He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 74



Tak biasanya dia minum-minuman beralkohol, dulu mungkin iya tapi sudah sejak lama dia menjauhi minuman yang memabukkan itu. Tapi hari ini jantungnya seakan mau meledak mendengar Malik akan segera menikahi Edelweiss, gadis yang membuatnya bersemangat kembali berkuliah di Oxford setelah memutuskan kabur di hari dia bertemu dengannya.


Seandainya waktu itu dia tidak menjadi pengecut ketika melihat wajahnya, seandainya dia tetap mengejarnya tanpa memperdulikan omongan semua orang jika Edel penyuka sesama jenis, seandainya dia ... , ah ... banyak penyesalan yang disesali dalam hatinya.


"Aku yang bertemu denganmu duluan, kenapa dia yang kau pilih, kenapa dia yang harus bersamamu, kenapa aku begitu pengecut saat itu?!" gumamnya dalam tidur.


Ronald yang duduk di sampingnya hanya mengernyitkan alis mendengar semua igauannya.


"Masalah wanita!" ujarnya mulai mengerti dan kembali mengetikan pesan di grup.


Bantu gw, Shahmeer mabuk berat.


Ko, bisa. balasan Deo.


*C**epat gw tunggu di bar biasa ya*. balas Ronald .


Malik pun membaca pesan grup tersebut, termenung mengingat pertemuan terakhir dia dengannya,


**flashback on**


"Hahaha.. jadi aku harus berterimakasih padanya?" seloroh Azmy.


"Tidak perlu, aku hanya tidak ingin orang lain mengganggu hubungan kami, kami sudah bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat," ungkapnya.


"Apa? kalian akan segera menikah?!" tanya Shahmeer terkejut, seakan ada yang salah dengan perkataan yang diucapkan Malik.


"Apa aku harus mengucapkan selamat untuknya sekarang karena telah berhasil mendapatkanmu?" ketus Azmy.


"Aku yang berhasil mendapatkannya, aku yang menyukainya terlebih dahulu. Tolong jangan ganggu dia lagi," terang Malik memandang Azmy, dia percaya Azmy masih seorang gadis yang ramah dan hangat seperti yang dia kenal dulu.


"Apa kamu sudah selesai bicara pangeran, kalau begitu saya permisi!" ujar Azmy ketus, wajahnya sudah berubah merah menahan kesal dan air mata yang hendak tumpah. Dia pergi kembali ke dalam kamarnya dan terdengar suara ia membanting pintu kamarnya.


Malik memandang Shahmeer yang sedang menatap kosong meja di depannya, dia tidak mengerti kenapa temannya menjadi seperti itu seakan ada yang salah dengan yang diucapkannya.


"Pangeran, kamu tahu ... dulu saat aku masih berkuliah tahun kedua di Oxford dan mengetahui Ibuku berselingkuh meninggalkan kami lalu adikku masuk rumah sakit harus menjalani perawatan berbulan-bulan karena traumanya, aku sangat terpukul berencana kabur. Saat itu Aku bertemu dengan seorang gadis di stasiun, dia memberiku sandwich nya karena mendengar bunyi keroncongan dari perutku," kata Shahmeer mulai bercerita, matanya masih menatap meja di depannya.


"Kami tidak berbicara banyak hanya makan sandwich, lalu dia memberiku botol minum karena aku tersedak. Aku melihatnya tertawa kecil dan dia terlihat sangat cantik. Aku bertanya dia hendak kemana, dia menjawab 'dia hanya ingin melihat kesibukan orang-orang', jawaban yang aneh menurut ku. Hari itu aku tidak jadi pergi walaupun sudah masuk dan duduk di dalam kereta, aku keluar mencarinya tapi dia telah pergi. Saat itu aku sadar, jika aku dan ibuku bukanlah satu-satunya orang yang merasa kesepian hanya saja kami salah memilih cara menghilangkan rasa kesepian itu. Ya, aku tak harus menyalahkan ayahku yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan seharusnya kami anaknya yang menjaga ibu kami, menemaninya saat ayah tak ada hingga dia tak merasa kesepian tapi kami malah sibuk dengan urusan kami hingga jangankan untuk pulang menanyakan kabarnya saja kami selalu lupa. Aku juga tidak membenarkan sikap Ibuku yang berselingkuh dan membuat adikku satu-satunya trauma karena melihat dia sedang bermesraan bersama pacarnya ... ." menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Maafkan aku, seharusnya aku tak bercerita tentang ini padamu. Jangan khawatir tentang Azmy, dia hanya ya ... tahukan dan mungkin ini mengingatkannya lagi tentang ibuku yang berselingkuh," kata shahmeer kemudian setelah dia sadar apa yang dikatakan nya.


"Maafkan aku tapi aku benar-benar tidak punya rasa apapun terhadap adikmu, aku menyayanginya seperti kamu menyayanginya. Aku tak tahu jika dia punya perasaan lebih padaku, seharusnya aku bisa menjaga diriku dengan tidak terlalu dekat dengannya," potong Malik.


"Tak masalah, dia akan baik-baik saja," sahut Shahmeer yakin.


"Terimakasih kawan dan maafkan aku," ucapnya.


