He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 152



"Apa kau siap dengan semua putusan persidangan lusa?" tanya Malik yang melihat Shahmeer tenang menjawab pertanyaan Deo.


Ronald melirik Deo yang mulai menegang, terkejut mendengar pertanyaan pangeran Malik pada Shahmeer.


Perang segera dimulai, pikir Ronald.


"Tentu, aku tidak peduli berapa lama dia mendapat hukuman, sekalipun dia dihukum seumur hidup sama sekali tidak mempengaruhiku. Wanita itu hanya mempunyai wajah dan badan ibuku saja, tapi jiwanya bukanlah ibuku lagi."


Shahmeer mengangkat pandangannya pada Malik. Perasaan sedih, kecewa dan penyesalan terlihat dibalik mata dinginnya.


"Ko berada dingin ya ruangannya," sindir Kate menghampiri mereka, dia tahu apa yang sedang terjadi di sana.


"Dingin?-" Edel mengernyitkan dahi heran. "-Apa kau baik-baik saja?"


"Ehmm, ga apa-apa," jawab Kate.


Mata Malik beralih ke istrinya, bibirnya tersenyum mencairkan raut wajah yang membeku.


"Honey," Malik menepuk tempat di sebelahnya agar Edel mendatanginya duduk di sebelahnya.


Edel duduk di sebelah Malik, dia mengedarkan pandangannya ke semua orang merasakan ada sesuatu yang mereka rahasiakan hingga mereka terdiam cukup lama setelah kehadirannya di sana.


Edel mengambil beberapa buah anggur yang berada di depan Queenzha.


"Kau mau?" tanya Edel pada Malik memecahkan kesunyian yang sudah cukup lama.


Malik mengambil anggur di tangan Edel dan memakannya.


"Aku kira kalian sedang honeymoon keliling dunia," ujar Deo mengalihkan pembicaraan.


"Kami selalu honeymoon di mana pun kami berada. Minggu depan kami berencana ke Korea Selatan," jawab Ronald.


"Kapan aku bisa berlibur ke sana, aku juga ingin ke sana hanya saja ..., mungkin ga bisa dalam beberapa bulan ini," Kate merengut pada Deo.


"Maaf, Sayang. Bulan ini aku sibuk sekali," membelai rambut Kate yang tergerai.


"Aku tahu," keluhnya lagi.


"Malik, bisakah kamu meluangkan waktu untuk berlibur denganku. Bagaimana jika kita berlibur bersama ke sana, tidak usah lama hanya beberapa hari aja," kata Edel penuh harap. Sejujurnya dia juga ingin berlibur, Edel belakangan merasa jenuh dengan kehidupan istananya. Ingin rasanya dia terbebas dari segala tanggung jawabnya walau hanya beberapa hari berlibur tanpa ada yang mengganggunya kecuali gangguan dari baby boy, pangeran kecilnya.


"Ok, nanti aku akan bicara pada Mr. Husein untuk membuat jadwal kita berlibur. Tenang saja dia pasti akan mencari waktu luang yang sesuai dengan jadwal padat Mr. Deo," Malik menganggukkan kepalanya pada Deo agar dia menyetujuinya.


"Baiklah, Yang Mulia."


Sangat sulit membantah Malik apalagi jika dia sudah menatapnya tajam seperti tadi, seakan matanya mengeluarkan pisau belati yang jika menolak akan langsung terbang menusuknya.


"Jadi ya, awas lho kalau harinya nanti kalian membatalkan liburannya termasuk Shahmeer. Kamu juga harus ikut, berliburlah kerja Mulu akan membuatmu cepat beruban," canda Edel yang membuat Ronald tersedak minum.


Ronald terus terbatuk dan di tepuk-tepuk punggungnya oleh Queenzha.


"Makanya kalau minum jangan terburu-buru, jadi tersedak kan," ucap istrinya. Ronald hanya tersenyum, tak mungkin dia bilang jika dia tersedak gara-gara perkataan Edel, bisa digorok nanti lehernya oleh Malik.


"Ya, akan aku usahakan ikut berlibur dengan kalian," senang rasanya diajak Edel. Malik yang melihat Shahmeer tersenyum penuh kemenangan, mengambil cola dingin di depannya dan meneguknya mendinginkan pikirannya yang dipenuhi rasa kesal.


Akhirnya, pangeran kalah telak. ekspresinya lucu banget, batin Ronald tertawa senang.


Edel tahu jika Malik sangat cemburu jika dia mengobrol dengan Shahmeer walaupun itu hanya sekedar bertanya.


