He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 148



Hari ini adalah hari persidangan lanjutan kasus pembunuhan berencana Pangeran Fatih dan istrinya Putri Grizelle. Persidangan ini sudah memakan waktu berbulan-bulan, masih menghadirkan saksi dari kedua belah pihak.


Tidak seperti dalam film atau drama yang bisa langsung dihukum ketika seseorang berurusan dengan keluarga kerajaan. Proses hukum kasus ini berjalan sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku.


Di persidangan, Mrs. Shopia tidak terlalu banyak mengeluarkan suara, dia lebih banyak diam dan melimpahkan semuanya pada pengacaranya.


Persidangan hari ini berlangsung kurang dari empat jam dan dilanjut sekitar 6 minggu kemudian untuk mendengarkan putusan hakim.


"Syukurlah, akhirnya persidangan ini akan berakhir 6 Minggu lagi. Sudah hampir setahun dan aku sudah mulai lelah," lirih Malik.


Mr. Husein tersenyum hormat, Ia tahu belakangan pekerjaannya sangat menumpuk menyita waktunya. Bahkan terkadang Ia harus berada di lebih dari lima kota dalam sehari.


"Mr. Husein, sudahkah anda jadwalkan untukku dan Edel menghadiri pernikaha Ronald di Jerman?" tiba-tiba teringat pernikahan temannya.


"Sudah, Yang Mulia."


"Anda akan menghadiri dinner dengan kaisar Jepang petang ini, Yang Mulia. Pakaian anda sudah saya siapkan dan dikirim ke tempat anda."


Malik mengangguk, dia sedikit lupa bahwa hari ini ada kunjungan diplomatik dari Negara Jepang.


***


Dua minggu sudah berlalu sejak persidangan terakhir kali di gelar. Malik dan Edel masih disibukan dengan jadwal kenegaraan yang semakin padat. Walau begitu mereka tak pernah mengeluh, rasa lelah terbayarkan ketika mereka melihat masyarakatnya yang antusias dengan semua yang mereka kerjakan.


Baby boy pun sekarang sudah mulai bisa merangkak dan berceloteh riang khas bayi. Dalam seminggu ini, sudah beberapa kali baby boy dibawa Edel ketika melakukan kunjungan. Ketika melakukan tugasnya tentu saja baby boy bersama dengan pengasuhnya hingga tak mengganggu kerja mommynya.


"Anak mommy, kangen ya?" Edel mengambil baby boy dari pangkuan pengasuhnya, dia sudah membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menemui anak semata wayangnya.


Sore itu Edel baru saja pulang, dia melakukan kunjungan melihat beberapa UMKM di beberapa daerah. Bangga dengan bagaimana kreatifnya masyarakat mengembangkan potensi budaya yang ada dan mulai berkembang pesat.


Baby boy tertawa riang melihat mommynya yang menggendongnya. Dia mulai berceloteh seakan menceritakan hari yang dilaluinya pada mommynya.


"Yang Mulia, gigi Yang Mulia pangeran sudah mulai terlihat," ucap Mrs. Anne memberitahukan pada Edel yang akan memberikan asi pada anaknya.


"Benarkah?" mata Edel berbinar.


"Kau sudah mau punya gigi. Coba mommy lihat," Edel membuka mulut baby boy yang tidak mau diam, tangannya terus bergerak aktif memegang tangan Edel, mengibas-ngibaskannya.


Edel melihat dua buah gigi mulai keluar dari dalam gusinya.


"Apa dia ada demam?" tanya Edel.


Edel ingat beberapa temannya dulu pernah bilang jika anaknya demam karena tumbuh gigi.


"Tidak, Yang Mulia. Pangeran kecil sangat sehat, tumbuh gigi tidak membuatnya demam, hanya mungkin akan membuatnya sedikit tidak nyaman dan gatal di gusinya," terang Mrs. Anne.


"Teethernya tolong di bersihkan dan simpan beberapa di lemari es."


Edel pernah diberitahu oleh temannya yang seorang dr. gigi, jika nanti punya anak dan sedang tumbuh gigi teether yang biasa dia mainkan simpan beberapa di lemari es agar ketika di mainkan dan digigit bisa sedikit meredakan gusinya yang sedang bengkak karena tumbuh gigi.


"Baik yang Mulia." Mrs. Anne melaksanakan apa yang diperintahkan Edel. Setelah itu, dia pamit keluar dari kamar baby boy yang berada di sebelah kamar Edel dan Malik.


"Ayo kita pindah," ucap Edel pada baby boy yang masih tidak mau melepaskan jari jempol Edel dari genggamannya.


Edel duduk di sofa menonton tv sambil memberikan asi pada baby boy.


"Aawww ... ," baby boy tertawa melihat mommynya meringis kesakitan.


"Yang udah punya gigi senang ya gigit mommy."


Edel mencubit kecil pipi pangeran kecil yang chubby, anaknya semakin menggemaskan terkekeh melihatnya.


"Senang ya ... ," Edel menciumi pipinya yang gembil.


