
Untungnya wajah gadis itu diburamkan, jadi sampai saat ini tidak ada yang tahu jika gadis itu adalah Edelweiss Soekandi Wiriatmadja seorang CEO asal Indonesia, kecuali pihak Kerajaan.
Pangeran Malik berjalan beriringan dan berdiri di sebelah kiri Sultan, beliau memberikan pidatonya sekitar lima belas menit. Setelah itu mereka mengitari semua area perpustakaan ditemani Kepala Daerah Timur Dy, perpustakaan ini lebih kecil dari perpustakaan kesultanan tapi lebih besar dari perpustakaan di daerah lain.
Banyak pengunjung yang berebut ingin melihat dan bahkan berfoto dengan Pangeran Malik. Pangeran Malik senantiasa tersenyum mengiyakan, tapi terkadang senyuman itu hanya topeng, dia harus membuang jauh-jauh perasaan gundah, sedih, khawatir yang sedang ia rasakan, dia harus totalitas dalam menjalankan tugasnya.
Dia mengeluarkan ponselnya saat izin ke toilet. Dilihatnya pesannya sudah terbaca, tetapi tidak ada balasan.
Ah mungkin dia sedang sibuk, mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang ke jakarta. batinnya. Mencoba berpikir positif karena yang dia tahu Edel akan balik ke Jakarta di hari Kamis.
Dia memasukkan ponselnya ke kantong dan kembali bergabung dengan rombongan the Royal.
"Boleh aku berfoto denganmu Pangeran?" tanya seorang perempuan.
"Tentu," Pangeran Malik berbalik dan tersenyum melihat seorang wanita yang ia kenal.
"Hai, kamu datang?" sapanya.
"Aku kira siapa," lanjutnya yang di balas dengan senyuman oleh wanita itu.
"Aku penggemarmu," jawabnya.
Malik tersenyum mendengar ucapan wanita itu. Mereka berjalan bersama mengikuti rombongan yang lain. Rombongan The Royal meninggalkan acara setelah shalat duhur berjamaah di mesjid perpustakaan daerah.
Pangeran Malik menemani Sang Sultan meninggalkan acara tetapi dengan mobil yang berbeda karena pangeran Malik akan langsung ke pangkalan militer Negara A untuk mempersiapkan ulang tahun militer negara A.
"Dia masih belum membalas pesanku," gumam Malik melihat ponselnya. Akhirnya memutuskan melakukan panggilan telepon tapi hanya terdengar nada tunggu. Beberapa kali dia melakukan panggilan, tetapi sia-sia.
Dia berpikir lama dan melakukan panggilan lagi.
"Ya, assalamu'alaikum," sapa seorang wanita di seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam, maaf aku menelepon mu. Apa Edel ada bersamamu?" tanya malik cemas.
"Oh, sorry Prince. Edel ga masuk hari ini, emang kamu ga bisa hubungi dia?" balik bertanya.
"Dari pagi aku hubungi dia tidak diangkat dan pesanku juga tidak dibalas, apa terjadi sesuatu dengannya?" kekhawatirannya terdengar jelas dari suaranya.
"Masa? aku baru melakukan panggilan dengannya sejam yang lalu," ungkapnya.
"Apa kamu buat salah dengannya? tadi pagi dia juga menelponku meminta izin tidak masuk," lanjutnya.
"Entahlah, aku merasa tidak berbuat salah dengannya. Memangnya dia sudah di Jakarta bukankah kalian pulang hari ini, apa dia sakit?" ujar Malik, perasaannya semakin tidak menentu.
"Tidak, dia tidak sakit. Kami pulang tadi malam dan tadi pagi hanya izin menemani orangtuanya," sahut Mita.
"Orangtuanya sakit?"
"Tidak, hanya katanya lagi kangen aja mungkin sama anak perempuannya," canda Mita tertawa.
"Oh iya, aku akan coba hubungi dia lagi. Makasi ya, assalamu'alaikum," pamit Malik.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mita memutus panggilannya.
Malik memejamkan matanya, dan memasukkan ponselnya. Rasanya dari pagi dia sulit berkonsentrasi, pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang Edel.
"Maaf Yang Mulia, ada foto-foto anda dengan nona Azmi tersebar di internet," kata Mr. Husein memperlihatkan cuplikan artikel di tabnya.
Malik menarik nafas panjang dan menghembuskannya, dia memandang foto dirinya dengan wanita yang disebutkan Mr. Husein. Lalu memberikannya kembali pada Mr. Husein.
