
"Akhirnya ...," gumam Malik.
Menyimpan bukunya dan membawa foto seorang gadis lalu membingkainya dan menaruhnya di atas nakas samping tempat tidurnya.
Pagi harinya sebelum sarapan bersama yang lain, malik sudah bersiap menemui ayahnya menunggu di ruang kerja Baginda Sultan.
"Assalamu'alaikum, Yang Mulia," sapa Malik ketika mendengar suara decit pintu terbuka dan berbalik melihat ayahnya.
"Apa ada masalah kamu mau bertemu denganku pagi ini?" tanya Sultan.
"Engak, bagaimana kabarmu Yang Mulia?" tanyanya dijawab anggukan.
"Apa yang mau kamu diskusikan denganku?" tanya Sultan penasaran.
"Ayah, bolehkah aku memanggilmu ayah terlebih dahulu. Karena aku akan meminta sesuatu padamu sebagai anakmu," ujar Malik.
Sultan tertawa mendengar pertanyaan Malik, dia tahu apa yang akan didiskusikan anaknya.
"Apa kamu mau melamar seorang gadis?" tanyanya tersenyum.
"Bolehkah, Ayah?" tanyanya lagi.
"Apa gadis yang mau kamu lamar itu Azmy?" selidik ayahnya yang membuat Malik tertegun dan mengernyitkan alis.
"Azmy, bukan Ayah. Aku dan Azmi hanya berteman tidak lebih," ujar Malik.
"Lalu siapa, gadis CEO itu?" tanyanya dan Malik tersenyum.
"Ayah sudah tahu tentang Edel? ayah ingat waktu aku kuliah di Eropa dan menginap di apartemen temanku lalu ayah menghubungiku kalau ayah datang ke rumah?" ucap Malik tapi tidak dijawab Sultan.
"Waktu aku pulang basah kuyup dan ayah bertanya kenapa aku basah kuyup sedang di luar tidak hujan," ungkap Malik mencoba mengingatkan kembali kejadian lama.
"Ya, aku ingat karena itu pertama kalinya Kamu seperti itu. Kenapa memangnya?" tanyanya balik.
"Dulu aku bercerita kalau ada seorang gadis yang tidak sengaja menyiramku dan di waktu lain dia memberiku payungnya ketika hujan karena melihatku terburu-buru mau pergi dari perpustakaan. Dialah gadis itu ayah, aku juga baru beberapa Minggu ini mengetahuinya," ungkap Malik antusias.
"Jadi?" tanya ayahnya.
"Ayah, bisakah kamu menemaniku datang ke pembukaan restoran orangtuanya di Swiss?" pinta Malik.
"Kapan?"
"Sekitar tiga minggu lagi," jawab Malik.
"Apa kamu serius dengannya?"
"Bukankah ini pertama kalinya aku meminta ayah menemaniku bertemu seorang gadis?" Malik bertanya balik.
"Tentu aku serius dengannya ayah," lanjut Malik yakin.
"Apa benar kamu tidak punya perasaan apapun pada Azmy?" penasaran.
"Dia adik temanku dan ku anggap temanku juga, kenapa ayah terus bertanya tentang Azmy. Jangan-jangan ayah berencana menjodohkan ku dengannya?" selidik Malik mengangkat sebelah alisnya.
"Hahahaha ... memang seperti itu, sebelum ayah tahu kamu mengantar seorang gadis sampai ke kamar hotelnya pulang dari acara Ommarcorp juga sebelum ayah tahu kamu tiba-tiba pergi ke Indonesia untuk bertemu kedua orangtuanya dengan alasan berlibur," ungkap Sultan tertawa.
"Ayah tahu aku bertemu orangtuanya?" tanya Malik terkejut.
"Tentu aku tahu, aku harus tahu apa yang dikerjakan anak-anakku. Ayah tidak bisa mendampingi kalian dua puluh empat jam penuh tapi setidaknya ayah harus tahu apa yang kalian lakukan," gumam Sultan.
