
Namun, dia lupa kalau yang menghubunginya adalah Pangeran Negara A yang mempunyai wewenang lebih bahkan di bandara sekalipun.
"Assalamu'alaikum," kata seorang pria yang berdiri di hadapannya.
Mereka mendongakkan kepala mereka, melihat siapa yang berbicara dan tertegun.
"Malik," kata Edel.
"Pangeran Malik," kata Mita.
Mereka mengucapkannya bersama-sama.
Malik tersenyum lalu duduk bergabung dengan mereka.
"Kamu ... ngapain di sini?" tanya Edel.
"Melihatmu," jawab Malik singkat.
"Apa ... kamu mau pergi juga?"kata Edel mengganti pertanyaan.
Malik menggelengkan kepalanya.
"Ko bisa kamu masuk sini?" tanya Mita.
"Oh iya aku lupa, kamu kan Pangeran Negara ini ya," kata Mita tertawa kecil menertawakan pertanyaan sebelumnya.
Edel melihat sekeliling, beberapa pengawal di pintu masuk lounge dan tentu saja Mr. Abdul Husein berada duduk di meja tidak terlalu jauh dari mejanya.
"Ada apa?" tanya Edel mengulang.
"Hanya ingin melihatmu," ucap Malik tersenyum.
Edel terdiam, dia jadi semakin berharap waktu cepat berlalu agar dia bisa menjauh dari Malik. Dia tidak menyukai perasaannya ketika bersama Malik, dia menjadi gugup dan tidak bisa mengatur pernafasannya seperti seorang yang ketahuan berbuat salah.
Edel menggenggam kedua tangannya sendiri. Berusaha menenangkan diri.
Malik tahu Edel sedang gugup, dia tahu Edel tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Hanya sebentar, hanya ingin menemanimu sebentar sampai kamu masuk, boleh?" pinta Malik hangat.
Mita hanya terdiam melihat mereka.
"Kenapa kamu mendekatiku?" tanya edel.
Malik tersenyum mendengar pertanyaan Edel.
"Memangnya kamu tidak tahu kenapa aku mendekatimu?" Malik balik bertanya.
Edel terdiam, dia ingat apa yang dikatakan Mrs. Ommar.
*flashback on*
"Entahlah, Tan. Aku belum tau, lagian kami hanya kenal sekilas aja" lirih Edel.
"Sayangku, Tante bukan tidak setuju kamu dengan Pangeran Malik. Dengan siapapun pasanganmu, tante akan setuju jika itu membuatmu bahagia dan dia bisa membuatmu bahagia. Malik seorang pangeran, publik figur, seluruh dunia ingin mengetahui tentangnya, termasuk kehidupan pribadinya. Jika kamu bersamanya kamu harus siap kehidupanmu juga akan menjadi konsumsi publik," ucap Mrs. Ommar.
Mrs. Ommar menggenggam tangan Edel penuh kasih.
"Dan kamu juga harus siap dengan ratusan aturan yang mengikat dia," lanjutnya menatap jauh kedalam manik edel.
"Juga, dia adalah pangeran yang tampan, cerdas, multitalenta banyak perempuan tergila-gila padanya tidak hanya dari negara kami, kamu harus siap dan menerima semuanya dari awal. Seperti ketika kamu menerima jabatan CEO dan mungkin akan lebih dari itu. Tante bukan menakut-nakutimu, hanya tante mengingatkan apa yang akan kamu hadapi jika bersamanya. Dia seorang yang baik, Tante suka. Hanya saja ...," kata Mrs. Ommar tidak melanjutkan kalimatnya.
"Hanya apa Tante?" tanya Edel penasaran.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Kamu sudah seperti anak tante sendiri, tentu tante akan ikut melindungimu jika sesuatu terjadi padamu," lanjutnya tersenyum penuh kehangatan.
Edel terdiam mendengar semua nasehat Mrs. Ommar. Dulu saat Mrs. Ommar tinggal di Indonesia, Edel selalu menginap di rumah Mrs. Ommar jika orangtuanya sedang perjalanan bisnis keluar negeri. Tapi Mrs. Ommar harus pindah ke Negara A karena Mr. Ommar anak tunggal yang harus mengurus perusahaan besar keluarganya.
"Baik, Tante. Terima kasih buat semuanya," ucap Edel memeluk Mrs. Ommar.
*flashback off*
"Aku tidak mau kamu merasa terbebani, izinkan aku menjadi temanmu. Izinkan aku terus menghubungimu walaupun hanya sekadar tahu keadaanmu. Aku tidak akan memaksamu. Janji," terang Malik memandangi Edel yang tertunduk.
"Iya, tapi izinkan juga aku merejectmu jika itu menggangguku?" kata Edel.
"Benarkah kamu sudah ada niat mereject panggilanku?" tanya Malik mengernyitkan alisnya.
