
"Malik, kamu lihat totebag yang aku simpan di sini ga?" seru Edel.
Malik yang sedang serius membaca lembaran dokumen tidak mendengar istrinya bertanya.
"Malik!" panggil Edel.
"Hemm."
"Liat ga?".
"Liat apa honey," Edel yang melihat Malik serius membaca tanpa menghiraukannya geram lalu mendekati suaminya.
Edel berdiri di samping meja depan Malik mengambil dokumen yang dia pegang, sontak Malik mengangkat kepalanya memandang istrinya. Edel duduk di pangkuan Malik mengalungkan lengan ke leher suaminya dan menatapnya.
"Apa kamu melihat totebag yang aku simpan di sana," tunjuknya ke arah meja dekat lemari kaca.
Malik tidak menjawabnya malah menatap nakal istrinya, "Cium dulu nanti ku jawab."
Edel tersenyum lalu mengecup bibir Malik.
"Cuma segitu?" rengeknya.
"Ayolah, Malik," ujar Edel mengelus jambang tipis Malik. "Malik kenapa kau tak bercukur, lihatlah jambangmu sudah tumbuh."
"Aku ingin merawatnya, kau menyukainya?"
"Ini membuatku geli dan terkadang sakit jika menusuk kulitku," dia lupa dengan pertanyaannya yang belum di jawab.
"Tapi kamu suka kan?" godanya.
"Malik jadi totebagnya di pindah kemana?" mengulang pertanyaannya.
"Aku simpan di loker bawah meja," jawab Malik cemberut. Edel tertawa melihat Malik cemberut lalu memeluknya.
"Jangan cemberut seperti itu," menempelkan dahinya pada dahi Malik lalu beranjak pergi mengambil totebagnya.
Malik menarik nafas panjang dan menghembuskannya, dia kembali mengambil dokumen dan membacanya.
Prosesi perayaan pernikahan mereka telah berakhir tadi malam, tapi Malik juga Edel belum diberi waktu luang berdua oleh kerajaan. Dia dan Edel dijadwalkan akan berkunjung ke beberapa daerah menggantikan kakaknya pangeran Fatih.
"Mungkin akan aku gunakan untuk bulan madu," gumamnya mengingat dia sudah dua Minggu menikah dengan Edel tapi belum menghabiskan waktu berdua dengannya, tiap akan melakukan ada saja halangannya.
"Aku sudah packing semua keperluan kita," ujar Edel menjinjing totebag yang tadi dia cari.
Edel duduk di kursi samping Malik, mengeluarkan sebuah plastik dan memberikannya pada suaminya yang sedang fokus kembali membaca dokumen.
"Beberapa hari lalu aku ikut ke museum, dan melihat ada t-shirt bagus. aku membeli dua dengan gambar yang sama," menunjukan t-shirt yang dia beli.
Malik mengambil satu dan melihatnya. "Bagus, kainnya juga nyaman di kulit, terimakasih," ucapnya.
"Jam berapa kita berangkat?".
"Mungkin sehabis shalat ashar," memandang istrinya. "Maaf, membuatmu sangat sibuk padahal seharusnya kita sedang honeymoon sekarang."
"Iya, tak apa. Setidaknya bukan hanya aku yang sibuk, tapi kamu juga sama," tertawa kecil.
Malik mencubit hidung Edel, dia bersyukur Edel berada di sampingnya.
"Mau mandi bareng?" ajak Malik.
"Ga!" jawab Edel ketus, dia selalu kesal diakhir, lalu berlalu membereskan koper yang masih di atas tempat tidur.
***
Mereka sudah berada di villa yang biasa ditempati ketika melakukan kunjungan ke daerah Plume di pesisir pantai.
Udara pagi yang sejuk menerpa wajah Edel, dia senang berada di sana. Ya, anggap saja honeymoon, batinnya.
"Mana Mr. Husein, aku melihat berkeliling tapi tampak sepi tak ada siapapun," tanya Edel penasaran karena biasanya mereka selalu diikuti dengan banyak pengawalan apalagi saat akan melakukan kunjungan ke daerah.
"Mereka mungkin sedang melakukan pekerjaannya," ujar Malik menyeruput capuccino nya.
"Pekerjaan, bukankah dia harusnya bersama kita melakukan kunjungan hari ini," tanyanya lagi.
"Maksudnya?" melepaskan pelukan Malik.
"Mereka kasian padaku, sudah dua Minggu kita menikah tapi belum melakukan apapun yang seharusnya dilakukan, kita akan berlibur beberapa hari di sini. Kalau kau bosan kita bisa pergi ke tempat lain. Maaf, hanya di negaraku tak bisa keluar dulu," ucapnya.
Edel mengalungkan tangannya di leher Malik, "Jadi kita honeymoon beneran?"
Malik mengangguk, mereka bersitatap mesra. "Ayo," ajaknya.
