
"Karena aku tidak bisa memberimu kebebasan seperti yang lain, dengan pengangkatanku kau semakin tidak bebas."
"Malik, ini pilihanku dan aku senang berada di sampingmu. Jangan berbicara seperti itu lagi," sergah Edel.
"Jujur saja, aku tidak tahu apa perasaanku harus sedih atau senang mendengar kamu akan diangkat menjadi putra mahkota. Malik, bagaimana jika aku tidak mampu menjadi seorang Putri Mahkota seperti yang mendiang Putri Grizelle lakukan?" lanjutnya.
"Jika kamu tidak bisa seperti dia, ya jadilah dirimu sendiri, Honey. Aku tidak akan pernah memintamu menjadi seperti orang lain, aku senang kamu apa adanya. Semua orang di negara ini dan yang tahu tentangmu pasti tahu jika kamu seorang yang ramah, sopan, sangat peduli, multitalenta."
Edel terdiam mendengarkan Malik berbicara. Apa dia sedang memujiku atau hanya sekedar menghiburku. pikir Edel.
"Honey, setelah kita menikah banyak rumor tentang tetua yang ingin aku menggantikan Fatih menjadi putra mahkota?" tanya Malik tersenyum, "karena mereka melihatmu, melihat bagaimana kamu melaksanakan tugas kerajaan dengan sangat baik, dengan semua ide-ide yang kamu kemukakan tentang bagaimana cara membangkitkan SDM negaraku, tentang meningkatkan UMKM yang di kelola yayasan negara. Mereka melihatmu, melihat hasil kerjamu yang sangat membanggakan."
"Honey, Allah menakdirkanmu menjadi istriku karena kamulah yang hanya bisa mendampingiku," tutur Malik menatap lekat manik Edel.
Edel memeluk Malik erat, senyumnya semakin mengembang mendengar Malik berkata jika hanya dia yang mampu berada di sampingnya.
"Terimakasih, aku sangat senang mendengarnya," Edel melepaskan pelukannya menatap Malik dan mencium bibirnya sekilas.
Malik mengernyitkan dahinya.
"Hanya segitu? ah, sebentar sekali," Malik mengerucutkan bibirnya.
"Ini sudah siang dan aku kelaparan. Apa kamu tidak merasa lapar atau sudah sarapan duluan meninggalkanku?" gerutu Edel berbalik cemberut.
"Maaf, Honey. Aku lupa kalau kita belum sarapan, ayo!" ajaknya.
Mrs. Andrew telah memberitahu pada Edel jika sarapan mereka telah siap ketika Malik masih berada di kediaman Baginda.
"Yang Mulia, saya akan menyiapkan kembali sarapannya," ujar Mrs. Andrew dengan segera menyiapkan sarapan yang menjelang siang untuk tuannya.
"Honey, aku akan menemani Baginda bertemu dengan para tetua istana hari ini. Kami akan berdiskusi mengenai acara yang akan datang," ujar Malik mencium kening istrinya, begitu dia telah selesai dengan sarapan siangnya.
"Baiklah, aku juga ada janji dengan Kate dan Putri Syahara nanti setelah Dzuhur," Edel sekaligus meminta izin keluar pada Malik.
"Aku akan membawa baby boy juga," lanjutnya.
"Iya, kabari aku kalau mau berangkat."
"Baiklah, Yang Mulia," ucap Edel lirih.
"Honey, apa kau sedang memberi kode mengajakku seharian di kamar. Dengan senang hati aku akan menemanimu hari ini," Malik menggoda balik istrinya.
"Apaan sih, ayo jalan katanya hari ini harus menemani Baginda. Jangan biarkan beliau menunggu lama," tukas Edel.
"Aku bisa membatalkannya jika kau mau," Malik tersenyum memicingkan kepalanya menggoda Edel.
Edel tertawa melihat tingkah suaminya, dia senang ketika Malik sedang menggodanya seperti itu. Andai dia tidak harus melaksanakan tugas negaranya.
Edel berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Malik. Edel mengangkat tangannya ke dada Malik dan mengusapnya seperti sedang merapikan jas suaminya yang telah rapi. wajahnya menengadah melihat wajah suaminya dari dekat. Mata yang berbinar itu dia buat semenggoda mungkin dihadapan suaminya.
"Aku akan menunggumu," bisiknya dengan suara sedikit mendesah di telinga Malik membuat siempunya bergidik merinding geli.
"Kau benar-benar menggodaku pagi ini, Honey," tangan Malik menarik pinggul Edel menghapus jarak antara badan mereka.
Edel mencium dan menggigit sedikit dagu Malik.
