He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 176



"Honey ...." Malik mendekati Edel yang sedang membaca. Dia berdiri di samping istrinya untuk waktu yang lama.


Malik melihat halaman yang dibaca Edel tidak berganti, dia membaca sambil melamun.


"Apa yang sedang kamu lamunkan, honey?" tanya Malik, merangkul Edel dari belakang.


Edel tampak terkejut melihat suaminya sudah berada di belakang merangkulnya.


"Maaf, aku sedikit melamun," ucapnya meraba pipi Malik yang terasa dingin sehabis mandi.


Malik duduk di sebelah Edel dan menempelkan dahinya di dahi istrinya. Dia membelai pipi Edel dengan lembut. Nafas mereka beradu, hangat terasa.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Honey," Malik memandang manik Edel. Manik mata coklat yang begitu terang, hangat dan memabukkan.


"Tidak ada," jawab Edel ragu.


"Aku tahu ada yang sedang kamu pikirkan. Matamu tidak bisa membohongiku, Honey."


Edel menunduk, h**aruskah aku bertanya padanya. pikirnya.


Edel terdiam lama mempertimbangkan apakan dia harus menanyakannya langsung pada Malik atau menunggu pemberitaannya keluar di media massa. Tetapi dia begitu penasaran dengan rumor tersebut.


"Katakanlah," pinta Malik.


"Berjanjilah kamu tidak akan marah jika aku mengatakannya," kata Edel ragu.


"Aku berjanji. Katakanlah."


"Malik, aku mendengar rumor dari Mrs. Harold jika pelakunya akan dieksekusi malam ini," ucapnya pelan


Malik tahu maksud pelaku yang dibicarakan Edel adalah Mrs. Shopia. Malik memaksakan tersenyum di depan Edel, hatinya sungguh takut dan sakit mengingat pelakunya telah keluar dari penjara dan dia ikut andil dalam hal itu.


"Iya, malam ini jadwal eksekusinya," ucap Malik berusaha bersikap tenang agar Edel tak mencurigainya.


"Malik, apa tidak terlalu cepat?"


"Para tetua istana menginginkannya. Mereka meminta agar eksekusi pelakunya dilakukan sebelum penobatan ku lusa dan ayahku telah mempertimbangkannya dan menyetujuinya." Malik membelai rambut Edel yang tergerai dan merapikan beberapa anak rambut ke belakang telinga istrinya.


"Malik, apa kamu sudah memberitahu Shahmeer tentang hal ini," tanyanya pelan.


Malik tersenyum, Dia tahu jika Edel pada akhirnya akan menanyakan hal itu.


"Ya, aku telah memberitahunya kemarin dan mereka juga telah bertemu siang tadi." Edel tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Malik.


Ya, setidaknya mereka telah bertemu untuk yang terakhir kalinya. gumam Edel dalam hati.


"Aku harus bersiap lagi dan membereskan beberapa pekerjaanku yang tertunda. Aku meminta Mr. Husein untuk mengawasi pelaksanaan eksekusi itu," kata Malik.


"Kenapa, kenapa kamu memintanya mengawasi eksekusi itu. Bukankah di sana ada orang yang bertugas juga?" tanya Edel penasaran.


"Dia bukan hanya seorang pelaku yang menewaskan kakakku tapi juga seorang ibu dari temanku."


Edel mengangguk walaupun hati kecilnya tetap tidak mengerti kenapa Malik melakukan hal itu, meminta Mr. Husein mengawasinya.


Edel membantu Malik memakai pakaiannya. dia tidak memakai jas, dia memakai pakaian casual dan sweater karena malam itu terasa lebih dingin.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Tidurlah lebih dulu, kamu pasti lelah. Beberapa hari ke depan pasti kita akan sangat sibuk, beristirahatlah, jangan terlalu banyak pikiran. Aku mencintaimu, Honey," ucap Malik.


Edel mendekatkan dirinya pada Malik dan memeluknya. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Malik membalas pelukannya dengan erat.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. beristirahatlah, aku janji aku akan segera kembali," ucapnya melerai pelukan mereka.


Edel mengantar Malik sampai di depan ruang keluarga mereka dan melihatnya hingga Malik tak nampak lagi di hadapannya.


Edel duduk, pikirannya sangat kalut memikirkan bagaimana perasaan seorang anak ketika ibunya mendapat hukuman eksekusi mati. Hatinya pasti akan sangat hancur walaupun memang ibunya bersalah.