**flashback off**


Malik seperti sedang menyatukan potongan-potongan puzzle, dia juga berusaha mengingat kembali apa yang dikatakan Ahmet Keenan mengenai Shahmeer yang sedang menyukai dan mendekati seorang gadis juniornya.


Apa gadis stasiun itu Edelweiss?. batin Malik.


"Ah, tidak mungkin. Edel tidak pernah dekat dengan pria manapun saat kuliah," gumamnya. (Malik mengetahuinya dari Mr. Husein dan Mita)


Malam itu sulit sekali dia memejamkan matanya. Malik pun bangun dan melangkahkan kakinya masuk ke ruang kerja di kamarnya, dia melihat beberapa video liburannya dengan Edel ketika di Bali dulu.


"Aku merindukanmu, mau sampai kapan kamu mendiamkan aku seperti ini," gumamnya. Memandang Edel yang sedang tertawa ketika mereka jatuh di terjang ombak.


Satu Minggu berlalu, Edel masih tidak membalas pesannya apalagi menerima panggilannya. Edel tidak sefrustasi Malik yang tidak bisa menghubunginya, toh dia selalu dapat kabar tentangnya dari keluarganya juga yang terutama dari Mr. Husein. Keluarga Malik tahu dan mengerti kenapa Edel belum mau membalas semua pesan tunangannya itu, dia ingin fokus dulu menyelesaikan pekerjaannya yang banyak tertunda dan urgent. Saat yang tepat ketika ingin mengalihkan pikiranmu dari hal yang membuatmu sakit hati.


Pagi ini Malik tampak berseri-seri ketika sarapan karena ayahnya atau Baginda Sultan meminta Malik menemaninya untuk kunjungan diplomatik ke Indonesia. Tentu saja dia akan mencuri waktu bertemu kekasihnya.


Sebenarnya rencana Malik menemani Baginda Sultan telah direncanakan dan diketahui semua keluarga Malik juga keluarga Edel ketika mereka ke Singapore. Hanya saja mereka merahasiakan dari kedua anak muda itu. Malik memang tahu jika lusa ayahnya akan ke Indonesia untuk kunjungan diplomatik, tapi yang dia tahu beliau akan didampingi oleh kakaknya Putri Syahara karena Ibunda ratu juga akan ikut mendampingi beliau.


Sementara sehari sebelum kunjungan keluarga Malik ke Indonesia Mrs. Soe sudah disibukan dengan berbelanja untuk persiapan menjamu keluarga besannya yang juga akan sekalian berkunjung ke rumahnya.


"Sibuk amat, Mau ada arisan ya?" tanya Edel melihat Mrs. Soe mengobrol dengan simbok untuk menu yang akan mereka sediakan.


Mrs. Soe memang akan meminta bantuan WO untuk mengatur semua acaranya nanti tapi untuk masalah jamuan makan Mrs. Soe sendiri yang akan memasak dibantu oleh simbok dan beberapa koki terbaik di Jakarta.


"Hai sayang, sudah mau berangkat?" balik bertanya.


"Iya, aku berangkat dulu ya," ujarnya tak bertanya lebih. Paling arisan. Pikirnya.


"Hati-hati ya," kata Mrs. Soe yang mendapat ciuman pipi dari anak gadisnya.


"Assalamu'alaikum," pamit Edel lalu melangkah ke luar rumah menuju parkiran.


"Wa'alaikumsalam," sahut Mrs. Soe dan simbok.


Edel melaju dengan kecepatan sedang di tol dalam kota, pagi ini jalanan terlihat ramai. Dia menyalakan radio agar tak terlalu kesepian, sedang diputar lagu dari Hivi yang berjudul pelangi;


🎶 Ku ingin cinta hadir untuk selamanya


Bukan hanya lah untuk sementara


Menyapa dan hilang


Terbit tenggelam bagai pelangi


Yang indahnya hanya sesaat


Tuk ku lihat dia mewarnai hari


Tetaplah engkau di sini


Jangan datang lalu kau pergi


Jangan anggap hatiku


Jadi tempat persinggahanmu


Untuk cinta sesaat 🎶


Dadanya tiba-tiba terasa sesak, dia ingat apa yang dikatakan Azmy jika Malik tidak pernah serius berhubungan dengan perempuan manapun, dia ingat setiap kata yang Malik ucapkan ketika di Singapore yang membuatnya mematung serasa ditusuk benda yang tajam. Ya, seorang wanita bisa memaafkan tapi untuk melupakan ... rasanya agak sulit hingga dia akan menangis jika mendengar atau melihat sesuatu yang mengingatkan kembali pada lukanya.


Air matanya tak bisa ditahan lagi untuk keluar, dia menangis sesenggukan hingga ... ,


Bbrrrruuuugggggg ...


Suara itu begitu keras, hingga airbag dalam kemudinya keluar untuk mencegah kepalanya terbentur keras pada kemudi, Edel kaget karena tiba-tiba ada mobil yang menyalipnya tanpa memberi lampu sein terlebih dulu, tabrakan pun terjadi dan Pengendara mobil di belakangnya juga kaget dan menabrak mobil Edel hingga terjadi tabrakan beruntun.