He'S A Prince

He'S A Prince
Untukmu..



Edel berjalan ke tempat yang telah dijanjikan, sepanjang jalan ke tempat itu bergelantungan lampu-lampu kecil sangat cantik di kegelapan malam.


Malik telah menunggu di tempat yang di janjikan memakai tuxedo Kitton yang membuatnya terlihat sangat gagah dan macho, sangat tampan.


Mereka makan malam romantis di pantai. Untungnya gaun yang disiapkan Mita bukan gaun malam yang terbuka tapi berlengan pendek jadi Edel tidak terlalu merasa kedinginan.


Malik menarik kursi mempersilahkan Edel duduk.


"Kamu tambah cantik malam ini," memandang Edel yang mulai merona.


"Terimakasih," ia menunduk tidak mau Malik terlalu lama melihat wajahnya yang memerah.


Edel mengedarkan pandangannya, mencoba menenangkan jantungnya yang sepertinya hendak melompat.


"Kamu di sini berapa hari?" tanya Edel mencoba mengalihkan.


"Sampai besok malam, kenapa?" balik bertanya.


"Apa kamu kesini untuk berlibur atau memang ada urusan?" terdengar formal yang membuat Malik menahan tawa.


"Ada urusan pribadi yang harus aku segera selesaikan," jawabnya menahan tawa melihat reaksi wajah gadis di depannya.


"Oh," jawab Edel singkat.


Malik melihat perubahan dari mimik wajahnya, yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit masam.


"Kenapa tidak bertanya tentang urusan pribadiku," celetuknya.


"Buat apa?" ketus. Malik semakin tersenyum melihatnya.


"Kenapa tersenyum?" lanjutnya.


"Kamu membuatku gemas, aku ke sini untukmu, ingin melihatmu, aku meminta jadwalmu pada temanmu. Jadi aku merencanakan liburan ini dan temanmu setuju. Dia banyak membantuku," tutur Malik tak bisa mengalihkan pandangan dari gadis cantik di depannya.


Edel terdiam mendengar penuturan Malik, wajahnya semakin memerah.


"Kenapa kau mau melihatku, aku pikir aku hanya orang asing yang baru kau kenal atau apa kau selalu melakukannya pada semua gadis yang menarik yang baru kau temui?" Edel merasa gugup mengatakan itu.


"Ini pertama kali aku melakukannya, kau memang orang asing bagiku, orang asing yang ingin ku jadikan pendampingku," tegas Malik. Dia melihat jauh kedalam manik edel.


Gadis itu tidak bisa berkata apapun lagi mendengar pernyataan Malik.


"Aku tidak keberatan kau menolakku, tapi jangan larang aku mendekatimu. Aku ingin kamu mengenalku lebih bukan sebagai pangeran, tapi sebagai diriku sebagai Malik Ibrahim!" pintanya.


"Kenapa kamu terdiam?" tanya Malik ragu melihat Edel hanya terdiam memandangnya.


"Tidak, aku hanya ... ini begitu ... ini semua membuatku gugup dan aku begitu malu," hanya kalimat itu akhirnya yang keluar dari mulutnya. Ia mengipas-ngipas tangan ke arah matanya yang hampir mengeluarkan air mata haru.


"Aku tidak tau harus jawab apa?" lanjutnya, di dalam hatinya ingin mengiyakan tapi kalimat itu menguap begitu saja.


"Hahahaha ... kamu lucu sekali, tak perlu kau jawab sekarang. Aku tidak berharap kau menjawab ku sekarang. Aku ingin kau memikirkan semuanya dengan matang. Berapa pun lamanya kau berpikir aku akan menunggumu, hanya saja jangan larang aku menghubungimu dan jangan dekat dengan pria lain sebelum kamu memberiku jawaban," tegasnya.


"Ayahku juga seorang pria, apa itu termasuk?!" mengernyitkan sebelah alisnya.


"Bukan itu maksudku, pria lain yang mengejarmu, yang menyukaimu," rasanya tak tahan menahan tawa.


Edel meremas kedua tangannya. Menarik nafasnya, dia mengangguk setuju dengan semua yang Malik ucapkan.


Mungkin lebih baik begitu. pikirnya.


"Mau jalan denganku, aku ingin berjalan. Sejujurnya obrolan ini membuatku sangat gugup," pinta Edel dibalas dengan anggukan.


Mereka berjalan menyusuri pantai, jangan di bayangkan dekat air laut ya karena Edel pakai gaun itu akan membuatnya susah berjalan.


Malik melepas jasnya dan memakaikannya pada Edel dan membuatnya senang.


Seperti di drama-drama yang sering Mita tonton. pikirnya.


"Kita duduk di sana," menunjuk kursi di bawah pohon kelapa.


"Langitnya terang, indah sekali," memecah kesunyian, Edel hanya mengangguk melihat Kilauan ombak di laut yang gelap.


"Kenapa kamu menyukaiku? bukankah banyak gadis yang menyukaimu, yang rela antri hanya untuk bersamamu," ingat kejadian tadi di salah satu tempat oleh-oleh, beberapa gadis Negara A yang sedang berlibur berebut ingin berfoto dengannya.


"Aku tidak mau gadis yang biasa, gadis yang hanya tertarik karena aku seorang Pangeran, gadis yang hanya tertarik karena kedudukan ku. Aku menyukaimu karena kamu tidak tertarik denganku," menarik nafas panjang.


"Aku menyukaimu dari pertama kali bertemu, kamu melewati ku begitu saja. Berbeda dengan temanmu yang melirikku beberapa kali," dia menceritakan kejadian di cafe saat Edel meeting dengan perusahaan Ommarcorp.


Edel mencoba mengingat rentetan kejadian di cafe, tapi dia tidak ingat sama sekali telah melewati Malik. Yang dia ingat, dia bertemu dengannya di perayaan anniversary perusahaan Ommarcorp.


"Aku lupa, yang ku ingat kamu menghampiriku di balkon dan mengantarku pulang," gumam Edel.


"Itulah mengapa aku menyukaimu. Kalau itu gadis lain mungkin mereka akan memintaku mengantar mereka duluan menggunakan beribu alasan agar aku mengantar mereka. Tapi kau malah menolak ku," lirih Malik.