
Banyak yang mengucapkan selamat pada Malik dan Edel karena putusan pengadilan telah keluar dan terdakwa telah divonis mati oleh pengadilan. Malik hanya bisa tersenyum menerima semua ucapan itu, tersenyum hanya untuk menutupi suatu rasa yang sulit diungkapkan. Merasa bersalah pada sahabatnya karena ibunya dijatuhi hukuman mati walaupun itu atas kesalahannya sendiri, tapi Malik merasakan sedikit rasa bersalah di hatinya.
Kenapa harus ibunya, batin Malik.
Malik sedang melakukan wawancara di depan gedung tempat pengadilan berlangsung, di dampingi oleh Edel yang hanya terdiam berdiri di sampingnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Yang Mulia ... ," Mr. Husein menghampiri Malik membisikan sesuatu padanya.
Malik terlihat tertegun dan mengangguk pada Mr. Husein.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Malik setelah berada di dalam mobil.
"Maaf, Yang Mulia. Hamba hanya menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Baginda jika Yang Mulia harus segera menyusul ke rumah sakit pusat kota bersama Yang Mulia Putri," kata Mr. Husein membungkuk melihat Malik yang berada di kursi belakang.
Perasaan Malik sejak pagi memang sudah tidak enak dan bertambah ketika Mr. Husein menyampaikan pesan dari ayahnya.
Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk, gumam Malik dalam hati.
Edel tersenyum memegang tangan suaminya, dia tahu Malik sedang merasa gundah karena dia pun merasa demikian.
Mereka bertemu dengan Putri Syahara di parkiran rumah sakit dan bersama-sama menuju ke kamar tempat Pangeran Fatih dirawat.
"Ada sebenarnya ini, Pangeran?" tanya Putri Syahara pada adiknya.
"Aku tidak tahu, Mr. Husein hanya memberitahuku kalau ayah menyuruh kami untuk segera menyusul beliau ke sini," jawab Malik tanpa melihat wajah kakaknya.
"Tenanglah sayang, mungkin Baginda ingin kita berkumpul di sini karena hari ini putusan sidangnya sudah keluar dan pelakunya sudah mendapat vonis mati," timpal Mr. Fredrik menenangkan istrinya yang sedang kalut.
Edel melirik Mr. Husein yang di belakang mereka bersama dengan Mrs. Clara, asisten pribadi Putri Syahara. Raut wajah mereka terlihat sendu seperti menyembunyikan kesedihan mereka.
Mungkin hanya pikiranku saja, batin Edel.
Mereka berempat masuk ke dalam kamar tempat pangeran Fatih dirawat. Mr. Husein dan Mrs. Clara menunggu diluar bersama Mr. Khalid.
Mereka melihat ayah dan ibunya sedang duduk melihat pangeran Fatih yang sekarang menggunakan selang ventilator yang dimasukan ke dalam mulutnya untuk membantunya bernafas.
Malik dan Putri Syahara hanya saling pandang. Terakhir kali mereka menjenguk kakaknya, dia tidak menggunakan selang ventilator untuk membantunya bernafas.
"Kemarilah," kata Baginda Sultan meminta anak-anaknya untuk mendekat mengelilingi kakak tertua mereka yang masih saja terbaring.
Baginda Sultan memandang lemah pada dokter Keanu kemudian mengangguk memberi tanda agar dia menjelaskan kondisi pangeran Fatih pada adik-adiknya.
"Sebelumnya saya meminta maaf karena harus mengabarkan kondisi ini pada Yang Mulia semua. Kondisi Pangeran Fatih saat ini mati batang otak, pangeran sudah tidak bisa bernafas lagi secara mandiri tanpa bantuan alat. Kondisi ini bisa saja dipertahankan lama, namun seiring berjalannya waktu akan terjadi infeksi karena fungsi organ pun lambat laun akan berhenti."
"Kami sudah berbicara dan mengambil keputusan," ucap Baginda Sultan.
"Kami akan merelakannya. Kita tidak boleh egois dengan memaksanya untuk lebih lama menderita," lanjutnya lirih.
Ibunda Ratu meneteskan air mata yang sudah sedari kemarin dia tahan. Kehilangan putra pertamanya yang menjadikannya seorang ibu dan mengajarinya bagaimana menjadi seorang ibu adalah hal tersulit bagi wanita manapun walaupun masih ada anak yang lain tapi tetap saja.