"Hahhahahaa... maaf tapi ini membuatku greget melihat kalian seperti ini. Seperti menonton drama, sayang tidak ada popcorn," ujar Mita.
Edel melirik Mita, mengerutkan kening.
"Wahh ... kamu sungguh tega sekali," kata Malik bergurau sambil tertawa.
Lesung pipinya terlihat sangat manis menurut Edel.
"Jadi kalau tidak sibuk kamu akan selalu menerima panggilanku dan tidak akan merejectku?" kata Malik tersenyum penuh kemenangan.
ko berasa ada yang salah. batin Edel. Edel menghela nafas panjang.
Malik melihat jam tangannya.
"Masih ada 10 menit lagi," ucapnya.
Edel melihat ke sekeliling mencoba mengalihkan pikirannya untuk sesaat.
"Boleh aku nanya," kata Mita.
"Apa kamu akan terus menghubunginya lewat telepon gitu atau lewat media elektronik?" tanya Mita, "ga adakah niat kamu menemuinya lagi secara langsung nanti?" lanjutnya penasaran.
"Tentu saja aku akan menemuinya, secepatnya," kata Malik penuh harap karena dia tahu itu tidak akan mudah.
"Dan satu lagi, bolehkah aku memanggilmu Malik tidak dengan pangeran seperti Edel memanggilmu," pinta Mita.
"Tentu saja, kamu temannya jadi temanku juga. Tapi hanya ketika kita diluar acara formal atau ketika kita bicara seperti sekarang," ucap Malik melirik Mr. Abdul Husein.
Mita tersenyum mendengar jawaban Malik.
Kenapa gw panggil dia Malik ya bukan pangeran. batin Edel dan menyadari dari awal dia belum pernah memanggil pangeran tapi memanggil langsung dengan namanya.
"Sepertinya kami harus pergi sekarang," ucap Edel ketika mendengar suara panggilan untuk boarding.
Malik mengangguk pelan.
"Ehm ... tunggu," kata Malik ketika Edel mulai melangkah melewati gate.
Malik memberikan sebuah Tote bag pada Edel.
"Ini sedikit cendramata negara kami," kata Malik.
"Terima kasih," jawab Edel mengambil Tote bag yang disodorkan Malik.
Rasanya Malik ingin memeluk Edel, tapi dia menahannya karena saat ini mereka di bandara dan yang utama karena dia ingin melindungi Edel. Dia tidak mau jika nanti Edel malah menjauhinya karena memeluknya tanpa meminta izin darinya dulu.
Mereka melangkah masuk ke gate keberangkatan. Edel sempat berbalik melihat Malik yang masih berdiri melihatnya pergi.
Mereka duduk di tempat yang tertera di boarding pass nya. Mematikan ponsel mereka dan menunggu instruksi pramugari selanjutnya.
"Gue iri sama Lo," gumam Mita tiba-tiba.
"Kenapa?" melirik Edel penasaran.
"Ga da yang ngasih gue cendramata," jawab Mita merengek.
Edel tertawa kecil mendengar Mita menggodanya.
Edel menaruh totebag di sampingnya.
"Menurut Lo Malik itu gimana?" tanya Edel.
"Bukannya gw dah bilang dulu kalau dia bukan hanua cakep, tetapi juga gagah, multitalenta, kalau tajir udah pasti dari Sononya," jelas Mita.
Edel menarik nafas mendengar penjelasan Mita.
"Adakah selain itu?" tanya Edel.
"Yang lebih ke dia banget gitu?" lanjutnya.
"He's a Prince!" seru Mita tegas.
"Gue salah nanya berarti ya," kilah Edel.
"Lo mau yang kaya gimana sih?" tanya Mita.
"Gue belum berpikir ke sana, tapi kalo dipikir sekarang gue mau yang bisa mengerti gue aja, yang bisa buat gue nyaman di dekatnya bukan ngerasa gugup," jawab Edel.
"Biasanya nih ya kalo menurut gue biasanya kalo orang jatuh cinta pada pandangan pertama tuh dia pas ketemu pertama akan merasa gugup, jantung mu akan berdegup kencang mungkin kaya abis lari, trus serasa dunia milik Lo doang. Kaya yang di drama-drama itu lho," kata Mita.
"Pernah ga sih Lo ngerasain hal kaya gitu?" tanya Edel.
"Kaya gimana?" tanya mita.
"Ya, kaya yang Lo bilang barusan," jawab edel.
"Belum," sahut Mita.
"Ah Lo mah percaya kata drama," ledek Edel tertawa.
Banyak yang mereka obrolkan, meloncat dari satu hal ke hal yang lain. Hingga tak terasa mereka telah sampai di Bandara Soekarno Hatta.
Mereka tiba di terminal 3 dan sudah ada yang menunggu mereka di sana.