
Badan Baby boy terasa hangat setelah perjalanan jauhnya pulang dari Jerman menghadiri pernikahan Ronald yang fenomenal. Fenomenal karena semua orang tahu jika dia seorang Casablanca, tidak menyangka akhirnya dia benar-benar mengakhirinya dan menikah dengan Queenzha.
"Apa kita harus ke rumah sakit?" suara Edel parau, tidak tidur semalaman karena baby boy yang lebih sering terbangun lebih dari biasanya.
"Pangeran Zyan bisa di rawat di istana saja, Yang Mulia. Dia hanya kecapean, nanti akan ada perawat yang datang untuk memijat badan Pangeran Zyan, saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk Yang Mulia Putri."
"Untukku atau untuk anakku?" Edel bertanya balik karena baby boy lah yang menurutnya sedang sakit bukan dia.
"Pangeran Zyan tidak perlu diberi obat hanya lebih banyak diberi ASI saja dan suhunya akan kembali normal setelah beristirahat. Saya resepkan vitamin untuk Yang Mulia karena saya berpikir Anda juga kelelahan apalagi ditambah semalaman tidak beristirahat dengan benar, itu terlihat dari wajah anda yang pucat, Yang Mulia," terang dr. kerajaan.
"Oh ... ." Edel refleks meraba pipinya.
"Terimakasih, dokter," ucap Edel.
"Mari saya antar." Mrs. Anne mempersilahkan dr. kerajaan dan mengantarnya ke depan.
Edel memandang baby boy yang baru saja terlelap.
Akhirnya dia tidur juga. gumam Edel dalam hati.
Edel mengambil cermin dan memperhatikan wajahnya di cermin. Terdapat garis hitam di bawah matanya yang sayu, wajah itu memang terlihat sedikit pucat tidak seperti biasanya yang cerah.
Dia meletakan kembali cermin kecilnya dan bangkit mengambil selimut.
"Aku juga harus tidur, mumpung dia terlelap." gumamnya duduk kembali di sofa dekat box, memejamkan matanya.
Dua jam lebih Edel tertidur, dilihatnya baby boy masih tidur lelap. Dicek nya suhu badan anaknya.
"Alhamdulillah suhu badannya kembali normal, benar kata dokter dia hanya kecapean saja," gumamnya.
"Yang Mulia, anda belum makan apa pun dari pagi. Saya akan bawakan makan untuk anda," kata Mrs. Anne melihat majikannya sedang minum.
Edel mengangguk, dia memang merasa sangat lapar. Edel menjadi mengerti, bagaimana perasaan seorang ibu ketika anaknya sakit atau terkena musibah. Jangankan untuk terlelap, untuk makan saja rasanya tak berselera sebelum dia memastikan jika anaknya baik-baik saja.
"Yang Mulia, makanan anda sudah siap," ucap Mrs. Anne.
Edel melihat beberapa pelayan istana membawakan makanan. Beberapa piring makanan yang masih tertutup di atas troli makanan.
"Terimakasih," ucapnya. Mrs. Anne keluar dari kamar baby boy setelah mempersiapkan semuanya di meja untuk makan Edel.
**
"Bagaimana keadaannya?" tanya Malik begitu dia pulang.
"Alhamdulillah, dia sudah baikan dari tadi siang. Dia juga sudah makan, hanya kecapean saja," Edel menceritakan obrolannya dengan dokter kerajaan.
"Dia hanya kecapean saja dan hanya aku saja yang langsung panik ketika mengecek suhu badannya yang sedikit tinggi lebih dari biasanya. Padahal dia hanya butuh istirahat saja," ungkapnya lirih.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, karena itu juga yang ku rasakan dari pagi sebelum Mr. Husein memberitahuku jika baby boy baik-baik saja," Malik menatap Edel dan mengusap punggung Edel lembut.
"Ibunda ratu dan Putri Syahara tadi mampir kesini melihat baby boy. Mereka pun ikut khawatir mendengar baby boy yang demam."
Edel merasa bersalah karena membuat semua keluarga di istana merasa khawatir tentang keadaan anaknya.
"Bagaimana kegiatanmu hari ini?" mengalihkan pembicaraan, harusnya Edel menemani Malik mengunjungi tempat wisata yang baru saja dibuka.
"Lancar, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar."
Edel tersenyum lalu memeluk suaminya. "Maaf aku tidak bisa menemanimu."
"Tak apa, jangan minta maaf. Akulah yang seharusnya minta maaf tidak bisa menemanimu saat panik tadi pagi," ucapnya.
"Mandilah," ucap Edel.
Malik tersenyum. "Mau mandi bersama?".
Edel tertawa, Malik masih bisa merayunya. "Mandi sana!"
