
Edel membawa mobil dengan sedikit mengebut membuat Malik bergidik ngeri, memandangnya dengan tangan memegang pegangan di atas pintu mobil.
"Jalan pelan saja, Honey."
"Ini sudah pelan, Malik," jawab Edel tanpa memandang suaminya yang terus melihatnya ngeri.
"Pelan?!" Sergah Malik.
Pantas saja dulu dia kecelakaan, pelannya segini!. Gerutu Malik dalam hati.
"Kita mau kemana, Honey?".
Malik melihat jalanan, hiruk pikuk keramaian perlahan berubah menjadi pohon-pohon tinggi besar. Akhirnya mereka memasuki sebuah villa.
"Ini di mana?"
"Ayo!" Ajak Edel.
Wajah Malik terlihat pucat, dia merasa sedikit pusing dan mual.
"Malik, ayo. Kenapa diam saja!".
"Engh ... , Iya sebentar," jawabnya menghirup oksigen banyak-banyak berharap rasa pusingnya hilang.
"Honey, lain kali biar aku yang bawa saja ya," lirihnya.
"Kenapa?" Edel balik bertanya.
Kalau aku jujur, pasti ngambek. Pikir Malik.
"Aku tidak mau kamu terlalu cape, Honey. Aku kan sudah janji buat jaga kamu," meyakinkan Edel.
"Honey, ini rumah siapa?".
"Ayo," Edel menarik tangan Malik tanpa menjawab pertanyaannya.
Mereka berjalan menelusuri jalan berkerikil di samping rumah. Malik melihat sebuah kolam renang dan taman kecil di sana.
"Surprise ... ," Ucap Edel dengan merentangkan tangan.
"Ini rumah siapa?".
"Ehm, kau sungguh tak asik kenapa tidak berpura-pura terkejut saja ketika aku bilang surprise," keluh Edel.
"Ya, aku terkejut. Tapi ini rumah siapa?" Tanyanya lagi dengan raut datarnya.
"Ah, menyebalkan!"
Edel berjalan cepat meninggalkan Malik yang masih memandang berkeliling.
"Honey," Malik berlari kecil memanggil istrinya yang meninggalkannya sendirian.
"Surprise ... !" Suara dari beberapa orang mengejutkan Malik.
"Astaghfirullah ... !" Hampir saja dia jatuh ke kolam renang di depannya.
Malik menatap mereka satu persatu. Teman-teman nya telah berada di sana, Ronald dan Deo juga Queenzha, Kate dan Edel.
"Alhamdulillah jantungku sehat," lirih Malik kesal.
Ku kira aku akan benar-benar berkencan hanya berdua dengannya, ternyata dia menyiapkan ini semua dengan para pengacau itu. Gerutu Malik.
"Pangeran, apa kami terlalu mengejutkanmu. Wajahmu sedikit pucat, apa kau baik-baik saja?" Tanya Deo mendekat, menilik wajah Malik.
"Engh, ya, aku baik-baik saja," ucapnya menghembuskan nafas kasar.
Malam itu menjadi malam yang tak kan pernah Malik lupakan, dimulai dari ketika disetiri oleh istrinya yang katanya pelan tapi dengan kecepatan yang tak pernah dibawah 100km/jam. Belum selesai jantungnya berdebar dia dikejutkan lagi oleh istri dan teman-teman nya.
"Kalian sungguh mengacaukan acara kencanku!" lirih Malik.
"Apa? apa kamu barusan berbicara padaku. Maaf aku tidak mendengar apa yang barusan kamu katakan," tanya Deo berbalik menatap Malik yang masih berdiri di tempatnya.
"Tidak, aku tidak berbicara apapun," ketus Malik.
"Kamu kenapa, pangeran?" tanyanya lagi, Deo menaikan alisnya sebelah.
Malik tidak menjawab pertanyaan Deo, Ia berjalan melewati temannya itu menghampiri istrinya.
Aku tahu wajah dingin itu, batin Deo. Dia bergidik seakan merasa dingin dengan mengusap lengannya lalu bergabung dengan yang lain.
"Honey, ko ga bilang kita akan berkumpul dengan mereka," bisik Malik.
"Bagaimana baby Zayn, kenapa kamu tak mengajaknya. Aku kangen sekali dengan baby Zayn juga si cantik Hazel?" tutur Queenzha memecah kesunyian.
"Datanglah main ke rumahku. Dia masih kecil tak akan ku izinkan dia keluar malam untuk ikut acara triple date," jawab Deo.
Triple date dia bilang. batin Malik terkekeh.
"By the way, katanya ada yang mau kamu katakan. Apa itu?," tanya Edel langsung ke inti.
"Sabarlah Yang Mulia, baru juga datang. Ayo bantu aku siapkan makanan," ujar Queenzha, berjalan ke dalam diikuti Edel dan Kate.
