He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 38



"Bagaimana dengan gadis yang dirumorkan dengan Pangeran?" tanya Ibunda Ratu cemas.


"Dia hanya menganggapnya teman," sahut sultan.


"Dia seorang wanita, bagaimana kalau gadis itu menginginkan lebih?" tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Kita percayakan dulu pada Malik, dia harus bisa menyelesaikannya," ucap Sultan.


"Apa Edel tahu tentangnya?" tanyanya lagi, tapi tidak dijawab oleh Baginda Sultan.


Penerbangannya lebih cepat dari pesawat komersil karena tidak harus lama menunggu transit.


Rombongan The Royal keluar dari pesawat dan sudah ada mobil yang menunggu mereka di apron. Malik satu mobil dengan ayahnya Baginda Sultan sedangkan Edel dengan Ibunda Ratu.


Istananya lebih besar dari istana Buckingham, aku harus menghafal jalannya kalau tidak aku akan tersesat. pikir Edel.


"Kami sudah menyiapkan kamar untukmu, mari aku antar," jawab Ibunda Ratu mengajak Edel.


"Tidurlah denganku malam ini, pasti menyenangkan bercerita hingga malam dengan anak gadis," lanjutnya. Beliau sudah berbicara mengenai masalah ini dengan suaminya, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan Edel akan bermalam dengan Ibunda Ratu.


"Baiklah," jawab Edel menurut berjalan memasuki istana.


"Tidurlah di kamarku," ucap Malik. Mereka terperanjat mendengar ucapan Malik. Edel hanya memandang Malik tidak tahu harus menjawab apa.


"Ah, maksudku kamu tidurlah di kamarku, biar aku yang tidur di kamar yang lain. Kamu harus tahu kamarku agar nanti kita bisa mendesain ulang kamarnya sesuai dengan yang kamu mau sebelum pernikahan kita," kata Malik menjelaskan maksud perkataan sebelumnya dan tanpa menyadari wajah Edel merona mendengarnya.


Baginda Sultan tersenyum mendengar ucapan anaknya.


"Beristirahatlah, kalian pasti kecapean," ucap Sultan mempersilahkan istri dan calon mantunya beristirahat.


Ibunda ratu kemudian mengajak Edel masuk ke kamar Malik. Seorang asisten mengantarkan pakaian ganti untuk Ibunda Ratu. Ketika Ibunda Ratu di kamar mandi, Edel melihat-lihat kamar Malik.


Kamarnya sangat besar, jauh lebih besar dari kamar Edel. Dindingnya bercat putih dengan tempat tidur super king size (fotonya di simpan di laci nakas), terdapat ruang belajar yang sekarang dipakai ruang kerja, di belakang meja belajar berderet buku-buku di lemari, terdapat sofa untuk bersantai juga beberapa lukisan dan piala-piala di lemari kaca dan beberapa foto berderet di rak display.


Edel melihat foto Malik berumur sekitar enam tahun sedang menunggang kuda, juga foto dirinya dengan binatang peliharaannya jenis Tiger.


"Sejak kecil Malik sudah sangat menyukai binatang, dia tidak takut bahkan pada binatang liar seperti Tiger sekalipun," ujar Ibunda Ratu menghampiri Edel.


"Pangeran kami seorang pekerja keras, ketika dia menginginkan sesuatu atau mempunyai suatu tujuan dia akan berusaha mendapatkannya, menggapainya," ungkap Ibunda Ratu memandang banyaknya piala, medali dan penghargaan.


"Yang mulia bolehkah aku tanya sesuatu?".


"Panggilah aku Ibu, kita hanya berdua di sini. Apa yang ingin kau tanyakan?" pintanya tersenyum.


"Ehm.. Bu, maafkan aku, tapi ini membuatku penasaran. Kenapa anda setuju Malik denganku? kami bahkan baru kenal dan hanya beberapa kali bertemu," tanyanya, Ibunda Ratu tersenyum mendengar pertanyaan Edel yang cukup berani.


"Banyak sekali gadis di sekelilingnya, banyak yang menginginkan jadi pendampingnya, bahkan mereka rela melakukan apapun untuknya.Tapi dia hanya sekali meminta kami menemaninya menemui orangtua seorang gadis, gadis itu adalah kamu anakku," ungkapnya lembut.


"Dia juga pernah bercerita kalau kamu pernah menolaknya," ujar Ibunda Ratu tertawa


"Kamu gadis pertama yang menolaknya," lanjutnya, Edel tersenyum malu.


"Kenapa kamu menolak pangeran kami?" tanyanya lagi penasaran.


"Ehm ... itu ... itu karena dia selalu membuatku gugup dari pertama kami bertemu, aku merasa tidak nyaman ketika di dekatnya karena dia membuatku gugup," mengingat kejadian saat mereka bertemu pertama kali versi Edel.


"Kenapa kamu menerima Pangeran kami?" balik bertanya, Edel berpikir mencari kalimat yang tepat. lama dia terdiam.


"Aku sendiri tidak tahu pasti kenapa aku sampai menerimanya. Menerima dia yang selalu menggangguku dengan pesannya dengan teleponnya, tapi lambat laun itu menjadi suatu kebiasaan dan tanpa sadar aku menunggunya mengangguku dengan itu semua. lambat laun aku menikmati kegugupanku ketika dekat dengannya, aku tidak tahu kenapa aku bisa menerimanya, itu terjadi begitu saja," ungkap Edel menunduk.


Ibunda ratu mengerti dengan apa yang Edel rasa. Beliau tahu gadis di depannya seorang yang jujur mengungkapkan apa yang dia rasa.


"Tahukah hal lucu yang Pangeran ceritakan pada kami saat dia meminta kami menemaninya?"


"Dia bercerita jika dia menemukan gadis yang pernah menyiramnya dengan air hingga basah kuyup ketika dia berkuliah di Eropa dulu," lanjutnya tertawa tapi sepertinya Edel tidak mengerti.


"Dan dilain waktu, saat hujan deras gadis tadi memberinya payung ketika dia hendak pulang dari perpustakaan, keluarga kami tahu cerita itu karena Malik selalu bercerita kalau akhirnya dia menemukannya, pertemuan yang unik," kata Ibunda Ratu


Edel hanya tersenyum mendengarnya. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang Ibunda Ratu bicarakan.


Siapa gadis itu? kenapa dia memilihku kalau dia menyukai orang lain?!. gumam Edel dalam hati.