"Aku akan mandi. Aku merasa lelah sekali, bolehkah aku dapat ciuman dulu darimu, Honey."
"Baiklah aku mandi dulu." Malik berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar baby boy.
**
Edel menggendong baby boy dan mengajaknya berkunjung ke sebuah taman bermain. Hari ini Edel melakukan kunjungan bersama Malik ke sebuah yayasan.
Yayasan difabel pertama yang Edel dirikan setelah menjadi istri Malik. Yayasan Prince Foundation, yang tidak hanya sebagai fasilitas pendidikan saja tapi juga termasuk Hearing Without Borders memberikan perawatan bagi anak tuna rungu dengan membelikan alat bantu pendengaran dan tempat rehabilitasi.
Edel melihat anak-anak disana sangat bersemangat ketika mereka tahu dia dan Malik akan berkunjung, terlebih dengan membawa baby boy juga.
"Terimakasih telah berkunjung, Yang Mulia. Suatu kehormatan bagi kami anda mengunjungi kami di sini." ucap ketua yayasan, Mr. Ali.
Malik tersenyum lalu mengobrol dengannya, sedangkan Edel masuk di temani oleh beberapa pengurus yayasan sekaligus guru besar yang seorang wanita juga.
"Terimakasih, melalui bantuan anda kami dapat membelikan lebih alat bantu dengar bagi anak-anak kami. Anak-anak sangat senang sekarang, mereka lebih bersemangat menuntut ilmu, dan kami juga dapat lebih banyak merangkul anak-anak yang kurang mampu untuk melanjutkan sekolah mereka, mengasah keterampilan yang mereka telah kuasai."
"Yang Mulia, kita akan melihat anak-anak membuat cendramata," Mrs. Jane mempersilahkan Edel masuk ke ruangan kelas.
Ruangan tersebut tempat anak-anak membuat berbagai kreasi cendramata dari berbagai bahan seperti plastik daur ulang, bambu, manik-manik dengan berbagai macam bentuk dan warna.
"Hai, Sayang. Kamu sedang membuat apa?" tanya Edel.
Anak itu menunjukan sebuah kalung di sampingnya.
"Kalung yang indah," puji Edel tersenyum membuat anak kecil itu merona senang karena mendapat pujian dari seorang princess negaranya.
"Bisakah kamu mengajariku membuat sebuah gelang?" tanya Edel pada anak tadi.
Anak itu mengangguk sangat senang. Dia menggeser tempat manik-manik, tali buat kalung/beading thread, lem super, pemotong kawat, penahan manik-manik/crimp bead dan pengait/closures.
Edel memperhatikan setiap perkataan sang anak dan mengikuti arahannya. Dia berusaha mengerti apa yang dia arahkan karena anak tadi lebih banyak menggunakan bahasa isyarat ketika memberikan arahan pada Edel.
Edel tersenyum ketika dia selesai membuat sebuah gelang manik bunga daisy.
"Sangat indah, Yang Mulia," ucap Mrs. Jane melihat hasil kreasi Edel.
"Terimakasih telah mengajariku membuat gelang, ini pertama kalinya aku membuatnya sendiri," Edel bangga anak tadi mempunyai bakat yang sangat luar biasa.
"Belajarlah, jika kamu sudah lulus kuliah desain dan menjadi seorang desainer perhiasan, aku akan mengenalkan kamu langsung dengan temanku. Beliau seorang desainer yang mendesain mahkota yang kupakai ketika aku menikah dulu," ucap Edel.
Anak tersebut menangis haru mendengar perkataan Edel.
Edel mengangguk pada Mrs. Jane yang mengerti jika dia ingin melihat kerajinan lain. Mrs. Jane menemani Edel menunjukan beberapa ruangan tempat anak-anak belajar melukis, memahat, tataboga, bahkan ada juga tempat anak belajar mendesain pakaian.
Malik dan Edel sangat senang melihat perkembangan yayasan yang mereka dirikan telah berkembang dengan pesat, bahkan belum mencapai setahun.
"Yang Mulia, ini ada sebuah hadiah dari anak kami untuk Yang Mulia," ujar Mrs. Jane memberikan sebuah kotak perhiasan berwarna hitam.
Edel menerimanya dan membukanya. dia melihat sebuah gelang manik kristal poligon berbentuk geometris.
"Terimakasih, ini sangat indah sekali," ucap Edel terharu, terpukau melihat betapa indah gelang yang diberikan padanya.
Malik mengambil gelang itu, dan memakaikannya pada Edel.
"Cantik," ucap Malik menatap Edel mesra membuat iri semua orang yang melihat.
*****
Terimakasih sudah mampir membaca. Maaf up nya telat sekali. 🙏
Stay safe everyone.🥰🤗