Cemburu ga jelas, pikir Edel.


***


"Putri, besok gantikan saya menghadiri acara pembukaan proyek dari yayasan kita untuk pembangunan dan pelatihan mendukung masyarakat lokal."


"Apa Ibu hendak menghadiri persidangan?" sahut Putri Syahara. Dia ingat jika besok adalah sidang putusan.


"Lalu?" Ibunda ratu seorang yang sangat profesional berdedikasi tinggi, beliau tidak akan membatalkan kunjungannya atau membatalkan menghadiri suatu acara jika tidak ada kepentingan yang sangat urgent.


**flashback on**


"Kamu harus kuat," ucap seorang pria paruh baya pada istrinya.


"Bagaimana caranya seorang ibu agar bisa kuat melihat anaknya berbaring tak berdaya selama setahun, beritahu aku Yang Mulia."


"Ya, aku mengerti perasaanmu. Aku sudah memberi tahu pihak rumah sakit, jika kita tidak akan pernah menyerah begitu saja. Kita akan terus mendampingi anak kita sampai sembuh," ucap Baginda Sultan pada istrinya.


"Ini bukanlah pertama kalinya dokter memvonisnya seperti itu. Jadi kita tidak boleh menyerah sedikit pun," lanjutnya.


Wanita paruh baya itu terdiam memandang lekat suaminya. Mata sendunya menyiratkan rasa sedih yang mendalam.


"Aku tidak akan menghadiri persidangan esok lusa. Aku ingin menemani Fatih," ucapnya lirih memegang tangan istrinya dan mengelusnya lembut.


Wanita paruh baya itu perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya untuk memberitahu jika ia selalu memberikan kepercayaan penuh padanya.


"Aku ingin ikut menjenguknya, menemaninya bersamamu," pintanya, mendekap erat suaminya.


"Rahasiakan kondisi Fatih dari siapapun. Hanya kita berdua dan Mr. Khalid yang tahu tentang kondisinya sekarang, termasuk kepada anak-anak.


**flashback off**


"Aku ingin meluangkan waktu menjenguk Pangeran Fatih dan menemaninya, aku merindukannya," jawabnya. Dia tidak mungkin memberitahukan kondisi kakaknya yang kembali kritis.


Terbersit rasa rindu yang membuncah di wajah tuanya yang masih terlihat cantik. "Baiklah, saya akan menggantikan anda Yang Mulia."


Putri Syahara memandang ibunya tersenyum, dia mengerti bagaimana perasaannya karena dia pun merasakan rindu yang sangat pada kakak laki-lakinya.


Semoga Fatih cepat siuman agar hilang kesedihan diwajahnya, doa Putri Syahara dalam hati.


***


Waktu terus bergulir tanpa bisa kita cegah. Hari telah berganti, semilir angin pagi menentramkan jiwa datang menyapa seorang laki-laki tua yang sedang menunggu istrinya di bangku taman.


Laki-laki tua itu melambaikan tangan ke arah seorang wanita yang berjalan mendekatinya.


"Ayo," ajaknya, berdiri, dilengkungkan tangannya agar wanita tadi menautkan tangannya padanya.


Wanita itu menautkan tangannya dengan malu-malu di lengan laki-laki tua itu. Wajahnya bertambah merona diterpa sinar matahari pagi.


"Anda sangat romantis Yang Mulia, saya harus belajar banyak darimu," goda Malik melihat orangtuanya bergandengan tangan.


Ibunda ratu tampak tersipu malu, terkekeh mendengar penuturan Malik.


"Pangeran, hari ini kamu harus menghadiri persidangan mewakiliku. Kami akan menjenguk Pangeran Fatih dan menemaninya mungkin sampai sore nanti," ucap Baginda Sultan pada anak bungsunya.


"Baik, Yang Mulia," sahut Malik mengangguk.


Baginda dan Ibunda Ratu masuk ke dalam mobil, tentu dengan di temani Mr. Khalid.


Mereka memasuki kamar khusus keluarga kerajaan dengan menggunakan baju steril yang telah disediakan pihak rumah sakit.


Ibunda ratu langsung mendekati anak sulungnya yang sedang terbaring, dilihatnya kabel dan selang terhubung dengan badan Pangeran Fatih yang membantunya untuk bertahan bertahan hidup dan diharapkan segera pulih.


"Anakku ... ," ucapnya, air mata yang sudah tak terbendung akhirnya mengalir di sudut matanya.


*****


Terimakasih sudah mampir membaca.🥰


Stay safe everyone. 🤗 🙏