He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 134



Kabar penangkapan dalang di balik kasus penembakan yang menewaskan Putri Grizelle telah ditangkap dan mendapat perhatian khusus bukan hanya dari masyarakat negara A saja tapi juga masyarakat dunia.


Malik menepati janjinya untuk menyamarkan wajah pelaku dan identitasnya walaupun itu membuatnya mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan baik di istana maupun dari masyarakat, Namun keluarga inti di istana mengerti dengan keputusannya.


"Yang Mulia Putri sedang bersama Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putri Syahara di taman," Mr Husein memberitahu Malik, mereka baru saja tiba setelah melihat penyidik mengintrogasi Mrs. Shopia yang tetap bungkam.


Malik hanya mengangguk, dia berjalan ke arah taman. Dilihatnya Ibu, kakak dan istrinya sedang mengobrol di sana, mereka terlihat lebih ceria dibanding beberapa hari belakangan ini.


Edel melihat Malik yang berjalan menghampiri mereka, dia berdiri tersenyum pada suaminya. Malik mempercepat langkahnya, menghampiri istrinya lalu memeluknya.


"Aku merindukanmu," ucapnya. Edel terkejut dengan wajah yang memerah seperti tomat.


Ibunda ratu dan Putri Syahara tak kalah terkejut melihat tingkah berani Pangeran mereka, mereka tersenyum melihat Edel yang menahan malu di depan mereka.


"Ayolah pangeran, kasian istrimu jika kau memeluknya seperti itu," ujar Putri Syahara seakan melindungi tapi perkataannya membuat wajah Edel semakin memerah malu. Malik semakin mengeratkan pelukannya tak memperdulikan perkataan kakaknya.


Edel berusaha melepaskan pelukan suaminya, Malik tersenyum memandang istrinya. "Ada apa, kenapa kamu memelukku seperti tadi?" tanya Edel.


"Aku merindukanmu," ucapnya mengacak rambut Edel.


Edel mengusap pipi Malik, "Aku juga merindukanmu, duduklah."


"Bagaimana kemajuannya, apa dia sudah mau buka suara?" tanya Putri Syahara, Malik hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pada kakaknya.


Ibunda ratu menghela nafas pelan, "Saat ibu mendengar dia pelakunya, ibu tidak mau mempercayainya. Dulu dia seorang wanita yang sangat baik dan setahuku dia tidak pernah menyakiti siapapun. Ternyata waktu sangatlah mengerikan bisa membuat wanita hangat sepertinya menjadi seorang wanita berdarah dingin seperti itu. Sangat disayangkan," ungkap Ibunda ratu.


"Apa Ibu mengenalnya?" tanya Edel tiba-tiba.


deg,


Mereka lupa jika identisan pelakunya dirahasiakan terutama pada Edelweiss. Mereka tidak ingin dia larut dalam pikiran-pikiran yang membuatnya bersedih dan menyalahkan diri sendiri.


Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur Edel mendengarnya.


"Ya, ibu mengenalnya. Dahulu belasan tahun yang lalu dia salah satu teman ibu karena anak kami bersekolah di sekolah yang sama. tapi lebih dari sepuluh tahun ibu sudah tidak mendengar kabarnya lagi," terang ibunda ratu berusaha terdengar tenang.


"Jadi kenapa dia melakukan hal seperti itu. Apa dia ada dendam dengan keluarga kerajaan?" tanya Edel tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Itulah yang sedang kami selidiki, honey. Kami masih terus berusaha menyelidiki motifnya tapi sayang dia memilih tetap bungkam!" jawab Malik.


"Bagaimana dengan keluarganya, bukankah Ibu bilang dulu anaknya sekolah di sekolah yang sama?".


"Ah, itu ... ," Ibunda ratu tidak tahu harus menjelaskan dari mana.


"Dia sudah lama sekali tidak berhubungan dengan anak-anaknya. Setahuku dia bercerai dan menikah lagi dan aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai kasus ini terjadi dan dia ditetapkan sebagai tersangka," ujar Malik mencari alasan yang dapat diterima Edel.


"Sudahlah, jangan membahas dia wanita itu lagi. Biarkan itu menjadi urusan Malik dan penyidik, Jangan terlalu dipikirkan itu bisa merusak mood kita!" seru Putri Syahara mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya, kamu bilang Shahmeer akan pindah?" tanya Putri Syahara penasaran, berhubung Edel tidak tahu hubungan antara Mrs. Shopia dan Shahmeer maka dia berani menanyakannya pada adiknya.


