
Hari itu setelah kedatangan Malik, Shahmeer pergi ke bar langganannya. Dia minum berbotol-botol minuman beralkohol, Ronald yang menemaninya minum tidak mengetahui alasan Shahmeer minum sebanyak itu sampai dia tak sadarkan diri.
**flashback on**
Stasiun Oxford,
Seorang gadis duduk termenung di kursi tunggu stasiun Oxford. Entah tujuannya kemana karena beberapa kali kereta datang ia tak kunjung menaikinya, hanya melihat penumpang yang turun naik. Beberapa kali terlihat ia mengobrol santai dengan calon penumpang yang menunggu keretanya tiba.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan membaca novel online saat kursi di sampingnya kosong juga kalau yang mengisi kursi di sampingnya seorang laki-laki. Mungkin dia merasa enggan atau canggung jika mengajak ngobrol laki-laki yang tidak dikenalnya, berbeda jika yang duduk disampingnya seorang wanita yang sudah berumur atau terlihat lebih tua darinya dia akan mengajaknya mengobrol.
Jam menunjukan waktu makan siang, dia mengeluarkan sepaket smoked salmon dan cream cheese sandwich juga sebotol air mineral yang masih baru. Dia menikmati makanannya sambil melihat kereta yang datang dan lalu. Dia hampir tersedak ketika menyadari telah ada seorang pria duduk di sampingnya, melihat dari wajahnya mungkin keturunan Arab. Pria itu terlihat masih muda berjambang tipis, lumayan tampan pikir gadis tadi.
"Kau mau?" kata gadis itu menawari sandwichnya yang masih berada dalam kantong makan, "Aku masih punya satu, anda bisa mengambilnya," lanjutnya ketika mendengar sesuatu seperti bunyi perut lapar dari pria itu.
Pria muda tadi hanya memandang gadis di sampingnya, suara kereta membuyarkan pandangannya. "Bolehkah?" tanyanya memandang gadis yang baru dilihatnya menawari dia makanan.
"Tentu," sahut gadis tadi tersenyum mengangguk pelan.
"Terima kasih," ucapnya dan di balas anggukan.
Mereka hanya menikmati makanan mereka tanpa berbicara satu sama lain hingga ... ,
Ohok ... ohok ...
Pria tadi tiba-tiba terbatuk dan tanpa sadar gadis tadi menyodorkan botol mineral yang dibawanya dan refleks diterimanya, langsung saja pria itu meminumnya.
"Anda baik-baik saja?" tanya gadis itu.
"Ah ya ... ," sahutnya lalu memandang gadis di sampingnya, pria tadi tertawa kecil melihat raut wajah gadis tadi seperti mengkhawatirkannya.
Gadis tadi tersenyum dan tertawa kecil melihat pria itu tertawa.
"Maaf," ujarnya. "Terimakasih, namaku Zephyr" lanjutnya memperkenalkan diri.
"Aku Edelweiss tapi anda bisa memanggilku Edel saja," jawabnya tersenyum.
"Tak usah terlalu formal denganku, sepertinya usia kita tak terlalu berbeda jauh," kata Zephyr. "Kamu mau kemana?"
Edel tersenyum mendengar perkataannya. "Tidak kemanapun, aku hanya ingin duduk saja di sini melihat kesibukan semua orang," jawabnya yang membuat Zephyr mengernyitkan alis.
"Apa kamu orang Asia, mahasiswa baru?" tanyanya melihat wajah Edel.
"Iya," sahutnya mengangguk pelan.
"Mengambil apa?" tanyanya, tapi sebelum Edel menjawab suara kereta api menuju London tiba, "maaf, keretaku sudah datang. senang bertemu denganmu dan terima kasih sandwich dan ... ," dia menggoyangkan botol minumnya lalu berdiri.
"Senang bertemu denganmu, semoga harimu menyenangkan. Bye ...," pamitnya lalu pergi masuk ke dalam gerbong kereta cepatnya.
Edel melihat pria tadi pergi dan tersenyum kecil. Dia pun berdiri melangkah ke minimarket stasiun untuk membeli minum lalu keluar stasiun kembali ke apartemennya.
Dua tahun kemudian,
"Cepatlah!" seru pria muda pada kedua temannya, "kenapa kau memarkir mobilnya diujung jalan?!" geramnya.
"Ayolah Pangeran tak baik marah-marah," kata temannya, "biasanya juga aku memarkirkan mobilnya di sana!" lanjutnya membela diri.
"Kenapa Ayahmu hari ini datangnya, bukankah katamu beliau akan datang besok?" tanya teman satunya lagi.
"Aku berbicara tadi malam, besok itu berarti hari ini!" serunya.
"Kenapa datangnya pagi?" tanyanya lagi.
"Mana ku tahu?! beliau hanya berkata akan datang hari ini tapi tidak memberi tahu ku pagi ini!" jawabnya kesal karena berpikir kenapa dia merasa jaraknya jadi jauh dari apartemen temannya ke ujung jalan.
"Ay ... ," tak sempat melanjutkan.
bbbbuuuurrrrrrrrr..... semburan air mengenai mereka bertiga.
"Aaarrrgggghhhh ... ," teriak mereka.
"Ah ... maaf," ujar seorang gadis berlari kearah mereka, menghentakkan kedua kakinya terlihat panik. "maafkan aku ... maafkan aku, aku sungguh tak sengaja."
