He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 53



"Bersiaplah, hari ini ikut Pangeran Malik ke Negara A. Kami pun akan ikut denganmu," kata Mr. Soe memandang anaknya.


**flashback on**


"Assalamualaikum, Bunda," sapa Malik menuruni tangga menghampiri Mrs. Soe yang sedang memberi titah pada bi Inah.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana pagi mu?" sapa Mrs. Soe.


"Alhamdulillah saya sangat bersyukur bisa di sini pagi ini," ujar Malik mengingat kejadian barusan melihat Edel pakai baju tidur tipis.


"Ayah mana?" tanya Malik.


"Di belakang, mau bunda antar?" bertanya balik, Malik mengangguk.


Mrs. Soe mengantar Malik menemui Mr. Soe di taman belakang. Mr. Soe sedang asik memberi pakan ikan sambil menikmati udara pagi.


"Assalamualaikum, Ayah," sapa Malik membuat Mr. Soe berbalik lalu mengangguk sebagai balasan sapa Malik.


"Ayah," panggil Mrs. Soe lembut.


"Ya," lalu tersenyum mengerti panggilan dan tatapan Mrs. Soe.


Mr. Soe duduk di kursi taman, dan mempersilahkan Malik untuk duduk juga menemaninya. Sedangkan Mrs. Soe kembali ke dalam.


"Kamu suka ikan?" tanya Mr. Soe.


"Ya, istana kami dekat dengan sungai, di sana ada kolam ikan juga," sahut Malik bingung harus menjawab apa.


"Kenapa kamu menyukai anakku?" tanya Mr. Soe to the point.


"Dia ... tahukah anda, ternyata dia gadis yang saya sukai sewaktu kuliah dulu. Saya bahkan baru mengetahuinya setelah kami berlibur di Bali. Allah mempertemukan kami kembali dan saya yakin Allah menakdirkan kami bersama," ungkap Malik yakin.


"Kuliah, kamu yakin anakku gadis itu?" tanya Mr. Soe ragu.


"Tentu saja, saya sudah mengkonfirmasikannya dengannya. Tapi saya memilihnya bukan karena dia gadis itu, saya menyukainya karena kepribadiannya."


"Ya, kami kuliah di Oxford university. Ketika di perpustakaan dia pernah memberiku payungnya bahkan saat itu kami tidak saling mengenal. Dia bahkan sulit sekali didekati," cerita Malik.


"Dia gadis yang baik hati sama sepertiku," ujar Mr. Soe tertawa kecil.


"Semakin mengenalnya semakin banyak kejutan yang saya dapat. Dia seorang yang tak terduga, saya merindukannya bahkan ketika kami bersama," ungkap Malik.


"Ya, anakku memang gadis yang luar biasa. Sama sepertiku" ujar Mr. Soe bangga.


"Ya, tentu," sahut Malik tersenyum.


"Mr. Soe, sebenarnya kedatanganku kemari ingin meminta izin darimu secara langsung, saya akan membawa Edel ke negeriku pagi ini," kata Malik.


"Siang nanti saya harus menemani ayahku untuk pertemuan diplomatik dengan Raja Thailand. Nanti sore ada acara yang tidak bisa saya tinggalkan dan saya ingin dia menemaniku ke acara tersebut," pinta Malik.


"Dia gadis kecilku, aku menyanyanginya sepenuh hatiku. Sulit aku percaya, sekarang ada laki-laki yang meminta izin padaku untuk membawanya," kata Mr. Soe memandang kolam ikan di depannya.


"Aku tahu kamu dan semua rumor yang beredar di luar sana. Tak akan ku izinkan kamu menyakitinya walau hanya secuil," katanya lagi tegas.


"Saya tahu itu, saya berjanji padamu tidak akan pernah menyakitinya. Saya ingin membawanya dan memintanya lebih sering menemaniku ke acara-acara kerajaan ataupun acara formal lainnya agar semua orang tahu saya serius dengannya dan hanya dengannya."


"Aku juga tahu wanita yang sering menemanimu dan dirumorkan denganmu, aku mengetahuinya. Jangan kamu permainkan anakku, kalau kamu hanya akan mempermainkan anakku lebih baik mundur sekarang, menjauhlah dari anakku. Aku tak peduli dengan gelar pangeranmu, aku sudah memberi peringatan padamu. Anakku jauh lebih berharga dari isi dunia ini!" tegas Mr. Soe.


Malik mengerti dengan semua perkataan Mr. Soe, ya perkataan seorang ayah yang ingin melindungi anaknya dari apapun.


