He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 168



H-5


"Aku tidak tahu jika suksesinya di percepat, akan ku usahakan untuk datang."


"Kita akan menunggumu datang. Ini adalah hari besar untuk sahabat kita, tentu saja kita harus ada walaupun tidak bisa langsung menyaksikannya secara langsung tapi setidaknya kita ada di sini berkumpul bersama merayakannya," ujar Ronald dengan suara terdengar bijak.


"Aku tidak tahu kau bisa berpikir sebijak itu," ujar laki-laki di seberang telepon.


"Sekarang kau tahu. Kita menunggumu di sini," ucap Ronald.


"Baiklah, akan ku jadwalkan untuk ke sana besok lusa."


Ya, aku akan datang. Aku ingin melihatnya, aku sangat merindukannya. Batin laki-laki tadi.


**


"Apa kalian sudah menemukannya?" tanya Malik.


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Kami belum bisa mengidentifikasi siapa yang menyadap Yang Mulia Putri," jawab salah seorang dari detektif kerajaan.


"Bagaimana mungkin pelakunya belum tertangkap. Apa dia seorang hantu atau sejenisnya yang tak kasat mata?!"


"Besok, aku tunggu sampai besok!" titah Malik geram.


"Baik, Yang mulia," mereka menunduk penuh ketakutan lalu keluar dari ruangan Malik.


Kejadian ini yang pertama kali di teritorial kekuasaannya. Kejadian penyadapan yang belum bisa ditemukan titik terangnya, padahal sudah seminggu berlalu.


Malik mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Ronald.


"Ronald, aku butuh bantuanmu," ucap Malik to the point.


Malik menceritakan kejadian penyadapan istrinya yang sampai sekarang belum juga terungkap. Dia yakin ini bukanlah dari seseorang yang biasa hingga sekelas detektif kerajaan pun tak menemukan petunjuk apapun, sangat bersih.


Malik teringat kejadian yang menimpa kakaknya, pihaknya meminta bantuan FBI dan para mafia kelas dunia hingga bisa menemukan pelakunya.


Apa mungkin ini masih berhubungan dengan Shopia Felix, Tapi bagaimana bisa sedang dia sudah mendekam di penjara yang penjagaannya sangat ketat, tak mungkin para penjaga berkhianat pada negaranya. pikir Malik.


Penyadapan ini sungguh meresahkannya, Apalagi kerajaan akan menggelar penobatannya menggantikan sang kakak menjadi putra mahkota kurang dari seminggu lagi.


Aku harap semuanya akan baik-baik saja. doa Malik dalam hati.


Sementara itu, di kediaman keluarga Witton. Ronald duduk berhadapan dengan ayahnya Mr. Witton membicarakan tentang pangeran Malik yang meminta bantuan mereka lagi untuk menyelidiki siapa yang telah berani menyadap istrinya.


"Bagaimana, ayah?" tanya Ronald serius.


"Kemungkinan itu masih orang-orang Felix Beltran. Dua bulan yang lalu, orangku memberi informasi jika tangan kanan Felix Beltran masuk ke negara A. Aku sengaja menyuruh beberapa orang untuk mengikutinya dan dia menghadiri sidang putusan Mrs. Shopia dan setelah itu orangku mengatakan jika dia meninggalkan negara ini setelah persidangan tersebut selesai," ujar Mr. Witton.


"Maksudmu, penyadapan ini masih berhubungan dengan mamanya Shahmeer. Kenapa mereka sampai menyadap Edel?" Ronald yang masih penasaran terus mengajukan pertanyaan pada ayahnya.


"Saat Felix Beltran terbunuh, Shopia menggantikan dirinya menjadi ketua mafia dan yang ku dengar tangan kanan Felix menyukai Shopia. Ya, Felix sudah mati dan Shopia sendirian, rumor yang tersebar mereka berhubungan. Setelah Shopia tertangkap tahun lalu maka tangan kanan itu yang mengendalikan semua jaringan mafia di Eropa."


"Hal yang sangat mudah baginya jika hanya untuk melakukan penyadapan. Alasannya tentu saja karena dia merasa Edel membuat kekasihnya Shopia mendekam di penjara dan di vonis hukuman mati meskipun vonis tersebut belum dijatuhkan hingga detik ini," terang Mr. Witton.


"Aku akan beritahu Malik tentang ini," ucap Ronald.


"Jangan dulu, kita tidak bisa memberitahunya tanpa bukti jelas. Walaupun benar dia pelakunya tapi kalau tanpa bukti itu akan menjadi sia-sia," sergah Mr. Witton.


Ronald diam mendengarkan titah ayahnya. Ayahnya pasti telah mulai menyelidiki masalah ini buktinya dia bisa langsung menebak siapa pelakunya walaupun masih tanpa bukti yang kuat.