"Tunggulah," ujar gadis itu berlari masuk ke dalam rumah.
"Ayo," ajak Ahmet Keenan, badannya tak terlalu basah seperti temannya Pangeran Malik Ibrahim karena dia langsung menghindar begitu ada semburan air. Namun, sepertinya pangeran tersebut tidak mendengarkan ajakan temannya karena dia hanya berdiri mematung melihat kemana gadis tadi masuk.
"Kenapa kau diam saja, ayo! tadi kau marah-marah menyuruh kami cepat sekarang kau malah diam!" omel Ahmet Keenan sambil merangkul bahunya dan menariknya.
"Gadis yang cantik," gumamnya tersenyum masih melihat ketempat gadis tadi masuk. Shahmeer membantu temannya mendorong pangeran agar berjalan cepat memandang ke depan.
Akhirnya, aku menemukanmu. gumam Shahmeer dalam hati.
"Kenapa kau membawa banyak handuk," tanya temannya melihat Edelweiss membawa beberapa handuk dan berjalan cepat keluar.
"Aku tak sengaja menyiram orang yang lewat," jawabnya sedikit berteriak.
Tak berselang lama, Edel kembali ke dalam rumah membawa handuknya yang masih terlipat utuh. Dia merebahkan badannya di sofa. "Mereka sudah pergi."
"Hahaha.. siapa yang kau siram kali ini?" tanya Yvonne.
"Entahlah aku tak mengenalnya," jawabnya. "tapi, ku rasa salah satunya seperti Ahmet Keenan anak PM Turki," lanjutnya.
"Ahmet Keenan?! Benarkah?" tanya Yvonne berbalik memandang Edel yang duduk tak jauh darinya. "kenapa kau tak bilang dari awal, dia pria idaman para gadis di kampus kita."
Edel hanya memandang balik temannya, tak mengerti dengan pemikirannya.
Beberapa Minggu kemudian di Mall FF,
"Kamu sudah bilang ke dia kita menunggunya?" tanya Malik pada Shahmeer dijawab anggukan.
"Kamu sudah menemukan buku referensi untuk skripsimu, pinjam saja beberapa di perpustakaan," ujarnya pada Malik.
"Aku sudah meminjamnya dua Minggu yang lalu." jawabnya, "Kau ingat gadis yang menyiram kita?" tanya Malik kemudian.
"Ya, kenapa?" jawab Shahmeer penasaran.
"Aku bertemu dengannya lagi di perpustakaan, saat aku mau pulang," ungkapnya tersenyum. "dia memberikanku payungnya."
"Payung?!" kata Shahmeer tak mengerti.
"Saat itu hujan cukup deras dan aku harus segera pulang, dia datang memberiku payungnya," terangnya.
Dua pria muda itu terhenti saat melihat seorang gadis yang sedang mereka bicarakan berada tak jauh di depannya.
"Itu dia," ujar Malik. "Ayo kita berkenalan dengannya, aku belum tahu namanya."
Mereka mengikuti Edel dan Yvonne masuk ke Hypermart.
"Ayo kau duluan yang mendekatinya," pinta Shahmeer, "Bukankah kau ingin tahu namanya."
Sebenarnya Shahmeer masih ingat nama gadis itu, dia hanya tidak ingin temannya mengetahui jika dia mengenalnya dan sempat berbincang dengannya.
Mereka berdua hanya mengikuti gadis itu tapi tidak berani mendekati atau menyapanya. Benar-benar seperti penguntit.
"Sepertinya kita diikuti," ujar Yvonne memberi kode pada Edel.
Edel berbalik ke belakang, tapi tidak melihat ada orang mengikuti mereka. Dia mengenali wajah salah satu pria yang sedang memilih apel, dia pria yang di perpustakaan. Tak mungkin mereka diikuti lagian ini di Hypermart banyak orang yang sedang berbelanja. pikirnya.
Ketika Edel berbalik Malik langsung menghampiri area apel dan memilih apel sedangkan Shahmeer bersembunyi di balik tiang.
Sudah tiga bulan berlalu, selama itu pula Shahmeer mencari tahu tentang Edelweiss, dari mulai jurusan, kelasnya, hingga mencari tahu apakah dia masih single atau sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, dia mulai menyukai gadis itu sejak pertemuannya di stasiun kereta Oxford, menurutnya dia gadis yang hangat dan mudah tersenyum.
Tetapi hasil pencariannya tidak terlalu membuatnya senang, dia tahu dari teman-temannya jika Edel seorang yang dingin terhadap pria, berbeda dari yang dia tunjukan ketika di stasiun kereta. dia juga tahu jika banyak pria yang telah ditolak olehnya, makanya teman-temannya menyebutnya Eternal flower. (bunga abadi/bunga edelweiss yang hanya tumbuh di dataran tinggi bersuhu rendah dan bisa tumbuh hingga ratusan tahun)
Sejak itu dia mengurungkan niatnya mendekati gadis itu. tapi terkadang dia masih suka bertanya tentangnya pada adik kelasnya yang satu kelas dengan Edel.
**flashback off**
*****
Terima kasih kawan telah membaca novel pertama ku. jangan lupa like, koment, rate, dan masukan novelku ke dalam bacaan favorit mu.❤️