He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 67



Shahmeer Zephyr adalah anak kedua dari keluarga Zephyrcorp yang berbisnis di bidang real estate.


Adam Zephyr, ayahnya seorang yang terkenal di dunia real estate dunia, sebutlah kawasan elit Malibu dan Newport beach yang berada di California juga New Jersey yang berada di San Fransisco, Azabu di Jepang, Hannam-dong di Korea Selatan, dan masih banyak kawasan elit di negara-negara besar lainnya yang kuasai keluarga Zephyr.


Anak sulung mereka Reyhan Zephyr terlibat dalam skandal dengan mafia Jepang dan tewas ketika menolong teman perempuannya Annabelle beberapa tahun silam, menjadikan Shahmeer sebagai ahli waris pertama atau penerus Zephyrcorp.


Shahmeer dan saudaranya selalu mendapatkan apa yang mereka mau, tapi satu yang tidak bisa mereka dapatkan yaitu waktu luang ayahnya. Adam Zephyr terlalu sibuk mengurusi bisnis dan tidak mempunyai waktu luang untuk keluarga sehingga istrinya atau ibu Shahmeer kesepian dan berselingkuh, Azmy melihat langsung perselingkuhan Ibunya membuatnya mempunyai trauma dan histeris.


Shahmeer dan saudaranya tinggal di Negara A bersama neneknya tapi sayang beberapa tahun yang lalu neneknya yang menyayangi dan membesarkannya meninggal karena sudah tua. Dia menyayangi adiknya lebih dari apapun karena baginya adiknyalah satu-satunya keluarga yang tersisa.


***


"Selamat ulang tahun bro," ucap pria bertubuh kekar dan berjambang tipis.


Mereka melihat pria tersebut dan tersenyum. "Aku kira kamu tidak jadi datang!" seru Deo menghampiri lalu memeluk temannya.


"Tadinya begitu ... ," kata Shahmeer melihat sekeliling.


"Apa kamu mencari seseorang, Rachel?" tanya Malik melihat temannya yang terlihat sedikit panik dan seperti sedang di kejar waktu.


"Tidak ... , aku tidak datang dengannya. Apa kalian melihat adikku?" tanyanya.


"Azmy? aku belum melihatnya," kata Ronald.


"Ya, aku juga belum melihatnya," timpal Deo.


"Aku baru saja datang," kata Malik. "Apa terjadi sesuatu denganmu? kamu terlihat panik," lanjutnya.


"Ya, apa urusanmu sudah selesai, apa terjadi sesuatu dengan adikmu?" tanya Deo penasaran.


"Tidak," kata Shahmeer, "aku kehilangan dia ketika jalan ke sini, mungkin dia bertemu temannya," ujarnya tersenyum menutupi perasaannya yang khawatir dengan keberadaan Azmy yang entah dimana.


Seorang pelayan menyodorkan white wine pada mereka, dan Ronald mengambil dua gelas, diberikannya pada Queenzha.


"Terima kasih," Ucap Queenzha dan berbalik lagi mengobrol dengan Edel. Edel sudah mengenal Queenzha dengan baik, dia bukan seorang muslim tapi mereka sangat menghormati satu sama lain tetap berteman dengan baik.


Seperti di pesta ulang tahun Crazy rich lainnya mereka menyediakan macam-macam minuman beralkohol dari mulai wisky, berbagai jenis wine, tequila. Mereka juga menyediakan minuman non alkohol dan tentu saja makanannya semua dari bahan yang halal jadi tamu yang muslim tidak perlu khawatir.


Deo Ettan Xiever anak dari Ettan Xiever pengusaha berlian terkemuka di kawasan Asia-Eropa. Tidak heran tamu yang hadir di pesta ulang tahunnya merupakan orang-orang yang terkenal terkemuka di dunia, bahkan anak Raja Uni Emirat pun datang.


"Kapan kamu sampai Singapore?" tanya Queenzha.


"Kemarin, dini hari."


"Aku tadi siang sampai, Ronald mengajakku ke sini. Harusnya aku pulang hari ini, tapi dia mengajakku dan berjanji akan mengantarku pulang ke Jerman," tutur Queenzha tersenyum.


"Apa kamu sudah ... ," Edel tidak menyelesaikan kalimatnya tapi Queenzha mengerti apa yang akan di tanyakan karena dia mengangguk sambil tertawa kecil.


"Benarkah, Selamat ya ... , aku ikut senang mendengarnya," ucap Edel.


"Ya, ternyata dia menepati ucapannya mengenalkanku pada keluarganya. Aku tidak percaya dengan apa yang aku alami di sini sekarang. Aku berencana hanya liburan dan bertemu dengannya lalu dia mengajakku ke rumahnya dan yah ... ," kata Queenzha tersenyum penuh kebahagiaan.


