
Hari berganti Minggu, Minggu pun telah berganti bulan. Sudah lima bulan sejak peristiwa naas penembakan yang menewaskan Putri Grizelle terjadi, sejak itu pula sang Pangeran Mahkota masih setia dengan tidur panjangnya.
Kasus pelaku pembunuhan berencana itu telah memasuki akhir persidangan. Mrs. Shopia terjerat dengan beberapa pasal pidana internasional dengan ancaman pidana hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup.
Disetiap persidangannya banyak masyarakat yang berdatangan tidak hanya dari pusat kota tapi juga dari wilayah negara A paling ujung untuk menyaksikan bagaimana hukum di negara ditegakkan dan mengawal jalannya persidangan pelaku pembunuh putri mahkota mereka.
Masyarakat memenuhi halaman pengadilan berdemo meminta agar pelaku secepatnya mendapat hukuman mati. Pun tidak ketinggalan banyak wartawan tidak hanya dari negara A tapi juga dari media internasional yang meliput persidangan tersebut.
Malik selalu datang menghadiri persidangan kasus pembunuhan Kakak iparnya mewakili keluarga besarnya dan terutama kakaknya pangeran Fatih yang tidak bisa hadir karena masih dalam keadaan koma juga Baginda Sultan yang sibuk dengan tugas kenegaraannya.
Mr. Husein selalu setia mendampinginya mengawal jalan persidangan.
"Bagaimana?" tanya Malik pada Mr. Husein.
"Sebelum kasus ini Mrs. Shopia terlibat dalam banyak riwayat kasus kriminal lain bersama suaminya termasuk kasus penyerangan bersenjata di beberapa wilayah negara di Eropa dan Asia yang melibatkan penyerangan salah satu anggota Yakuza."
"FBI telah membagikan informasinya kepada kejaksaan sebagai referensi silang untuk pemeriksaan silang dengan kasus-kasus yang belum terselesaikan," terangnya.
Malik terdiam, dia tidak percaya wanita yang dulu dia ketahui sangat lembut yang tengah duduk di kursi pesakitan itu telah banyak melakukan kejahatan internasional bersama suami keduanya.
"Waktu benar-benar mengerikan, mengubahnya menjadi seorang monster," ungkapnya mengeluarkan nafas kasar.
"Persidangan ini mungkin akan membutuhkan waktu lama dari yang kita perkirakan Yang Mulia," ungkap Mr. Husein dibalas anggukan oleh Malik.
***
Edel sudah memasuki kehamilan trimester ketiga. Pihak istana hanya mengizinkannya mengikuti beberapa acara saja dalam satu Minggu untuk menjaganya agar tidak kelelahan karena dia bukan hanya membawa badannya saja tapi calon pangeran mereka.
"Maaf sayang, aku tahu jika kamu pasti menginginkan melahirkan di negaramu tapi ini anak pertama kita dan mengharuskanmu melahirkan di sini," terang Malik.
"Ya aku tahu. Tolong jemputlah bunda, aku ingin bunda menemaniku saat aku melahirkan nanti," pinta Edel lirih.
"Terimakasih, kamu sudah mau mengerti. Aku sangat mencintaimu," ucap Malik memeluk istrinya.
"Hey, my boy. Aku tak sabar bertemu denganmu, sehatlah terus dan ingatkan mommy mu untuk beristirahat," ujar Malik beralih ke perut Edel mengelusnya lembut. tendangan dalam perut Edel membuat Malik tersenyum.
Edel tersenyum sambil mengerang merasakan tendangan dari dalam perutnya. "Daddy kau cerewet sekali. Aku pasti akan beristirahat jika lelah!"
"My boy, apa kamu mau Daddy tengok. Daddy sungguh merindukanmu," menggelitik perut Edel dan dibalas oleh tendangan lagi dari dalam.
"Ah, alasan nengokin!" seru Edel tertawa.
"Boleh?" rayu Malik.
Edel semakin tertawa dan mengangguk pelan, dia juga merindukan suaminya yang belakangan sangat sibuk dengan kegiatannya yang harus menggantikan semua kegiatan pangeran Fatih.
*
Pasangan suami istri itu masih tertidur pulas di balik selimutnya. Olahraga panas yang mereka lakukan semalam cukup menguras tenaga keduanya apalagi setelah banyaknya aktivitas yang mereka lakukan sebelumnya.
"Uugghh ... ," Edel mengerang tiba-tiba saat merasakan tendangan kuat dari dalam perutnya membangunkannya. Dia mengusap lembut perutnya.
"Kau sudah bangun sayang, tapi mommy masih mengantuk, izinkan mommy tidur sebentar lagi ya," bujuknya pada anak yang sedang dikandungnya.
"Baiklah, baiklah ... , mommy bangun sekarang," ujarnya setelah merasakan kembali tendangan beberapa kali dari dalam perutnya.
Edel menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya dan mengangkat pelan-pelan tangan Malik yang masih melingkar memeluknya, dia duduk memegang selimut di dadanya menutupi sebagian tubuhnya yang tidak berpakaian.
"Lihatlah, Daddy mu masih tertidur," membelai wajah Malik, Edel merasakan geli ketika tangannya sampai di dagu Malik. "Kamu sampai tidak sempat bercukur minggu ini."
Edel meraih kimononya yang tersampir di kursi dekat tempat tidur dan mengenakannya. Dia berjalan ke arah toilet sambil mengusap lembut perutnya yang telah membesar.
Waktu masih menunjukan pukul setengah tiga pagi saat Edel terbangun karena tendangan anaknya seakan dia mengajak mommynya untuk shalat tahajud lebih awal.
"Malik bangunlah, sudah setengah empat. Shalat sunah dulu," ujar Edel membangunkan suaminya.
