He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 110



Sudah jam 9 malam, tapi Malik belum juga kembali ke kamar mereka. Edel mencoba menghubunginya tapi hanya terdengar kotak suara yang memberitahu jika ponsel Malik tidak aktif, dia mengirimkan pesan pada Mr. Husein, Mr. Husein menghubungi balik Edel dengan memberitahu jika Malik mungkin sedang dalam berjalan ke kamar mereka.


Setengah jam berlalu, Berjalan dari mana hingga membutuhkan waktu hampir 30 menit tapi belum nampak juga. batin Edel mulai kesal juga khawatir.


Edel menunggu suaminya tapi rasa ngantuknya sangat terasa setelah seharian menghadiri beberapa acara yang telah dijadwalkan.


Pukul 10 kurang Malik masuk ke kamarnya melihat Edel sudah tertidur di tempat tidur mereka, dia menghampiri edel untuk menyelimutinya


"Akhirnya pakaian itu dipakai juga," gumam Malik melihat Edel menggunakan lingerie pemberian Putri Zeera.


Alhamdulillah dia sudah tertidur, kalau engak. Ah ... , kapan menstruasi nya berakhir?! gerutunya dalam hati.


Malik membersihkan badannya sebelum ikut berbaring di samping istrinya, Dia melihat lelah dalam wajah polos Edel. Malik menarik badan Edel kedalam pelukannya.


"Terimakasih sudah bersedia menjadi istriku, maaf aku membuatmu kelelahan dengan semua aktifitasmu," gumamnya mencium kening istrinya.


***


Dini hari Malik terbangun mendengar suara Edel melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Honey, kamu mengaji?" tanyanya heran sekaligus terdengar nada senang dari suaranya.


Edel berbalik melihat suaminya yang telah bangun, "Assalamu'alaikum, Pagi my Prince. kau sudah bangun?" sapa Edel tidak menjawab pertanyaan Malik.


Malik bangun dan mendekati istrinya,


"Kamu barusan mengaji?" mengulang pertanyaannya.


"Iya. Kenapa, Ada apa?" heran dengan pertanyaan Malik.


"Kamu sudah selesai menstruasinya?" dengan hati-hati Malik bertanya, takut istrinya berpikir mesum tentangnya.


"Iya, tentu saja sudah selesai makanya aku bisa mengaji dan shalat lagi," jawabnya Mengernyitkan alisnya.


Malik tersenyum bahagia, "Sejak kapan, kenapa kamu tidak memberitahuku?" ujarnya tertawa kecil.


"Ya, kamu tidak bertanya padaku?" jawabnya, walaupun Edel tidak mengerti kenapa Malik tertawa padahal tidak ada yang lucu dan dia sedang tidak melucu juga.


"Aku mau ambil wudhu dulu," ujarnya berlalu masuk kamar mandi dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.


Edel melihatnya heran lalu melanjutkan kembali mengajinya.


Selesai shalat subuh berjamaah, Malik mendekati istrinya yang tengah melipat mukenanya sambil tersenyum.


"Honey."


"Ya," jawab Edel.


Malik melihat Edel masih menggunakan lingerie semalam. "Kau belum mandi?"


"Belum, Kenapa?" balik bertanya.


drrttt... drrtt... ,


Ingin rasanya Malik membanting ponselnya, tapi tak dia lakukan karena yang memanggilnya adalah Mr. Husein. Pasti ada sesuatu yang penting hingga Ia mengganggunya walaupun masih sangat pagi.


"Mr. Husein," kata Malik memberitahu Edel siapa yang memanggilnya sekaligus meminta izin padanya untuk menerima panggilannya. Edel mengangguk mengizinkannya.


Malik menerima panggilannya di samping istrinya.


"Ada apa?" tanya Edel setelah Malik selesai menerima teleponnya.


"Ayah memintaku menemaninya hari ini ke acaranya. Kami akan berangkat pagi sekitar pukul 8," ujarnya.


Edel tersenyum mendengar Malik sedikit mengeluh, tak biasanya dia seperti itu. Dia melihat jam di ponselnya sudah pukul lima lewat.


"Menghemat waktu, benarkah menghemat waktu?" tanyanya menggoda istrinya.


Edel hanya tersenyum menarik tangan Malik untuk mengikutinya ke dalam kamar mandi.


Inilah kali pertama mereka mandi bersama dalam satu bathtub. Edel masih mengenakan pakaian **********, dia menarik nafas dan mengeluarkannya pelan meredakan jantungnya yang berdegup kencang.


