He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 43



"Maaf, aku mau ke toilet dulu," ucap Edel dibalas anggukan oleh Malik.


drrtttt... drrtttt.. ponsel Malik bergetar,


"Ya, assalamualaikum" jawabnya


"..."


Wajah Malik berubah sedikit gusar, dia mengakhiri panggilannya. Sedikit berlari menyusul Edel ke toilet perempuan.


Malik menunggu di depan pintu toilet tapi kekasihnya tidak kunjung keluar. Saat dia hendak membuka pintu, keluarlah Edel dari toilet.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Edel kaget melihat Malik hendak masuk.


"Ini toilet perempuan," sambil menunjukkan tanda di pintu toilet.


"Aku menunggumu,"


"Ayo aku ajak ke suatu tempat," ajaknya.


"Tapi, makanannya. Aku belum selesai makan," jawab Edel.


"Nanti kita beli di jalan,".


"Ada apa?" tanyanya penasaran melihat wajah Malik yang sedikit gusar.


"Ayo," menuntun tangan Edel keluar restoran menuju ke parkiran valet.


Malik mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"tolong ambil mobilku di hotel," kata malik.


Malik berbalik menghadap Edel dan memakaikan topi putih padanya.


"Pakailah,"


"Ada apa sebenarnya, apa ada yang mengikuti kita?" tanyanya celinguk kanan kiri, Malik hanya tersenyum.


"Ayo jalan kaki," ajak Malik, mereka berjalan berpegangan tangan.


Edel tersenyum sepanjang jalan.


"Kenapa kamu tersenyum dari tadi," tanya Malik penasaran.


"Ah, engak. Hanya entahlah rasanya aneh, aku berkencan denganmu hanya denganmu tapi rasanya semua orang melihatku seperti aku berkencan dengan seorang selebriti," ungkapnya.


"I'm a Prince, Edelweiss." ungkap Malik, Edel tersenyum menatap Malik di sebelahnya.


"Ya, aku lupa," ujarnya.


"Terimakasih telah mengajakku jalan, sejujurnya ini kencan pertamaku," ucap Edel tersenyum.


"Aku tahu," jawab Malik merangkul pundak edel.


"Ayo kita duduk di taman itu," ajak Edel melihat tempat duduk di taman hadapan.


Mereka duduk di kursi yang menghadap ke sungai dan pohon di sampingnya lumayan rimbun menghalangi matahari.


"Aku masih lapar," perut Edel sedikit keroncongan.


"Hahahaha.. maaf, aku lupa,"


"Tunggulah, aku belikan makanan dulu," Malik berdiri dan pergi mencari makanan untuk kekasihnya.


Drrrttt..... drrtttt..... ponsel Edel bergetar di dalam kantong, nama Mita muncul di layar ponselnya.


"Ya, assalamualaikum. Ada apa?" sapa Edel.


"Apa semuanya lancar?" tanyanya lagi.


"Lihatlah email yang aku kirim tadi," pintanya.


"Di sini semuanya lancar jangan khawatir, jaga dirimu baik-baik kawan. Aku ga bisa menjagamu di sana," kata Mita lalu mengakhiri teleponnya.


Edel membuka email yang masuk. Mita mengirim sebuah artikel,


Pangeran Malik Diam-diam Mengencani Gadis Cantik


Dan ada sebuah foto saat dirinya diantar pulang oleh Malik setelah menghadiri perayaan anniversary Ommarcorp, juga foto saat dia berjalan di bandara bersama Ibunda Ratu.


Malik melihatnya dari atas kepala Edel membuatnya terkejut.


"Aku bersyukur wajahmu diburamkan, aku ga mau sainganku bertambah banyak jika mereka melihat wajah cantikmu," ujarnya lalu duduk di sebelah Edel dan memberikan bingkisan makanan.


"Terimakasih," ucap Edel membuka bingkisannya.


"Kamu tidak menawariku makan?" tanyanya melihat Edel asik makan burger sendiri tanpa menoleh padanya.


"Ah, maaf," dia menyodorkan burger yang telah dia gigit.


Malik tersenyum memakannya langsung dari tangan Edel.


"Kenapa kamu memakan burgerku?" tanyanya kaget.


"Bukankah kamu yang menyodorkannya padaku," jawab Malik tersenyum.


"Tapi ini udah ku gigit,"


Edel menghabiskan burger di tangannya.


"Kenapa kamu hanya membeli satu?" melihat bungkusan makanannya kosong.


"Tumbler ku di mobilmu," kata Edel mencari minum.


Malik mengasongkan botol minum yang telah dia minum.


"Apa kamu tidak jijik jika aku minum dari botol minum mu?" tanya Edel.


