
"Yang Mulia," Mr. Husein membisikkan sesuatu ke dekat Malik.
Malik memejamkan matanya menarik nafas berat, "Selidiki sampai tuntas!".
"Baik Yang Mulia," sahutnya lalu meninggalkan Malik yang sedang mengurus transfer pasien.
Malik terdiam menatap kosong ke arah jendela.
Siapa yang berani bermain dengan keluargaku. gerutu batinnya.
"Sebaiknya aku minta bantuannya?" Malik mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Cukup lama dia menunggu dan hanya terdengar nada tunggu.
"Kemana ini anak?!" gerutu Malik.
Dia mencoba menghubunginya kembali beberapa kali, tapi tetap hanya terdengar nada tunggu sampai akhirnya,
"Ya,. what's up bro?" sapa suara di seberang telepon.
"Aku menghubungimu dari ta ... ."
"Maaf Bro, aku sedikit sibuk. Pacarku datang hari ini," ujarnya memotong perkataan Malik.
"Aku ingin meminta pertolonganmu dan ayahmu," kata Malik dengan nada yang serius.
Ronald mulai mengerti apa yang Malik inginkan begitu dia melibatkan ayahnya dalam pembicaraan.
"Baiklah bro, kapan kita akan bertemu untuk membicarakannya?" tanya Ronald.
"Aku sedang di Dy, mungkin nanti habis isya aku akan menemuimu di cafe biasa. Bawalah pacarmu itu karena aku pun akan mengajak Edel, kasian dia jika harus berada di istana terus," terangnya.
"Oke bro, See you tonight," pamitnya lalu memutuskan teleponnya.
Malik memasukan kembali ponselnya lalu berjalan ke arah dokter kerajaan yang akan menangani kakaknya Pangeran Fatih.
Pangeran Fatih masih dalam keadaan koma, tapi pihak kerajaan terutama Baginda Sultan ingin agar perawatannya dipindahkan ke rumah sakit pusat kota. Pemindahan /transfer pasien tersebut bukan hanya karena rumah sakit pusat kota lebih besar dan mempunyai fasilitas yang sangat lengkap dan modern tapi juga karena lokasinya yang lebih dekat dengan Istana.
"Yang Mulia semua sudah siap," kata dokter tersebut dan dibalas anggukan oleh Malik.
Pangeran Fatih akan di bawa ke rumah sakit menggunakan helikopter khusus yang telah disediakan kerajaan dan akan langsung landing di helipad gedung rumah sakit pusat kota, hanya butuh waktu kurang dari setengah jam perjalanan dari daerah Dy ke pusat kota dengan menggunakan helikopter.
Para dokter di rumah sakit pusat kota bersiap menerima kedatangan pangeran Fatih. Ruangan VVIP yang biasa ditempati keluarga kerajaan pun telah disiapkan. Begitu tiba di rumah sakit pusat kota, pangeran Fatih langsung dibawa ke ruangannya.
Dokter mulai memeriksa kembali keadaannya. Setelah memastikan semua dalam keadaan baik, Malik pamit pada dokter yang akan menjaga kakaknya. Malik langsung menuju ke istana.
*
*
"Honey, nanti selepas isya kita jalan keluar," ajak Malik.
"Benarkah?" tanyanya, mata Edel berbinar mendengarnya. "terimakasih."
"Kenapa kau berterimakasih?" tanya Malik tidur di pangkuan istrinya di sofa.
"Terimakasih karena telah mengajakku keluar, aku merasa sedikit bosan di sini," ujar nya. Jadwal Edel beberapa hari kedepan telah dibatalkan oleh Malik, mengingat Edel lah target mereka sebenarnya.
"Oh ya, bagaimana kabar pangeran Fatih, adakah kemajuan?" lanjutnya.
"Masih sama seperti sebelumnya, dokter tidak bisa memastikan kapan dia akan siuman," jawab Malik sambil menutup matanya. Mencoba bersikap tenang, dia tidak ingin Edel mengkhawatirkan keadaan kakaknya dan menyalahkan diri sendiri atas semua kejadian yang menimpa mereka.
"Ah, aku lelah sekali," lanjutnya, Edel membelai rambut Malik.
"Jangan tidur, sebentar lagi masuk waktu isya. Katanya mau mengajakku jalan!" Edel menelusuri alis Malik dengan telunjuknya. "aku menyukai alismu, tebal."
Malik tersenyum, "Apa kau sedang menggodaku?".
"Tidak, sebentar lagi isya," kelak Edel.
"Jadi kalau sudah isya kau menggodaku?" tanyanya lagi.
"Apaan sih!" wajahnya merona.
Sesuai rencana, setelah mereka shalat isya Malik mengajak Edel keluar. Malik ingin membuat sedikit kejutan untuknya, diantidak memberitahu istrinya jika akan bertemu dengan teman-temannya.
"Dimana ini?" mereka memasuki halaman rumah yang yang terbuat dari kayu ditengah-tengah sungai.
"Kau akan tahu nanti," jawabnya tersenyum.
Malik memarkirkan mobilnya di dekat sebuah pohon mangga yang sedang lebat berbuah.
"Malik, apa ini rumahmu?" tanya Edel memandang buah mangga yang menggantung rendah di pohonnya.