Mereka hanya punya waktu sebentar karena Malik harus sudah siap dari pukul 7. Aku pasti sudah gila mengajaknya mandi bersama sebelum dia menemani Baginda hari ini. batin Edel.


Berbeda dengan yang Malik pikirkan, dia sangat bahagia diajak mandi bersama oleh istrinya sebelum dia beraktivitas hari ini. Ini akan menjadi moodboster baru buatku, batin Malik terkekeh.


Malik membantu Edel menggosok punggungnya begitupun sebaliknya, mereka sangat menikmatinya. Sesekali Malik mengecup pundak Edel, membuat Edel bergidik geli.


Malik membalikan tubuh istrinya hingga mereka berhadapan, ini juga bukan pertama kalinya Malik melihat tubuh istrinya yang hanya memakai pakaian dalam saja, sungguh pemandangan yang indah. Dia mulai mencium lembut bibir mungil Edel hingga mereka terengah kehabisan nafas.


Edel tersenyum lalu tertawa kecil melihat Malik, menertawakan apa yang sedang mereka lakukan. Rasanya malu sekali Malik menatapnya seperti hendak menerkamnya.


Sayang sekali waktu mereka terbatas pagi ini. Mereka dengan cepat menyelesaikan 'mandi bersamanya' terengah dalam guyuran shower tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.


Malik mengeringkan tubuh Edel dan memakaikan bathrobe padanya, dia menggendong Edel ala bridalstyle masuk ke dalam ruang ganti. Edel didudukan di atas meja kaca tempat koleksi jam tangan Malik, mereka kembali berpagutan mesra. Tangan Malik menyibakkan bathrobe yang menutupi bahu Edel, ciumannya mulai turun ke leher jenjang Edel sementara tangan Edel mengalung di leher suaminya.


Entah kapan bathrobe keduanya terlepas dari tubuh mereka, tak ada yang menyadarinya.


Ponsel Edel terdengar beberapa kali berbunyi. Dia mengangkat kepala Malik yang sedang berada di bawah lehernya dan menatapnya.


"Ponselku berbunyi," ujarnya singkat, ada perasaan kesal kecewa bercampur dalam suaranya.


Malik memejamkan matanya lalu mengangkat Edel kembali ke kamar mandi.


"Kenapa kamu membawaku ke sini?" ketusnya.


"Ayo mandi lagi, sepertinya itu Mr. Husein. Dia pasti menghubungimu karena tak bisa menghubungi ponselku, tadi aku matikan sebelum kita mandi," ujarnya.


Edel mendengus kesal, tapi mau gimana lagi mereka harus memenuhi tugas yang sudah menjadi tanggung jawab mereka.


Sudah hampir pukul 8 ketika mereka selesai bersiap. Edel mengikuti Malik yang akan berangkat ke tempat Baginda sedang menunggunya. Dia juga sudah bersiap hendak pergi menemani Putri Grizelle mengunjungi beberapa sekolah dan ke museum.


"Maafkan aku terlambat datang Yang Mulia Baginda," ucapnya membungkuk melihat ayahnya tengah menunggunya.


Baginda Sultan tersenyum mungkin mengerti kenapa Malik bisa terlambat tidak seperti biasanya. Bagaimanapun dia pengantin baru jadi mungkin dimengerti.


Malik masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan bersama Baginda Sultan dan melaju diiringi beberapa mobil lainnya.


Di tempat lain, Edel menghampiri Putri Zeera yang sedang mengobrol dengan Kakak iparnya Putri Grizelle.


"Maaf aku datang terlambat, membuat kalian menunggu lama," ujarnya.


"Tak apa, kami mengerti," sahut putri Zeera tersenyum pada kakak iparnya.


Begitu tiba di salah satu sekolah yang dikunjungi, para siswa sangat antusias dengan kedatangan mereka terutama dengan kedatangan Edel yang menurutnya anggota baru kerajaan.


Edel berjalan di samping Putri Zeera yang memakai blazer hitam. Edel memakai terusan berwarna abu yang simple namun tetap elegan.


Para pengajar juga siswa mengantri berfoto bersama mereka. Seperti seleb aja, pikir Edel.


Edel melihat bagaimana cara Putri Grizelle dan Putri Zeera bercengkrama dengan para penghuni sekolah, terlihat akrab namun tidak berlebihan, sadar akan batasan mereka.


Hari ini dia belajar banyak dari kedua Kakak iparnya tentang bagaimana menyapa masyarakat dan bercengkrama dengan mereka.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


Stay safe everyone ... . 🥰