Malik menatap ayahnya dengan lekat. Dia tahu jika beliau pasti sudah memikirkan keputusan itu dengan sangat matang dan pasti sangat berat.
"Aku meminta kalian berkumpul, karena kita akan melepaskan alatnya. Ya, kita harus merelakannya menghadap Sang Khalik lebih dulu menyusul istrinya, Grizelle," ucap Baginda Sultan meyakinkan diri sendiri.
"Bagaimana dengan Putri Zeera?" tanya Malik terbata, seperti ada sesuatu yang menghalangi tenggorokannya.
"Kami sudah melakukan video call sebelum kalian datang tadi, mungkin sekarang dia dalam perjalanan ke bandara," jawab Baginda Sultan.
"Baiklah dokter, silahkan lakukan."
"Saya akan berhitung mundur dan mematikan alat yang terhubung ke badan pangeran Fatih. Sepuluh, sembilan, ... ," dokter berhitung mundur sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya.
Ibunda Ratu tak kuasa melihat, dia menangkupkan wajahnya ke pundak Baginda Sultan. Putri Syahara juga telah beralih duduk di kursi samping Ibunda Ratu, dia ingin berada di samping kakak tertuanya di detik-detik terakhirnya. Edel menyembunyikan tangisnya di dada bidang Malik yang tak melepaskan rangkulannya sejak tubuh istrinya bergetar.
"Dua, satu ...," dokter menekan tombol trun off pada layar monitor.
"ddmmyy, pukul 16.12, kunyatakan Yang Mulia Pangeran Mahkota Fatih meninggal dunia," ucap dokter Keanu lirih.
Tidak ada yang tidak meneteskan air mata di ruangan itu. Hari ini mereka kehilangan putra mahkota mereka setelah setahun sebelumnya mereka telah lebih dulu kehilangan putri mahkota nya.
Baginda Sultan berdiri mencium putra tercintanya. Lama mereka terdiam menatap Pangeran mahkota mereka yang kini sudah tak bernyawa lagi.
Kabar duka meninggalnya Pangeran Fatih dengan segera diumumkan oleh pihak kerajaan. Semua masyarakat nampak kaget dengan berita tersebut, pasalnya siangnya mereka merasa bahagia karena akhirnya terdakwa pembunuhan berencana yang menewaskan Putri mahkota mereka di vonis mati oleh pengadilan negara A, namun sorenya mereka mendapatkan kabar duka jika pangeran mahkota mereka pun telah meninggalkan mereka semua menyusul istri tercintanya menghadap Sang Khalik.
Edel dan Putri Syahara pulang ke istana terlebih dahulu, tentu bersama Ibunda Ratu sedangkan Malik mengurus semua prosedur di rumah sakit dengan Baginda Sultan dan Mr. Fredrik walaupun itu bisa dilakukan nanti oleh asisten mereka namun mereka bersikukuh akan mengurusnya sendiri untuk menghormati pangeran Fatih.
***
Badan Edel terasa lebih letih dari sebelumnya, rasanya kakinya tak mampu menopang tubuhnya berdiri tegap. Dia pun di papah oleh asistennya menuju kamarnya.
"Yang Mulia, ini," Mrs. Anne membantu meminumkan segelas air putih padanya karena melihat wajah Edel yang sudah pucat.
"Di mana Baby boy?" tanyanya.
"Pangeran kecil sedang bermain dengan pangeran Ammar didampingi oleh Mrs. Ibell," jawab Mrs. Anne. Edel mengangguk dan menyandarkan badannya bantal yang ada di sofa tempat dia duduk.
"Yang Mulia, saya pamit. Kalau anda membutuhkan sesuatu saya berada di depan kamar anda," Mrs. Anne pun keluar kamar Edel meninggalkannya sendirian.
Edel mulai meneteskan air matanya yang perlahan semakin deras keluar hingga dia sesegukan menumpahkan segala perasaan sedihnya.
"Maafkan aku," dua kata itu yang keluar dari mulutnya di sela-sela tangisnya.
Edel merasa bersalah atas kejadian yang menimpa keluarga Malik. Dia sudah tahu jika pembunuh itu menargetkannya bukan menargetkan Putri Grizelle dan pangeran Fatih. Dia tahu jika dialah target sebenarnya.
"Apa yang harus aku lakukan," gumamnya mengeluarkan rasa yang begitu sesak di dadanya.
*****
Terimakasih sudah mampir membaca.🥰🙏
Stay safe everyone. ❤️