He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 48



"Jam berapa kamu pulang?" tanya Edel.


"Mungkin malam," jawabnya singkat.


"Bukankah tadi pagi kamu bilang pulang sore," tanyanya lagi.


"Apa kamu tidak ingin aku di sini bersamamu?".


"Kamu ingin aku pulang cepat?" tanya Malik beruntun.


"Aku hanya bertanya," sahut Edel sambil memeriksa laporan.


"Malik ... ," Edel menghampirinya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Ya," sahut Malik memandang Edel yang duduk di sebelahnya.


"Malik, tidak bosankah kamu bersamaku?" tanyanya tiba-tiba.


"Tidak, kenapa harus bosan?" Malik balik bertanya.


"Hanya saja ... ," Edel terdiam tidak melanjutkan bicaranya.


"Ehm..?" memandang kekasihnya penasaran.


"Malik, terkadang aku takut, terkadang aku tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan ku sekarang, aku bersamamu. Kamu seorang pangeran dan aku hanya wanita biasa saja. Rasanya seperti masuk di dalam cerita dongeng" lalu terdiam lagi


"Malik, jika ini semua hanya khayalanku saja tolong beri tahu aku," Edel menunduk menghela nafas.


"Malik, aku berpikir dari tadi mengenai yang menghubungimu saat kita di pesawat. Aku melihat sosial medianya, dia seorang yang cantik juga berpendidikan tinggi dan keluarganya katanya dekat dengan keluarga istana. Sepertinya juga dia menyukaimu, aku seorang perempuan mungkin aku sedikit tahu dengan melihat sikapnya padamu tadi malam," dia tidak bisa melanjutkan lagi kalimatnya karena air matanya sudah mengalir begitu saja tak bisa dia menahannya lagi.


Malik berdiri melangkah mendekati pintu keluar lalu mengunci pintunya dari dalam ruangan dan kembali menghampiri kekasihnya yang sedikit terisak.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanyanya meminta izin, tapi Edel menggelengkan kepalanya.


"Honey, dengarkan aku baik-baik. Seperti yang kamu bilang banyak yang lebih tampan dan lebih gagah lebih baik segalanya dariku, tapi kamu tetap menyukaiku dan memilihku. Aku pun sama denganmu, aku menyukaimu karena aku menyukaimu. Aku memilihmu karena Allah. Allah-lah yang mempertemukan kita kembali dengan cara-Nya. Ayo kita percepat meresmikan hubungan kita," tegas Malik melihat Edel yang masih menunduk.


"Malik maafkan aku, tak seharusnya aku menangis di depanmu, hanya saja air matanya tiba-tiba keluar dan tak bisa ku tahan. Malik berjanjilah padaku apapun yang terjadi kamu harus berbicara padaku tak boleh ada yang kamu sembunyikan dariku meski itu akan sangat menyakitiku, berjanjilah," pinta Edel mencoba mengangkat kepalanya.


Malik mengusap air matanya yang mengalir di pipi Edel. dan memegang pipinya lembut.


"Honey, aku berjanji padamu," menarik tangan Edel memeluknya.


"Tolong percayalah padaku," pintanya.


"Kamu tahu aku sedikit terkejut dan bersyukur ketika ibuku memberikan sebuah Cincinnya pada seorang perempuan yang di bawa anaknya, dia merestui kita. Dan aku mau beri tahu satu rahasia, Putri Grizelle bukanlah perempuan pertama yang di bawa kakakku menemui orangtuaku. Tapi begitu mereka bertemu Putri Grizelle, mereka menyukainya dengan memberinya sebuah cincin juga yang artinya beliau merestuinya menikah dengan anaknya," ungkap Malik.


"Orangtua kita telah merestui kita. Apa lagi yang membuatmu khawatir?" tanya Malik memandang lekat wajah Edel.


"Aku hanya takut ada yang sakit hati jika aku bersamamu," ungkap Edel.


"Sakit hati?" kata Malik terkejut.