"Saya berjanji padamu akan melindunginya," sahut Malik.


"Mengenai rumor tersebut, saya akan buktikan jika itu hanyalah sebuah rumor. Dengan latar belakangku banyak yang ingin mendekatiku bahkan rela memberikan dirinya padaku cuma-cuma tapi bukan gadis seperti itu yang saya inginkan. Anda tahu, puluhan kali Edel menolakku bahkan setelah dia tahu saya seorang pangeran, bahkan dia marah padaku karena tidak meminta izinnya untuk bertemu dengan anda, meminta izin anda ketika kami berlibur ke Bali atau pun meminta izin anda untuk mendekatinya. Hanya satu gadis yang saya pernah pinta langsung ke orangtuanya, gadis itu adalah putri anda," ungkap Malik.


"Mungkin dia bosan karena terus diganggu oleh pesan dan teleponku," ujar Malik tersenyum.


"Hahahaha ... ," Mr Soe tertawa teringat bahwa dirinya pun puluhan kali di tolak oleh mrs. Soe, Mr. Soe bangga pada putrinya yang pernah menolak seorang pangeran. Ya, buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya kecuali terbawa arus sungai dekat pohon tersebut.


"Ya, kamu memang harus punya semangat pantang menyerah jika ingin menikahi putriku."


"Aku mengizinkanmu, tapi aku akan selalu mengawasimu. Jika secuil saja kamu menyakiti putriku, akan ku pastikan kamu tidak akan pernah bertemu lagi dengan putriku. Ya, walaupun kamu seorang Pangeran!" tegas Mr. Soe.


"Terima kasih ayah, akan saya buktikan jika saya mampu melindungi dan membahagiakan putrimu, in syaa Allah," sahut Malik tersenyum senang.


"Aku menerimamu karena kamu punya semangat pantang menyerah."


"Tentu ayah, saya tak akan menyerah untuk putri anda. Saya menanti ini dari sejak masa kuliah dulu, sekarang saya bersamanya tentu tak akan pernah saya lepaskan lagi," kata Malik yakin.


"Kami akan ke Singapore di Jumat malam. Sabtu malamnya ada acara pesta temanku, saya sudah meminta izin untuk itu tiga Minggu yang lalu," ujar Malik.


"Kalau begitu kita bertemu di Singapore. kami juga ingin berlibur mungkin Sabtu pagi atau siang baru berangkat," kata Mr. Soe.


"Kenapa ayah dan bunda tidak ikut saja sekarang ke Negeri A?" ajak Malik.


"Tidak, ada yang harus aku urus dahulu," jawabnya.


"Jagalah anakku," pinta Mr. Soe.


"Tentu ayah, saya akan selalu menjaganya," ucap Malik.


Mrs. Soe datang menghampiri mereka memberitahu jika sarapan sudah siap dan Edel sedang menunggu mereka untuk sarapan.


Malik melihat Edel duduk menunduk menunggu mereka.


Gadis yang mempesona, akan ku buktikan aku bisa melindungimu dan membahagiakanmu. Gumam Malik dalam hati


**flashback off**


"Pangeran Malik ke sini untuk menjemputmu, keberangkatan mu pukul sembilan. Jadi kamu harus berkemas sekarang," kata Mr. Soe pada Edel.


"Pukul sembilan? ini sudah jam tujuh lewat ayah," ujar Edel.


"Kita akan naik helikopter sampai ke bandara. Dari hotel terdekat di sini," ujar Malik.


"Helikopter lagi?" jawab Edel memandang tajam Malik dan dijawab anggukan olehnya.


"Kami pun akan pergi bersamamu nanti, kami akan menyusul ke Singapore di hari sabtu," ujar Mrs. Soe.


"Bunda mau ke Singapore?" tanya Edel.


"Tentu saja, memang hanya kamu yang ingin berpacaran. Kami pun mau meski sudah tak muda lagi," jawab Mr. Soe tertawa melirik Mrs. Soe.


"Aku harus menghubungi Mita dulu," kata Edel hendak pergi.


"Dia sudah tahu, kami sudah memberitahunya," kata Mr. Soe.


"Ya, sepertinya hanya aku saja yang terkejut dari pagi!" ketus Edel melangkah pergi.


"Mau kemana?" tanya Mr. Soe.


"Katanya disuruh berkemas!" jawab Edel.


"Mari bunda bantu," ujar Mrs. Soe mengikuti Edel ke kamarnya.