
Edel bergabung dengan Putri Syahara dan Putri Imelda sepupu mereka. Edel senang mengobrol dengan mereka bercerita tentang anak-anak, senang rasanya bisa bercerita dan sharing tentang parenting.
"Aku mendengar rumor jika tetua istana meminta Malik dinobatkan menjadi Putra Mahkota menggantikan Pangeran Fatih?".
Putri Imelda tiba-tiba bertanya pada Edel saat Putri Syahara meninggalkan mereka berdua menemui suaminya.
"Oh, sejujurnya aku tidak tahu tentang itu dan itu hanyalah rumor. Tidak usah terlalu percaya dengan rumor," ujar Edel berusaha terdengar tenang.
"Ya kau benar, itu hanya rumor kalaupun benar aku mendukung kalian. Ayahku pernah berkata kalau saja adat penerus tahta tidak harus anak laki-laki pertama di keluarga, Malik jauh lebih baik menggantikan Baginda dibanding kakaknya."
Edel hanya tersenyum mendengar semua yang dikatakan Putri Imelda.
Sepertinya bukan hanya di dongeng saja permasalahan penerus tahta ini. gumam Edel dalam hati.
"Oh ya, bukankah sebelum menikah dengan Malik kamu seorang CEO?" tanyanya.
"Ehm ... , oh, iya ... . Kenapa?".
"Bukankah sistem penerus bisnis juga seperti itu. Maksudku yang akan meneruskan bisnis ayahnya adalah anak pertama, ya walaupun mungkin dia seorang wanita sepertimu," entah kenapa Edel merasa dia mulai tidak menyukai sepupu Malik itu.
"Aku pikir tidak seperti itu, kalau anak-anak nya tidak ada yang mampu mengelola biasanya akan dikelola oleh manajemen profesional," terang Edel.
"Sekarang pun perusahaan ayah dikelola pihak manajemen profesional karena adikku masih menyelesaikan studi dan dia belum mampu memegang perusahaan dan juga dari awal Dareen dia menolaknya," Edel ingat jika Dareen sangatlah bijak ketika memberikan alasan dia menolak menggantikan kakaknya menjadi seorang CEO.
"Adikmu menolah menjadi CEO menggantikanmu?!" jawabnya kaget.
Edel mengangguk, "Ayahku seorang yang sangat bijak dan dia mengerti ketika adikku mengeluarkan alasan kenapa dia menolaknya. Aku merasa adikku lebih dewasa dariku saat memberikan alasannya dulu."
"Apa yang sedang kalian obrolkan?" Edel kaget Malik datang langsung merangkul pinggangnya.
"Hai, pangeran."
"Hai juga cantik," ucap Malik melirik istrinya yang kaget.
"Bagaimana kabar anda Yang Mulia Pangeran Malik?" tanya Putri Imelda membungkuk hormat.
"Alhamdulillah baik. Kami akan ke sana," pamit Malik menunjukan tempat yang akan dia dan Edel datangi.
"Silahkan Yang Mulia," ucap Putri Imelda.
"Terimakasih telah mengajakku pergi," ucap Edel senang bisa menjauh dari sepupu suaminya.
Malik hanya tersenyum dengan ucapan Edel. Dia tahu ketika melihat mereka mengobrol tadi Edel terlihat tidak nyaman.
Mereka hanya berada di sana sampai Dzuhur karena Malik harus memenuhi tugasnya yang lain.
"Honey, aku akan menjemputmu sekitar pukul lima," Malik memandang Edel gemas, tak sabar ingin segera menghabiskan waktu berdua dengan istrinya.
"Ok, hubungi aku sebelumnya jika kamu akan telat menjemputmu," jawab Edel, dia tak ingin menunggu lama.
"Baiklah, aku pergi dulu," pamit Malik yang telah ditunggu Mr. Husein di dekat mobilnya.
Edel hanya mengangguk pelan, dia melambaikan tangan ke arah Malik dan berbalik masuk ke dalam istana. Edel berjalan cepat, dia rindu baby boy walaupun baru berpisah kurang dari tiga jam.
Edel melihat baby boy sedang ditimang oleh Mrs. Anne, pengasuhnya.
"Apa dia tidur?" tanya Edel menghampirinya dan melihat baby boy terlelap dalam pangkuan pengasuhnya.
"Pangeran kecil baru saja tertidur Yang Mulia," sahutnya.
"Aku akan membersihkan diri dulu," pamit Edel lalu masuk ke kamarnya.