"Aku menuruti semua nasehatmu," ungkap Malik tersenyum hormat pada ayahnya.
"Jadi ayah setuju aku dengannya?" tanya Malik memastikan.
"Dengan siapa, Azmy atau gadis CEO itu?" gurau Sultan.
"Ayah, namanya Edelweiss bukan gadis CEO," ucap Malik gemas melihat ayahnya terus mencandainya.
"Apa dia bersedia menuruti aturan dan adat kita?"
"Aku sudah memberitahukan semuanya. Tentang aturan yang harus dia patuhi jika bersedia menjadi istriku, aku yakin dia bersedia mengikuti semuanya ketika dia memutuskan menerimaku," kata Malik.
"Ya kita lihat nanti," ucap Sultan.
"Apa ayah meragukannya, butuh waktu lama aku mendekatinya hingga dia menerimaku?" jawab Malik.
"Waktu lama, apa dia pernah menolakmu?" tanya Sultan penasaran.
"Ya, dari awal dia menolakku. Bahkan setelah tahu siapa aku pun dia tambah menolakku. Mungkin karena aku sering mengiriminya pesan dia mulai menerimaku tapi tidak memberi jawaban apapun padaku hingga tadi malam. Mungkin dia sudah bosan menolakku hingga mau menerimaku," canda Malik tersenyum mengingat bagaimana Edel selalu menolak panggilannya.
Sultan tertawa mendengar cerita Malik, dia tidak menyangka anaknya ditolak seorang gadis bahkan setelah tahu identitasnya seorang pangeran. Sultan tahu Malik digilai banyak gadis, bahkan mereka rela mengantre hanya untuk berfoto dengannya.
"Kamu sudah memberitahu Ibu mu?" tanya Sultan.
"Tentu, tadi pagi sebelum kita bertemu aku berpapasan dengannya dan sempat bercerita maksud kedatanganku menemuimu," ungkap Malik.
"Apa jawaban Ibumu?"
"Beliau merestuiku dan menyuruhku cepat memberitahumu," jawab Malik.
Sultan tampak berpikir.
"Baiklah, nanti aku akan meminta mengatur ulang jadwalku," sahut Sultan.
"Terimakasih, Ayah." ucap Malik.
"Nak' hati-hati terhadap perasaan perempuan, mungkin kamu menganggapnya hanya sebatas teman tapi dia belum tentu seperti itu. Ketika kamu memutuskan bersama seseorang maka kamu harus menjaga perasaannya. Kamu pasti paham apa maksudku," kata Sultan memberi nasihat pada anak bungsunya.
"Baik, Ayah," kata Malik.
"Ayo sarapan, mungkin yang lain sudah menunggu kita," ajak Sultan.
Malik mengangguk dan berjalan mengikuti Sultan menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Pangeran Fatih dan istrinya begitupun dengan Ratu Negara A atau Ibunya Pangeran Malik juga ada saudara perempuan Pangeran Malik dengan suami dan anaknya. Sedangkan saudara perempuan tertua atau anak Perempuan Sultan yang kedua berada di salah satu negara di Eropa karena suaminya menjadi duta besar untuk Negara A di sana.
Semua tersenyum melihat mereka datang, tetapi senyuman itu membuat Malik sedikit malu.
"Assalamu'alaikum, Yang Mulia," sapa anak-anaknya.
"Hari ini Pangeran Malik terlihat lebih cerah dari biasanya," celetuk putri syahara memandang adiknya tersenyum menggodanya.
Malik hanya tersenyum sedikit tertunduk malu.
Pagi itu mereka tidak hanya sarapan, tetapi juga menggoda Malik yang menemui ayahnya pagi-pagi sebelum sarapan. Rumor Malik meminta ayahnya menemaninya menemui keluarga calonnya tentu saja saudara-saudaranya tahu dan mereka terus menggoda adik bungsunya.
*****
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like nya. 🥰