He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 118



Satu bulan kemudian,


Edel sudah sedikit hafal arah jalan di pusat kota, dia juga sudah hafal jalan ke arah cafe yang biasa didatangi oleh Malik dan teman-temannya.


Hari ini Edel akan bertemu dengan Kate di sebuah cafe yang terletak di pusat kota tapi bukan yang biasa didatangi Malik. Mereka ke sana karena Kate ingin menikmati cake buatan cafe tersebut yang terkenal enaknya.


Seperti biasa dia dikawal oleh empat orang pengawal. Walaupun dia sudah berusaha meminta pada Malik agar tidak memakai pengawalan namun tetap saja Malik tidak mengizinkannya pergi sendiri. Ingin rasanya pergi berlari menjauh atau melempar para pengawal ke kutub agar tidak dekat-dekat.


"Hai, maaf aku terlambat. Aku harus berdebat dulu dengan Deo, dia bersikeras ingin mengantarku kemana pun aku pergi. aku kesal sekali padanya, dia berubah menjadi sangat protektif!" ujar Kate berbicara dalam satu nafas. Edel hanya tersenyum, dia sangat faham dengan yang Kate rasakan saat ini karena dia juga merasakan hal yang sama. "Kau sudah memesan?".


Gw juga sama kaya Lo, bahkan lebih, keluh Edel dalam hati. melirik para pengawal yang sedang berdiri di beberapa sudut.


"Sudah, tadi sudah kupesankan. Terimakasih telah mengajakku bertemu," ucap Edel, dia senang sekali bisa keluar dengan temannya mengobrol dan bercanda dengannya.


"Aku yang harusnya berterimakasih padamu, aku bilang pada Deo jika kamu mengajakku jalan. Maaf aku harus berbohong seperti itu dan oh ... , aku bisa gila jika terus berada di rumah dengan semua ocehannya," Edel tertawa kecil mendengar semua keluhan Kate.


Ya, bisa di mengerti. Kate yang biasa bekerja bahkan jam kerjanya mungkin lebih lama dari Edel, Kate yang biasa terbang dari satu negara ke negara lain dan sekarang harus berdiam diri di rumah, seminggu dua Minggu mungkin biasa tapi setelah itu akan mulai terasa sangat membosankan.


"Aku juga merasakan hal yang sama, hanya saja mungkin tidak separah yang kamu alami karena aku masih bisa keluar menyelesaikan jadwalku atau mendampingi Malik atau yang lainnya dan bertemu dengan banyak orang."


"Jujur saja aku tak suka dikawal seperti sekarang ini," ungkap Edel.


Mereka menghentikan obrolan mereka ketika pesanan cake datang.


"Aku datang saat pertama kali cafe ini di buka, ini cake favoritku," ujar Kate menyendok besar cake yang di depannya dan menyuapkannya ke mulutnya.


"Aku belum pernah ke sini, Malik hanya mengajakku ke cafe tempat biasa dia dengan teman-temannya hangout," sahut Edel seraya menyuapkan cake ke mulutnya, "ehmmm ... ,ini lembut sekali."


"Apa kau tidak merasakan mual atau ngidam gitu?" Edel penasaran karena selalu melihat Kate yang banyak makan dan seperti tidak sedang hamil.


"Ya aku merasakan mual di bulan pertama dan dokter memberiku obat anti mual juga beberapa vitamin, itu membuatku merasa lebih baik. Sekarang aku tidak merasakan mual lagi seperti dulu," terangnya.


"Aku sangat iri padamu," ujar Edel memandang Kate ingin merasakan apa yang temannya rasa.


"Kau tahu jika Deo yang mengidam, dia mengalami sindrom cauvage belakang ini. Dia akan merasa mual jika mencium aroma parfum bahkan beberapa kali dia marah-marah pada sekertarisnya dan semua bawahannya, menyuruh mereka mengganti parfum yang dia pakai," Edel ikut tertawa mendengar Kate.


"Kasian sekali," ujar Edel masih menertawakan sahabat suaminya itu.


"Apa kamu kerasan tinggal di istana?" Kate tahu jika kehidupan istana tidaklah seindah seperti di fairy tail Disney.


"Aku masih belajar buat adaptasi. awalnya sedikit sulit, tapi ada Malik di sampingku yang selalu menguatkanku ketika aku bosan atau jenuh," ungkapnya.