"Ya, dia bilang seperti itu pada kami," jawab Malik.


"Apa adiknya tahu?" tanyanya lagi, Syahara penasaran apa Azmy tahu tentang ibunya.


"Tidak, dia telah berangkat beberapa hari yang lalu untuk mengantisipasi semuanya. Kau pasti tahu Shahmeer sangat menyayangi adiknya," terang Malik.


"Kenapa dia memutuskan untuk pindah?" timpal Edel kaget, dia baru mengetahui kabar tersebut.


"Dia bilang ayahnya sudah lanjut usia dan sering sakit-sakitan, jadi mereka memutuskan untuk pindah untuk menemani ayahnya."


"Oh ... ," jawab Edel manggut-manggut, entah kenapa hatinya sedikit sedih mendengar kabar itu.


"Oh ya, besok aku akan menjenguk Pangeran Fatih sesudah mengantar Edel cek up ke dokter kandungannya," ucap Malik memberitahu ibu dan kakaknya.


"Jam berapa ayah tiba?" tanya Putri Syahara.


"Sekitar pukul sebelas siang, setelah itu ada beberapa pertemuan dan kami akan menjenguknya mungkin sore atau sehabis magrib," terangnya.


***


"Malik, kenapa kau belum tidur?" Edel menghampiri Malik yang sedang duduk diruang kerjanya di dalam kamar mereka.


"Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawabnya sambil mengetik sesuatu di laptopnya.


Edel berdiri di pintu ruang kerja, dia hanya memandang suaminya yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Kenapa kau berdiri di sana?" tanya Malik menyadari istrinya sudah cukup lama berdiri di pintu.


"Apa masih banyak?" tanyanya. "Aku akan menunggumu."


"Duduklah," titah Malik menghentikan ketikannya.


Edel duduk di kursi depan Malik. "Kau tampan sekali jika sedang serius seperti itu."


"Apa kau sedang menggodaku, honey," tanya Malik tersenyum.


"Ya, bisa dibilang begitu," ujarnya tersipu malu dengan perkataan nya.


Malik menutup laptopnya dan tersenyum, dia tidak akan bisa berkonsentrasi setelah mendengar Edel berkata seperti itu. Malik berdiri menghampiri istrinya.


"Kau terlihat menggemaskan sekali memakai lingerie ini," godanya.


"Tidak usah berbohong, aku tahu badanku sudah sudah mulai gemuk karena beratku bertambah 5 kg," keluhnya melihat perut yang telah terlihat membesar.


"Bagiku kau bertambah Menggemaskan sekali," rayunya.


Malik mengangkat dagu Edel dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya, mereka mulai berpagutan mesra tak ingin menyia-nyiakan waktu Malik menggendong istrinya ke tempat tidur agar lebih leluasa melakukan aktivitas malamnya.


Keesokan paginya, Edel telah bersiap akan pergi ke rumah sakit untuk cek up ke dokter kandungannya. Dia menunggu Malik yang sedang membereskan beberapa pekerjaan bersam Mr. Husein.


"Ah lama sekali," ucapnya melihat jam tangan Gucci yang melingkar ditangannya.


"Apa harus aku telepon?" gumamnya pada diri sendiri.


Edel mengeluarkan ponselnya yang telah dia masukan di clutch bag nya. Tapi sebelum dia menelepon suaminya, Malik telah meneleponnya terlebih dahulu.


"Ya, assalamu'alaikum." sapa Edel tersenyum.


"Honey, aku mungkin akan telah sedikit. tunggulah sebentar, aku janji akan langsung naik menemuimu.


"Baiklah," jawabnya singkat.


"Apa kau kesal padaku?" tanya Malik.


"Tidak, aku hanya sedang sedikit malas saja," sahutnya cemberut.


"Jangan kesal, aku janji akan segera datang menjemputmu," ungkapnya.


"Malik, bolehkah aku meminta sesuatu padaku?" tanya Edel.


"Ten-tentu saja boleh. Kau mau meminta apa?"


"Benarkah?"


"Tentu honey," Malik senang jika Edel meminta sesuatu darinya.