"Pasti banyak, fans ku pasti sakit hati ketika tahu aku memilihmu bukan mereka," Malik tertawa.


"Iiihhhh.. susah deh diajak serius," Edel mencubit lengan Malik.


"Aww, sakit honey. Tak usah berpikir ke sana, lagian kita tak membuat kesalahan apapun pada mereka," ujar Malik mencubit hidung Edel gemas.


Selepas Maghrib, Edel dan Malik pergi ke kedutaan Negara A, di sana telah ada Mr. Husein yang menunggu mereka.


"Tuanku Yang Mulia Pangeran Malik," sapa Mr. Saddam duta besar Negara A untuk Indonesia membungkuk hormat.


"Assalamualaikum Mr. Saddam. Bagaimana kabarmu?" sapa Malik.


"Alhamdulillah tuanku. Semoga engkau selalu diberi kesehatan dan kemuliaan oleh Allah tuanku Yang Mulia Pangeran Malik," sahut Mr. Saddam.


"Maaf jika aku akan merepotkan mu dengan urusan pribadiku," kata Malik.


"Ini Edelweiss Soekandi, dia tunanganku," Malik memperkenalkan Edel.


"Assalamualaikum," sapa Edel menangkupkan kedua tangannya.


"Mungkin tadi telah disampaikan pesanku oleh Mr. Husein padamu."


"Tentu tuanku."


"Maaf yang mulia, jadwal keberangkatan kita tiga jam lagi, kita bisa berangkat sekarang," kata Mr. Husein hormat.


"Tentu," jawab Malik singkat.


"Kamu harus pulang dan beristirahat. Hari ini kamu kurang beristirahat, aku tidak mau kamu terlalu kelelahan," gumam Malik pada Edel.


"Baiklah, aku akan pulang. Maaf tidak bisa mengantarmu ke bandara," jawabnya mengerti.


***


Malik mengantar Edel sampai di mobilnya.


"Telepon aku jika sudah sampai," pintanya.


"Baiklah Yang Mulia," jawab Edel membuat Malik tersenyum.


"Aku mencintaimu princess Malik Ibrahim," Malik memeluk Edel di dalam mobil.


"Lepaskan nanti ada yang melihat malu," keluh Edel.


"Kaca mobilmu gelap jadi tak akan terlihat," jawab Malik mengeratkan pelukannya.


"Baik-baik lah di sini dan tunggu aku, aku akan menjemputmu tiga Minggu lagi ke Singapore. Aku sudah minta izin pada orangtuamu dan mereka mengizinkan nya," ujar Malik.


"Kapan kamu meminta izin pada orangtuaku?" tanya Edel melepaskan pelukannya.


"Tadi pagi saat kamu mandi sebelum ke kantor," jawabnya tersenyum.


"Ah, kamu kebiasaan deh."


"Kenapa, bukankah aku memang harus meminta izin orangtuamu terlebih dahulu."


"Ingat, kamu juga baik-baik di sana, jangan nakal," ketus Edel.


"Nakal?!" tanya Malik kaget.


"Jaga pandanganmu dari para gadis-gadis."


"Hahahaha... siap My flower."


"Ya udah keluar, Mr. Husein pasti menunggumu. Aku mau pulang," gerutu Edel.


"Kamu terlihat lebih cantik kalau tersenyum," ujar Malik.


"Baiklah yang mulia, silahkan keluar saya mau pulang," kata Edel tersenyum nakal.


"Kalau kamu tersenyum seperti itu aku jadi berpikir untuk menginap di sini," mengusap pipi Edel dengan punggung tangannya.


"Ayolah Malik," ketus Edel.


"Baiklah, baiklah.. ," memeluk Edel terakhir kali sebelum dia keluar mobil.


"Hati-hati di jalan, tanyalah padaku jangan mencari tahu di internet jika kamu bisa menanyakan langsung padaku," titah Malik.


"Ya.. assalamualaikum," pamit Edel melambaikan tangan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Malik berdiri melihat sampai mobil Edel hilang dari pandangan.