He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 72



Waktu sepertinya berlalu begitu lambat bagi Malik. Sudah dua Minggu dia tidak mendapat pesan atau pun mendengar suara kekasihnya, mengobrol dengannya walaupun hanya sebentar. Sejak kejadian itu Edel tidak membalas pesan Malik atau pun mengangkat telepon darinya. Malik hanya bisa mendengarkan suara kekasihnya jika ia meminta tolong pada Mita sahabatnya itu pun suaranya terdengar samar.


Edel sengaja tidak membalas semua pesan ataupun mengangkat telepon dari Malik, dia butuh waktu untuk berpikir lebih tentang hubungannya. Dia ingin lebih tahu sikap Malik jika dia mengacuhkannya atau boleh dibilang balas dendam kali ya.


Sebenarnya Edel selalu menanyakan kabar Malik pada orang terdekatnya yaitu Mr. Husein, dia menanyakan jadwal harian Malik hingga dengan siapa saja hari itu dia bertemu. Ya, seperti Malik yang menjadikan Mita detectivenya.


"Lo masih mau diem-dieman ma dia?!" seru Mita.


"Mit, gw takut ma hubungan kita. Gw takut - takut nyakitin orang lain. Lo tau wajahnya kacau banget, dia kaya yang ga tidur beberapa malem ... , Gw kasian ma dia ... ," ungkap Edel.


"Apa yang Lo takutin, bukan salah Lo dia kaya gitu. lagian Lo ga ngerebut dia dari siapapun!" tegas Mita.


"Iya kan, beneran kan gw ga rebut dia dari siapapun?! tapi gw tetep ngerasa salah ma Azmy!" ungkapnya.


"Bukan salah Lo dia ngelakuin hal gila kaya gitu, itu tuh bukan ungkapan cinta tapi obsesi yang paling gila!" seru Mita menasehati temannya.


"Tapi nih ya kalo diingat-ingat sekarang, gw jadi pengen ketawa," kata Edel tertawa kecil, tapi Mita mengernyitkan alisnya heran. "Coba Lo liat rekaman aslinya yang dishare pihak Club', gw jadi berasa nonton sinetron Indonesia yang di Chanel itu tuh ... , gw jadi mikir 'apa dia kebanyakan nonton sinetron gitu ya?!' ," tutur Edel tertawa lepas.


"Ya efek sinetron ga jelas!" seru Mita. Ini pertama kalinya Mita melihat Edel tertawa lepas lagi seperti itu, Semoga semua akan lebih baik lagi. doanya dalam hati.


"Haaah, gw harus kerja lagi periksa beberapa email dan kirim-kirim," ujarnya berdiri melangkah keluar ruangan. Edel hanya menatapnya sendu.


Dia terus menatap pintu yang ditutup temannya. Apa pintuku juga harus ku tutup agar tidak ada lagi yang sakit hati. Batinnya.


drrtt.. drrtt... ponsel Edel bergetar tanda pesan masuk, dilihatnya ada beberapa pesan salah satunya dari Mr. Husein yang mengirimkan pesan padanya.


Nona, Hari ini Pangeran Malik berencana bertemu dengan nona Azmy, saya akan mendampingi beliau. Semoga nona selalu dalam rahmat dan lindungan Allah SWT.


Edel membalas pesannya,


Terimakasih 😇


Dia menyimpan ponselnya di laci meja, dia tahu ada pesan dari Malik tapi dia sedang tidak ingin melihatnya apalagi membacanya.


***


Mobil Malik melewati gerbang raksasa berbentuk melengkung dari besi tempa, kediaman keluarga Zephyr di negara A lebih mirip kastil ketimbang sebuah rumah yang sering muncul dalam majalah mahal.


Malik turun dari mobil di kawal Mr. Husein seperti biasa. Pelayan mempersilahkan sang pangeran untuk masuk karena kedatangan Malik telah di kabarkan padanya oleh tuannya.


Semua dinding rumahnya dilapisi kayu mahoni, ketika kamu masuk akan di sambut oleh karpet Persia langka, terdapat banyak perabotan dari marmer, dan vas China yang mahal seperti kau masuk ke dalam sebuah ruangan galeri.


Pelayan mengantarkan Malik ke ruangan yang cukup besar, di sana telah duduk tuan mereka Shahmeer Zephyr.


"Akhirnya kau datang temanku," ucapnya berdiri menyambut Malik. Shahmeer melirik ke belakang Malik di sana ada Mr. Husein yang ikut masuk mendampingi pangerannya.


"Duduklah," ucapnya mempersilahkan tamunya.


"Bagaimana kabarmu kawan?" tanya Malik.


"Beginilahlah ... ," ucapnya merentangkan tangannya menunjukan dirinya, tersirat lelah di wajahnya.