"Tentu tidak, minumlah. aku senang jika satu botol minum denganmu. seperti yang aku bilang aku akan belajar romantis denganmu," ujarnya.


Mereka solat asar di mesjid terdekat. Seperti biasa Malik dikerumuni banyak wanita mulai dari gadis hingga yang sudah tua. Edel menunggunya agak jauh dari Malik.


"Assalamu'alaikum, nona Edel," sapa Mr. Husein.


"Oh Mr. Husein wa'alaikumsalam. Apa kabar, ko bisa ada di sini," Edel masih terkejut Mr. Husein bisa ada di mana pun tanpa pemberitahuan dulu.


dari mana dia tahu kita ada di sini. Tanyanya dalam hati


Mereka melihat Malik masih sibuk ber-selfie dengan para wanita. Mr. Husein pun menghampiri Malik untuk menertibkan para penggemarnya karena melihat wajah Edel berubah menjadi sedikit cemberut karena terlalu lama menunggu.


"Yang Mulia, silahkan," ucap Mr. Husein berusaha memberi jalan keluar buat Malik agar bisa secepatnya pergi.


"Maaf, menunggu lama," ujar Malik pada Edel yang terlihat mulai bosan.


"Ya, tak apa Yang Mulia," sahut Edel.


"Ingin rasanya aku menerkammu," kata Malik gemas.


"Jangan yang mulia, jangan di sini," goda Edel membuat Malik semakin gemas.


"Ah, aku ingin segera menikahimu," memegang tangan Edel berjalan cepat menuju mobil.


"Kita mau kemana sekarang?" tanya Edel ketika sudah masuk ke dalam mobil.


"Tadinya aku ingin mengajakmu jalan, ke tempat-tempat biasa aku jalan bersama teman-teman ku tapi waktunya tidak memungkinkan," jawab Malik.


"Kita harus pulang, istirahat dulu sebelum acara nanti malam," lanjutnya.


"Ah iya, aku juga harus berkemas," ujar Edel.


Malik menyandarkan kepalanya di pundak edel.


"Izinkan aku memejamkan mataku sebentar," ujar Malik. Edel tidak menjawabnya, dia merasa malu pada mr. Husein yang berada di samping driver.


Setengah jam kemudian mereka sampai di istana. Penjaga membukakan pintu untuk Malik, tapi Malik masih memejamkan matanya.


"Aku ingin di sini sebentar lagi," ujarnya pada Mr. Husein. Dia pun mengerti dan segera keluar meninggalkan mereka berdua dalam mobil. Tak lupa penjaga pun menutup pintunya kembali


"Bangunlah, aku tidak enak sama mereka jika kamu terus seperti ini. Ingat kita belum menikah!" seru Edel. Malik mengangkat kepalanya dari bahu Edel.


"Ayo kita menikah," ajak Malik disambut tawa oleh kekasihnya.


"Aku ngomong serius malah dibecandain, dasar," kata Edel memencet hidung Malik.


"Aku serius honey, ayo kita menikah!"


"Iya, nanti kalau udah waktunya," sahut Edel.


"Ayo keluar, kita kelamaan berdua di mobil!" ajak Edel.


Malik mengantar Edel sampai pintu kamarnya.


"Bajumu sudah ada di dalam, MUA nanti akan datang pukul lima sore," jelas Malik.


"Bisakah mereka datang abis magrib aja, sebentar lagi juga pukul lima," menunjukan jam di tangannya.


"Baiklah honey, istirahatlah ... nanti aku akan menjemputmu," kata Malik.


"Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumsalam" sahut Ibunda Ratu.


"Assalamu'alaikum, Ibu anda datang," sapa Edel menghampirinya di depan pintu lalu mencium tangannya. Malik pun mencium tangan Ibunya.


"Anda juga datang Yang Mulia Putri Syahara," kata Edel riang.


"Kamu formal sekali padaku, panggil saja kakak," ujar Putri Syahara, Edel tersenyum mendengarnya.


"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Malik melihat Ibu dan kakaknya datang ke kamarnya.


"Tentu saja kami datang untuk adik iparku, ini acara pertamanya dengan keluarga kita. Aku harus menemaninya," kata Putri Syahara.


"Ayo masuk," ajak Putri Syahara pada Ibunda Ratu, Malik pun ikut duduk bersama mereka.


"Kenapa kamu duduk, bukankah kamu barusan mau pergi?" tanya Putri pada adik kesayangannya.


"Tak bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian," Malik balik bertanya.


"Tentu saja tidak boleh sayangku, ini khusus perempuan. Sebentar lagi Putri Grizelle akan datang juga," sahut Ibunda Ratu.


"Baiklah, assalamualaikum," pamit Malik melirik Edel yang tersenyum memandangnya.