
"Wanita itu datang beberapa hari yang lalu membawa seorang anak laki-laki, usianya mungkin sekitar 11 tahun."
"Seorang anak, maksud Yang Mulia?" Malik terkejut dan tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh ayahnya.
"Anak itu adalah anak diluar pernikahan pangeran Fatih. Aku tahu anak itu tidaklah bersalah, tapi tetap saja anak diluar pernikahan tidaklah dapat nasab dari ayahnya," terang Baginda Sultan.
"Wanita itu meminta anaknya menggantikan posisi ayahnya."
"Yang Mulia, aku sungguh tidak memahami maksud Yang Mulia," Malik masih terlihat kaget.
Ibunda Ratu menyerahkan beberapa lembar foto bayi yang telah sedikit usang dimakan usia.
**flashback on**
11 tahun yang lalu,
"Yang Mulia," kata Mr. Khalid yang terlihat bingung didampingi oleh Mr. Yusuf sekertaris pribadi pangeran Fatih.
"Ada apa?" tanya Baginda menelisik gerak Mr. Khalid.
"Yang Mulia." Mr. Khalid memberikan sebuah amplop yang tertuju untuk pangeran Fatih, di atas amplop itu tertera nama pangeran Fatih dan nama si pengirim.
Baginda tertegun membaca nama si pengirim surat tersebut, segera dia buka amplopnya dan mengeluarkan isi di dalamnya. Terdapat beberapa lembar foto seorang bayi yang baru berusia beberapa bulan dan terjatuhlah sepucuk surat yang terlipat rapi dari tengah lembaran foto yang dipegangnya.
Baginda Sultan sepertinya lebih tertarik melihat surat tersebut dibandingkan foto bayi, karena Ia langsung mengambil surat tersebut dan menaruh kembali lembaran foto di atas amplop tadi.
Dengan perlahan Baginda Sultan membuka surat tersebut,
Assalamu'alaikum,
Pangeranku, selamat atas pernikahan anda. Saya ikut berbahagia mendengar kabar tersebut, akhirnya anda mendapatkan pasangan yang direstui oleh orangtua anda.
Pangeranku, saya tahu saat ini anda tengah berbahagia dengan pernikahan anda. Saya tidak bermaksud hendak menghancurkan pernikahan anda, namun saya pikir anda harus mengetahui kabar ini.
Pangeranku, Malam yang kita habiskan bersama ketika berlibur ke Eropa membuahkan seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan. Dia memiliki wajah yang serupa denganmu, begitupun cara dia tertidur, sangat menggemaskan.
Pangeranku, saya tidak akan menuntut apapun dari anda, tapi jika suatu hari nanti ketika dia sudah besar dan menanyakan ayahnya maka izinkanlah saya memberitahu kebenarannya.
Pangeranku, saya lampirkan foto anak kita. Saya berjanji walaupun tanpa kehadiranmu saya akan membesarkannya dengan penuh kasih sayang tidak akan ku biarkan dia kekurangan apapun jua.
Pangeranku, semoga engkau selalu diberikan limpahan keberkahan oleh Allah SWT.
Baginda Sultan duduk terdiam dengan meremas surat yang masih dipegangnya. Hatinya sungguh sangat sakit mengetahui kenyataan jika anak kebanggaannya sepertinya telah mencoreng nama baiknya.
"Rahasiakan ini dari siapapun, hanya kita yang tahu," tegas Baginda Sultan pada Mr. Khalid dan Mr. Yusuf.
"Yang Mulia," kata Mr. Yusuf lirih.
"Uruslah permasalahan ini jangan biarkan orang lain tahu termasuk Fatih. Bagaimana pun seorang anak yang lahir diluar nikah tidak berhak atas nama ayahnya," ujar Baginda tegas.
**flashback off**
"Itu adalah foto anak Fatih ketika masih kecil. Sebelas tahyu yang lalu aku sudah memastikannya dengan tes DNA dan hasilnya benar jika anak itu adalah anak Fatih." Raut wajah Baginda Sultan terlihat cemas.
Baginda Sultan pun menceritakan semuanya pada Malik. Dia juga bercerita jika pangeran Fatih tidak mengetahui telah memiliki keturunan dari mantan kekasihnya itu.
"Aku merahasiakannya untuk melindungi Grizelle. Aku tidak ingin dia merasa sedih dan terpukul mengetahui suaminya telah mempunyai anak dari wanita lain. Grizelle seorang wanita yang penuh kelembutan, mempunyai kepribadian yang luar biasa sangat berbeda dengan wanita itu."
"Jadi, setelah sebelas tahun berlalu dia kembali ke sini. Setelah pangeran Fatih meninggal?"
Malik tidak mengerti maksud wanita itu, kenapa dia harus menunggu lama untuk muncul meminta pengakuan perihal anaknya dari keluarga kerajaan. Bukankah lebih baik dia datang ketika pangeran Fatih masih hidup.