"Hati-hati di jalan. Aku akan mengabarimu jika sudah akan berangkat nanti," Edel langsung melepaskan diri dari dekapan Malik, seakan hal yang baru saja terjadi tidak pernah terjadi .
Kau sungguh membuatku harus menarik nafas menenangkan pikiranku. batinnya.
Malik melihat Edel kembali duduk dan makan makanan yang tadi belum sempat dia habiskan.
Baru saja Malik berjalan menghampiri Edel , Mr. Husein datang menghampiri mereka.
"Yang Mulia, anda telah ditunggu," kata Mr. Husein tanpa tahu jika kedatangannya diwaktu yang tidak tepat dan membuat Malik sedikit kesal.
Malik hanya menganggukan kepala kepada Mr. Husein. "Honey aku berangkat."
"Tunggu pembalasanku nanti malam, aku akan membuat malam yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan," bisiknya.
Edel tersenyum senang mendengarnya, badannya terasa kepanasan seperti habis berjemur di bawah matahari.
"Sepertinya aku harus mandi lagi," gumamnya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya yang memerah seperti tomat.
***
Pertemuan dengan para tetua istana bukanlah hal disukai oleh Malik, terlebih pertemuan kali ini membahas tentang suksesi pengakatannya sebagai putra mahkota menggantikan kakaknya pangeran Fatih yang meninggal kurang dari seminggu yang lalu.
Bagi sebagian besar orang mungkin posisi putra mahkota itu terdengar sangat keren dan sempurna, bahkan sampai ada yang memperebutkannya, tapi bagi Malik posisi putra mahkota itu seperti aturan lain yang siap mengikatnya lebih kencang dari sebelumnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Malik langsung duduk di kursi dekat Baginda Sultan.
Baginda Sultan tersenyum pada Malik. Dia bersyukur Malik bersedia menghadiri pertemuan ini, dia sangat mengenal Malik dan tahu jika anak bungsunya sangatlah menghindari pertemuan semacam ini.
Mereka mulai berbincang tentang acara pengangkatan Malik yang akan di gelar sebulan kemudian bertepatan dengan 40 hari meninggalnya pangeran Fatih.
"Yang Mulia, persiapkan diri anda untuk acara tersebut. Mulai hari ini pengawalan anda akan ditingkatkan mengingat acara tersebut hanya sebulan lagi. Kami tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan pada anda, Yang Mulia," titah tetua istana.
Malik hanya menganggukan kepalanya. Entah harus tersenyum atau sedih mengingat mereka memutuskan jika acaranya bertepatan dengan 40 hari kakaknya meninggal.
"Yang Mulia, perkataan kami ini tidak bermaksud menyinggung yang telah tiada namun kami sungguh senang dan sangat menantikan acara ini. Anda sungguh ditakdirkan menjadi pemimpin negara ini suatu hari nanti menggantikan Baginda Sultan," ucap salah satu tetua istana.
Malik hanya tersenyum tidak menjawab tetua istana tersebut. Ingin rasanya dia segera berlari keluar dari ruangan tempat pertemuan.
Berada di ruang pertemuan itu membuat dada Malik sedikit sesak, seakan kadar oksigen di sana sangat tipis.
Baginda Sultan tersenyum mendengar tetua istana berkata seperti itu. Baginda telah melihat sedari kecil jika Malik sangatlah berbeda dengan kakaknya Fatih. Malik sangat tertarik dengan berbagai macam ilmu yang menjadikannya multitalenta, dia juga tertarik dengan berbagai macam olahraga hingga dia menjadi seorang atlet polo kebanggaan negaranya, Malik seorang yang peka terhadap keadaan sekitarnya hingga dia sangat dihormati oleh seluruh masyarakat negara A lebih dari kakaknya.
Terlebih sekarang dia mempunyai seorang istri seperti Edel yang mempunyai sifat peka hampir serupa dengannya, menambah nilai tambah buatnya menjadi seorang pemimpin negara.
Perasaan hangat mengalir di hati Baginda Sultan melihat bagaimana interaksi Malik dengan para tetua. Baginda Sultan yakin jika anaknya akan sepenuh hatinya melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, Meskipun beberapa waktu lalu Malik terus menolak suksesi itu dan menyarankan Putri Zeera yang menggantikan pangeran Fatih. Ketakutannya akan perkataan Malik beberapa waktu lalu perlahan sirna.
*****
Terimakasih sudah mampir membaca, jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah buat author biar lebih semangat up nya. 🥰
Stay safe everyone. 🤍
readrs mampir juga ke novel temanku,