
Dia sungguh wanita luar biasa, dapat menyembunyikan kesalnya di depan orang-orang dengan sempurna. *pikir Malik*.
Mereka kembali ke ruang keluarga menyisakan Malik yang masih berdiri di depan kamar Edel. Dia menatap lekat kekasihnya yang menunduk.
"Maafkan aku," ucap Malik. Memberikan ponsel Edel kepadanya. Gadis itu hanya mengangguk pelan tidak menatapnya. Mungkin masih kesal. pikir Malik.
"Iya," ucapnya lirih. Mengambil ponsel yang Malik sodorkan, tangannya tertutup lengan sweater putih yang dia pakai lalu berbalik hendak masuk ke kamar, tapi pergelangan tangannya keburu di pegang Malik.
"Aawwhhh ... ," raungnya kesakitan saat Malik memegangnya.
Malik kaget dan melihat pergelangan tangan kekasihnya yang dia pegang lalu menyingkapkan lengan sweater yang menutupi pergelangan tangan Edel. Terlihat kulitnya memerah di sekeliling pergelangan tangan dan terdapat luka di sana seperti bekas tusukan kuku jari, dia memandang Edel dengan seksama.
"Apa dia yang melakukannya padamu?" ucap Malik masih memegang tangan Edel, dia pun mengangguk pelan.
"Kenapa kau tidak memberitahuku dan malah meninggalkan ku?" tanyanya pelan masih memandang kekasihnya yang menunduk.
"Apa keadaannya akan berubah jika aku mengatakannya padamu, lagian kamu tidak mempercayaiku?!" ucapnya memandang balik mata Malik.
"Maafkan aku ... ," ucap Malik.
"Sudahlah, semua sudah terjadi," kata Edel lirih, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang hendak keluar, "jangan ceritakan pada orangtuaku, mereka akan khawatir," pintanya.
***
Selepas magrib mereka telah berada di perjalanan menuju Indonesia. Pesawat jet Malik transit di Indonesia untuk mengantarkan keluarga Soe.
Sejak kejadian itu, Edel tidak terlalu banyak berbicara dengan Malik, seakan masih ada rasa yang membungkamnya untuk diam. Dia hanya berbicara ketika ditanya dan itu pun jika perlu menjawab, jika tidak dia hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya sebagai isyarat jawabannya.
Ah, sungguh aku merindukan suaranya. Batin Malik.
Mereka menyempatkan untuk makan malam di Bandara Soekarno Hatta. Tak banyak kata yang keluar dari Edel dia lebih sering tersenyum jika di tanya.
"Ibu sepertinya ada yang terjadi diantara mereka. jika terjadi apa-apa hubungi saya ya. Seperti yang tadi kita obrolkan, kami akan berkunjung ke rumah secepatnya," kata Putri Syahara kepada Mrs. Soe saat mereka hendak berpisah, keduanya memperhatikan sikap Edel dan Malik.
"Ya sepertinya begitu tapi kita biarkan saja dulu, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka jika terjadi masalah. Kami dengan senang hati menyambut kalian, itu suatu kehormatan bagi kami menerima kunjungan kalian," ucap Mrs. Soe mengangguk.
Mrs. Soe berjalan menghampiri Mr. Soe dan berdiri di dekatnya.
"Aku akan merindukanmu, mainlah akhir pekan atau tiap kamu punya waktu luang ke sana," ujar putri Syahara pada Edel memeluknya.
"Iya," ucap Edel tersenyum lalu memandang pangeran Ammar.
"Sampai jumpa lagi Pangeran kecil, aku akan merindukanmu," kata Edel mengelus pipi Pangeran Ammar.
Rasanya canggung melihat Malik, "Sampai jumpa lagi," ucapnya pada Malik. Matanya bermain tidak fokus pada orang yang diajak berbicara seakan mereka baru bertemu.
"Aku akan merindukanmu, kirimi aku pesan jika sudah sampai," kata Malik yang hanya di balas anggukan oleh Edel.
Malik mengantarkan keluarga Soe sampai pintu keluar bandara, di sana telah ada sopir keluarga Soe menunggu mereka.
"Assalamu'alaikum," pamit Edel.
***
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Putri Syahara memperlihatkan video yang sedang viral pada Malik.
Video itu tentang seorang wanita yang disiram kopi oleh wanita lain. wajah kedua wanita itu memang diburamkan tapi mereka tahu dengan pasti itu adalah Azmy dan Edel.
Malik hanya memandang nya, lalu menghembuskan nafas beratnya.
"Azmy mencoba memfitnah Edel, aku tahu kejadian sebenarnya lewat CCTV depan Club'," kata Malik dengan tatapan kosong menatap meja di hadapannya.
