
Seperti hari biasa Edel bangun sebelum subuh, solat tahajud dan mengaji menggunakan aplikasi di ponsel pintarnya. Dia tidak tahu jika Ratu sedang memperhatikannya. Ketika adzan subuh Ibunda Ratu bangun dan mereka solat berjamaah berdua.
Ponsel Edel beberapakali berbunyi menandakan pesan masuk.
"Ayo jalan pagi, aku akan mengajakmu berkeliling, bersiaplah"
"Nak' jika kau butuh sesuatu panggilah pelayan. Dia akan menyediakan apapun yang kamu butuhkan. Ibu harus kembali ke kamarku dulu," kata Ibunda Ratu
"Baik Yang Mulia, terimakasih," ucap Edel.
"Kenapa kamu masih memanggilku Yang Mulia?" tanyanya tersenyum.
"Ah, maafkan aku Bu," ucapnya lagi.
"Nanti kita bertemu saat sarapan di taman, aku ingin menunjukkan tamanku padamu," ujar Ibunda Ratu.
"Assalamualaikum," pamitnya meninggalkan Edel sendiri di kamar.
"Wa'alaikumsalam" jawabnya
Tak berselang lama Malik menghubunginya
"Ya, assalamualaikum," sapa Edel.
"Wa'alaikumsalam, aku sudah menunggumu di depan pintu. Kenapa kamu tidak keluar?" rengek Malik.
"Masa?" tanya Edel berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Kenapa tidak mengetuk saja!" gerutu Edel mematikan panggilannya.
"Aku ingin mendengar suaramu," rayu Malik.
"Dasar, pagi-pagi dah ngegombal aja!" gerutunya lagi.
"Tunggulah," lanjutnya lalu masuk ke kamar berganti pakaian dengan pakaian santai. dia menggunakan training abu dan t-shirt putih, tapi merasa kurang pede dengan bajunya.
"Apa boleh ku pinjam salah satu sweatermu?" tanya Edel di balik pintu kamar.
"Kalau ga ada, boleh ku pinjam t-shirt mu?" lanjutnya.
"Ok" sahut Malik masuk ke dalam kamarnya.
"Ngapain kamu masuk sini, gimana kalau mereka melihat kita berduaan di sini!" kata Edel sewot.
"Apakah kamu tahu tempatnya, bukankah kamu mau pinjam salah satu bajuku aku akan menunjukan tempatnya padamu," sahut Malik.
"Kalau gitu aku tunggu di luar aja," kata Edel.
"Kenapa harus tunggu di luar, aku hanya akan menunjukan tempatnya dan kamu memilih bajunya!" kata Malik.
"Baiklah," ujar Edel.
mereka memilih baju yang akan dipakai Edel. dia memilih t-shirt putih milik Malik.
"Kenapa kamu tidak memakai t-shirt mu, bukankah punyaku kebesaran?" tidak mengerti karena t-shirt yang di pakai Edel sebelumnya berwarna sama
"Ga boleh aku pinjem?! ehm ... ,ini lebih nyaman," ujar Edel tersenyum.
Mereka berkeliling istana, walaupun hanya sebagian kecil saja yang Malik tunjukkan tapi Edel udah mulai kecapean.
"Entah kapan aku hafal arah ruangan di rumahmu." gumamnya meminum air mineral.
"Kenapa?" tanya Malik.
"Rumahmu besar sekali, banyak sekali ruangannya. Aku akan tersesat jika kamu tinggalkan aku sendiri di sini," ujar Edel.
"Ya itu bagus, aku tidak akan meninggalkan mu. Dengan senang hati aku akan selalu menemanimu kemana pun kamu mau," ucap Malik.
"Mulai deh gombal nya!" seru Edel.
"Kamu bilang mau mengajakku jalan tapi malah berkeliling ruangan doang," sewot Edel.
"Bukankah ini juga jalan, jalan kaki," jawab Malik tertawa kecil.
"Ku kira kamu mau mengajakku ke taman," ujar Edel.
"Kemana?" tanya Edel.
"ke taman," sahut Malik
"Udah waktunya sarapan, ayo," melihat rolex yang melingkar di tangannya. Malik menggandeng tangan Edel.
"Lepaskan, malu!" seru Edel.
"Nanti ada yang lihat," lanjutnya.
"Baiklah," ucap Malik mengalah, dia mensejajarkan langkahnya dengan Edel.
"Jadi kita mau ke taman atau ke ruang makan?" tanya Edel berusaha mensejajarkan langkahnya.
"Sarapan pagi ini di taman," jawab Malik, Edel ingat Ibunda Ratu mengajaknya sarapan di taman.
"Bisakah langkahmu agak pelan? kakimu paniang sekali," seru Edel.
"Maaf honey, ini kebiasaan," jawabnya enteng lalu menggandeng tangan Edel. Beberapa pelayan memandang Edel mungkin karena ini pertama kalinya mereka melihat pangeran menggandeng tangan seorang wanita.
"Lepaskan tanganmu, tak enak dilihat mereka," pinta Edel.
"Selain keluargaku hanya kamu wanita yang suka memerintahku, ketus padaku bahkan berteriak padaku," ungkap Malik tertawa.
"Maaf," sahut Edel.
"Itulah mengapa aku menyukaimu," ujar Malik.
"Semalam Ibumu bercerita kalau ada gadis yang kamu sukai sejak kuliah dulu," kata Edel sedikit ketus.
"Katanya kamu sudah bertemu lagi dengannya," lanjutnya, Malik terdiam.
"Kenapa kamu tidak bersamanya kalau memang kamu menyukainya, aku ga apa-apa ko. Lagian kita belum menikah, sebelum semuanya terlambat," lanjutnya lagi.
Malik menghentikan langkahnya, memandang Edel.
"Benarkah tidak apa-apa?" tanyanya serius.
"Iya," jawabnya singkat, rasanya seperti ada yang mengiris hatinya. sakit sekali.
"Benarkah?" tanyanya lagi.
Edel hanya mengangguk pelan berusaha menahan air mata yang sudah ditahannya dari tadi.
"Bisakah kamu mencarikan ku tiket yang paling awal, dan mengantarku ke bandara atau memanggilkan ku taksi?" pinta Edel.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Malik, tapi tidak di jawab Edel.
"Apa Ibuku tidak memberitahu siapa gadis itu?" tanya Malik, Edel menggelengkan kepala.
"Aku sedang bersamanya, kamulah gadis itu. Gadis yang kusukai sejak kuliah dulu," jelas Malik.
"Aku tidak pernah menyirammu atau pun memberimu payung," kata Edel tegas.
"Apa kamu punya saudara kembar yang kuliah di Oxford university?" tanya Malik.
"Tidak, aku yang kuliah di sana," jawabnya bingung.
"Ayo sarapan dulu, nanti aku jelaskan. aitu sudah lama sekali kamu pasti lupa kejadian it, berapa banyak pria yang kamu semprot atau yang diberi payung olehmu. Tapi aku tidak akan pernah lupa," gumamnya tersenyum memandang Edel.
"Kenapa tidak kamu jelaskan sekarang?" pinta Edel.
"Itu akan membutuhkan waktu lama karena pasti keluargaku sudah menunggu kita untuk sarapan," sambil menunjukkan jam.
"Oklah" kata Edel mendahului Malik kesal.
"Honey, bukan ke sana arahnya tapi ke sini," ujar Malik.
"Maaf," ucap Edel singkat berbalik menghampiri Malik.
"Ah, aku membencimu," gumam Edel berlalu melewati Malik.
"Dan aku mencintaimu," ungkap Malik memegang tangan Edel yang melewatinya.