"Apa kita harus masak?" tanya Kate melihat sayuran dan bahan makanan lain yang masih dalam paperbag di meja dapur.
Queenzha tersenyum, dia berjalan ke arah meja makan. Tampak beberapa kotak makanan siap saji.
"Ku pikir kita akan memasak," ujar Edel tertawa kecil mengingat Queenzha bukanlah seorang yang senang memasak. 'Selama masih ada tempat makan yang buka, aku tidak mau memasak' ucapnya dulu ketika mereka tinggal ngekos satu apartemen dengan Edel.
"Ya, sepertinya aku harus belajar memasak sekarang. Ronald menyuruhku agar mulai belajar memasak gara-gara bulan lalu kami diundang makan oleh temannya dan istrinya yang memasak, selama kami di sana temannya selalu membanggakan masakan istrinya," keluh Queenzha, dia terlihat kesal ketika menceritakannya.
Kate tertawa terbahak melihat ekspresi Queenzha yang sedang mengeluh hanya karena harus belajar memasak.
"Sejujurnya aku tidak pernah memasak buat Deo, bukan karena aku tak mau hanya saja dia tak ingin tanganku terluka atau kotor," kata Kate bangga.
"Mungkin Deo tak yakin kamu bisa memasak walaupun sudah diajari," celetuk Queenzha.
"Ya mungkin juga," dengan enteng Kate menjawab temannya.
Kate memanggil para laki-laki untuk masuk bergabung dengan mereka mengobrol lesehan depan tv.
"Aku sudah makan malam dengan istriku, aku masih kenyang," ujar Malik melihat begitu banyak makanan di depannya.
Edel melirik Malik tajam.
"Aku mungkin akan makan beberapa cemilan agar aku tidak mengantuk," ujarnya lagi.
"Kawan, karena kita sudah berkumpul walaupun kurang beberapa orang, aku akan mengumumkan hal yang mungkin membuat kalian bangga," ucap Ronald dengan nada serius.
"Kami akan menikah bulan depan," tersenyum melihat Queenzha.
"Benarkah, selamat sayang. Akhirnya setelah puluhan purnama kalian menikah juga," ucap Kate mengulurkan tangan pada Queenzha yang berada di depannya. Kate ingin memeluk Queenzha hanya saja mereka terhalang makanan yang berserakan di depannya.
"Selamat ya, aku ikut senang. Di mana acaranya?" tanya Edel. dia harus memastikannya agar langsung dibuatkan jadwal oleh Malik. Edel ingin menemani Queenzha menjadi briedesmaid, seperti Queenzha yang menemaninya dulu ketika Ia menikah.
"Di Jerman, aku akan menikah di Jerman karena ayahku ingin kami menikah di negaraku. Nenekku sudah tua, beliau ingin melihat dan menemaniku saat aku menikah dan kondisi beliau tidak memungkinkan perjalanan jauh," terangnya.
"Tak masalah dimana pun kalian menikah. Kami akan datang meramaikannya," sela Deo yang mulai berpikir membalas kejailan Ronald saat resepsi pernikahan dia dulu.
"Dan satu hal lagi yang harus aku sampaikan. I Will be a Daddy ... ."
"Wwoowww, berita yang sangat bagus. Selamat kawan," ujar Malik.
Edel dan Kate melongo melihat Queenzha yang tersenyum malu-malu.
"Selamat ya ... ," ujar mereka berdua kompak.
"Akhirnya Hazel dan Zyan akan ada temannya lagi," ujar Kate tersenyum penuh kebahagian.
"Makasi ... ," ucap Queenzha malu-malu.
Malik dan Deo juga pasangan mereka memang seorang muslim. Tapi mereka juga tidak menutup mata pada perubahan zaman. Bagaimana pun mereka tahu jika Queenzha dan Ronald adalah anak muda yang lebih bebas dari mereka walaupun begitu mereka tetap menghormatinya tetap bersahabat dengannya.
"Kalian tahu, saat aku memberitahu keluargaku kalau dia akhirnya mengandung anak kami, ayahku langsung terbang ke Jerman untuk membicarakan pernikahan kami dengan keluarganya. Beliau sangat gembira karena akhirnya anak satu-satunya akan memberi dia penerus," ungkap Ronald bangga.
"Bagaimana dengan studimu?".
"Aku akan tetap menjalaninya dan akan mengambil cuti setelah ujian tahun ini."
"Bawalah baby Zyan ke acara pernikahanku, tenang saja bulan depan masih musim semi,"
"Tentu kami akan membawanya, tak mungkin dia ku tinggal di sini," jawab Malik terkekeh.
Malik melupakan kekesalannya karena berita gembira yang dia dapatkan malam ini. Berita itu memberi dia semangat lebih untuk menghadiri persidangan yang melelahkan besok.
*****
Terimakasih sudah membaca. 🙏🥰
Stay safe everyone. 🤗🤍