"Jangan menceritakan masalah ini kepada siapapun termasuk istrimu."


**


"Yang Mulia," sapa manager dan para staf hotel mewah tersebut menunduk memberi hormat pada Ibunda Ratu.


Manager tersebut mempersilahkan Ratu negaranya beristirahat di kamar yang telah khusus yang telah di persiapkan sebelumnya.


Rombongan kerajaan masuk ke dalam lift dan langsung menuju kamar.


Diluar kamar sudah ada pengawal yang berdiri menjaganya.


"Yang Mulia, dia sudah berada di dalam," kata Mrs. George membukakan pintu untuk Ibunda Ratu.


Ibunda Ratu hanya mengangguk pelan dan masuk ke kamar tersebut diikuti oleh Mrs. George.


Di kamar tersebut terdapat beberapa ruangan selain kamar tempat tidur dan toilet. Ruangan keluarga yang cukup luas dengan desain interior yang mewah dan elegan.


Ibunda Ratu berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Di hadapannya telah ada seorang wanita berusia awal 40 an. Wanita dengan tinggi semampai berwajah oval dan berkulit putih, sangat cantik.


"Silahkan duduk," ucap Ibunda Ratu pada wanita yang berdiri menyambutnya datang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Yang Mulia penuh kelembutan.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja, Yang Mulia," jawabnya tetap menunduk.


"Bagaimana kabar anakmu?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah baik, dia sedang mengikuti kegiatan di sekolahnya," jawabnya lagi.


"Kamu pasti mengetahui maksud dari pertemuan kita hari ini," ucap Ibunda Ratu. Wanita tadi hanya terdiam tidak menjawab atau pun mengangkat kepalanya.


"Kamu masih terlihat cantik seperti dulu," ucap Yang Mulia Ibunda Ratu.


"Sejujurnya aku masih tidak mengerti kenapa kamu memutuskan untuk mengupload masa lalumu dengan mendiang pangeran kami ke media sosial dan membuat keributan seperti ini. Aku masih mengira jika kamu seorang yang sangat cerdas namun kenapa harus seperti ini?"


"Selama ini kami berusaha menutup aib mu dengan mending pangeran kami namun kenapa kamu malah menyebarkan aib tersebut pada publik?!"


"Yang Mulia," ucap wanita tadi mengangkat kepalanya tegak menatap langsung Ibunda Ratu dengan sorotan tajamnya.


"Yang Mulia, saya hanya merasa ini tidak adil bagi anak dari pangeran Fatih."


"Dia sudah besar dan aku ingin semua orang tahu jika dia adalah anak seorang pangeran, anak dari putra mahkota negara ini," ucapnya lantang.


Ibunda Ratu menghela nafas, "Kamu melakukannya bukanlah karena ingin memberi tahu bahwa dia anak dari pangeran kami namun kamu hanya ingin memecah belah masyarakat negara kami, Kamu ingin menguasai kerajaan kami dengan menggunakan anak itu," kata Ibunda Ratu menyudutkan.


"Aku yakin kamu sudah mengetahui aturan dari kerajaan kami. Anak itu tidaklah mempunyai alasan kuat untuk masuk dalam suksesi kerajaan kami karena dia anak dari hasil hubungan di luar pernikahan. Tidak cukupkah semua pembiayaan yang dikeluarkan kerajaan kami untuk membiayai semua keperluanmu selama ini?!" kata Ibunda Ratu penuh penekanan.


"Aku tahu kamu seorang yang cerdas dan pasti tahu yang terbaik untukmu juga anakmu. Aku akan mengirim utusanku untuk mengurus semua keperluanmu untuk tinggal di luar negeri, aku ingin semua pemberitaan tentang mendiang pangeran Fatih kami dan anakmu itu hilang dari media sosial. Itu jika kamu mau kami tetap membiayai dan memfasilitasi kalian, namun jika kamu masih bersikukuh untuk mendapatkan posisi yang tidak mungkin kalian dapatkan maka kami akan memberhentikan semua fasilitas dan pembiayaan yang selama ini kami berikan juga kami akan menuntutmu sesuai perundangan negara A!" kata Ibunda Ratu tegas.


Mrs. Jihan tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia termenung memikirkan nasib anaknya yang tidak dapat penerimaan yang layak dari keluarga mendiang ayah kandungnya, menurutnya.


Ibunda Ratu berdiri dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Mrs. Jihan sendiri.


*****


Hai, hai, hai ... , Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏


Jangan lupa vote, like, komen, dan kasih Hadian buat author ya agar lebih semangat up nya.


Stay safe everyone.🤗


Ini novel Favorit di rak bukuku, mana novel favoritmu?