"Dahulu dia sengaja mengirim surat itu ketika pangeran Fatih sedang berbulan madu mungkin agar surat itu sampai padaku. Beberapa hari yang lalu pun begitu, Dia datang berkata hendak bertemu dengan Mr. Yusuf dan ketika mereka bertemu dia memaksa meminta agar dipertemukan denganku. Yusuf pun bercerita pada Mr. Khalid dan langsung memberitahukan hal tersebut padaku."
"Kami mendatanginya dan mencoba berbincang dengannya. Pangeran, anda tahu apa yang dia minta?" Malik menggelengkan kepalanya.
"Sejujurnya aku masih bingung dengan semuanya. Ini begitu sulit untuk dipahami," ucap Malik.
"Kami sudah membuat keputusan dengan para tetua kerajaan. Pengangkatanmu menjadi Putra Mahkota kerajaan menggantikan kakakmu pangeran Fatih akan dipercepat," ucap Baginda Sultan.
"Tapi-,"
"Mengertilah pangeran, Kami tidak ingin terjadi masalah dikemudian hari dengan negara kita. Akan sangat berbahaya jika Anak itu yang menjadi Putra Mahkota, walaupun anak itu adalah anak pangeran Fatih namun anak itu akan selalu di bawah bayangan wanita itu, dia benar-benar tidak pantas memimpin negara kita," sergah Ibunda Ratu khawatir.
"Bicaralah dengan istrimu mengenai rencana pengangkatan kalian yang dipercepat. Kerajaan akan segera mempersiapkan acaranya."
"Yang Mulia, apakah tidak masalah jika ini terlalu cepat dan seperti tergesa-gesa."
"Kami sudah mempertimbangkan semuanya pangeran."
Malik terlihat termenung memikirkan semuanya. Kepalanya mulai berdenyut mengingat semua perkataan ayahnya tentang pangeran Fatih yang telah memiliki keturunan diluar nikah juga tentang pengangkatannya menjadi putra mahkota.
Malik berjalan kembali ke kamarnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Malik melihat istrinya sedang menimang baby boy. Ya, tugas negaranya dialihkan pada sekertaris kerajaan karena masih dalam masa berkabung selama dua Minggu dan dia terlepas dari berbagai tugas selama 7 hari.
Edel melihat Malik dan merasa heran dengan raut wajahnya antara cemas, takut, sedih padahal tadi pagi sebelum berangkat menemui orangtuanya dia terlihat baik-baik saja.
"Ada apa?" tanya Edel menidurkan baby boy dan menghampiri suaminya.
Malik memeluk istrinya erat meminta perlindungan darinya. Edel melepaskan pelukannya dan menuntunnya duduk di sofa.
"Ada apa?" tanya lagi meraba dahi dan pipi suaminya yang mulai terlihat pucat.
"Maafkan aku," hanya itu yang keluar dari mulut Malik.
Edel menatap mata Malik lekat, terlihat begitu banyak kesedihan yang terbendung di dalamnya.
"Ada apa?" Edel mengulang pertanyaannya.
Malik mencoba menceritakan semua obrolannya dengan orangtuanya pada Edel.
"Apa? Pangeran Fatih mempunyai anak laki-laki?" Edel terlihat sama bingungnya dengan Malik ketika pertama kali mendengarnya.
"Maksudmu Putri Grizelle merahasiakan kehamilan dan persalinannya gitu?"
"Kau ingat dulu aku pernah memberitahumu jika putri Grizelle bukanlah wanita pertama yang dibawa pangeran Fatih bertemu dengan orangtuaku," Edel mengangguk.
Malik pun menceritakan tentang wanita yang pernah dibawa kakaknya, tentang kenapa orangtuanya menolaknya, tentang surat yang dia kirim ke kakaknya ketika dia berbulan madu untuk memberitahukan bahwa dia telah melahirkan anak dari pangeran Fatih.
"Beberapa hari yang lalu dia datang dan meminta hal yang-," Malik menarik nafas panjang.
"Meminta apa?"
"Dia meminta agar anaknya naik takhta menggantikan posisi ayahnya, pangeran Fatih," tutur Malik.
Edel terkejut berusaha mencerna semua yang dia dengar dari Malik.
"Kau pasti terkejut, sama sepertiku. Baginda Sultan dan para tetua sudah memutuskan untuk mempercepat pengangkatanku menjadi putra mahkota menggantikan kakakku. Maafkan aku," ucap Malik sendu.
"Kenapa kamu selalu meminta maaf padaku?"
"Karena aku tidak bisa memberimu kebebasan seperti yang lain. dengan pengangkatanku kau semakin tidak bebas."
*****
Terimakasih sudah mampir membaca, jangan lupa like, komen dan kasih hadiah buat author ya biar semakin semangat up nya. 🥰
Stay safe everyone. Happy weekend ❤️