
"Pegang setirnya, sebentar lagi aku mau nikah, aku ga mau nikah di rumah sakit," candanya membuat Malik tertawa, ingin sekali dia mencubit pipi Edel karena gemas.
Malik seakan tidak mau mendengarkan Edel, dia tetap memegang tangan kekasihnya dan tangan satunya memegang setir motor.
"Masuk ke sana," menunjuk pintu masuk Citywalk Bandung. "terus aja turun ke bawah, motor parkir di basemen, nanti juga ada petunjuknya."
"Padahal bukan malam Minggu tapi parkirannya penuh," gerutu Edel begitu Malik memarkirkan motor mereka.
"Besok hari libur, mungkin seperti kamu my flower ingin jalan-jalan," kata Malik menghibur Edel.
"Aku ga ada niat jalan-jalan, cuma mau ngajak kamu keliling aja berburu kuliner. Bandung terkenal dengan kulinernya yang murah tapi ga murahan juga enak," elak Edel, sebenarnya dia ingin berkencan seperti teman-temannya yang lain.
Edel menarik malik cepat karena beberapa gadis terlihat sedang menunjuk-nunjuk pada mereka dan membisikan sesuatu, dia belum mau membagi Malik dengan para fans nya yang selalu minta berfoto. Memang yang mulai cuma satu atau dua orang tapi setelah itu bertambah dan bertambah hingga terkadang dia jenuh karena tak kunjung selesai 'sesi pemotretan nya'.
Hari ini kamu milikku, hanya untukku. batinnya tertawa licik.
Kalau kamu ke Bandung, Citywalk atau biasa disebut Ciwalk selalu jadi deretan utama pilihan tempat hang out di Bandung. Selain lokasinya yang menarik dimana kita bisa berjalan di area outdoor, tempat ini juga strategis banget berada di pusat kota. Anak muda tentunya seneng banget dengan Mall yang satu ini. Kalau lagi kesana, kalian bisa cobain banyak Restoran buat Kongkow Sambil Hang Out di Ciwalk ini.
Edel mengajak Malik ke salah satu tempat makan yang sering di kunjunginya ketika ke Ciwalk. Tempat ini seperti food court yang berisi berbagai makanan khas Bandung. Ada mie kocok, nasi liwet, batagor dan lainnya yang menarik untuk dicicipi.
"Kamu mau mie kocok?" tanya Edel.
"Nanti aku nyicip aja," ujarnya. "aku ingin ke toilet, ga apa-apa aku tinggal sebentar atau kamu mau ikut ke toilet denganku?".
Edel tertawa kecil mendengar ajakan Malik. "Ya udah gih. Aku tunggu di sana, jangan lama," tunjuknya ke meja yang kosong.
"Baik-baik ya," ujar Malik mengelus rambut Edel, dia tersenyum merasa Malik sedang membujuk anak kecil yang akan menangis ditinggal pergi.
Edel duduk di meja yang tadi dia tunjukan pada Malik, dia memesan beberapa jajanan khas kota Bandung.
"Tak ku sangka akan bertemu dengan calon istri pangeran di sini," suara berat dan dalam seorang pria terdengar tak asing di telinga Edel. Dia menengadah melihat siapa yang menyapanya.
"Hai," hanya kata itu yang dia ucapkan.
Pria tadi duduk di depan Edel. "Sedang apa Lo di sini?" mengulang pertanyaan nya.
"Makan lah, ini kan tempat makan!" ketus Edel.
"Tumben sendiri, dengan siapa Lo ke sini?" tanyanya.
"Ih ... , kepo banget deh jadi orang, mau tau aja!" ketus nya.
Dari kejauhan Malik berdiri melihat kekasihnya sedang mengobrol berdua dengan seorang pria yang tidak dia kenal. Mereka terlihat akrab walaupun raut wajah Edel yang seperti kesal.
"Pantesan tadi kamu bilang 'ada calon princess'," cetus seorang wanita menghampiri mereka.
"Bagaimana kabarmu Del?" sapa wanita tadi. Edel berdiri cipika cipiki dengannya.
"Alhamdulillah, baik. Lo gimana?" tanya Edel balik.
"Alhamdulillah, Lo sendirian?" tanya Jasmine.
"Gue sama ..," tak sempat melanjutkan karena Malik datang dan memanggilnya.
"Honey ... ," panggil Malik. Dia memperhatikan interaksi Edel dengan pria tadi dari kejauhan dan begitu Jasmine menghampiri mereka dia juga langsung berjalan mendekati kekasihnya.
