He'S A Prince

He'S A Prince
Makasih Kawan



Malam itu dia tidak bisa tertidur pulas karena suara Malik selalu terngiang di telinganya. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja apapun pilihannya kelak.


Setelah solat subuh Mita menarik Edel menuju pantai. Mereka menikmati indahnya matahari terbit walaupun agak terlambat. Bermain pasir, berkejaran tanpa lelah, Mita mengubur kaki Edel dengan pasir, duduk menikmati pasir pantai tertawa bersama melepas lelah, melepas semua beban yang dirasa.


"Kata Malik dia menghubungi Lo," celetuknya ketika Mita bermain pasir mengubur kaki Edel dengannya.


"Iya beberapa kali, nanyain Lo. Dia bilang kalau Lo ga angkat telpon dia, terus nanyain jadwal harian." sibuk menabur pasir tanpa melihat lawan bicaranya.


"Dia bilang, dia suka sama Lo terus nanya kapan jadwal Lo kosong, gue bilang ga da jadwal kosong dua bulan ke depan tapi kalau dia mau gue bisa bantuin nyari waktu. Dia setuju dan di sini lah kita berlibur," tersenyum melihat Edel.


"Makasi ya kawan, Lo yang terbaik," ucap Edel melihat temannya asik bermain pasir mengubur kakinya.


"Ya, gue emang yang terbaik makanya Lo harus lebih baik sama gue. Kasih bonus dua kali lipat atau tiga kali lipat kek," rayunya.


"Hahahhah ... Lo mah banyak maunya," canda edel.


"Makanya gue lakuin semua, karena gue banyak maunya," Mita tertawa.


Mereka duduk berdampingan melihat ombak laut yang saling berkejaran. Edel menyandarkan kepalanya di bahu Mita. Dalam keadaan apapun Mita selalu ada buat Edel pun sebaliknya. Mereka saling mengandalkan satu sama lain. Telinga yang mendengar, pundak untuk menangis, senang rasanya mempunyai teman yang selalu saling mendukung.


"Kalau aku tidak mengenal kalian, mungkin aku akan berpikir kalian adalah pasangan yang serasi," mereka berbalik mendengar suara yang dikenalinya.


"Kita kan memang pasangan, iya kan Del!" celetuk Mita melirik Edel.


"Tentu, pasangan yang tak terpisahkan," Edel tersenyum merangkul pundak Mita.


"Ko kamu bisa tau kita di sini, di sini kan banyak orang," menunjuk sekeliling dengan matanya.


"Tau lah, lihat aja kebanyakan mereka berpasangan berlawanan jenis atau dengan keluarga, kalaupun dengan teman tuh mereka tidak berdua tapi banyakan," jawab Malik menunjukkan orang-orang yang sedang bermain bersama.


"Ya, kau benar," kata Mita berbalik kembali melihat laut.


"Aku tau dari Mr. Husein, dia bilang kalian ada di pantai saat aku mau ke kamar kalian," katanya.


"Boleh aku ikut duduk bersama kalian,"


tanyanya kembali.


"Ko dia bisa tahu kita ada di sini," tanya Mita penasaran.


"Duduk aja," jawab Edel menunjuk tempat di sampingnya.


"Terima kasih," ucapnya pada edel.


"Tentu dia tahu, dia punya mata dan insting yang tajam," Malik tertawa.


"Aku ingin melihat tari tradisional Bali yang terkenal, aku beberapa kali melihatnya di tv atau di majalah. Bisakah kalian menemaniku?" lanjutnya.


"Tari tradisional, banyak kaya barong, Kecak apalagi ya," ucap Mita.


"Apa ini pertama kalinya kamu ke sini? aku kira ini bukan yang pertama," ujar Edel.


"Bukan, aku pernah beberapa kali ke sini tapi belum sempat melihat pertunjukkannya secara langsung," ungkap Malik melirik Edel di sampingnya.


"Kamu mau siang atau malem nontonnya, kalau di desa Ubud biasanya mulai pertunjukkannya malem, kalau mau pagi ada biasanya dimulai jam sembilan di daerah Gianyar di Batu bulan, terus di beberapa daerah Denpasar, di celuk Gianyar juga ada kalau ga salah yang pertunjukannya pagi, jadi kamu mau pilih daerah mana?" kata edel.


"Daerah mana pun boleh, aku ikut aja. Aku tidak tahu tempatnya, tapi lebih baik kita ambil yang pertunjukkan pagi aja biar nanti pulangnya bisa berkeliling lagi," jawab Malik.


