He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 65



"Sudahlah, berhenti mengharapkannya!" seru Shahmeer.


"Kenapa? kenapa aku tidak boleh mendekatinya?! dulu kakak setuju dan mendukungku tapi kenapa sekarang kakak melarang ku mendekatinya?!" teriak Azmy menangis sesenggukan.


"Berhentilah sekarang, lupakanlah dia. Dia sudah bertunangan, aku tidak mau kamu semakin terluka," gumam Shahmeer menasehati adiknya.


"Tunangan?! dia bohong, mereka berbohong, belum ada pernyataan resmi dari kerajaan! Malik mencintaiku kakak, dia hanya terpaksa bersama wanita itu!" raungnya.


"Berhentilah, kumohon," memeluk adik satu-satunya.


"Mungkinkah Malik dijebak hingga mau bersama wanita itu, ya benar ... Aku akan menyelidikinya. Tidak mungkin Pangeranku jatuh cinta pada wanita genit itu!" tandasnya tersenyum licik, melepaskan pelukannya.


"Berhentilah ... , ku mohon ... , jangan kau sakiti dirimu sendiri," lirih Shahmeer memegang tangan Azmy.


"Aku masih punya kesempatan kak, dia harus menjadi milikku!".


"Kakak, bukankah kakak melihat artikel dari berbagai media. Banyak yang mendukungku dengannya, ya ... aku tidak akan melepaskannya, dia milikku kakak, dia hanya mencintaiku. Kakak ingat ketika aku sakit, dia yang menemaniku di rumah sakit, dia mencintaiku kak," sergahnya tersenyum.


"Azmy, saat itu aku yang memintanya menemanimu karena penerbangan kami ke sini tertunda karena badai!" ungkap Shahmeer mencoba meluruskan pemikiran adiknya.


"Apa kakak tidak sayang padaku?! kenapa kakak tidak mau mendukungku!!!" teriak Azmy menghempaskan tangan Shahmeer. "Aku akan ikut bersamamu ke Singapore, akan aku buktikan jika Malik memang mencintaiku, ya.. aku akan ikut denganmu kak!".


"Aku membatalkannya, aku tidak akan pergi ke Singapore," tegas Shahmeer.


"Aku akan tetap pergi, lagian aku di undang secara khusus oleh kak Deo." kata Azmy tersenyum licik.


Shahmeer menghembuskan nafas beratnya. Dia tidak habis pikir adik kesayangannya jadi seperti itu. Aku harus secepatnya bawa dia ke psikiater. gumamnya dalam hati melihat tingkah adiknya.


"Sekarang kamu tidurlah, kamu harus beristirahat," titah Shahmeer.


"Aku harus bersiap sekarang. aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku, aku akan bersiap sekarang. Kita berangkat sekarang aja kak!" tolak Azmy.


Shahmeer begitu mengkhawatirkan kondisi adiknya. Entah kenapa sifatnya berubah, dia jadi sering melamun dan tiba-tiba menangis sendiri. Pagi ini dia melihat kabar di tv tentang 'wanita cantik yang menemani Ibunda Ratu ke acara Perempuan Kini' , juga artikel tentang 'seorang laki-laki yang diduga mirip Pangeran Malik memeluk wanita cantik depan mesjid pusat kota' , artikel itu disertai foto. Dia menjerit histeris ketika melihatnya membuat seisi rumah kaget.


Padahal sebelum melihat kabar berita itu dia tersenyum sambil terus melihat ponselnya yang terpampang foto dirinya sedang memeluk Malik kemarin.


Tak ada jalan lain yang terlintas dipikiran Shahmeer selain menghubungi dokter keluarga meminta bantuannya.


Shahmeer menutup pintu kamar Azmy. Adiknya terlelap tidur setelah diberi obat penenang oleh dokter keluarganya. Dia lalu mengambil ponselnya di atas meja ruang keluarga.


"Bro. Mau berangkat bareng denganku?" tanya Deo di seberang telepon.


"Sorry, kayanya aku ga bisa dateng." tutur Shahmeer.


"Kenapa bro?".


"Ada urusan urgent yang harus aku selesaikan, biasalah urusan keluargaku," jawabnya.


"Orangtuamu sakitkah?" tanya Deo.


"Enggak, hanya ada sedikit problem yang harus aku selesaikan, sorry ya bro ... ," kata Shahmeer meminta maaf.


"Oklah bro, nanti kalau urusanmu selesai harus nyusul secepatnya!" seru Deo.


"Ok, have fun ya," pamit Shahmeer.


"Ya, kamu juga semoga urusanmu cepat kelar," sahut Deo mengakhiri panggilan.


Shahmeer duduk di ruang keluarga menatap foto keluarganya yang terpajang di depannya lalu memijat dahinya menutup mata dan tertidur.


Dia terbangun ketika pelayan rumahnya membangunkannya memberitahu jika Azmy tidak berada di kamarnya. Shahmeer terperanjat mendengarnya berlari ke kamar adiknya, tampak kamarnya telah rapi. Dia melihat ke sekeliling lalu membuka lemari adiknya, dia tidak menemukan travel bag Azmy. lalu berjalan ke arah meja membuka semua lacinya dia juga tidak menemukan dompetnya.


Dia berlari keluar kamar menyambar ponselnya lalu berusaha menelepon Azmy, tapi hanya terdengar suara pemberitahuan jika sedang di luar jangkauan. Lalu dia menelepon seseorang.