"Malik ... ," panggil Edel. "Oh, ini kenalin temen SMA ku Restu dan Jasmine," memperkenalkan temannya pada Malik.
"Halo, Malik," ujarnya bersalaman memperkenalkan diri dengan teman-teman Edel.
"Ku kira kebiasaanmu kambuh lagi," ujar Restu.
"Kebiasaan?" tanya Malik penasaran dengan maksud perkataan Restu.
"Ya, pangeran. Edel ini kalau jenuh selalu jalan-jalan sendiri ke tempat ramai," ungkap Jasmine.
"Udahlah, kalian ini ngegosip aja. Itu kan dulu," kata Edel cemberut.
"Bolehkah aku mendengar lebih tentangmu?" tanya Malik. " aku ingin mendengarnya."
"Pangeran sebelumnya aku minta maaf tapi karena Edel teman kami dan kami terbiasa berbicara informal jadi mohon di maklum jika menurutmu kami kurang sopan," kata Jasmine.
"Ya ga masalah, teman Edel temanku juga," mereka tersenyum bahagia di sebut teman oleh seorang pangeran.
"Edel nih salah satu gadis incaran para laki-laki, dia bukan hanya cantik tapi ya tetep sih lebih cantik gue," ujar Jasmine tertawa. "cerdas, humble, cuma dia tuh selalu ketus kalau bicara dengan laki-laki," ungkapnya.
"Ya, kecuali denganku karena aku adalah cover boy sekolah," tertawa puas.
"Kepedean!" seru Edel.
"Jangan aneh kalau nanti tiba-tiba dia hilang, cari aja ke stasiun kereta. Dia akan berada di sana jika sedang jenuh atau badmood," ungkap Restu tertawa seakan itu sangat lucu.
Berbeda dengan Malik yang langsung tertegun begitu mendengar kata 'stasiun', dia teringat sesuatu yang dikatakan Shahmeer beberapa waktu lalu ketika dia bercerita tentang seorang wanita yang membuatnya kembali berkuliah.
"Stasiun?" tanyanya memastikan.
"Ya, stasiun. Dia selalu ke sana jika badmood," ungkap Jasmine.
Malik tersenyum memandang Edel meminta penjelasan lebih.
"Ya, dulu aku selalu pergi ke stasiun jika sedang jenuh. Bagiku itu hal yang akan membuatmu senang melihat kesibukan banyak orang dan bagus agar aku sadar jika aku tak sendirian. Banyak orang yang mungkin sedang lebih lelah dariku lebih badmood dariku lebih jenuh dariku, itu membuatku berhenti mengomel dan merutuki diri sendiri," terang Edel tersenyum.
Malik terkesan dengan pemikiran kekasihnya tapi dia juga tidak bisa menghilangkan perasaan tak enaknya ketika mendengar kata 'stasiun'.
Apa mungkin gadis yang Shahmeer katakan itu Edel?. batinnya.
Sementara mereka bercerita, pelayan mengantarkan pesanan mereka. Mie kocok dan batagor juga kwetiau pesanan Edel tersaji di meja.
"Oh ya pangeran, satu lagi. Dia nih makannya banyak tapi tetap langsing badannya makanya banyak yang iri ma dia," ungkap Jasmine melihat makanan yang Edel pesan.
"Yang penting sehat," kilah Edel memberi sambel banyak-banyak dan perasan jeruk limo ke mangkok mie kocoknya.
Malik tersenyum memperhatikan Edel menambahkan ini itu ke makanannya. "Jangan terlalu pedas, ga baik buat perutmu."
Pesanan teman-teman nya juga sudah datang, mereka berempat makan di satu meja. Sedikit menggagalkan rencana kencan Edel yang hanya berdua saja.
"Berapa hari Lo di sini Del?" tanya Restu.
"Besok juga balik Jakarta."
"Cepet amat, besok kan libur, tambah aja harinya biar kita ke Ciwidey atau Ciater berendam," ujar Jasmine.
"Besok gw harus ke Turki," jawab Edel santai.
"Gila mainnya nyampe Turki!" seru Restu.
"Ada kondangan," ujar Edel tersenyum melihat temannya kagum.
"Jauh amat kondangannya, mahal diongkos dibanding amplopnya," kata Jasmine tertawa.
"Temennya nikah di sana," Edel menunjuk Malik dengan meliriknya. Malik tersenyum menyadari lirikan mata Edel.
Mereka makan dan mengobrol segala hal, obrolan mereka lebih banyak ke bercerita tentang Edel semasa dia SMA dulu. Malik pendengar setia jika obrolan tentang kekasihnya, dia ingin mengetahui lebih tentang kekasihnya di mata teman-temannya.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