"Saat kejadian itu, aku terkejut melihat wajah Azmy yang memerah kena air panas, Azmy bilang dia disiram oleh edel dengan kopi yang dia bawa. Harusnya aku langsung tahu itu tidak benar, karena Edel tidak mungkin membawa kopi, dia tidak suka kopi. tapi aku menyalahkannya dan sedikit membentaknya, Edel meminta maaf lalu pergi," ungkap Malik.
"Aku menyesal sekali tidak menanyakan keadaannya terlebih dulu padahal dia juga terluka, pergelangan tangannya merah dan kulit di sekitarnya mengelupas mungkin Azmy mencengkeramnya sangat kuat hingga kuku jarinya meninggalkan bekas cukup dalam di pergelangan tangannya."
"Apa yang harus aku lakukan, sepertinya Edel belum mau memaafkan ku. Aku telah menyakitinya, apa yang harus lakukan ... ," Malik memandang kakaknya dengan tatapan memelas.
Malik memang seorang yang cerdas dan dapat dengan cepat menyelesaikan semua masalah dalam hal apapun, dia juga seorang yang berkemauan keras dan pantang menyerah. Namun, sepertinya urusan percintaan tidak termasuk dalam keahliannya, karena dia terlihat kacau ketika Edel menolak berbicara banyak dengannya. ðŸ¤
"Kamu sungguh lucu sekali adikku," ucap Putri Syahara. "dengar, apa kamu memiliki salinan rekaman CCTV kejadian itu?".
"Ya, aku memilikinya, aku mengambil salinannya untuk ku tunjukan pada temanku," jawabnya, menyodorkan ponselnya memperlihatkan salinan rekaman kejadian tadi siang.
"Kirimkanlah padaku salinannya, biar aku yang urus soal video itu. Kamu bersiaplah, sepertinya jadwal bersilaturahim ke rumah Edel kita majukan. Ya, lebih cepat lebih baik. aku sudah berbicara dengan Mrs. Soe mengenai silaturahmi kita ke rumahnya," ujar Putri Syahara.
"Urusan Azmy kamu harus bisa menyelesaikannya sendiri. Berbicaralah dengannya, selesaikan urusan kalian, tapi ingat ajaklah temanmu atau aku akan ikut bersamamu atau Mr. Husein akan mendampingimu saat kalian berbicara, untuk antisipasi jika ada kamera di dekatmu," nasehatnya pada Malik.
Putri Syahara sangat menyayangi adiknya, dia berusaha melindungi adiknya dan calon iparnya. Tapi dia juga tidak ingin terlibat jauh dalam masalah percintaan adiknya, makanya dia meminta Malik berbicara secara pribadi dengan Azmy secepatnya menyelesaikan masalah mereka.
***
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian di Singapore. perawatan Azmy dipindahkan dari Singapore ke Negara A, dia dirawat di Healthy Hospital pusat kota Negara A. Wajahnya masih sedikit memerah tapi sudah jauh lebih baik dari pada saat itu.
Malik sudah memperlihatkan rekaman tersebut pada teman-temannya, bukan untuk menyalahkan atau menyebarkan aib Azmy, dia hanya tidak ingin teman-temannya salah faham terhadap kekasihnya dan untuk menunjukan kebenarannya jika Edel tidaklah bersalah atas semua yang terjadi pada Azmy.
Dia juga sudah berbicara dengan Shahmeer mengenai kejadian tersebut dan menunjukan CCTV depan Club' yang merekam kejadian sebenarnya. Dia meminta izin untuk berbicara dengan adiknya tapi Shahmeer tidak mengizinkannya karena kondisi mental Azmy yang terkadang sulit ditebak. Malik tidak memaksa dan menghormati keputusan Shahmeer, dia tahu baginya Azmy satu-satunya keluarga yang dia punya.
Malik menyempatkan diri untuk menengok Azmy yang masih berada di rumah sakit tentu saja dengan teman-teman nya. Sebenarnya dia sudah diperbolehkan pulang hanya saja Shahmeer masih mengkhawatirkan kondisi mental adiknya apalagi setelah kejadian di Singapore. Shahmeer benar-benar tidak menyangka adiknya bisa melakukan hal gila seperti itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Deo pada Azmy.
"Alhamdulilah Allah masih sayang padaku," ucapnya.
"Aku tidak menyangka sebenci itukah dia padaku," lanjutnya sendu.
Mereka saling pandang, mendengar perkataan Azmy yang masih memfitnah Edel. Malik hanya terdiam mengepalkan tangannya geram, dia menguatkan diri untuk tidak berbicara. Dia tidak ingin kecerobohannya membuat rencananya berantakan.
"Jangan terlalu dipikirkan soal kejadian kemarin, kamu harus segera pulih," ucap Shahmeer menguatkan diri.