
Kepulangan Malik dari jepang membawa kejutan bagi istri dan keluarganya.
"Apa ini, Malik?" tanya Edel melihat para asisten berbondong-bondong membawa banyak bingkisan ke dalam kamar mereka.
"Konferensi itu pertemuan puluhan negara di dunia dan mereka tahu jika aku baru saja menjadi seorang ayah, jadi mereka memberikan hadiah untuk baby boy juga mereka berkata jika aku seorang pemimpin yang sangat bertanggung jawab menjalankan kewajibannya padahal istriku baru saja melahirkan dan mereka juga memberikan salam hangatnya untukmu," ungkap Malik bangga.
Baginda Sultan yang saat itu sedang bersantai menimang cucunya bersama istrinya tersenyum. Mereka tahu Malik dan Edel adalah pasangan yang serasi dan menjungjung tinggi tanggung jawab yang diembankan pada mereka, tak heran jika para politisi dunia pun begitu hormat pada mereka.
"Aku merindukanmu baby boy," ucap Malik hendak menggendong baby boy.
"Kamu baru saja pulang, mandilah dulu!" seru Baginda Sultan tidak mengizinkan Malik menggendong baby boy.
"Benar yang dikatakan ayahmu, bersihkan dahulu badanmu Pangeran. Kamu bisa menimangnya selama yang kamu mau jika badanmu sudah bersih," timpal Ibunda ratu tersenyum melihat Pangeran Malik cemberut.
Pangeran Malik menuruti perintah ayah dan ibunya walaupun dengan rasa malasnya pergi ke kamar mandi.
Empat hari dia menahan rindu tidak berjumpa dengan anaknya, hari itu dia meminta Mr. Husein membatalkan jadwalnya untuk melepas kerinduan pada anaknya yang baru lahir.
"Malik, bolehkah aku bercerita padamu?" tanya Edel memandang Malik yang sedang menimang anak mereka.
"Cerita apa?" Malik bertanya balik tanpa mengalihkan pandangannya dari baby boy yang sedang terlelap tidur di pangkuannya.
"Aku dari kemarin mendengar desas desus tentangmu."
"Tentang apa?" tanyanya lagi.
"Mereka bilang jika tetua istana meminta pencopotan pangeran Fatih menjadi putra mahkota dan digantikan olehmu," ujar Edel pelan, dia tak ingin Malik berprasangka jika dia menginginkan suaminya menjadi raja.
"Ehmm ... ," jawab Malik singkat.
Edel tahu ketika Malik hanya menjawab seperti itu berarti dia tak ingin melanjutkan pembicaraannya.
"Malik, Kapan kita bisa berlibur agak lama?" tanya Edel mengalihkan pembicaraan.
"Memang kenapa, honey. Kamu ingin berlibur, bukankah sekarang juga kamu lagi libur tidak ada jadwal dua Minggu ke depan," ujar Malik.
"Cuma dua Minggu, biasanya cuti melahirkan ada yang sampai 6 bulan atau setahun," Edel menggerutu menumpahkan rasa kesalnya hanya diberi cuti melahirkan dua Minggu.
"Honey, maafkan aku karenaku kamu tidak mendapat istirahat pemulihan yang lama seperti orang lain," ucap Malik mendekati istrinya yang duduk di tepi tempat tidur.
Edel sebenarnya tahu betul jika tanggung jawabnya lah yang membuatnya hanya mendapat cuti dua Minggu untuk pemulihan pasca melahirkan.
"Aku tahu."
"Tenang saja lagian selama dua tahun ke depan jadwalmu dikurangi dan lebih banyak bekerja di dekat istana, sampai selesai kamu memberi asi untuk baby boy," bujuk Malik.
"Iya," Edel mengangguk lesu.
"Honey, beberapa Minggu lagi aku akan menghadiri beberapa pertemuan di timur tengah, apa kau mau ikut mendampingiku?" Malik.
"Tentu saja, aku akan berbicara dengan Mr. Husein untuk mempersiapkan semuanya," ujar Malik sambil menidurkan baby boy di box nya.
Sejak memasuki trimester ketiga, jadwal Edel semakin dikurangi dan hanya berada dalam pusat kota saja. Dia begitu senang akhirnya bisa berlibur keluar negeri meskipun sebenarnya bukan berlibur tapi melaksanakan tugas menemani Malik di sana.
"Good night, honey," Malik mencium Edel yang mulai terlelap.
**
"Kenapa mereka ngotot ingin aku menggantikan posisi kakakku?" ujar Malik lirih.
"Yang Mulia ... ," Mr Husein hanya memandang Malik sendu, dia tahu bagaimana perasaan Malik.
"Aku seperti membunuhnya dua kali Mr. Husein," Malik menunduk, matanya memerah menahan tangis yang memaksa hendak keluar.
"Yang Mulia ... ."
Malik memijat pelipisnya, Sudah sebulan sejak Baginda Sultan berbicara padanya jika para tetua istana menginginkan pencopotan Putra Mahkota dan digantikan olehnya.
**Flashback on**
"Pangeran, apa ada kesulitan menggantikan tugas Pangeran Fatih?" tanya ayahnya ketika selesai melaksanakan aqiqah putra pertamanya.
"Tidak ada Yang Mulia," sahut Malik.
"Pangeranku, para tetua istana memintaku menurunkan pangeran Fatih dari Putra Mahkota, mereka menginginkanmu menggantikan posisinya," terang Baginda lirih.
Malik tidak menjawab, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ayah, Pangeran Fatih pasti akan siuman sebentar lagi. aku yakin ... ," ujar Malik berusaha meyakinkan sang ayah agar beliau lebih bersabar menunggu kakaknya siuman.
"Itu yang kami harapkan," Baginda Sultan tahu jika persentase kesembuhan anak sulungnya terus berkurang seiring waktu.
"Ayah, kita tak boleh menyerah untuk kesembuhannya. Yakinlah Allah akan menyembuhkannya seperti sediakala."
Malik mengerti orangtuanya begitu sedih dan lelah dihadapkan dengan sakitnya anak mereka. Orangtua manapun pasti akan merasakan sedih jika anak mereka sedang sakit apalagi sakit seperti yang sedang dialami pangeran Fatih.
"Ayah aku bersedia mengantikan tugas pangeran Fatih tapi kalau untuk menggantikan posisinya sebagai Putra Mahkota aku akan tegas menolaknya!" tegas Malik.
**Flashback off**
Malik sudah berbicara tegas dari awal jika dia tak ingin posisi Putra Mahkota, namun rumor pengangkatannya tak kunjung mereda.
Entah mengapa Masyarakat pun Ikut menyuarakan persetujuannya mengangkat dirinya menjadi Putra Mahkota.
"