"Lebih baik nonton di daerah Celuk aja, di daerah sana juga terkenal pengrajin peraknya atau ke Bali Zoo," seru Mita.


"Ya udah kesana aja, tapi jangan terlalu siang jam delapan sudah harus berangkat. Kita berangkat pagi, ini jam berapa sih?" tanya Edel.


"Jam 06.41 WITA," melihat jam Rolex nya.


"Sempet sarapan ga yah, gue laper," ujar Mita memegang perutnya yang keroncongan.


"Nanti kita sarapan di perjalanan aja, soal sarapan nanti di pesankan Mr. Husein. Kalau kita sarapan dulu, aku ga percaya kalian bisa sarapan plus siap-siap selesai dalam satu jam," tolak Malik.


"Nanti aku tunggu di lobi," lanjutnya berdiri mengulurkan tangan ke Edel untuk pegangan ketika bangun.


"Pesenin aku menu lengkap ya," pinta Mita.


Mereka berjalan menghampiri Mr. Husein yang sedang duduk tak jauh di belakang mereka. Mr. Husein memakai pakaian santai dengan celana santai dan t shirt abu nya.


Mereka mengobrol sebentar dengan Mr. Husein. Memberitahu kegiatan yang akan mereka kerjakan pagi itu. Setelah itu Mr. Husein pergi sendiri sambil bertelepon dan mereka bertiga kembali berjalan ke kamar mereka.


"Mit, kamu mandi duluan gih, biar aku yang beres-beres," mengambil kopernya dan menata semua barang, pakaian, belanjaan mereka dalam koper mereka.


"Ok," jawabnya berjalan ke kamar mandi sambil membawa baju ganti.


"Baju-baju satuin aja masukkan dalam satu koper, koper satunya buat oleh-oleh, belanjaan, dan yang lainnya," teriaknya dari kamar mandi.


"Iya, baju kotor gw masukin dulu plastik kali ya," timpal Edel.


"ya, atur aja."


Setelah Mita selesai mandi, Edel masuk kamar mandi dan Mita menyelesaikan beres-beresnya.


Setelah selesai semuanya, mereka membawa koper masing-masing dan beberapa paper bag yang tidak muat masuk ke koper mereka.


Sampai di lobi mereka menunggu Malik duduk dekat air mancur depan lobi.


"Tuh dia akhirnya dateng juga," ujar Mita.


"Kalian sudah nunggu, ku pikir aku yang akan menunggu kalian," kilahnya.


"Kami sudah terbiasa gerak cepat berpacu dengan waktu," jawab Edel.


"Kamu belum tahu kalau aku lulusan Royal Military Academic," bangganya sambil mengambil beberapa paper bag yang di bawa Edel.


"Ya aku percaya," jawab mereka kompak.


Mereka menaiki mobil travel dengan fasilitas lengkap yang telah di pesan Mr Husein menuju ke daerah Gianyar.


"Sarapan," Malik menyerahkan kantong makanan yang diterima Edel, memberikan pesanan Mita.


"Akhirnya aku sarapan juga," gumam Mita mengambil makanan yang diberikan edel.


Mereka tidak berbicara sepatah kata pun karena terlalu sibuk sarapan dan mereka juga merasa tidak sopan jika makan sambil berbicara.


Perjalanan mereka membutuhkan waktu satu jam lebih. Edel dan Mita malah tertidur dalam perjalanan karena semalam mereka baru beristirahat menjelang dini hari.


Setelah sampai tempat tujuan, Malik membangunkan mereka.


"Ayo bangun udah sampai," gumam Malik. menggoyangkan bahu Edel.


"Ya," jawabnya, matanya masih sangat mengantuk.


"Aku harus ke toilet dulu," Edel keluar dari mobil berjalan mencari toilet dan menanyakan arahnya ke satpam di sana.


"Tunggu, aku ikut," seru Mita setengah berlari menghampiri Edel.


Malik sudah memegang tiket untuk Edel dan Mita. Mereka masuk ke tempat pertunjukkan dan duduk di bangku yang telah disediakan. Pertunjukkan sudah di mulai ketika mereka masuk. Beberapa pengawal berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.


"Protokol," ujar Malik melihat Edel yang memperhatikan para pengawalnya dan di jawab dengan anggukan.


Edel memakai floppy straw beige, sedangkan Mita pork pie hat warna navy.


"Ini," Malik memberikan air mineral pada Edel.


"Makasih," jawabnya.


"Hari ini cerah," melihat langit yang sangat terang.


"Aku senang bisa menonton pertunjukan denganmu," bisik Malik yang membuat Edel tertegun sekejap dan menatap Malik lalu tersenyum mengiyakan.