Malik menuntun Edel ke belakang Villa. Ruangan itu langsung menghadap ke bibir pantai, pohon kelapa menambah indah pemandangan di depannya.
Bathtub yang telah berisi air siap digunakan untuk berendam, membuat Edel tersenyum.
"Apa akan ada yang menghubungimu hari ini?" tanyanya memandang bathub di depannya.
"Aku mematikan ponselku, dan ponselmu juga sudah aku matikan," terangnya.
"Kenapa ponselku juga kau matikan, bagaimana jika bunda menghubungiku?" ketusnya.
"Aku sudah memberitahu orangtuamu jika kita akan honeymoon beberapa hari," kilahnya. "Bunda sedang berlibur dengan Mrs. Ommar dan Darren, dia juga akan melanjutkan liburannya ke Swiss sekalian mengunjungi restorannya, jadi ga akan sempat menghubungimu."
Edel menggelung rambutnya yang terurai, "Aku mau ke kamar mandi dulu," ujarnya berlalu meninggalkan Malik yang menatapnya.
Malik membuka bajunya dan masuk ke dalam bathup menunggu Edel. Tak lama gadis yang ditunggunya muncul dengan hanya menggunakan bikini, lalu ikut masuk ke dalam bathtub.
"Terimakasih telah mengajakku berlibur," ucap Edel.
"Justru aku yang harus mengucapkan terimakasih padamu, terimakasih telah bersedia menjadi istriku. Maaf karena kamu harus terikat dengan semua aturan dan tidak mendapatkan honeymoon seperti yang kamu impikan, hanya yang seperti ini," ucap Malik menangkupkan kepalanya di bahu Edel.
"Aku senang di manapun aku berada bersama suamiku, aku senang kamulah yang menjadi suamiku, aku juga senang bisa terbebas dengan dokumen kantor walaupun sekarang aku juga tetap berkutat dengan banyak dokumen negara tapi aku senang bisa bertemu dengan banyak orang. Malik tau ga waktu kemaren saat ke sekolah, para siswa banyak yang mendekatiku. Mereka mengucapkan selamat padaku, mereka bilang kalau kamu sangat beruntung mendapatkanku. Usia mereka masih remaja lho Malik, tapi sudah bisa berkata seperti itu," terang Edel tersenyum bangga.
"Iya, mereka benar. Aku sangat beruntung mendapatkanmu," mengelus lembut pipi Edel dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
Angin pantai bertiup seakan malu-malu melihat sepasang pengantin baru yang memadu kasih, mencurahkan segala cinta yang mereka pendam selama ini.
Sudah hampir pukul 12 siang ketika Edel membuka matanya, dia melihat di sampingnya Malik masih tertidur. Daerah di bawah pusar sana terasa perih dan sakit ketika dia mencoba untuk duduk lalu memaksakan diri berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum adzan duhur berkumandang.
"Malik, bangunlah udah adzan. Malik bangunlah!" menggoyahkan Malik yang masih tertidur pulas.
Edel mengecup bibir Malik dan tersenyum melihat akhirnya suaminya membukakan matanya.
Kenapa harus dicium dulu baru bangun?!. gerutu Edel dalam hati.
"Ayo bangun, mandilah. Aku menunggumu, kita shalat berjamaah," Malik bangun dan duduk, dia tersenyum melihat istrinya yang wajahnya mulai merona merah.
Sebenarnya Edel masih malu dengan olahraga panas yang mereka lakukan tadi pagi.
Malik berjalan ke kamar mandi sedangkan Edel berganti baju dan mengambil mukenanya, dia masih merasakan tak nyaman di bawah sana hingga terkadang menggigit bibirnya, berusaha duduk mencari posisi yang nyaman.
"Honey, apa kamu baik-baik aja?" tanya Malik melihat Edel yang banyak bergerak seperti tak nyaman.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawabnya.
Malik membantu Edel membereskan tempat tidur setelah mereka selesai shalat, dilihatnya noda kecoklatan pada sprei. Malik tersenyum senang tidak bingung seperti sebelumnya saat di hotel, mereka membereskan semuanya dan mengganti dengan sprei yang baru tanpa dibantu oleh asisten karena hanya ada mereka berdua di sana.
"Apa aku harus mencuci spreinya?" tanya Edel.
"Tak usah, besok akan ada asisten yang mengambil pakaian kotor kita," jawab Malik. "mau jalan keluar?"
"Tidak, aku sedikit lelah," jawabnya, dia tidak habis pikir kenapa Malik terlihat segar tidak terlihat lelah sedikit pun padahal olahraga panas mereka sangat menguras tenaganya.
Malik meraba dahi Edel dan mengambil termometer dari kotak p3k, suhu badan Edel naik beberapa derajat lebih tinggi dari normal.
"Tunggulah, akan aku panggilkan dokter untuk memeriksamu," ujarnya mulai khawatir dengan keadaan istrinya.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