"Ayo kita telepon nenek, dia pasti sennag melihat gigimu," ujar Edel tak sabar memberitahu Mrs. Soe jika cucunya sudah tumbuh gigi.


Edel mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Mrs. Soe.


"Mereka pasti sedang makan malam," lirihnya melihat jam.


"Assalamu'alaikum, hai sayang bagaimana kabarmu?" sapa Mrs. Soe.


"Alhamdulillah baik, bunda," jawab Edel sambil melambaikan tangan baby boy ke arah ponsel.


"Eh, ada yang cakep ngikut. Hallo cakep lagi apa, Grandma rindu sekali pengen ketemu langsung," ujarnya menatap baby boy.


"Grandma, gigiku sudah mulai tumbuh lho," baby boy tertawa seakan menunjukan gigi pada Mrs. Soe.


"Ih, iya itu ada putih-putih ya di mulutnya. cucu Grandma udah besar udah pengen ngigit daging ya."


"Itu biasa sayang, gatel gusinya makanya nanti pas ngasih asi harus hati-hati. Biasanya digigit daddynya ga ngeluh," ujar Mrs. Soe.


Wajah Edel langsung berubah merona mendengar perkataan Mrs. Soe. Rasanya memang berbeda digigit baby boy dengan digigit Malik.


Baby boy semakin aktif mencoba menggapai ponsel didepannya dan tertawa ikut menertawakan Edel.


"Seneng ya anak mommy dapet dukungan dari Grandma nya," gemas rasanya melihat pipinya yang chubby.


"Daddynya belum pulang?" tanya Mrs. Soe kemudian.


"Belum, Malik lagi ke beberapa daerah luar, besok baru pulang," jawab Edel.


"Bagaimana kabar di sana?" Mrs. Soe menanyakan keadaan istana dengan orang-orang nya.


"Alhamdulillah baik. Aku rindu sekali pasarkan bunda, aku bahkan merindukan Simbok," ujarnya.


"Sabar sayang. Nanti kapan-kapan bunda ajak Simbok ke sana."


"Ayah mana?".


"Ada Mr. Ommar sedang di Jakarta, mereka sedang bernostalgia mengobrol di ruang depan," jawab Mrs. Soe.


"Oh."


"Bunda nanti aku hubungi lagi, di sini sudah adzan magrib."


Edel membawa baby boy dan mendudukannya di box bayi nya sedang dia masuk ke kamar mandi mengambil wudhu dan shalat magrib.


Malam ini, Edel meminta makan makan malamnya di bawa ke kamar saja. Dia sedikit merasa lelah.


Pukul 8 malam ponselnya bergetar menandakan panggilan. Dilihatnya Malik menghubunginya.


"Hai, assalamu'alaikum." sapa Edel.


"Wa'alaikumsalam, sedang apa honey. Aku merindukanmu dan baby boy," ujarnya.


"Lagi memberi asi buatnya," Edel memperlihatkan jika Ia sedang menyusui baby boy setelah memastikan tidak ada orang di samping Malik.


"Kamu sudah di kamar?".


"Ya, baru selesai mandi."


"Tidak bisakah aku melihat baby boy?" pinta Malik.


"Tidak, biarkan dia tidur. Dari tadi sore dia bermain denganku, kasian dia kelelahan. dia sangat kuat menyusunya," jawab Edel.


"Malik, kamu tahu, Baby boy sudah mulai tumbuh gigi," ujar Edel berbinar.


"Aku ingin melihatnya."


"Besok aja lihatnya. lucu sekali, dia tambah menggemaskan ketika tertawa memperlihatkan giginya yang baru mulai tumbuh," ungkap Edel.


"Dia juga sudah beberapa kali menggigitku," keluh Edel.


"Menggigit, dia menggigit apa honey?" tanya Malik penasaran.


"Dia menggigitku ketika aku memberinya asi, wajahnya terlihat senang saat melihatku meringis."


"Hahahaha ... anak Daddy sudah mulai manandai punyanya. Aku jadi semakin merindukanmu," membayangkan bagaimana wajah Edel ketika digigit oleh baby boy.


"Malik, aku akan menidurkan dulu baby boy. Sepertinya dia sudah terlelap."


Edel menyimpan ponselnya di nakas dan menidurkan anaknya di tempat tidurnya. malam ini dia akan tidur dengan baby boy.


"Malik, apa kau sudah makan?" tanyanya. Sebenarnya Edel tahu Malik pasti sudah makan malam, Mr. Husein tak akan membiarkan Malik telat makan.


"Sudah. Honey, melihatmu rebahan, ingin rasanya langsung pulang dan memelukmu," Edel tersenyum sedikit nakal dan menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya menggodanya.


"Awas ya besok. Tunggu aku," ucap Malik tertawa kecil, Malik merasa wajah Edel semakin menggemaskan ketika menggodanya seperti itu.


"Pasti aku akan menunggumu."


*****


Terimakasih sudah membaca. 🙏🥰


Stay safe everyone.🤭