
Langit pagi yang kelabu tidak membuat Malik dan Edel kehilangan semangatnya. Mereka baru saja tiba di istana. Setelah berganti pakaian dan sarapan, Malik langsung berpamitan untuk meeting.
Mrs. Anna membawa baby boy menemui Edel setelah para baby sitter memandikannya.
Edel langsung berdiri menyambut baby boy datang ke ruangannya. Dia langsung mengambil alih mengendong baby boy.
"Bagaimana kabar anak mommy. Mommy sangat merindukanmu," ucapnya tak henti menciumi kedua pipi baby boy sampai dia tertawa menggeliat geli.
"Sudah makan kah anak mommy?" tanyanya.
"Yang Mulia pangeran sudah makan, Yang Mulia," sahut Mrs. Anna.
"Mrs. Anna tolong bantu Mrs. Harold membereskan bawaanku dan tolong bagikan cendramata buat para baby sitter," ucap Edel sambil tak henti memomong baby boy.
Edel sungguh sangat merindukan anaknya, bahkan setelah dia berada di pangkuannya pun tetap masih merindukannya. Seperti sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu, padahal hanya beberapa hari saja.
Pangeran kecil Zyan sangat bahagia melihat mommynya telah kembali. Dia terus memandang mommynya lekat seakan takut ditinggal pergi lagi. Wajahnya berubah menjadi murung dan pecahlah tangisnya.
"Hey, hey, hey ... , kenapa menangis. Apa kamu takut ditinggal mommy lagi?" Edel mendekapnya erat, tahu bagaimana perasaan anaknya saat ini.
"Sepertinya pangeran kecil sangat merindukan anda Yang Mulia," kata Mrs. Anna sembari memilah cendramata bersama Mrs. Harold.
Edel tetap memeluknya erat sambil menimangnya. "Maafin mommy, maafin mommy ya. Mommy ga akan meninggalkanmu lagi."
Tangis baby Zyan mulai mereda setelah mendengar ucapan mommynya.
"Mrs. Harold, apa berkas untuk nanti siang sudah selesai. Bisakah anda membawanya padaku sekarang, aku akan mempelajarinya sambil memberi asi untuknya," tanya Edel. Dia hampir lupa jika nanti siang dia harus menghadiri suatu acara.
"Sudah, Yang Mulia. Saya akan membawakannya pada anda sekarang," Mrs. Harold berdiri berjalan keluar dari ruangan Edel.
Edel berjalan ke arah sofa tempat dia selalu memberi asi untuk baby boy. Malik menyiapkan sofa itu khusus untuknya dan menyimpan salah satunya di ruangannya agar dia nyaman ketika memberikan asi untuk baby boy.
***
Hari telah berganti, waktu berlalu begitu cepat. Seminggu telah berlalu, istana semakin disibukan dengan acara pengangkatan putra mahkota.
Pengangkatan pangeran Malik menjadi putra mahkota telah menghiasi berbagai media massa. Semua media ramai membahas tentang pangeran Malik dari profil, hobi, gaya hidup, hingga hal kecil sekalipun dibahas oleh mereka.
Tidak hanya itu saja, kisah percintaannya pun menjadi pembahasan yang paling banyak diminati oleh publik dan menjadi tranding topik di seluruh dunia mengalahkan K-Pop.
Profil Edel kembali tersebar luas, bahkan guru-gurunya pun banyak yang diminta wawancara khusus terkait dengan siswanya yang sebentar lagi akan diangkat menjadi putri mahkota negara A. Banyak dari teman sekolahnya hingga teman kuliahnya yang menshare foto mereka yang sedang bersama Edel.
"Aku yang adik kandungnya pun, diem-diem Bae. Kenapa mereka pada ribut dengan kehidupan kakakku," kata Darren ketika melihat kakaknya menjadi tranding topik di media sosial.
"Kau pasti akan menyaksikan langsung acara pengangkatan tersebut," Emily sangat berharap Darren mengajaknya, dia sangat menantikannya dan yang terpenting ada alasan untuknya pulang ke negara A.
"Aku tidak tahu, Aku sibuk dengan tesisku," jawab Darren tanpa melihat lawan bicaranya dan masih saja asik berperang di ponselnya.
"Ini kan moment sekali seumur hidup buat kak Edel!" ketus Emily yang kesal karena Darren lebih senang melihat ponselnya dibanding melihatnya.
"oke, akan aku pertimbangkan," jawab Darren ringan.
Emily yang sudah kehilangan kesabarannya melempar bantal sofa ke arah Darren dan mengenai kepalanya.
"Aahhhh ... , kenapa kau melempar bantal padaku. Lihat jadi kalah kan," ucap Darren sedikit berteriak pada Emily.