"Cari keberadaan adikku secepatnya!" kata Shahmeer murka. Dia membanting ponselnya ke atas sofa.


***


Mereka masuk melalui jalur khusus atas bantuan kedutaan Negara A untuk Singapore. Kalau tidak mereka harus mengantri panjang.


"Lapar?" tanya Malik.


"Ya," jawab Edel singkat.


"Ayo makan," ajak Malik.


"Kita makan di Marty's Casa Del wild food court aja," ajak Mr. Soe. "aku ingin makan sate."


"Jangan lupa ajak dia makan," titahnya.


"Iya, baik bunda," sahut Malik lalu mengirim pesan pada kakaknya.


"Nanti dia akan menyusul kita ke tempat makan," kata Malik setelah membaca pesan balasan dari Putri Syahara.


Waktu makan siang hampir habis tapi suasana di Marty's Casa Del Wild masih ramai, hampir semua meja telah di tempati.


"Kita duduk di sana saja," tunjuk Mrs. Soe. lalu menarik Mr. Soe ke meja besar di ujung untuk delapan orang.


"Kamu mau makan apa?" tanya Malik.


"Dry curry chicken combo," jawab Edel.


"Bunda vegie curry combo dan ayah fish curry combo" kata Mrs. Soe.


"Dulu di sini ada menu sate," ujar Mr. Soe.


"Ya, ini menu hari ini ayah, curry ... curry ... ," sahut Mrs. Soe.


"Apa kita harus ganti restoran? mumpung belum pesan," kata Edel memandang ayahnya yang sepertinya kurang bersemangat dengan menu kari.


"Tak usah, di sini aja," sahut Mrs. Soe.


Pesanan mereka telah siap di meja tapi Putri Syahara belum juga datang.


"Kita makan duluan saja sebelum makanannya dingin," cetus Malik menarik piring pesanannya ke depannya


"Makanan apa kesukaanmu Yang Mulia?" tanya Mr. Soe. Mrs. Soe dan anaknya saling pandang karena mereka tahu jika Mr. Soe bukan seorang yang akan bertanya duluan apalagi pada Malik.


"Dari kecil aku suka daging panggang, barbeque tapi sekarang aku lebih suka masakan yang dibuatkan Edel, rasanya lebih enak dan aku selalu merindukannya tiap aku mau makan," tuturnya.


Dia masih bisa menggombal walaupun di depan calon mertuanya, sungguh seorang pangeran tidak ada takut-takutnya. batin Edel tersenyum melihat calon suaminya yang dengan lancarnya berbicara dengan ayahnya.


"Ya, bakat memasaknya memang menurun dari Bundanya," kata Mr. Soe bangga.


"Biasakan makan jangan berbicara nanti makanannya salah masuk terus tersedak!" seru Mrs. Soe.


Putri Syahara tetap belum datang ketika mereka telah selesai makan. Malik mengeluarkan ponselnya mengirim pesan menanyakan kenapa dia belum datang ke tempat yang telah dijanjikan bertemu.


"Maaf, Ammar ga mau pergi dari sini. Dia masih senang bermain, aku lapar sekali dan masih di area Madagaskar. Bawakan aku makanan atau ke sini saja aku lapar."


"Ayo kita pergi, sepertinya kita harus membantu kakakku menjaga Ammar. Dia belum mau beranjak dari sana dan kakakku kelaparan," ajak Malik pada Edel.


Mereka berjalan ke area Madagaskar, terlihat pangeran Ammar berteriak senang menaiki Komidi putar bersama Sang ayah melambaikan tangannya pada mamanya yang menunggu mereka di luar area wahana.


"Akhirnya kamu datang, aku sudah agak pusing. Entah berapa kali aku menaikinya rasanya kepalaku sedikit pusing dan aku mulai mual. Kami bergantian naik bersamanya tapi sepertinya dia belum bosan juga menaikinya," ungkap Putri Syahara melihat adiknya menghampiri mereka.


"Kamu bawa makanan?" tanyanya.


"Tidak," sahut Malik menggelengkan kepalanya.


"Pergilah makan dulu, biar Ammar kami yang jaga," kata Mrs. Soe.


"Assalamualaikum, Ibu. bagaimana kabarmu?" sapa Putri Syahara mencium tangan dan pipi kanan kiri Mrs. Soe juga mencium tangan Mr. Soe.


"Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarmu juga Putri?" tanya Mrs. Soe.


"Alhamdulillah baik."


"Pergilah makan dengan Mr. Fredrik, biar Ammar denganku. Nanti sakit jika lebih lama lagi menahan lapar," ujar Mrs. Soe.


"Baik Bu."


Mereka melihat Pangeran Ammar, menunggu permainan selesai.


"Mama makan dulu sama ayah, kamu mainlah dengan Om Malik dan Tante Edelweiss juga ada nenek Soe di sini." ujar Putri Syahara pada Pangeran kecilnya.


"Tante ayo naik kapal bersamaku, di sana ada terowongan," ajak Ammar.


"Benarkah ada terowongan nya?" tanya Edel pura-pura terkejut.


"Ya, lumayan gelap. tapi jangan takut aku akan melindungimu," sahut Ammar menunjuk dirinya sendiri kalau dia seorang pemberani.


"Pangeran kecil kami seorang pemberani," puji ayahnya. "ok jagoan, ayah dan mama pergi dulu sebentar." dibalas anggukan oleh Pangeran Ammar.