"Bagaimana keadaannya, bolehkah aku berbicara dengannya?," tanya Malik langsung ke inti kedatangannya.


"Ya sepertinya tidak baik juga jika dibiarkan terlalu lama, lebih cepat lebih baik agar penanganannya sekaligus jika terjadi apa-apa," ujarnya.


"Tentu," sahut Malik.


"Ayo," ajak Shahmeer berdiri. Malik mengambil gelas yang berisi jus segar yang disediakan pelayan rumah untuknya. Rasanya dia harus mendinginkan pikirannya dahulu sebelum berbicara dengan Azmy.


Malik mengikuti Shahmeer menuju sebuah ruangan keluarga dekat kamar Azmy, dia tidak mungkin berbicara dengannya berdua di kamar Azmy. Ruangan keluarga yang hangat dindingnya dipenuhi banyak foto dari masa ke masa keluarga Zephyr, seperti masuk ke galeri foto. Ada sedikit rasa tak enak yang dirasakan Malik ketika melihat foto-foto itu, seperti mereka akan menyidangnya karena telah memilih wanita lain dibanding keturunan mereka.


"Tunggulah di sini, aku akan memanggilnya. Dia tidak tahu kau akan datang," tutur Shahmeer dijawab anggukan oleh Malik.


Mr. Husein berdiri di sebelah kursi yang diduduki Malik. Dia harus memastikan Pangerannya dalam keadaan aman.


Sepuluh menit kemudian, Shahmeer membawa Azmy masuk ke ruangan itu. Senyum bahagia terbersit di wajah Azmy, melihat Pangerannya datang menjenguk ke rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Yang Mulia," salam Azmy ketika melihat Malik.


"Wa'alaikumsalam," sahut Malik dan Mr. Husein berbarengan.


"Duduklah di sini," kata Shahmeer mendudukan Azmy di kursi seberang Malik dan Shahmeer duduk di sebelah adiknya.


"Bagaimana keadaanmu?" sapa Malik.


"Alhamdulilah, terimakasih telah menengokku Yang Mulia. Aku tahu kamu pasti akan datang menemuiku," kata Azmy tersenyum senang.


Mereka mulai mengobrol banyak hal dari hal yang ringan. Namun sepertinya waktu Malik di batasi karena Mr. Husein mengingatkan Malik akan waktu dengan sedikit berbisik padanya,


"Maaf Pangeranku, kita tidak bisa berlama-lama di sini, anda harus menghadiri acara," kata Mr. Husein, Malik mengangguk mengerti.


"Ada yang harus aku bicarakan denganmu," ujar Malik akhirnya, "lebih baik kamu menemani kami di sini," lanjut Malik kemudian melihat Shahmeer hendak meninggalkan mereka, dia pun mengangguk setuju.


"Ini masalah kejadian kemarin di Singapore, kami sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya," kata Shahmeer mendahului Malik. dan Malik berterimakasih untuk itu.


"Aku tidak tahu mengapa kamu melakukan hal seperti itu, bagiku kamu gadis yang cantik, cerdas, gadis baik-baik ... ," ujar Malik, "sebenarnya Edel tidak pernah memberitahuku kejadian yang sebenarnya, aku tahu ketika aku menyelidiki nya dari CCTV depan Club'."


"Apa kalian tidak mempercayaiku? pasti gadis CEO itu yang menyuruh orang lain merubah rekamannya!" seru Azmy menatap Malik dan Shahmeer bergantian.


"Untuk apa dia menyuruh orang mengeditnya?!" jawab Malik.


"Kalau kalian sudah tahu kenapa kalian masih bersikap manis padaku?!" murka Azmy.


"Kami pikir kamu akan berkata sebenarnya, tapi kamu masih menyalahkannya karena sesuatu yang dia tidak buat. Kamu lebih memilih berbohong pada kami," ungkap Shahmeer mencoba tenang memegang tangan adiknya.


"Jadi selama ini kalian membohongiku?" ketusnya.


"Kamulah yang membohongi dirimu sendiri. Berpikir dengan kejadian itu akan membuatku membencinya dan memilih bersamamu?!"


"Kenyataannya Edel membiarkan kejadian itu berlalu, dia tetap bungkam sampai sekarang. Dia membiarkannya karena kamu adalah adik teman baikku yang sudah ku anggap adik juga. Tapi jika aku tidak meluruskan, menyelesaikan masalah ini, aku akan sangat jahat sekali padanya, itu tidak adil untuknya!" tutur Malik.


"Hahaha ... jadi aku harus berterimakasih padanya?" seloroh Azmy.


"Tidak perlu, aku hanya tidak ingin orang lain mengganggu hubungan kami, lagian kami sudah bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat," ungkapnya.


"Apa? kau akan segera menikahinya?!" tanya Shahmeer terkejut, seakan ada yang salah dengan perkataan yang diucapkan Malik.