"Ya, aku bisa melihatnya dari sebelum kalian menikah. Dia akan melakukan apapun agar kau di sampingnya," terang Kate mengingat ketika Malik meminta Kate mendesain siger untuk Edel.


"Melihatnya?" Edel tertawa.


"Aku berani bertaruh jika dia sangat mencintaimu lebih dari yang kau lihat," ujarnya dengan mata berbinar.


"Ada apa?" tanya Edel, dia merasa Kate beberapa kali melihat sekeliling mereka seakan ada yang membuatnya penasaran dan cemas.


"Ich habe das Gefühl, dass uns jemand beobachtet," (Aku merasa ada yang sedang memperhatikan kita) ujarnya. Kate tahu Edel bisa berbahasa Jerman, dia sempat mendengar ketika Edel berbicara dengan Queenzha.


Edel melihat sekelilingnya, tapi tidak merasakan seperti yang Kate rasakan.


"Keine Sorge, meine Bodyguards werden uns beschützen," (Jangan khawatir, pengawalku akan melindungi kita) mencoba menenangkan Kate.


"Mungkin mereka memperhatikanku, maafkan aku jika kamu merasa tak nyaman," ucap Edel merasa bersalah.


"Ya mungkin kau benar, tak apa," jawabnya masih merasa jika yang memperhatikan mereka bukanlah seperti yang Edel katakan.


"Tak apa, di sini saja," sahutnya tersenyum.


Tidak terasa hari sudah sore, mengobrol dengan Kate sangat menyenangkan sampai Edel lupa akan waktu dan tidak menyadari ada pria yang mendekatinya.


"Honey," panggil pria itu memegang bahu Edel.


"Malik, kamu di sini?" tanyanya terkejut melihat suaminya berada di belakangnya. "Apa acaranya sudah selesai, ku kira akan sampai malam."


"Ya, sudah," jawabnya singkat.


"Hallo, Kate. Bagaimana kabarmu?" tanya Malik menyapa Kate.


"Baik, pangeran."


"Boleh aku ikut serta dengan kalian?" tanyanya meminta izin karena mereka berdua adalah perempuan.


"Tentu, Yang Mulia. Lagian sebentar lagi Deo juga akan segera bergabung dengan kita," ucapnya sambil memperlihatkan ponselnya memberitahu jika suaminya sedang berada di jalan menuju tempat mereka sekarang.


Malik mengangguk mengiyakan, dia merasa ada seseorang yang memperhatikan mereka tapi bukan memperhatikannya karena dia seorang pangeran.


"Kenapa?" tanya Edel melihat Malik memandang sekeliling seperti yang Kate lakukan tadi. "Apa kau merasa ada yang memperhatikanmu?"


"Kau juga merasakannya?"


"Tidak, tapi Kate yang merasa begitu tadi," terangnya.


Malik berpikir, ini sudah kesekian kalinya dia merasa ada yang mengikutinya selama sebulan ini.


Edel, apa dia mengikuti Edel. pikirnya. Malik baru menyadari jika dia hanya merasa diikuti atau ada yang memperhatikan ketika bersama Edel.


Kate melambaikan tangan ketika melihat Deo celingukan mencari tempat istrinya berada. Edel dan Malik spontan melihat arah lambaian tangan Kate.


"Hallo Bro," sapa Deo memeluk Malik seperti pelukan sesama pria ketika bertemu. "sudah lama?" tanya Deo.


"Baru, aku baru datang," jawab Malik.


Mereka mengobrol sebentar di sana lalu setuju untuk berpindah tempat karena Malik maupun Kate tetap merasakan jika mereka sedang diperhatikan dan membuatnya tak nyaman.


"Ayo, kita pindah saja," ujar Deo dibalas anggukan oleh Malik.


"Hubby, tapi pesananmu belum datang," ujar Kate.


"Akan aku ganti jadi take away," sahutnya membelai rambut istrinya. Deo jelas lebih mengutamakan kenyamanan istrinya dibanding dengan minuman yang harganya tak seberapa baginya. Dia berjalan ke dalam cafe untuk mengganti pesanannya dari Dine in menjadi take away.


Deo berjalan masuk ke dalam cafe dan melewati beberapa tempat duduk, dia tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya memakai kacamata sedang duduk seorang diri dan melihat keluar jendela.


Sepertinya aku pernah melihatnya. tapi dimana ya. gumamnya dalam hati.


*****


Maaf karena baru update, karena kebetulan lagi sibuk dengan real life ku. 🙏


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