Badannya terasa lengket sekali, Edel memutuskan untuk mandi mengguyur badannya dengan shower. Ya, itu keputusan yang bagus karena begitu air mengguyur kepalanya rasanya segar sekali.
Selesai mandi, Edel mengambil alih baby boy dari pangkuan Mrs. Anne. Anak itu hanya menggeliat ketika mommynya mengambilnya dan memindahkan tidurnya ke box baby.
"Mrs. Anne, nanti sore saya akan keluar lagi dengan pangeran Malik. Ada sedikit urusan yang harus kami kerjakan, tolong jaga baby boy," titah Edel.
"Tentu Yang Mulia, saya dengan senang hati akan menjaga Pangeran kecil kami."
Edel berusaha meraih ponsel yang dia simpan di nakas samping tempat tidur, dia memasang alarm agar dapat bersiap sebelum Malik menghubunginya untuk kencan mereka.
"Aku akan tidur sejam, lalu shalat asar dan bermain dengan baby boy sebentar lalu bersiap-siap," gumamnya melihat masih pukul 1.45 p.m di ponselnya.
Matanya dengan cepat terpejam, lelah sekali. Sejak melahirkan dia gampang sekali lelah mungkin karena kurang beristirahat di malam hari. Kalau tidak ada kegiatan dia akan ikut tidur bersama baby boy. Ya, istri Pangeran juga seseorang manusia yang ada lelahnya.
Terdengar adzan berkumandang dari ponsel Edel. Dia memang menggunakan aplikasi yang memberitahunya ketika memasuki waktu shalat.
Edel berusaha bangun dari tidur siangnya, matanya terasa perih ketika dia membukanya.
Edel bangun dan berjalan mendekati box baby boy. Dilihatnya bayi mungilnya masih terlelap tidur.
"Mirip siapa kamu nak'?" lirihnya tersenyum melihat tangan baby boy terangkat ke atas.
Edel membenarkan posisi tangan anaknya tapi sebentar kemudian tangannya sudah berada di atas kepalanya lagi.
"Mirip sekali Malik," gumamnya.
Setelah shalat dua duduk di kursi dekat box sambil membawa tab nya melihat beberapa dokumen yang harus dia periksa.
drrrttt... drrrttt... ponselnya bergetar diatas nakas. Dilihatnya Malik menghubunginya.
"Ya, assalamu'alaikum," ucap Edel memberi salam pada suaminya.
"Honey, ku sudah siap? aku akan menjemputmu sekarang."
Edel melihat jam di ponselnya. Dia terlalu fokus melihat dokumen hingga melupakan janjinya dengan Malik.
"Ya, aku akan bersiap sekarang," jawab Edel mengakhiri teleponnya sepihak.
Dia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian dia kaget melihat Malik yang sudah berada di sana sedang menggendong baby boy.
"Kapan kau datang? aku tidak mendengar kamu datang!" seru Edel yang masih menggunakan bathrobe nya.
"Sepuluh menit yang lalu, Dia sudah terbangun ketika aku datang. Dia tahu daddynya pulang," Malik tersenyum menatap baby boy.
"Kau mu mandi dulu?".
"Ya, sebentar."
"Tidurkan saja di box nya, aku hanya butuh waktu beberapa menit untuk berdandan," ujar Edel.
Pukul lima, pasangan muda itu telah bersiap untuk berangkat untuk berkencan. Baby boy telah dititipkan ke pengasuhnya dan akan ada Ibunda Ratu yang akan ikut menjaganya.
"Ayo kita ke bioskop, aku sudah lama tidak menonton," ujar Edel.
"Bioskop?" Malik berpikir sejenak. "Baiklah."
Malik mengendarai mobilnya, hanya berdua saja.
Jalanan tampak ramai, banyak kendaraan yang lalu lalang mungkin karena ini adalah jam orang pulang tempat kerjanya juga waktunya tepat untuk mencari makan malam.
Sampai didepan pintu masuk mereka dikerubungi oleh banyak masyarakat yang ingin berfoto dengan mereka.
Malik menuntun tangan Edel seakan dia ingin mengatakan tanda semua orang jika mereka juga butuh waktu untuk menikmati harinya berdua.
"Hai, Pangeran. Aku pikir ada selebriti yang sedang dikerumuni penggemarnya," Malik dan Edel refleks menoleh ke arah suara wanita yang menyapa mereka.
*****
Maaf lama up, terimakasih sudah mampir membaca. 🥰🤍
Stay safe everyone. 🤗