"Berapa lama kalian saling kenal?" tanya Edel.


"Sebulan," katanya membelalakkan mata tak percaya dengan yang di alaminya.


"Woowww ... , ya jodoh memang kita tidak pernah tahu," kata Edel tersenyum.


"Apa kalian akan melanjutkan ke pernikahan?" lanjutnya.


"Keluarganya ingin kami menikah secepatnya, tapi aku punya orangtua di sana yang harus aku beritahu dan harus aku dengarkan pendapat mereka."


"Ya, kamu benar," kata Edel mengangguk setuju.


"So ... , bagaimana denganmu?" tanya Queenzha.


"Aku ... , yah ... mungkin kami juga akan secepatnya," tersenyum.


"Thank you ... ," ucap Edel tertawa kecil.


"Hay girls, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Ronald menghampiri mereka merangkul pundak Queenzha.


Edel mengedikan bahunya sambil tersenyum melihat Queenzha. Queenzha pun membalas senyuman Edel dengan tertawa kecil.


"Kau mau berdansa denganku?" tanya Ronald.


"Tentu," Jawab Queenzha menaruh gelasnya tersenyum pada Edel dan mengikuti Ronald untuk berdansa.


Edel menghampiri Malik yang masih berbicara dengan Deo dan Shahmeer juga teman mereka yang lain. Dia menepuk bahu Malik agar dia berbalik.


"Hay honey, mana temanmu?" tanya Malik. Edel menjawab dengan menunjukan tempat dansa dengan telunjuknya.


"Kamu mau berdansa juga?" tanyanya lagi.


"Tidak," jawab Edel singkat.


"Siapa itu Yang Mulia, kenapa tidak kamu kenalkan pada kami," kata salah satu temannya.


"Oh ya ... , kenalkan dia calon istriku Edelweiss," kata Malik mengenalkan Edel pada teman-teman nya yang lain. Shahmeer langsung melihat Malik dan Edel seperti terkejut dengan perkataan Malik.


"Halo," kata Edel menangkupkan kedua tangannya memberi salam.


"Kami tidak tahu Yang mulia sudah mempunyai calon istri," kata temannya yang lain.


"Ini Mike dan Farhan, mereka temanku dan Deo. kami satu kelas saat SMA," kata Malik memperkenalkan temannya pada Edel.


"Senang bertemu denganmu," ucap Farhan memberi salam pada Edel.


"Aku mau ke toilet," bisik Edel pada Malik.


"Mau aku antar?".


"Boleh?" tanya Edel penuh harap, dia merasakan perasaan yang aneh tak tenang sejak tadi.


Malik menemani Edel ke toilet,


"Mau aku temani masuk?" canda Malik.


"Tentu, jika bisa," kata Edel tertawa.


Malik menunggu Edel di depan kamar mandi perempuan. Banyak gadis yang meminta foto dengannya selagi ia menunggu Edel.


Edel keluar kamar mandi tersenyum melihat banyak gadis mengantri ingin berfoto dengan kekasihnya walaupun itu di depan toilet. Apa mereka tidak peduli dengan tempat mereka sekarang?. pikir Edel.


Edel lalu mengeluarkan ponselnya dan ikut mengantri, karena bosan setelah menunggu lama tapi antrian para gadis tidak juga berkurang.


"Yang Mulia, bolehkah aku berfoto dengan anda," kata Edel memperlihatkan ponselnya membuat Malik tersenyum.


"Tentu, biar saya yang ambil fotonya," sahut Malik mengambil ponsel Edel dan mendekatkan diri padanya.


"Maaf semua, saya harus kembali karena kekasihku sudah mengajakku pergi," ucap Malik merangkul Edel di depan para gadis yang masih mengantri.


Mereka melihat Pangeran idaman mereka pergi dengan gadis yang disebutnya sebagai kekasihnya. Edel tersenyum tak menyangka Malik akan memperkenalkannya ke publik sebagai kekasihnya, ya memang dia adalah kekasihnya hanya saja dia tak menyangkanya.


"Bagaimana jika mereka men-share apa yang kamu katakan tadi?!" seru Edel.


"Biarkan saja, toh memang kamu adalah kekasihku calon istriku. Keluarga kita sudah setuju dan tahu jika kamu setuju menikah denganku dalam waktu dekat," ungkapnya.


"Aku mencintaimu Yang Mulia Malik Ibrahim," ucap edel, Malik terkejut karena itu pertama kalinya Edel mengungkapkan cinta padanya.


Malik memeluknya erat, dia sudah tidak peduli dengan semua orang yang mungkin melihatnya atau mengambil foto, memvideokan mereka dan men-share nya ke berbagai media sosial.


Tak jauh dari sana berdiri seorang gadis melihat mereka dengan murka, tangannya mengepal kesal, lalu berjalan menghilang diantara kerumunan orang.