"Kau melupakan ciumannya," ujar Malik dengan mata yang masih terpejam. Edel tersenyum lalu mencium bibir Malik sekilas.
"Tak terasa," keluhnya.
"Ayolah bangun," ketus Edel, dia mulai kesal karena Malik susah dibangunkan sedangkan dia harus bangun dari setengah tiga.
"Honey, jam berapa ini?" tanyanya tiba-tiba sambil beralih tidur di paha istrinya.
"Setengah empat," jawabnya singkat.
"Setengah jam cukup untuk berolahraga lagi," ujarnya tersenyum dengan suara memelas.
"Ayo bangun dan mandilah cepat!" ketus tidak memperdulikan perkataan Malik.
Malik terbangun mendengar suara Edel yang ketus.
"Malik, kapan kita menjemput bunda?" tanya Edel tak sabar untuk pergi ke Indonesia.
"Mungkin lusa sebelum aku berangkat ke Jepang untuk menghadiri konferensi di sana," sahut Malik yang baru selesai shalat dan berdoa.
"Bisakah kita menginap dua malam di sana?" tanya Edel penuh harap.
Malik menatap istrinya dan mendekatinya lalu memegang tangannya.
"Honey, bukankah dokter sudah tidak mengizinkanmu terbang jarak jauh. Aku hanya akan mengirimkan pesawat ke Indonesia untuk menjemput bunda, nanti kita akan menjemputnya di bandara saja tidak harus ke sana," terang Malik lirih.
"Padahal aku sudah membayangkan bagaimana serunya berbelanja pakaian bayi dengan bunda di sana," rengek Edel matanya mulai berkaca-kaca.
Apa aku salah bicara lagi, susah sekali membujuk wanita hamil. batin Malik.
Malik menggaruk alisnya yang tak gatal. "Honey, bunda juga pasti tak akan mengizinkanmu terbang menjemputnya ke sana, lagian setelah bunda di sini kalian bisa pergi berbelanja di sini," bujuk Malik.
"Tapi aku ingin berbelanja di sana," rengeknya.
Malik berpikir keras, "Honey, bukankah kamu bisa berbelanja online dari sini."
"Ah, kamu memang ga mengerti!" ucap Edel mulai meneteskan air mata.
Ya Allah, apa yang tidak ku mengerti soal berbelanja. Sulit sekali mengerti wanita hamil. gerutunya dalam hati.
"Baiklah, bagaimana jika begini saja aku akan menjemputmu nanti sore dan kita akan berkonsultasi dengan dokter kandunganmu. Kalau dokter sudah memperbolehkanmu untuk terbang jauh, aku akan merubah sebagian jadwalku dan menemanimu ke Indonesia lalu terbang ke Jepang dan akan menjemputmu kembali begitu selesai konferensi nya," bujuk Malik.
"Baiklah, terimakasih," ucap Edel dengan mata berbinar. "Mau aku pijitin, kamu pasti lelah aktivitasmu padat sekali belakangan."
Malik tersenyum dalam hati. Cepat sekali berubah mood nya.
*
"Honey, kamu sudah siap?" tanya Malik begitu masuk ke kamarnya. Sesuai janjinya Malik pulang lebih awal untuk mengajak Edel menemui dokter kandungannya.
"Aku menelepon mu dari tadi tapi tidak kamu jawab," lanjutnya begitu melihat istrinya dengan wajah ceria bermain ponsel di tempat tidur.
"Maaf, mungkin tadi aku sedang ke toilet. Ko kamu sudah pulang, bukankah jadwalmu hari ini sampai malam" ujarnya.
"Kenapa kamu belum siap?" tanya Malik.
"Siap kemana?" balik bertanya.
"Bukankah kita akan pergi ke dokter?" tanyanya.
"Dokter?. oh, Tak usah. Ga jadi pergi, tadi aku sudah berbelanja dengan bunda," ujar Edel masih sibuk dengan ponselnya.
Malik mengernyitkan dahi nya. Edel mengangkat wajahnya, pandangan matanya berpindah dari ponsel ke suaminya.
"Maksudku tadi siang bunda berbelanja sambil video call denganku, kami berbelanja banyak baju, sepatu, banyak deh pokonya," terangnya tersenyum.
"Jadi ga jadi nih ke dokternya, kita ga usah ke Indonesia juga berarti ya," ujar Malik.
"Iya ga usah. Kata bunda ga usah ke sana, kalau mau berbelanja tinggal hubungi bunda saja nanti bunda belikan," jawabnya.
"Bener ya ga jadi," memastikan perkataan Edel.
"Iya, bener!" ketus Edel.
Tahu gitu kenapa ngerengek tadi pagi minta pulang ke sana!. gerutu Malik dalam hati.
"Malik, bukankah jadwalmu hari ini sampai malam. Ko sudah pulang?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
Haruskah aku bilang karena dia aku buru-buru pulang. tanyanya dalam hati.
"Ehm, aku merindukanmu makanya aku pulang cepat," ujarnya berbohong.
"Malik, itu tidak baik buatmu jika tidak memenuhi tugasmu hanya karena rindu padaku. Sana selesaikan dulu tugasmu, bukankah kamu bilang kemarin acara hari ini sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan!" seru Edel masih merasa tidak bersalah.
Sabar, sabarlah Malik. Dia istrimu dan sedang mengandung anakmu. Gumamnya dalam hati.
"Aku akan mandi dulu, setelah itu baru berangkat," ujarnya berlalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mr. Husein untuk bersiap menghadiri acara yang dibatalkannya tadi pagi.
Malik mengguyur badannya dengan air shower menenangkan pikirannya yang merasa kesal pada istrinya.
*****
Terimakasih telah membaca. 🙏
Stay safe everyone.🥰🤍