"Bukan, ini bukan rumahku. Kenapa?" tanyanya balik.
"Tidak, hanya bertanya," sahut Edel, dia tak berani mengatakan jika dia ingin memetik mangga di depannya.
"Ayo," ajak Malik.
Edel mengikuti Malik yang berjalan menuntunnya di depan, dia melihat sekelilingnya. Ada rasa takut yang menyelinap masuk ke dalam pikirannya.
"Malik, rumah siapa ini?".
Malik tidak menjawab hanya tersenyum. Malik membukakan pintu buat istrinya dan terlihat dari depan pintu teman-teman Malik telah berkumpul di ruangan yang cukup hangat.
"Tuan putri kita sudah datang," teriak Queenzha setengah berlari menyambut Edel masuk.
"Kau di sini, kapan kau tiba?" tanya Edel memeluk temannya.
"Kemarin, aku merindukanmu. Maaf, aku tidak bisa datang saat ... ," Queenzha tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Edel tau apa yang akan Queenzha katakan.
"Tak apa, aku tau kau sibuk. Lagian jaraknya sangat jauh," ujar Edel tertawa kecil.
"Ayo, kita mengobrol di sana aja," Queenzha menunjuk ke arah meja makan. "di sana banyak makanan, aku merindukanmu."
Edel dan Queenzha mengobrol di meja makan, sedangkan Malik bergabung dengan Ronald dan Deo di sofa depan perapian yang tidak dinyalakan.
"Mana Kate, kau tidak mengajaknya?" tanya Malik pada Deo.
"Tidak, aku sengaja tidak memberitahunya kalau Edel dan Queenzha ikut dengan kalian. Dia harus banyak beristirahat," jawabnya.
"Lain kali ajaklah dia, kasian jika harus di rumah terus. Aku pun mengajak Edel karena dia terlihat bosan beberapa hari ini terkurung di istana."
"Kau sudah berbicara dengan ayahmu mengenai yang kukatakan tadi siang?" tanya Malik pada Ronald.
"Ya, sudah. Ayahku akan membantu kalian menyelidikinya," jawabnya.
"Menyelidiki apa?" tanya Deo penasaran.
"Kami menemukan pelaku penembakan kejadian kemarin telah mati di apartemen mereka. Aku belum mendapat laporan detailnya dari tim penyidik, hanya saja kata Mr. Husein pekerjaan mereka rapi tidak ditemukan bukti jika mereka dibunuh," terang Malik.
"Ya, ayahku juga sempat berkata jika kemungkinan ada yang mendahului kita mengeksekusi mereka."
"Maksudnya, maaf aku kurang mengerti," tanya Deo.
"Kau harus mencari lawan yang seimbang jika ingin berurusan dengan seseorang. Apalagi orang yang ingin kau urus adalah anggota kerajaan, tentu kau harus mencari setidaknya orang yang bernyali besar," terang Ronald.
"Jadi?" tanya Deo lagi.
"Jadi, pelaku penembakan itu kemungkinan bukan dari orang biasa. Mereka mafia kelas internasional!" jawab Ronald ketus.
"Apa Edel mempunyai masalah dengan orang yang tidak dia ceritakan padamu?" tanya Deo.
"Setahuku tidak, dia tidak mempunyai musuh. Dari itu, aku pun penasaran siapa yang sedang bermain denganku!"
"Apa Edel tahu jika dia target sebenarnya?".
"Tentu saja tidak, tidak mungkin aku memberitahunya. Dia sangat terpukul dengan meninggalnya Putri Grizelle, dia sempat menyalahkan diri sendiri," Malik melihat Edel yang sedang mengobrol dan tertawa lepas dengan Queenzha.
"Kau mau kemana?" tanya Ronald melihat Malik berdiri.
"Toilet, aku ingin ke toilet. Kau mau ikut?" ketus Malik.
Ronald hanya cemberut menatap Malik.
"Benarkah ayahmu belum tahu siapa dalang di balik semua ini?" tanya Deo.
Ronald cukup lama terdiam, "Sudah, hanya saja aku tidak berani mengungkapkannya padanya."
"Kenapa?".
"Karena itu akan mempengaruhi sebagian hidupnya kedepan."
"Ah, aku tidak mengerti dengan bahasamu, Tak bisakah kau to the point aja!" ketus Deo.
"Pelakunya anak buat Felix Beltran, dia seorang mafia Eropa yang terkenal kejam," jawab Ronald.
"Lantas kenapa tak kau beritahu pada Malik jika kalian sudah tahu siapa dalangnya?!"
"Felix Beltran mempunyai seorang istri yang bernama Shopia Khurram. Kau pasti tahu siapa dia."
"Siapa?" tanya Deo balik, membuat Ronald mengernyitkan dahinya tak percaya akhir-akhir ini IQ Deo menjadi dibawah rata-rata.
"Dia ibunya Shahmeer," ungkap Ronald berbisik yang berhasil membuat Deo menganga.
"Kau pasti salah," sergahnya. Deo tiba-tiba teringat wanita paruh baya yang lihat di cafe ketika Kate dan Edel bertemu.
Mungkinkah yang memperhatikan mereka saat itu wanita tua itu?. tanyanya dalam hati.
*****
Terimakasih sudah membaca. 🥰
Stay safe everyone 🤗🥰