"Tolong turunkan artikelnya. Aku ga mau sampai Edel melihatnya dan terjadi salah faham," ujarnya.
"Baik, Yang Mulia." kata Mr. Husein kemudian menelepon seseorang.
Malik memandang keluar jendela. Apa dia mencari tau tentang diriku di internet? pikirnya, tidak mungkin, dia bukan gadis seperti itu' menjawab pertanyaannya sendiri.
"Yang Mulia, sudah sampai," kata Mr. Husein memberitahu.
drrrtttt ... drrrttt ..., ponsel Malik bergetar. Ponselnya selalu dalam mode getar ketika menghadiri acara resmi. Wajahnya tersenyum melihat layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Maaf baru bisa menghubungimu, hari ini sedikit sibuk," ungkap wanita di seberang telepon.
"Iya, aku senang kamu menghubungiku duluan," ujar Malik.
"Kalau boleh jujur, aku tidak akan menghubungimu kalau Mita tidak menelponku barusan," kata Edel tertawa.
"Aku mengkhawatirkanmu karena kamu tidak bisa dihubungi olehku dari pagi. Aku takut terjadi sesuatu denganmu," ungkap Malik menunduk.
"Aku sedikit kesal padamu, aku merasa bersalah pada orangtuaku karena belum bercerita tentangmu. Kenapa kamu tidak meminta izinku dulu kalau mau menemui orangtuaku?" cecar Edel.
"Maafkan aku, karena aku pikir sebelum memintamu bersamaku, aku harus meminta izin orangtuamu dulu," dengan penuh keyakinan.
Edel tersenyum mendengarnya.
"Kenapa kamu tidak bilang waktu kita di Bali?" tanya Edel penasaran.
"Aku tidak ingin kamu marah ketika bertemu denganku. Aku takut kamu marah," ujarnya.
"Sama aja! sekarang aku kesal padamu tidak meminta izinku dulu," gerutu Edel.
"Setidaknya aku tidak melihatmu ketika kamu kesal," ucap Malik.
"Ihhh ... nyebelin deh!"
"Aku takut kamu ga mau melihatku dan menolaknya ketika tahu liburan kemarin aku yang merencanakannya," sahut Malik.
"Apa kamu di marahi orangtuamu karena aku menemui mereka?" tanyanya cemas.
"Tidak, mereka hanya tidak menyangka akan kedatanganmu. Mereka sedikit terkejut," kata Edel.
"Terkejut karena anak gadisnya di lamar oleh orang tampan sepertiku?" canda Malik.
"Iya," jawab Edel tertawa.
"Bukan seperti itu, kepedean deh! mereka terkejut karena ya ... begitu tiba-tiba. Tiba-tiba ada yang datang melamar anaknya sedangkan anaknya belum bercerita apapun pada mereka," lanjutnya menjelaskan.
"Jadi kamu beneran marah padaku?" tanya Malik.
"Sedikit," jawabnya singkat.
"Baiklah, nanti aku pasti akan meminta izin padamu jika membawa keluargaku ke sana untuk bertemu keluargamu," sahut Malik.
"Ih, kamu tuh ya masih aja becanda," kata Edel gemas.
"Aku tidak becanda, aku serius denganmu. Aku pasti akan membawa keluargaku ke sana ketika melamarmu secara resmi. Nanti saat kamu telah menerimaku," ucap Malik penuh keyakinan.
"Haruskah aku jawab sekarang?" kata Edel.
"Hhmmm ... bolehkah kamu jawab nanti aja. Seminggu ini aku harus fokus pada kegiatanku. Aku takut ketika kamu menjawab dan menolakku, aku takut itu mempengaruhi pikiranku dan pasti akan mempengaruhinya," pinta Malik.
"Kenapa kamu ga bisa fokus hanya karena jawabku," tanyanya.
"Karena itu adalah salah satu penentu takdirku. Aku takut akan sulit tersenyum ketika menghadiri acara resmi seperti tadi pagi, aku mengkhawatirkanmu," ungkapnya.
"Benarkah, kenapa kamu mengkhawatirkan ku?" jawab Edel.
"Aku mohon jawablah panggilanku atau balaslah pesanku walaupun hanya sekali," pinta Malik.
"Arrgghh ... aku lupa!" teriak Edel tiba-tiba.
"Kamu Baik-baik aja kan?" tanya Malik cemas.
Edel tiba-tiba mengakhiri panggilan.