**


Malik melihat jam di ponselnya, masih menunjukan jam 21.32, masih ada setengah jam kurang dari waktu eksekusi yang telah ditentukan.


Malik kembali memeriksa beberapa dokumen di depannya dan kesulitan berkonsentrasi. Pikirannya selalu tertuju pada acara eksekusi, sulit sekali dialihkan.


Hatinya sangat tidak tenang memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka tahu kalau wanita yang mereka bawa dari lapas bukanlah Mrs. Shopia tetapi hanya wanita pengganti.


Gelar pengkhianat sudah pasti akan diberikan padanya dari berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia. Kepercayaan ayahnya akan hancur berkeping. Terlebih Edel mungkin akan membencinya walaupun dia melakukannya untuk melindungi istrinya.


Waktu terasa lambat sekali berlalu. Malik berjalan mondar mandir di depan mejanya, sesekali dia mengecek waktu dari ponselnya. Hatinya sungguh tidak tenang.


Dia ingin sekali menghubungi Mr. Husein tapi dia berusaha menahannya.


"Sebentar lagi," ujarnya melihat jam di ponselnya.


Sudah lebih dari 15 menit dari waktu eksekusi, seharusnya Mr. Husein sudah menghubunginya sedari tadi. Dilihatnya ponselnya, tapi tidak ada tanda seseorang menghubungi atau pun mengirim pesan padanya.


"Mungkin dia menunggu hasil otopsi," gumamnya, tapi hatinya bertambah tidak tenang mengingat kala mengingat kata otopsi.


Orang yang dengan sengaja melakukan kesalahan memang tidak akan tenang hatinya, apalagi ini pertama kali buat Malik melakukan hal seperti itu.


Hampir pukul sebelas malam ketika ponsel Malik bergetar menandakan panggilan masuk.


Dilihatnya nama Mr. Husein terpampang dilayar ponselnya. Tangannya sedikit gemetaran ketika akan mengklik tanda hijau dilayar ponsel.


"Assalamu'alaikum," Mr. Husein memberi salam dari seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam, Bagaimana?" Malik tidak dapat menahan lagi rasa penasarannya.


"Maafkan hamba, Yang Mulia," ucap Mr. Husein.


kaki Malik langsung lemas begitu Mr. Husein meminta maaf padanya. Pikirannya langsung kalut, ketakutan semakin mencengkram dadanya, begitu sesak dirasa.


"Kita ketahuan?" tanyanya dengan suara yang amat lemah.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya baru bisa menghubungi Anda, eksekusinya sudah selesai tepat waktu, saya menunggu otopsinya terlebih dahulu dan semuanya berjalan lancar," terang Mr. Husein.


Seperti ada percikan kembang api di langit yang gelap. Hati Malik mulai menghangat mendengar penuturan Mr. Husein.


"Jadi semuanya terkendali?" tanya Malik memastikan.


"Iya, Yang Mulia," sahut Mr. Husein.


"Syukurlah, terimakasih Mr. Husein. Anda boleh langsung pulang beristirahat," ucap Malik.


Hatinya mulai menghangat, perasaan takut yang tadi menyelimutinya mulai memudar walaupun dia belum melihat hasil otopsinya secara langsung tetapi Malik mempercayai apa yang dikatakan Mr. Husein lebih dari siapa pun, termasuk ayahnya.


Malik kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, dia mulai bisa berkonsentrasi. Tetapi tetap saja perasaan takut dan bersalah akan selalu dia rasakan di dalam hatinya karena telah melakukan suatu kesalahan yang fatal.


Ketika seseorang melakukan kesalahan sepandai apapun dia menutupinya, melupakannya, tetap saja, perasaan bersalah itu akan terus mengikutinya, membayangi setiap langkahnya.


Malam itu Malik kembali ke kamarnya dini hari. Malik mendekati Edel yang tertidur di sofa menunggunya. Malik memang berjanji akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat tapi konsentrasinya terpecah gara-gara eksekusi itu hingga dia membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.


"Maaf aku, aku selalu membuatmu menungguku," ucapnya berjongkok didepan wajah istrinya yang tertidur.


*****


Hai para readers, terimakasih sudah mampir membaca karya author recehan macam saya. jangan lupa like, komen dan hadiah buat author ini agar lebih semangat lagi up nya.


Stay safe everyone. 🥰


Ini dia novel rekomend dari author kali ini,