah hotel mewah di pusat kota dan dihadiri oleh kalangan pebisnis kelas atas dan publik figure.


"Honey, beritahu aku jika kamu kelelahan. Kita bisa membatalkannya," Malik melihat Edel yang menguap beberapa kali.


"Tidak, aku tidak lelah. Mungkin ini bawaan bayi," ujarnya.


"Itu artinya dia ingin mommynya istirahat," sahut Malik.


Hari ini banyak sekali kegiatan yang dia lakukan, badannya lumayan lelah hanya saja dia tak ingin Malik mengetahuinya. Dia ingin menemani Malik menghadiri sebuah acara karena sejak dia hamil dia jarang sekali menemani suaminya.


Malik tersenyum mendengar perkataan Edel, karena jarak istana dengan hotel tempat acara itu diselenggarakan hanya kurang dari setengah jam perjalanan dan mereka sudah menempuh setengah dari perjalanannya.


"Tolong beritahu mereka jika kita akan terlambat paling lama satu jam," titah Malik pada Mr. Husein yang duduk di samping driver.


"Baik Yang Mulia," sahut Mr. Husein lalu menghubungi seseorang.


"Menepilah dan parkir di dekat taman depan, kita akan istirahat dulu di sana menunggu istriku bangun," titahnya lagi.


Mr. Husein dan drivernya keluar dari mobil memberikan ruang buat pangeran dan istrinya beristirahat.


Malik merangkul bahu Edel membiarkannya tertidur di bahunya, dia memegang tangan Edel dan membelai wajahnya.


"Maaf jika kau kelelahan hari ini," gumam Malik.


Sudah 40 menit mereka diam di parkiran menunggu Edel bangun dari tidurnya.


"Ah, maaf aku ketiduran," ucapnya begitu terbangun. "Ini dimana, apa sudah sampai?".


"Belum, kita belum sampai," sahut Malik membelai rambut Edel yang tergerai.


"Apa kita terlambat. Maafkan aku gara-gara aku jadi terlambat datang," ucapnya merasa bersalah.


"Kita tidak terlambat honey. Aku sedikit kelelahan hari ini jadi meminta beristirahat dahulu di sini," kata Malik berbohong.


"Apa tempatnya masih jauh. Ayo kita berangkat," Edel tetap merasa bersalah karena tertidur.


"Hotel tempat acaranya terlihat dari sini," Malik menunjukan ke samping kaca jendela, di seberang jalan berdiri megah hotel bintang 6.


Malik menghubungi Mr. Husein memberitahukan jika mereka siap melanjutkan ke acara dinner mate.


Sesampainya di sana acara telah dimulai sejam yang lalu namun mereka tetap mendapatkan sambutan dengan hormat oleh yang punya hajat. Edel berdiri di samping Malik yang sedang mengobrol dengan Chairman perusahaan itu.


Mr. Alex, Chairman perusahaan itu berumur sekitar 60 tahun, dia keturunan Chinese terlihat jelas dari wajahnya. Malik memberitahu Edel jika Beliau seorang pebisnis andal yang sangat rendah hati, dihormati oleh para pebisnis dunia.


Mr. Alex mendampingi Malik dan Edel menunjukan ke kursi khusus yang telah mereka siapkan.


"Silahkan Yang Mulia," ucapnya penuh hormat.


"Terimakasih Mr. Alex," sahut Malik.


Edel mengedarkan pandangannya dan matanya melihat seorang wanita seusianya sedang tertawa kecil dengan rekannya duduk tak jauh dari meja Edel.


Malik melirik Edel yang sedang fokus memandang wanita itu.


"Pantas saja kau fokus melihat ke sana," bisik Malik, Edel tersenyum melihat suaminya.


"Bolehkah aku menyapanya?" tanya Edel dengan wajah merayu.


"Tentu, tapi nanti setelah selesai," ucap Malik, ingin rasanya tertawa melihat wajah Edel yang langsung berubah menjadi cemberut.


*****


Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏


Stay safe everyone. 🥰❤️