"Apa kau baru saja meneriakiku?" kata Emily dengan wajah merengut hampir menangis.
Darren yang melihat perubahan wajah Emily langsung menghampiri kekasihnya itu.
"Maafkan aku, aku tadi kaget hingga tak sadar suaraku mengeras."
"Maaf, jangan marah lagi ya. Ayo aku belikan ice cream," ucap Darren merayu kekasihnya.
"Ice cream, apa kau pikir aku anak kecil yang langsung bisa melunak jika di kasih ice cream?!" seru Emily.
"Aku tidak berpikir seperti itu, aku hanya berpikir ice cream dapat memperbaiki mood yang sedang sedih atau kesal," jawab Darren.
"Apa aku terlihat buruk jika sedang marah. Aku sangat kesal padamu!" ucap Emily ketus.
"Kau sangat cantik, tapi akan lebih sangat sangat cantik lagi jika sedang tersenyum," kata Darren yang masih berusaha merayunya.
"Oh ya, ada toko ice cream baru di perempatan jalan dekat kampusku. kamu mau mencobanya, kata temanku di sana tempatnya sangat bagus," ajak Darren.
Darren menyunggingkan senyumnya melihat Emily sedang berpikir. Emily adalah pecinta ice cream, bahkan dia tetap bisa menikmati ice cream saat musim salju dengan suhu dibawah nol derajat Celcius.
"Baiklah, ayo. Ini bukan karena aku ingin makan ice cream ya, tapi karena kamu yang mengajakku membeli ice cream," ujarnya.
"Tentu saja, aku yang mengajakmu. Ayo, di sana sangat ramai jadi kita harus cepat sebelum kehabisan," sahut Darren mengambil jaketnya dan juga punya Emily yang tergantung.
*
Sementara itu di kediaman Mr. dan Mrs. Soe pun banyak kerabat saudara dan teman yang berkunjung, yang sengaja bersilaturahmi datang ke kediaman mereka.
Kediaman orangtua Edel mendapat pengawalan khusus yang dikirim duta besar negara A untuk Indonesia juga dari pemerintahan Indonesia sendiri karena salah satu putri bangsa akan diangkatenjadi putri mahkota negara A.
Malam sudah larut, Mr. dan Mrs. Soe baru beranjak dari ruang tengah Karen para tamu baru saja pulang.
"Aku sangat lelah sekali, padahal kita tidak mengadakan open house tetapi kenapa mereka sangat bersemangat datang seperti kita akan berangkat beribadah haji saja," ucap Mr. Soe pada istrinya yang sedang duduk di depan meja rias membersihkan wajahnya.
"Mereka datang untuk mengucapkan selamat pada kita juga sebagai ungkapan jika mereka ikut bahagia anak kita akan menjadi putri mahkota negara A," jawab Mrs. Soe sambil menepuk-nepuk lembut toner ke wajahnya.
"Jujur saja, aku tidak terlalu bahagia ketika mendapat kabar jika Malik akan menggantikan kakaknya menjadi pangeran mahkota. Kasian putriku kecilku tanggung jawab yang diambilnya sangatlah besar, bagaimana jika dia kecapean dan sakit lantas siapa yang mengurus cucuku," Mr. Soe mulai terdengar merengek.
"Ayolah jangan seperti itu, doakanlah yang terbaik buat Edel. Doakan agar dia selalu dilimpahkan kebahagiaan, kesehatan, keberkahan hidup," jawab Mrs. Soe melangkah mendekati Mr. Soe yang sedang duduk di pinggir tempat tidur mereka.
"Akan semakin sulit dia berlibur, bertemu dengan kita. Aku sangat merindukannya," keluhnya.
Mrs Soe tersenyum mengusap lengan kokoh suaminya.
"Bersabarlah, akan ada saatnya kita bertemu. Hanya beberapa hari lagi, kita akan berangkat menemuinya ikut menyaksikan acara anak kita," ucap Mrs. Soe.
***
"Malik," ucap Edel menyerahkan tab nya yang memuat kabar tentang kontroversi anak dari mendiang pangeran Fatih yang baru terkuak.
"Istana tidak akan membuat pernyataan apapun mengenai kabar tersebut. Aku sungguh kasihan dengan anaknya karena keegoisan ibunya hidupnya menjadi konsumsi publik," kata Malik.
"Malik, setelah acara nanti selesai tak bisakah kita membiarkan anak itu masuk ke istana?" ucap Edel penuh iba.
"Tidak, Honey. Istana pasti takut jika suatu hari nanti itu akan menjadi batu sandungan," jawab Malik.
*****
Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏
Jangan lupa untuk like, komen, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan kasih hadiah buat author agar lebih semangat lagi up nya. Oya, Vote juga ya... 😉
Stay safe everyone. 🥰